Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.59 (I love you more)


__ADS_3

"Sepertinya kamu siap sekali ke Melbourne besok," ujar Eva saat masuk kedalam kamar sang putri dan mendapati putrinya untuk masih sibuk merekap barang-barang.


"Siap dong Ma, doain aja aku betah di sana. Kak Elisa sudah mengeluarkan banyak uang untuk aku dan Melvin kuliah di luar negeri, jadi aku tidak akan mengecewakan mereka," tuturnya.


Eva mendekati sang putri yang sedang berdiri di depan pintu lemari. "Mama lihat kamu dekat sekali dengan adik Reynald kalian pacaran?"


Tasya sontak menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Mama. "A-apa sih Ma, bukan seperti itu kok."


"Benar tidak pacaran, padahal kalau iya juga tidak apa-apa kok Mama setuju saja." Eva melangkah duduk di pinggir ranjang dan langsung di susul oleh Tasya yang nampak sangat antusias.


"Benar Ma, boleh?"


Eva langsung terkekeh sendiri melihat ekspresi wajah Tasya. "Tuh kan benar, kamu pacaran sama Melvin ya?"


"Belum Ma, tapi nanti pasti kami pacaran. Dia itu orang yang baik sekali, saat orang lain menjauhi ku karena kasus Mama tapi dia yang menguatkan aku Ma, aku sadar yang terbaik akan kalah dengan yang tulus dan selalu ada untuk kita," tutur Tasya.


"Bagus kalau begitu, dulu Mama orang yang memilih pria kaya tapi ujung-ujungnya papa kamu bermain api dan meninggalkan Mama saat hamil kamu, meskipun masih muda kamu harus pandai memilih pria dari sekarang, Melvin pasti tidak beda jauh dengan Kakaknya Reynald," jelas Eva.


"Iya Ma aku tau, tapi Ma ... aku sudah lama tidak bertemu Papa di mana dia sekarang?" tanya Tasya tiba-tiba.


"Mama juga tidak tau, dulu paman kamu yang mengurus semuanya mulai dari perceraian Mama dan juga saat melahirkan kamu. Mungkin karena itu juga dulu Mama terlalu egois sampai iri melihat Paman kamu bahagia bersama Elisa dan Mamanya," jelasnya lagi.


"Kalau melihat sosok Kak Elisa yang sekarang lebih baik dan tidak arogan, aku pikir semua itu karena Kak Rey, cinta memang bisa mengubah segalanya ya, baik atau buruknya itu tergantung pasangan kita."

__ADS_1


"Karena itu Mama setuju saja kalau kamu pacaran sama Melvin, tapi ingat pacaran sewajarnya saja, kalian sudah sama-sama dewasa harus punya masa depan yang baik, mengerti?"


Tasya terseyum dan langsung memeluk sang Mama. "Terimakasih Ma, tapi ... kalau ciuman boleh?"


Eva melepaskan pelukan Tasya darinya. "Dasar anak ini bisa-bisanya ngomong sejujur itu sama orang tua ... itu urusan kalian Mama tidak mau tahu."


"Yes berarti boleh!" pekiknya karena terlalu senang.


Eva hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang putri. Tasya sudah berumur dua puluh tahun dan ia hanya bisa mendukung sang putri tanpa ingin mengekangnya seperti dulu.


...**...


Di kamar utama....


Elisa hampir tidak berkedip saat Reynald menyodorkan segepok uang kepadanya. "Uang apa ini sayang?" Ia menunjuk amplop yang ada di atas meja.


Akhirnya Reynald bisa merasa lega. Selama pernikahan, ia tidak pernah sekalipun memberikan uang kepada istrinya. Malah sebaliknya Elisa sudah banyak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah Melvin dan juga mengembangkan bengkel.


Elisa menatap haru kearah Reynald. Ia tidak perduli berapa jumlah uang yang suaminya itu berikan. Yang lihat dan niat tulus Reynald yang setiap hari berusaha menjadi yang terbaik untuknya. "Baiklah aku terima. Terimakasih suami ku, aku bangga punya kamu." Elisa beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk Reynald.


Saking senangnya, ia menciumi pipi sang suami berkali-kali hingga Reynald merasa kegelian. "Sayang hentikan, geli kalau aku mau gimana Raffa kan belum tidur."


"Raffa kan lagi sama Bi Nini di bawah, aku mau kamu sekarang aku gemas dengan suami ku ini," ucapnya sambil mencubit pipi sang suami.

__ADS_1


Melihat sikap manja sang istri, membuat Reynald tidak tahan untuk tidak menciumnya. "Kamu memang selalu membuat ku gila." Ia meraih tekuk leher sang istri dan langsung me****** bibir merah muda itu.


Di atas sofa mereka kembali menyatukan indra pengecap mereka hingga terdengar suara eluhan indah yang membuat sekujur tubuh menegang. Karena takut kebablasan, Reynald. segera mengakhiri aktivitas mereka.


"Kenapa berhenti, aku mau lagi," ucap Elisa dengan manjanya.


Reynald pun di buat terheran-heran dengan tingkah sang istri. "Kamu ini kenapa, apa kamu mabuk?"


"Kamu pikir aku akan bertingkah seperti saat malam pertama kita dulu, kamu tau aku tidak bisa minum Alkohol tapi aku tetap memaksakan diri, aku takut mendapatkan sentuhan dari laki-laki, karena selama ini aku membentengi diri tapi karena surat wasiat Papa aku mau tidak mau harus menikah kamu tau demi apa ... demi hak harta warisan yang hanya bisa aku dapatkan setelah aku menikah dan melahirkan penerus keluarga Eduardo," jelas Elisa pada akhirnya.


Reynald tidak menyangka setelah sekian lama akhirnya Elisa menceritakan maksud awal pernikahan mereka. "Ternyata karena itu, akhirnya kamu cerita juga. Tapi El ... apa kamu masih membenci Papa mu?"


Tiba-tiba mata Elisa kembali berkaca-kaca. Ia terlalu bahagia sampai lupa tentang semua surat yang di tulis Papa untuknya. "Tidak, aku tidak lagi membencinya ... aku malah menyesal karena pernah menganggap Papa tidak menyayangi ku, sewaktu kamu koma, aku menemukan sebuah kotak di dalam laci meja kerja Papa, isinya adalah surat yang Papa tulis untuk ku. Di saat itu aku sangat sadar jika Papa menyayangi ku dengan caranya sendiri. Dia menyekolahkan ku jauh darinya karena tidak ingin aku terus teriksa setelah kepegian Mama."


Melihat istrinya bersedih Reynald bergerak cepat membawa Elisa ke dalam pelukannya. "Tidak ada orang tua yang membenci anaknya sendiri. Lupakan kesalahan Papa kamu dan yang harus kamu ingat adalah kamu terlahir ke dunia karena kamu di inginkan bukan sebaliknya."


"Terimakasih, Rey. Kamu sudah mengubah hudup ku menjadi lebih baik. Bukan hanya kamu yang berusaha untuk menjadi yang terbaik tapi aku juga akan terus berusaha menjadi istri yang baik dan Mama yang baik untuk Raffa."


Reynald melepaskan pelukannya dan menatap Elisa lekat. "I love you so much."


"I love you more babe." Elisa kembali memeluk Reynald dengan erat. "Huh aku mau lagi tapi kamu seperti tidak ya,” ucapnya tiba-tiba.


"Tahan, ini masih jam delapan malam, tunggu Raffa tidur ya," ucap Reynald lalu terkekeh bersama Elisa.

__ADS_1


Bersambung πŸ’“


Jangan lupa dukungannya ya readers πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2