Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.86 (Bertahan selamanya)


__ADS_3

"Bi aku titip Raffa ya malam ini, badan ku pegal semua karena sibuk mencari Reynald seharian," ujar Elisa seraya melirik kearah sang suami.


"Baik, Nona. Anda istirahat saja, lagi pula Raffa sudah tidur nyeyak ini," ujar Bi Nini.


Elisa hanya tersenyum kemudian melangkah menuju kamar yang ada di sudut ruangan. Tak lama Reynald pun ikut menyusul masuk kedalam kamar itu. Ia tahu Elisa pasti masih kesal kepadanya.


"Sayang, kamu marah," ucap Reynald seraya memeluk Elisa dari belakang.


Elisa menghela napas panjang kemudian berbalik menatap sang suami. "Aku tidak marah, tapi aku khawatir. Lain kali kamu jangan nekar pergi sendiri di kota seluas ini. Bagaimana kalau kamu benar-benar hilang dan tidak kembali lagi, ahkk memikirkannya saja membuat ku kesal."


Reynald memeluk Elisa erat. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sayang kamu sudah mandi?"


Elisa dengan cepat melangkah mundur. "Belum ... kenapa aku bau ya, aku seharian ini berada di luar."


Reynald kembali mendekat dan memeluk istrinya. "Bukan itu, sudah lama sekali kita tidak mandi bersama, sepertinya air hangat bisa meregangkan otot-otot ku tegang."


"Ck, mandi bersama? ... Kamu benar-benar pintar mencari alasan, aku mau mandi sendiri saja." Elisa hendak melangkah menuju kamar mandi namun Reynald lebih cepat melangkah mengikutinya. Ia menarik tangan Elisa masuk kedalam kamar mandi itu.


Ya, benar saja. Sesampainya di dalam, Reynald langsung mengangkat tubuh sang istri duduk di atas wastafel. Seperti singa yang sedang kelaparan ia ******* bibir hingga keleher sang istri.


"Ahhh, Rey." Eluhan kecil terdengar dari mulut Elisa saat kembali merasakan sensasi yang di berikan oleh suaminya itu.


Satu persatu kancing baju Elisa di buka Reynald dengan cepat, hingga akhirnya tidak ada lagi yang menempel di tubuh bagian atas Elisa. "Ini bulan madu kedua kita, jadi aku tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menc*umbu istri ku."


Reynald kembali menyerang gunung kembar milik sang istri yang sudah begitu menegang. Sementara tangannya yang juga tidak bisa diam sudah merambah ke mana.


Elisa mengigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan suara-suara eksotis. "Sayang...aaaahhh...emmmm" Namun pemainan Reynald di daerah sensitifnya membuat ia tidak bisa menahan diri untuk bersuara.


Seolah tidak ada ampun, tangan Reynald menelusup masuk ke bagian inti sang istri. Tangannya bergerak lincah mempermainkan sesuatu yang sudah sangat basah di bawah sana.


"Sayang...aahhh, aku sudah tidak tahan lagi." eluh Elisa saat tangan Reynald bergerak cepat mempermainkan sesuatu di balik rok sang istri.


"Nikmatilah, sayang," ucap Reynald lalu kembali menyatukan bibirnya dan bibir Elisa. Sementara tangannya terus bergerak cepat di bawah sana.

__ADS_1


"Rey...emmm...kamu aahhhh."


Mendengar suara indah Elisa membuat bagian dari diri Reynald sudah sangat tegang dan sesak meminta untuk segera keluar. Ia menurunkan Elisa dari meja itu lalu membalikkan badannya.


Ia menghantam bagian Elisa dari belakang dengan gerakan cepat dan penuh hasrat.


"Rey, lebih cepat sayang. Uhhh kamu membuat ku gila."


Reynald mempercepat gerakannya, "El, ahhh...ahhh, sedikit lagi sayang." Kenikmatan yang di rasakan Reynald membuat ia seperti terbang di angkasa. Kedua tangannya pun masih saja me*emas bagian dada Elisa.


Elisa mengigit bibir bawahnya keluh. Sungguh sensasi yang diberikan sang suami di luar kendalinya. "Rey ... Rey, aahhhh."


Reynald semakin menggila dengan gerakkannya hingga akhirnya. "Argghhh!" suara keduanya terdengar menggema di setiap sudut kamar mandi itu karena baru saja mencapai pelepasan yang sempurna.


Reynald membalik tubuh Elisa dan langsung mencium keningnya. "Terimakasih sayang."


"Kamu ... kamu gila, Rey."


"Ck, aku akan berbohong jika berkata tidak."


"Kamu mau lagi?"


"Apa!" Elisa membulatkan matanya saat mendengar ucapan Reynald. "Kamu ini minum obat atau apa sih."


"Aku masih mengingikan kamu, sayang. Bagaimana kalau di dalam bathtub saja."


"Oh God, are you okey?"


"Im okey, hehe." Tanpa basa-basi, Reynald membawa sang istri kedalam bathtub.


Malam itu, Reynald seolah baru saja melalui malam pertamanya kembali, ia mengulang hingga beberapa ronde karena hasrat yang kian membelenggunya.


...**...

__ADS_1


Di belahan bumi yang berbeda, Niko yang baru saja pulang kerja sore ini. Sempat terpana karena mendapati Sofia sedang berada di dapur. Ia mendekati istrinya itu melihat dengan lebih jelas apa yang sedang di lakukanya. "Kamu sedang apa?"


Sofia menoleh kearah Niko seraya tersenyum simpul. "Kamu sudah pulang. Aku sedang memasak makan malam untuk kita, kamu mandi sana."


"Sof, aku tidak salah dengar kan. Kamu masak untuk kita?"


"Aku ini sudah biasa memasak, cuma akhir-akhir ini aku malas saja, kenapa? ... Apa aku tidak boleh masak untuk suami ku?"


"Bu-bukan begitu, aku hanya tidak menyangka saja. Tapi aku sangat senang." Niko mendekati Sofia dan langsung mencium pucuk kepalanya. "Kalau begitu aku mandi dulu ya, istri ku." Ia melangkah pergi meninggalkan Sofia yang tiba-tiba saja diam terpaku karena tindakan Niko.


Wajah Sofia jelas nampak sangat merah dan jantungnya berdegup kencang. "Apa yang terjadi dengan ku, apa ini juga bawaan bayi ...."


Menjelang malam, setelah selesai mandi dan berpakaian, Niko keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju dapur. Sesampainya di sana, ia bisa melihat Sofia sedang sibuk menatap lauk dan perlengkapan makan di atas meja.


"Niko, kenapa berdiri di situ duduklah."


"Oh iya."


Niko melangkah duduk di samping Sofia yang masih berdiri menyiapkan piring. Ia menatap istrinya itu dengan lekat. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah istrinya itu sudah mencintainya atau hanya bentuk simpati saja.


Niko menarik tangan Sofia hingga jatuh duduk di atas pangkuannya.


"Kamu kenapa? ... Ehm, aku belum selesai menyiapkan makanan, aku ambil sayur dulu ya." Sofia hendak beranjak dari pangkuan Niko, namun Niko langsung memeluk pinggangnya dengan erat.


"Sebentar saja. Aku tidak tahu yang kamu lakukan ini adalah bentuk simpati atau kamu memang sudah mulai mencoba mencintai ku. Tapi aku harap tindakan kecil seperti ini akan berlangsung setiap harinya, dan kamu bisa menerima aku sebagai suami kamu, Sof."


Sofia terdiam sesaat. Dengan gerakkan pelan ia menepuk-nepuk bahu Niko. "Maafkan sikap ku selama ini. Aku pikir kamu sudah mencoba berubah sangat banyak demi aku dan calon anak kita dan aku juga ingin melakukan hal yang sama ... aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri."


Niko melepaskan pelukannya, menatap Sofia dengan lekat. "Aku mencintai kamu, Sofia." Ia meraih tekuk leher sang istri dan langsung mendaratkan ciuman hangat di sana.


Andai waktu bisa berhenti, aku ingin saat ini bertahan selamanya, batin Niko.


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2