
Viola segera melepaskan tangannya dari pipi Jack. Kemudian melangkah menghampiri Elisa dan Reynald yang masih memandang bingung kearah mereka. Jack pun juga ikut menyusul, meski sebenarnya ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun dan lebih bersikap santai dari Viola.
"Nona, ini tidak seperti yang Nona lihat. Malam tadi saya kemari untuk makan malam bersama Kak Jack tapi tiba-tiba saja hujan deras dan mati lampu jadi saya memutuskan untuk menginap ... tentu saja tidak terjadi hal yang kalian bayangkan," jelas Viola lalu menoleh kearah Jack. "Iya kan Kak?"
"Benar sekali, Rey tau persis aku ini pria sejati tidak akan main melakukan hal seperti itu di luar pernikahan." Jack tersenyum Pepsodent seraya menaikkan alisnya.
"Yang aku tau kau itu mesum, hahaha." Reynald tertawa begitu renyah karena baru saja membuat senyum di wajah Jack mengkerut.
"Sayang, jangan buat mereka malu," ucap Elisa seraya menyikut perut Reynald. Ia kembali menatap Jack dan Viola secara bergantian. "Aku tidak perduli apa yang telah terjadi di antara kalian malam tadi. Yang ingin aku tau adalah status kalian ini apa, pacaran?"
Jack dan Viola saling menoleh, sejenak mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Jika melihat yang mereka lewati hingga mulainya tumbuh rasa yang di luar batas untuk status teman? Sayangnya mereka masih belum yakin akan perasaan mereka masing-masing.
Jack dan Viola menggeleng bersamaan. "Tidak, kami tidak pacaran," jawab mereka kompak.
Lagi-lagi Elisa dan Reynald di buat terkekeh karena tingkah keduanya.
...**...
Mobil yang di kendarai Niko akhirnya sampai di halaman depan rumah Sofia. Mata mereka menatap tajam kearah depan saat melihat sebuah mobil hitam terparkir di sana. "Mobil siapa itu?" tanya Niko.
__ADS_1
Sofia tidak menjawab pertanyaan Niko dan memilih untuk turun dari mobil. Ia menghampiri mobil yang sudah begitu tidak asing baginya. Ya, ia tahu betul siapa pemilik mobil itu, tanpa pikir panjang ia mengetuk kaca jendela mobil.
"Keluarlah," ucapnya dengan nada yang datar seraya berpangku tangan.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil. Tentu saja wanita itu adalah Tante Eva, ia menghela napas panjang saat melihat wajah angkuh Sofia saat menatapnya. "Kamu benar-benar sudah keluar batas, Sofia."
"Ck, tante ini. Bukannya menyapa ku setelah lama tidak berjumpa, malah bertanya seperti itu. Ngomong-ngomong, sudah tobat? Setelah membuat aku di benci Reynald, bisa-bisanya sekarang tante bekerja sama dengan dia." Sofia menatap tajam kearah Tante Eva.
Ya, sejak awal Sofia memang sudah tidak ingin bekerja sama dengan Tante Eva untuk menjebak Reynald namun ia akhirnya tergoda hingga melakukan rencana itu. Yang membuatnya kesal, Elisa dan Reynald bisa menerima Tante Eva kembali tetapi dirinya sendiri hancur sehancur hancurnya.
"Tante minta maaf sama kamu. Sekarang tante sadar atas semua kesalahan Tante, sekarang Tante minta sebelum terlambat, hentikan semua rencana busuk mu itu, Sofia."
Sofia kembali berdecak kesal. "Ck, memangnya apa yang aku lakukan, hah?"
Sofia melangkah menghampiri Niko yang berdiri tidak jauh darinya. Sejak tadi Niko hanya diam saja dan berusaha menyerap inti dari pembicaraan Tante Eva dan Sofia, hingga akhirnya sedikit-sedikit ia mulai mengerti.
"Apa Tante tidak lihat, sekarang aku sudah move on dari Reynald, jadi untuk apa aku mengganggunya." Sofia mengalungkan tangannya di lengan Niko. "Dia adalah pacar ku, lebih tepatnya calon suami ku."
Tante Eva memandangi Niko dengan serius. Meski Sofia sudah mengatakan jika dirinya sudah move on. Namun Tante Eva tidak akan percaya begitu saja. Ia melangkah mendekati Sofia dan Niko. "Kamu pikir Tante akan percaya begitu saja ... sebelum kamu memutuskan untuk masuk ke dunia hitam itu, tante sudah lebih dulu melewatinya, jadi Tante tau betul mana yang real dan mana yang fake." Tante Eva menatap keduanya secara bergantian lalu berbalik pergi.
__ADS_1
Tante Eva masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Eva Sofia melepaskan tangannya dari lengan Niko dan melenggang masuk kedalam rumah. Niko pun segera menyusul untuk mendapatkan penjelasan dari Sofia.
Di dalam rumah, Sofia membanting sebuah vas bunga dengan kesal. "Berani-beraninya dia menatap ku seperti itu. Semua keluarga Eduardo sama saja, mereka sangat licik!"
"Kamu ini sebenarnya kenapa, Sofia?" Niko menangkup wajah Sofia dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku, apa kamu menerima ku hanya sebagai pelampiasan saja, apa kamu hanya ingin memanfaatkan aku sebagai alat balas dendam?"
Sofia menatap Niko dengan lekat. Apa dia juga akan meninggalkan ku, tidak boleh dia tidak boleh pergi sebelum semua rencana ku berhasil, aku harus membuat Niko tunduk padaku, batin Sofia.
Tanpa menjawab pertanyaan Niko, Sofia langsung mendaratkan ciuman panas di bibir Niko. Ia bermain di sana untuk membuat Niko kembali luluh padanya.
Mendapatkan Serangan tiba-tiba seperti itu, Niko tidak dapat menolak dan malah menikmati, sekujur tubuhnya menegang sempurna, sungguh Sofia benar-benar membuatnya candu.
Sofia melepaskan tautan mereka dan kembali menatap Niko dengan lekat. "Kamu tidak boleh meninggalkan aku seperti yang lain." Ia membelai dada bidang Niko dengan tangan kanannya hingga membuat Niko memejamkan mata karena mendapatkan satu rangsangan yang membuat pertahanan dirinya mulai, runtuh.
Tadinya Niko ingin mengakhiri semuanya saat mendapati fakta jika dirinya hanya di manfaatkan. Mungkin benar kata orang, cinta itu memang buta, meski logikanya meminta ia untuk segera pergi meninggalkan Sofia tapi tubuh dan hatinya memberikan respon berbeda.
"Kamu akan menjadi milik ku selamanya, Sofia." Niko mengalungkan tangannya di pinggang ramping Sofia dan kembali mendaratkan ciuman panas di bibir lalu berpindah ke leher.
"Ouhh Nik, geli sekali." Mata Sofia sudah nampak sayu karena serangan Niko pada bagian tubuhnya. Meski hatinya menjerit karena ia tidak memiliki perasaan kepada rekan kerjanya itu, tetapi di satu sisi dia harus mempertahankan Niko, karena pada dasarnya untuk tetap bertahan dia tidak bisa melewati semuanya sendiri.
__ADS_1
Niko meletakkan tubuh Sofia di atas Sofa. Ia kembali menjelajahi bagian dada hingga terdengar de*sahan halus dari mulut Sofia hingga menggema di sekeliling ruangan. Pagi itu mereka kembali melakukan penyatuan, meski tanpa ikatan namun hanya karena asas saling membutuhkan.
Bersambung π