Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.94 (Pertemuan)


__ADS_3

Niko dan Sofia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat ayah Niko di rawat. Selama perjalanan Sofia nampak gelisah, bagaimana tidak mertuanya tidak merestui hubungan mereka sejak awal tetapi sekarang minta bertemu.


Melihat kegelisahan sang istri, Niko dengan cepat langsung menggenggam tangannya. "Kamu jangan khawatir, Ayah orang yang baik Mama juga sebenarnya baik walau egonya sangat tinggi, aku yakin semua akan baik-baik saja."


"Aku hanya takut orang tua kamu tidak menerima ku, Nik." Sofia menoleh menatap sang suami yang sedang fokus menyetir. "Apa yang harus aku belikan untuk Ayah kamu ya?"


"Tidak perlu membeli apapun karena Ayah juga belum bisa makan apa pun, dia hanya mau kamu datang menemuinya." Niko menoleh sebentar kearah sang istri kemudian kembali fokus ke jalanan.


Sofia kembali menyadarkan tubuhnya. Dari kaca spion mobil ia melihat dua mobil petugas keamanan sedang mengikuti mereka. Ia menghembuskan napas berat, saat menerima kenyataan begitu berat baginya.


Hidup bagai terbelenggu dan kerkekang membuat ia cukup tertekan. Jika ada masa di mana satu hari ia bisa memperbaiki semuanya, ia ingin hari itu menjadi hari di mana ia berdamai dengan keadaan dan tidak melakukan hal gila seperti beberapa bulan yang lalu.


...**...


Di lain tempat, pagi penuh drama pun akhirnya terjadi karena Raffa yang seolah tidak mau di tinggal sang Mama untuk pergi ke kantor. Raffa terus ingin di gendong oleh Elisa tanpa mau lepas.


"Bagaimana ini, Bi. Saya ada rapat penting pagi ini ...." Elisa seolah kehilangan cara untuk membuat Raffa lepas darinya.


"Sepertinya karena efek liburan kemarin, Baby R jadi rewel, Nona. Mungkin lebih baik hari ini anda di rumah saja," ujar Bi Nini.

__ADS_1


Akhirnya Elisa meraih ponselnya untuk menelpon Viola.


"Vio, kamu handel rapat pagi ini. Raffa tidak mau di tinggal."


[Rapat pagi ini batal Nona, karena investor dari Jerman berhalangan hadir karena terkendala cuaca buruk di sana.]


"Huftt, Syukurlah kalau begitu."


[Nona fokus saja sama Raffa ya, saya akan membawa berkas perkejaan Nona malam nanti.]


"Oke, baiklah."


"Kalau begitu saya ke bawah dulu, Nona, Tuan," ucap Bi Nini lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


"Raffa kenapa nangis terus, aku dengar dari kamar mandi tadi?" tanya Reynald seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


"Dia tidak mau aku pergi, aku minta Viola menghandle semuanya hari ini," jawab Elisa.


"Kalau begitu aku juga tidak ke bengkel hari ini. Sepertinya Jack juga masih kelelahan jadi aku akan menemanimu menjaga Raffa," ujar Reynald.

__ADS_1


"Syukurlah, sepertinya kita memang masih butuh waktu untuk istirahat di rumah," ujar Elisa.


"Hm kamu benar, aku mau ganti baju dulu lalu kita sarapan sama-sama di bawah Tante Eva pasti sudah menunggu," ucap Reynald lalu melangkah pergi ke walk in closed.


~


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Sofia dan Niko beranjak turun dari mobil. Saat Niko terus melangkah, Sofia masih diam terpaku di tempatnya. Niko kembali berbalik dan meraih tangan sang istri. "Kamu kenapa lagi?"


"Aku gugup, Nik," jawabnya


"Sudah tidak apa-apa percaya padaku. Kamu punya aku dan aku akan melindungi kamu, ayo kita masuk." Niko menarik tangan Sofia agar melangkah mengikutinya.


Entaha apa yang akan terjadi nanti di dalam sana. Tentunya Sofia berharap dapat di sambut dengan baik, meski ia merasa harapan itu sangat kecil. Ia seorang narapidana kasus percobaan kasus percobaan pembunuhan, apakah pantas untuk mendapatkan perlakuan baik?


Sesampainya di depan pintu ruangan, Niko meraih handel pintu dan langsung membukanya. Degup jantung Sofia semakin tidak beraturan. Niko menarik tangan Sofia untuk melangkah masuk.


Sofia bisa melihat Mama menyuapi bubur ke ayah yang duduk di brankar rumah sakit.


"Selamat pagi Ma, Yah. Aku membawa istri ku hari ini," ucap Niko dengan lugas. Sementara Sofia masih diam tertunduk di belakang tubuh tegap sang suami.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2