Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.41 (Aku bertahan sekuat hatiku)


__ADS_3


...Aku pernah kehilangan banyak hal karena terlalu percaya bahwa dunia selalu memihak kepada yang lemah. Tetapi pada suatu waktu pikiran ku berbalik arah karena rasa trauma akan kepercayaan ku sendiri....


...Saat kamu datang membawa sebuah harapan, kamu membuka mata ku agar melihat dunia seluas-luasnya, hatiku tersentak dan terus bergerak beriringan dengan cinta yang mulai tumbuh....


...Hingga akhirnya aku mulai runtuh. Ku gantungkan segala harapan ku pada ucapan mu, untuk tidak pergi dan menghilang dari pandangan ku. Meski rahasia takdir tiada satu orang pun yang tahu aku percaya kamu adalah akhir dari dari perjalanan ku....


...๐ŸŒฟElisa Eduardo ๐ŸŒฟ...


.


.


.


Reynald mencoba melangkah menuju pintu keluar, dengan tubuh yang terasa terbakar dan napas tersengal-sengal, ia terus berjalan dengan ringkih.


Saat ia hendak meraih handel pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Sesosok wanita berparas indah berdiri di ambang pintu, wanita itu menatap Reynald dengan ekspresi datar.


"So-sofia, kamu kenapa bisa di sini? ... tolong aku, keluarkan aku dari sini sekarang," ucap Reynald dengan suara yang terdengar berat.


Bukannya menolong, Sofia malah mendorong tubuh Reynald hingga ke dinding, dengan jarak yang cukup dekat ia membelai wajah Reynald perlahan. "Aku pasti sudah buta selama ini, karena tidak pernah melihat betapa tampannya seorang Reynald.


Akhirnya Reynald mengerti jika semua yang terjadi pada dirinya tidak lain karena rencana busuk Sofia. "Ja-jadi kamu yang membuat aku seperti ini? ... apa harus dengan cara kotor seperti ini kamu ingin aku kembali!"

__ADS_1


"Maaf, aku tidak punya cara lain lagi. Aku menunggu sampai kamu datang kepada ku dengan suka rela tapi kamu malah terus bermain-main dengan wanita sombong itu. Malam ini akan ku jadikan kamu milikku seutuhnya."


Sofia hendak mendaratkan satu ciuman di bibir merah padam itu, namun Reynald langsung mendorong tubuh Sofia agar menjauh darinya. "Gila kamu! Hentikan sekarang juga, Sof. Kamu bukan wanita murahan, jadi jangan rendahkan harga diri kamu dengan perbuatan seperti ini!"


Sofia yang jatuh tersungkur ke lantai, perlahan mulai bangkit dari posisinya. Ia tak menimpali ataupun menanggapi ucapan Reynald, malah yang ia lakukan sekarang semakin berani saja. Sofia membuka atasannya hingga tersisa b*ra saja. Ia kembali mendekati Rumah yang saat ini nampak semakin kegerahan karena pengaruh obat perangsang.


Sofia meraih tangan Reynald lalu ia letakkan di bagian pundaknya, namun Reynald terlihat enggan untuk menyetuh dan berusaha menarik tangannya. "Ayo kita nikmati malam ini bersama, Rey. Aku milik kamu seutuhnya, bukankah ini yang kamu inginkan hah! Aku sudah membuang jauh-jauh harga diri ku untuk malam ini, ayo sentuh aku, sentuh!"


Reynald menatap Sofia dengan lekat, tubuhnya semakin memanas tapi hatinya masih terus bertahan. Ada hati yang ingin ia jaga dan ada mimpi yang ingin ia wujudkan bersama seseorang yang sedang menunggunya untuk pulang.


"Aku mohon lepaskan aku, Sof. Aku mencintai istri ku, meski kamu mendapatkan aku malam ini, aku tidak akan pernah mencintai mu. Kamu akan tersiksa selamanya. Kamu orang yang baik, seharusnya kamu tidak bertingkah seperti ini. Ingat kita ini teman."


"Aku tidak mau jadi teman kamu, Rey. Bukan kah dulu kamu menginginkan aku? Sekarang aku datang kepadamu tapi kenapa kamu malah menolak dan bertahan demi cinta kamu ke dia!"


"Elisa orang yang baik dan menghargai aku, Sof. Kami sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Apa kamu tega merusak kebahagiaan kami? Lalu apa yang akan kamu dapatkan, hah ... cinta? Aku tidak akan pernah mencintai wanita licik seperti kamu!"


"Aku mohon lepaskan aku sekarang dan sadarlah! Kamu sudah berbuat salah, ini bukan diri kamu Sof!"


Sofia menangkup wajah Reynald dengan kedua tangannya. Ia mencoba mencium agar tubuh Reynald semakin terangsang namun sepertinya usahanya sia-sia. Reynald terus menolak dan kembali mendorong tubuhnya dari Sofia. Wajahnya nampak tergores karena cengkram jari Sofia yang tak ingin melepaskannya.


"Kamu bukan lagi sahabat yang aku kenal! Sofia bukan wanita murahan seperti ini. Aku kecewa sama kamu, aku benci kamu, Sof!" seru Reynald dengan semua tenaga yang tersisa. Ia benar-benar tidak menyangka Sofia akan berbuat sejauh ini.


Reynald mencoba terus bertahan agar tidak goyah. Pemandangan yang ada dihadapannya sekarang sungguh membuat tubuhnya semakin terangsang dan ingin di tuntaskan namun ia terus membayangkan wajah Elisa yang saat ini sedang menunggunya pulang.


Sofia yang jatuh tersungkur ke lantai terus menangis. Ia pikir rencana ini pasti berhasil, namun saat ia sudah membuang harga dirinya pertahanan diri Reynald tetap kuat dan tidak tergoda.

__ADS_1


Melihat Sofia yang mulai lengah. Reynald memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur, ia melangkah dengan cepat menuju pintu, untung saja pintu itu tidak terkunci. Reynald keluar dari unit apartemen itu secepat yang ia bisa.


Sekarang tinggalah Sofia yang berada di dalam ruangan itu. Ia menangisi ke bodohanya karena sebuah obsesi yang tak bertepi. Ia juga bingung kenapa dirinya menjadi seperti ini. Ya Reynald benar, ia sudah kehilangan jati diri karena terlalu terobsesi.


Perlahan ia bangkit dari posisinya, meraih baju yang tadi ia buka begitu saja di hadapan Reynald. Ia kembali memakai baju itu dan meringkuk di sudut ruangan, harga dirinya benar-benar sudah hancur karena ulahnya sendiri.


~


Reynald melangkah dengan lunglai keluar dari gedung apartemen itu. Kepalanya semakin terasa berat karena pengaruh obat. Ia terus berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya, namun ia nampak kebingungan karena pandangannya yang kurang jelas.


"Sebaiknya aku telepon Jack." Reynald merogoh kantongnya, setelah ia berhasil menemukan ponselnya ia segera mencari nomor Jack, belum sempat ia menelpon, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara mobil yang melaju kencang.


Sontak ia berbalik melihat kebelakang. Cahaya lampu mobil yang menyilaukan membuat pandangannya buram, namun sedetik kemudian--


Bruuukkk!!!


Mobil itu menabrak Reynald hingga terhempas ke udara lalu tersungkur ke tanah. Darah segar mulai mengalir di pelipisnya. Tangan yang bergetar, hendak meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, namun pandangan buram, tubuhnya juga semakin lemas.


Sedetik kemudian...


Reynald mulai kehilangan kesadarannya.


Bersambung ๐Ÿ’•


Jangan lupa like+komen+vote ya reader terimakasih.

__ADS_1


Sampai jumpa besok lagi ya ๐Ÿ˜‰


__ADS_2