Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.48 (Kenapa harus seperti ini?)


__ADS_3


...Aku bermimpi, berjalan di lorong yang gelap tak berujung, tanpa arah dan tujuan. Saat aku mulai menyerah dengan keadaan, ku dengar suara isak tangis mu memanggil ku kembali....


...Aku tidak tahu harus melangkah ke mana, semua hanya ruang hampa yang begitu gelap. Ku panggil nama mu dalam keyakinan ku bahwa ku akan kembali melihat dan merengkuh mu dalam pelukku....


...Ku telusuri kembali jalan sebelumnya, hingga sebuah tangan mungil menuntun ku untuk melangkah kearah seberkas cahaya yang sangat menyilaukan, ku pejamkan mataku dan saat mata kembali terbuka aku telah, kembali....


...~Reynald Dimitri~...


...🌻🌻🌻...


Perlahan matanya terbuka, samar-samar ia mendengar suara orang bicara, namun kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Ruangan yang ia lihat saat ini begitu asing.


Ekspresi wajahnya nampak kebingungan, ia menoleh ke kanan kiri, di mana sang adik tengah terisak-isak seraya memandangnya. "Me-melvin."


Akhirnya ia bisa mengucapkan satu kata di tengah kedaan yang membingungkan. Dalam hati ia berkata, aku di mana, kenapa aku ada di ruangan ini ... Melvin kenapa dia menangis, batin Reynald.


Reynald menatap seorang dokter yang saat ini sedang mengajaknya berkomunikasi, namun ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mengucapkan nama Melvin.


Banyak kata yang tak bisa ia ungkapkan karena kondisi yang masih sangat lemah. Ia kembali memanggil nama Melvin dan Melvin namun sedetik kemudian ia mengingat sesosok wanita yang ia sangat rindukan entah kenapa. "El-elisa mana."


"Huaaaa... aku kira Kakak lupa ingatan karena hanya memanggil nama ku saja sejak tadi." Melvin menangis haru karena merasa lega, ia pikir sanf Kakak kehilangan ingatannya, namun ternyata semua ketakutannya itu terjawab sudah.


"Tuan Reynald tidak kehilangan ingatannya, lebih tepatnya memori-memori ingatan baru saja pulih secara perlahan, Tuan Reynald mungkin akan membutuhkan waktu untuk mengingat semuanya," ujar Dokter.


"Aku ingin Elisa, dia di mana kenapa tidak menemani ku di sini," lirih Reynald perlahan.


"Kak Elisa tidak bisa ke sini kak, apa kakak belum ingat, kalau Kak Elisa sedang hamil, dia baru saja selesai di operasi tadi, anak kakak sudah lahir," ujar Melvin perlahan.


"Hamil? ...." Reynald berusaha mengingat semua kenangan apa saja yang sudah ia lewati bersama Elisa. Kenangan terakhir yang ia ingat adalah saat pergi berbulan madu bersama sang istri. Semakin ia mencoba kepalanya terasa semakin terasa sakit.


Melvin dan Dokter mulai panik saat Reynald terlihat kesakitan dan mulai menangis.


"Kak Rey, kakak kenapa?" tanya Melvin.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya Vin, apa yang terjadi dengan ku hah! Berapa lama aku tertidur di tempat ini, sampai membiarkan istri ku melewati kehamilannya sendirian," ujar Reynald yang terlalu terlihat sangat emosional.


"Tuan tenang ya, perlahan memori kenangan anda akan kembali pulih. Ini hanya efek dari trauma di bagian kepala Tuan tapi ini hanya sementara," jelas sang dokter.


"Aku ingin bertemu Elisa, Vin," ujar Reynald dengan ekspresi wajah sendunya.


Melvin tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap sang Dokter yang saat ini juga sedang melihat kearahnya.


Setelah koma selama berbulan-bulan. Ia kehilangan separuh ingatannya. Ia lupa saat-saat pernyataan cinta antara ia dan Elisa, ia melupakan momen bahagia saat mengetahui sang istri hamil dan juga ia melupakan peristiwa di malam ia di tabrak oleh Tante Elisa.


~~


Di ruangan berbeda, hal yang sama juga sedang terjadi. Elisa memohon kepada Viola dan Jack untuk membawanya bertemu Reynald. Tetapi menurut dokter tadi, Elisa hanya boleh bangun dan duduk setelah dua belas jam.


"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, aku ingin bertemu dia Vio, Kak Jack. Antar aku kesana aku mohon," ucap Elisa yang mulai berkaca-kaca.


"Kalau begitu saya akan bicara dengan dokter dulu ya Nona. Anda tenang dulu dan jangan banyak bergerak, okey," ujar Viola lalu melangkah pergi dari ruangan itu.


Sekarang tinggalah Jack dan Elisa di sana. Elisa kembali menenangkan diri karena pikiran yang campur aduk. Ia belum bisa bertemu bayinya karena harus di inkubator dan juga tidak bisa bertemu sang suami yang saat ini sudah sadar.


Di tengah keheningan yang terjadi di ruangan Elisa. Tiba-tiba saja ponsel Jack berdering tanda panggilan masuk. Jack melihat layar ponselnya, ternyata panggilan telepon itu berasal dari Melvin.


"Elisa aku angkat telepon dulu ya," ucap Jack pada Elisa.


"Iya Kak," jawabnya singkat.


Jack melangkah keluar ruangan dan langsung menerima panggilan telepon itu.


"Hallo, kenapa Vin?"


[Kak Rey sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan yang sama dengan Kak Elisa, kami akan segera ke sana.]


"Benarkah, syukurlah kalau begitu, Elisa sangat ingin kesana tapi dokter belum mengizinkan."


[Iya, tapi ada sedikit masalah.]

__ADS_1


"Masalah, apa?"


Melvin mulai menjelaskan detailnya. Ya, memang Reynald masih mengingat bahwa Elisa adalah istrinya tapi kejadian-kejadian setelah itu, Reynald belum bisa mengingat semuanya.


Jack kembali masuk ke ruangan Elisa dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir.


"Siapa yang menelepon Kak?" tanya Elisa tiba-tiba.


"Oh itu, Melvin. Dia bilang Reynald akan di pindahkan ke ruangan ini," jawabnya.


"Benarkah! Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Reynald," ujae Elisa.


"Iya sama, tapi .... dia ti--"


Klek.


Belum sempat Jack melanjutkan ucapannya orang yang di tunggu sudah datang juga. Saat ini Reynald sedang duduk di kursi roda yang di dorong oleh Melvin. Nampak Viola, seorang dokter dan perawat juga ikut masuk kedalam sana.


Mata Elisa nampak berkaca-kaca saat akhirnya kembali bertatap mata dengan Reynald. Ingin rasanya ia berhambur memeluk sang suami namun ia tidak bisa berbuat banyak karena kondisinya masih tidak memungkinkan.


Reynald menatap Elisa dengan ekspresi wajah yang susah untuk di artikan. Namun tersirat dengan jelas ada kesedihan di dalamnya. Perlahan kursi roda yang dorong Melvin bergerak hingga ke samping ranjang Elisa.


Dokter dan yang lainnya pamit terlebih dulu untuk memberikan waktu pada pasangan suami istri itu berbicara. Saat ini di ruangan itu hanya ada Elisa dan Reynald saja.


Perlahan tangan Reynald bergerak, meraih tangan Elisa dan di genggam erat. "Maaf karena aku tidak bisa menemani kamu di masa-masa kehamilan dan saat kamu bertaruh nyawa untuk melahirkannya."


"Aku baik-baik saja, aku bahagia karena kamu sudah sadar. Anak kita sehat, kamu bisa melihatnya besok." Elisa kembali menyeka air matanya.


Reynald menatap Elisa dengan lekat, entah apa yang ia pikirkan sampai akhirnya kata itu mulai terucap. "Anak kita sudah lahir, apa itu artinya pernikahan kita juga berkahir?"


"A-apa." Elisa nampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sang suami. Kenapa harus seluruh momen indah itu yang hilang dari pikiran Reynald. Namun ada satu hal yang pasti, bahwa Reynald masih mempunyai perasaan yang sama namun memori akan kenangan itu saja yang menghilang.


Bersambung πŸ’•


Selamat beraktifitas, sampai jumpa di bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2