Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.50 (Bahagianya Baby R)


__ADS_3

Tiga bulan berlalu...


Kebahagiaan itu kembali menyelimuti keluarga kecil Reynald dan Elisa. Mereka sekarang sudah di temani malaikat kecil yang mewarnai hari-hari mereka.


Hari ini, di Mansion mewah milik keluarga Eduardo, sedang di laksanakan acara syukuran atas kelahiran pewaris selanjutnya keluarga itu. Sudah banyak tamu dari kalangan yang berdatangan.


Banyak pula dari kalangan pemburu berita yang ingin meliput secara langsung kebahagiaan keluarga itu, meski hanya lewat pintu pagar saja. Karena acara hari ini berlangsung secara privasi, tidak untuk di liput oleh media manapun.


Di bagian halaman Mansion sudah di sulap menjadi lokasi pesta outdoor yang di penuhi dengan hiasan yang dominan berwarna biru dan putih.


Sementara di bagian dalam, juga demikian. Para pelayan dan petugas catering terlihat sangat sibuk, karena acara sudah mulai dan orang sudah sangat ramai.


Reynald dan Elisa terlihat sangat antusias, mereka berbaur dengan para tamu yang datang. Tidak sedikit orang yang baru saja melihat Reynald dari dekat, berdecak kagum karena melihat ketampanannya.


Baby R yang menjadi pusat perhatian hari ini sudah tidak lagi di tangan sang Mama. Ya, Baby R di gendong oleh Tasya yang saat ini sedang berkumpul bersama Melvin, Jack, dan juga Viola.


"Raffa mana, El?" tanya Reynald saat tidak melihat bayinya di tangan Bi Nini.


"Oh itu, sama Tasya di depan," jawabnya.


"Ayo kita kesana. Kita juga belum menyapa tamu di depan kan," ajak Reynald.


"Kamu kenapa antusias sekali? Kamu senang ya di puji-puji wanita-wanita cantik itu. Pokoknya kamu tidak boleh jauh dariku," ucap Elisa dengan wajah cemberutnya.


"Kamu akhir-akhir ini cemburuan sekali." Reynald mencubit pipi Elisa gemas, "Kenapa kamu jadi menggemaskan seperti ini."


"Rey, sakit tau," ucapannya seraya mengelus bagian pipi yang di cubit oleh Reynald.


Reynald mendekati Elisa dan langsung merangkulnya. "Kamu tau aku hanya akan melihat satu wanita di dunia ini, yaitu kamu. Seharusnya kamu tidak perlu ragu lagi."


"Aku tidak ragu aku hanya ... takut, karena kamu belum mengingat apa saja yang sudah kamu janjikan padaku dulu, bisa saja kamu tiba-tiba berubah kan," ujar Elisa lagi.


"Aku akan selalu di sisi mu, mencintai kamu apa adanya dan berjanji untuk tidak pergi dan menghilang, itu kan?"


Elisa menoleh menatap suaminya dengan ekspresi tak percaya. "Ka-kamu sudah ingat? Tunggu dulu sejak kapan kamu tiba-tiba mengingat semuanya, rasanya baru dua hari lalu aku bertanya kamu bilang belum ingat apapun ... kamu berbohong ya?"

__ADS_1


Reynald hanya tersenyum dengan menunjukkan susunan gigi-gigi rapinya.


"Ah kamu, kenapa tidak bilang sih," ucap Elisa sambil mencubit perut Reynald.


"Aw sakit sayang," keluh Reynald saat merasakan sakit di bagian perutnya.


"Biarin, kamu ngeselin tau, malam ini pokoknya kamu tidak dapat jatah," ketus Elisa lalu melangkah pergi meninggalkan sang suami.


"Sayang kamu mau kemana!" seru Reynald namun tidak di gubris oleh Elisa.


Reynald hanya terkekeh seraya memandangi kepergian sang istri. Sudah beberapa hari ini, satu persatu ingatan akan kenangan bersama sang istri perlahan muncul kembali. Ya, termaksud kejadian malam itu juga, saat di mana Sofia berusaha menjebaknya.


Hal tersebut membuat Reynald kembali merasa dilema. Haruskah ia menceritakan semua hal itu kepada Elisa? Jika nanti hanya akan membuat sang istri menjadi marah dan melakukan hal nekat, Reynald harus berpikir dua kali sebelum mengatakannya.


Setelah beberapa saat. Reynald menyusul sang istri ke halaman depan. Perjalanannya tidak berlangsung lancar karena ada saja tamu yang mengajaknya untuk mengobrol atau sekedar untuk bersalaman.


"Kak Rey, sini!" seru Melvin seraya melambaikan tangannya.


Mendengar suara sang Adik. Reynald melangkah menghampiri sang adik yang tengah berkumpul dengan yang lainnya juga. Tentu saja Elisa juga sudah berada di sana untuk menggedong baby R.


"Wah anak Papa ternyata di sini," ujarnya seraya mengelus pipi Baby R.


"Kenapa lagi sih kalian?" tanya Jack.


"Ini loh, teman kak Jack ini. Ternyata sudah mengingat semuanya dan memberitahu kita. Setiap malam aku susah tidur karena memikirkan kapan ingatannya kembali," tutur Elisa kesal.


"Beneran Kak?" tanya Melvin kepada Reynald.


"Iya, sudah beberapa hari ini. Aku ingin memberikan kejutan kepada Elisa tapi ternyata dia malah kesal," jawab Reynald seraya melirik kearah Elisa.


"Kalau begitu Kakak ingat tidak, akan memperbolehkan aku pindah kampus ke Melbourne," ujar Melvin tiba-tiba.


"Hah Melbourne? Memangnya Kakak pernah bilang begitu?" tanya Reynald bingung.


"Kamu percaya aja Rey, dia ngawur," sahut Jack lalu mengacak-acak rambut Melvin.

__ADS_1


Reynald hanya menggelengkan kepalanya seraya menatap sang adik yang saat ini sedang menunduk.


"Tapi aku serius ingin pindah ke sana, Kak El bilang akan mengurus semuanya kalau Kak Rey setuju," ucap Melvin lagi.


Mendengar hal itu, Reynald menoleh ke arah Elisa. "Bener begitu El?"


"Ehm i-iya, Tasya akan pindah ke sana. Aku pikir kalau ada Melvin menemaninya aku akan lebih tenang. Izinkan saja, di sana banyak kampus bagus," jawab Elisa.


"Bener Kak Rey, di sana banyak kampus bagus," sambung Tasya.


"Tuan Reynald tenang saja, saya pastikan mereka tinggal di tempat yang aman," tambah Viola.


Reynald nampak berpikir sejenak, ia tahu ini adalah kesempatan Melvin untuk meraih cita-citanya. Ia tidak boleh melarang jika memang sang adik bersungguh-sungguh untuk belajar.


"Baiklah, kamu boleh pindah," ucap Reynald pada akhirnya.


Melvin dan yang lain bersorak gembira. Acara hari ini semakin bertambah meriah. Mereka tertawa bersama, menyapa para tamu yang tidak hentinya berdatangan.


Elisa akhirnya kembali bisa tersenyum kepada sang suami. Mereka saling bertatapan lalu beralih menatap baby R yang juga terlihat tersenyum. "Eh dia juga ketawa," ucap Reynald.


"Eh ayo kita foto bersama, kita belum foto keluarga kan," ajak Elisa.


"Oh iya, tunggu aku panggil fotografernya dulu," sahut Jack.


Setelah fotografer datang. Mereka membuat formasi layaknya keluarga bahagia. Ada Reynald, Elisa, Baby R, Melvin, Tasya, Jack, Viola, Bi Nini namun tanpa kehadiran Eva yang seharusnya juga hadir di antara mereka.


Namun Eva lebih memilih untuk menjalani hukumannya. Untuk menebus segala yang ia lakukan dulu.


Setelah selesai berfoto bersama. Kini giliran keluarga kecil Reynald. Elisa duduk di sebuah kursi seraya menggedong bayinya sementara Reynald berdiri di belakang sang istri.


Ckrekkk...


Akhirnya lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil itu. Apa yang sudah mereka lalui bersama, pahit dan manisnya adalah bagian dari perjalanan yang tidak mudah.


Namun semakin berat cobaannya, maka kebahagiaan yang menanti juga akan semakin besar.

__ADS_1


Saat kamu mencoba untuk jatuh cinta. Maka jangan menghalangi diri dengan ketakutan kamu sendiri, coba dan buktikan sendiri karena tidak selamanya cinta akan berkahir dengan kata putus, ada kalanya kamu menemukan cinta sejati dalam diri cinta pertama mu.


Bersambung πŸ’•


__ADS_2