Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.47 (Setelah apa yang sudah terlewati)


__ADS_3

Setelah kehebohan yang terjadi. Beberapa jam kemudian, Elisa di larikan ke ruang operasi, karena kondisi fisiknya yang lemah dan sempat mengalami syok pasca kondisi Reynald yang sempat memburuk, membuatnya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.


Di dalam ruang operasi, Elisa menatap nanar kearah lampu besar yang ada di atas kepalanya. Ia pasrah dengan keadaan yang ada, namun air matanya tidak henti-hentinya berbicara, jauh di lubuk hatinya ia ingin sang suami bangun dan menemaninya saat persalinan.


Saat obat bius mulai bekerja, ia bisa merasakan bagian perut bawahnya di sayat oleh dokter namun tidak terasa sakit sama sekali. Menit demi menit berlalu, akhirnya terlewati suara isak tangis mulai terdengar lirih. Buah hati Elisa dan Reynald terlahir ke dunia.


"Selamat ya Nona, bayinya laki-laki dan sangat tampan."


Seorang perawat menempelkan bayi itu ke bagian dada Elisa. Saat itu juga tangis Elisa mulai pecah ia memeluk bayinya yang akhirnya melihat dunia, dalam situasi yang di luar dugaan. Rey, kamu harus bangun dan melihat betapa lucunya anak kita, batin Elisa.


~


Sementara di luar sana. Tasya, Viola dan Jack tengah menunggu di depan ruang operasi. Melvin sendiri tidak bisa ikut menunggu karena harus menjaga sang kakak di ruang perawatan.


"Seharusnya masih dua minggu lagi, tapi kenapa tiba-tiba Nona Elisa melahirkan," ujar Viola yang belum mengetahui fakta yang sebenarnya karena ia baru saja tiba di rumah sakit.


"Tadi kondisi Reynald memburuk, kata dokter mungkin Elisa syok jadi seperti ini," ujar Jack tiba-tiba.


"Jadi Tuan Reynald tadi hampir ...." ucap Viola yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Benar Kak, kita berdoa saja semoga Kak Rey bisa cepat sadar dan Kak Elisa, bayinya juga selamat," ucap Tasya.


"Iya semoga saja ... aku sangat buru-buru saat pergi tadi. Sampai sepatu high heels ku patah begini, kaki ku sakit," ujar Viola dengan wajah cemberutnya.


Melihat kaki Viola yang lecet, Jack ingat punya sendal jepit di ruangan Reynald. "Ah aku punya sandal jepit apa kamu mau pakai?"


"Ah tidak perlu repot-repot, aku baik-baik saja," jawab Viola.


"Sudah tidak apa-apa, tunggu aku ambil sebentar," ujar Jack lalu melangkah pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian Jack. Pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter muncul dari dalam dan langsung menghampiri Viola dan Tasya.


"Bagaimana kondisi Nona Elisa dan bayinya Dok?" tanya Viola.


"Nona Elisa dan bayinya baik-baik saja, para perawat akan membawa Nona keruangan perawatan setelah jahitan pada bagian perutnya selesai di kerjakan," ujar dokter itu.


"Syukurlah, terimakasih Dok," ucap Tasya.

__ADS_1


~


Ting...


Pintu lift terbuka dan Jack kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Reynald yang berada di lantai lima rumah sakit itu. Sesampainya di depan pintu, ia meraih handel pintu dan langsung membukanya.


Terlihat Melvin sedang duduk di samping Reynald.


"Sudah selesai operasinya Kak?" tanya Melvin saat menyadari kedatangan Jack.


"Belum, aku kembali hanya untuk mengambil sandal jepit ku, Viola sekertaris Elisa membutuhkannya. Aku letakkan di mana ya," ucap Jack seraya terus mencari keberadaan sandalnya.


"Itu bukan," tunjuk Melvin ke arah sudut ruangan.


"Oh iya," ucap Jack lalu melangkah cepat untuk mengambil sandal yang ada di sudut ruangan. Setelah ia mendapatkan sandal itu, ia kembali menghampiri Melvin.


"Aku akan kembali ke lantai dua untuk memberikan sandal ini kepada Viola, kamu nggak apa-apa kan di sini sendiri?" tanya Jack kepada Melvin.


"Iya aku tidak apa-apa kak, semoga saja Kak Elisa dan bayinya selamat, pergilah," ucap Melvin lalu kembali duduk di samping Reynald.


Jack melangkah menuju pintu. Namun belum sempat ia meraih handel pintu itu, tiba-tiba Melvin kembali bersuara.


Jack yang mengira kondisi Reynald menurun sontak langsung berlajan dengan cepat menghampiri Melvin. "Kenapa lagi, apa kondisinya menurun?"


Mata Jack membulat saat melihat tangan Reynald bergerak dan matanya mulai terbuka. "Re-rey kamu sadar?" Ia menoleh kearah Melvin yang masih nampak tak percaya. "Vin Kakak kamu sadar cepat panggil Dokter."


"I-iya Kak." Melvin berlari keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter.


~


Di depan ruang operasi, Tasya dan Viola berdiri dari posisi mereka saat melihat Elisa yang terbaring di atas berangkar, keluar dari ruangan operasi. bersama dengan bayi yang saat ini di dalam tabung inkubator.


"Syukurlah anda baik-baik saja Nona, saya tadi sangat khawatir," ucap Viola seraya menggenggam tangan Elisa.


"Iya, terimakasih kalian sudah menunggu ku di sini," ucap Elisa yang masih terdengar lemah.


"Maaf Nona Elisa harus segera di bawa keruang perawatan," sahut seorang perawat.

__ADS_1


"Oh iya silahkan, sus," ujar Tasya.


Perawat-perawat itu kembali mendorong brankar menuju ruang perawatan yang ada di lantai lima, lantai yang sama dengan ruang rawat Reynald namun kamarnya berbeda.


"Kak Jack mana, kenapa lama sekali kaki sakit memakan sepatu ini," ujar Viola seraya menoleh kanan kiri.


"Tahan saja Kak, ayo kita susul Kak Elisa ke ruangan," ajak Tasya lalu menarik tangan Viola agar mengikuti langkahnya.


~


Sesampainya di ruang rawat. Setelah memastikan semua beres dua orang perawat itu meninggalkan ruangan. Kini tinggallah Viola dan Tasya yang ada di tempat itu mereka terus memandangi Elisa yang nampak tidak bersemangat setelah berhasil melahirkan bayinya.


"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Viola.


"Bagaimana bisa aku baik-baik saja, Vio. Anak k sudah lahir tapi Reynald belum sadar juga, aku harus bagaimana sekarang. Aku membutuhkan dia," jawab Elisa yang kembali menangis.


Tasya dan Viola saling menatap sesaat. mereka tidak tahu harus mengatakan untuk membuat Elisa kembali tenang. Di saat seperti ini seorang istri memang sangat membutuhkan suaminya.


"Kak sabar ya, aku yakin Kak Rey pasti akan sadar, Kakak tidak boleh seperti ini, bagaimana dengan anak Kakak," ujar Tasya pada akhirnya.


"Apa kamu bisa menjamin dia akan bangun. Hampir empat bulan dan Reynald belum juga sadar," ucapnya yang masih sesenggukan.


Tasya tak bisa berkata apapun lagi, begitu juga dengan Viola yang tidak berani bersuara karena takut Elisa semakin sedih.


Klek...


Pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka, Jack muncul dari balik pintu dan langsung berhambur menghampiri Elisa.


"Kak Jack kenapa terburu-buru seperti itu, ada apa?" tanya Viola.


Sebelum menjawab, Jack berusaha mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. "I-itu ... Reynald sudah sadar, dia sudah bangun."


"Apa! Kamu yakin?" tanya Elisa yang masih merasa semua tidak nyata.


"Benar, sekarang dokter sedang berada di ruangan untuk memeriksa kondisinya," ucap Jack lagi.


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya readers.


Sampai jumpa besok ya....


__ADS_2