
Lima bulan berlalu. Tasya dan Melvin akhirnya kembali ke tanah air untuk sebuah acara penting yang harus mereka hadiri sekaligus untuk menjalani liburan akhir tahun mereka di tanah air.
Sesampainya di Bandara, mereka langsung di sambut pelukan hangat Tante Eva. Ia memeluk sang putri lalu beralih memeluk Melvin. Tidak hanya Tante Eva saja, di sana juga ada Elisa dan Reynald yang ikut menjemput.
Reynald mendekat dan langsung memeluk sang adik erat. "Akhirnya kamu kembali lagi ,Kakak senang kamu terlihat baik."
"Aku sangat merindukan kakak, Kak Jack dan semuanya." Sebelum melepaskan pelukannya, Melvin segera menyeka air matanya agar tidak terlihat oleh Reynald dan yang lain.
Melvin bergantian memeluk Elisa. "Kakak kenapa Raffa tidak di ajak?"
"Dia memilih untuk ikut Bi Nini ke rumahnya, semakin besar dia semakin lengket sama Bi Nini," jawab Elisa.
"Terus kak Jack dan Kak Vio?" tanya Tasya.
"Si Jack tidak bisa datang karena sedang persiapan untuk pernikahannya. Untuk saja kalian datang sebelum acara tujuh hari lagi." Sahut Tante Eva yang masih saja bergelayut manja di lengan sang putri.
"Aku jadi penasaran, seperti apa stresnya Kak Vio menghadapi pernikahan mereka," ujar Tasya.
"Bagaimana kalau kita makan saja sekarang, aku sangat lapar sudah lama tidak makan di tanah air ku tercinta," ujar Melvin seraya mengelus perutnya.
"Di dekat sini ada restoran enak," sahut Elisa.
__ADS_1
"Ya sudah kita makan dulu kalau begitu," ucap Reynald lalu melangkah pergi bersama yang lainnya.
~
Di tempat berbeda. Viola dan Jack sedang berdiskusi serius masalah desain undangan apa yang akan mereka pakai untuk undangan pernikahan mereka. Sudah satu jam perdebatan terjadi namun tak juga menemukan titik terang.
"Aku mau yang ini. Kamu lihat warnanya sangat elegan dan mewah," ucap Viola.
"Tapi sayang, lihat desain ini lebih estetik," ujar Jack meraya menunjuk kearah layar laptop.
Sang penyedia jasa pembuat undangan pun dial buat bingung oleh sepasang calon suami istri itu. "Ehm, Masa Tuan dan Nona apa sudah menemukan desain yang cocok?"
"Be-begini saja. Karena Nona suka desain yang ini dan tuan yang ini. Saya akan gabungkan kedua desain menjadi satu perpaduan, bagaimana?" bujuk pembuat undangan itu yang terlihat mulai stres.
Jack dan Viola nampak sedang berpikir. Sepertinya mereka menyetujui anjuran dari orang itu, karena sejak tadi tak juga menemukan titik terang.
"Baiklah, aku setuju," ujar Viola.
"Aku juga dari pada tambah panjang urusannya," ucap Jack seraya memijat keningnya yang terasa pusing.
"Siap, kalau begitu undangan akan siap besok pagi," ucap orang itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit dulu, permisi," ucap Viola lalu melangkah keluar dari tempat itu.
Sesampainya di dalam mobil. Viola langsung menyadarkan tubuhnya di kursi mobil. "Akhirnya persiapan semua selesai. Besok kita harus pergi ke tempat spa untuk merilekskan tubuh."
"Terserah kamu saja, aku ikut saja sekarang. Huftt aku bingung kenapa setiap pilihan kita pasti berbeda dari mulai desain dekor, pakaian dan juga undangan. Selera kita benar-benar berbeda," ujar Jack.
Viola menoleh dan langsung menatap sang pacar. "Kamu seharusnya ngalah sama calon istri, aku kaduin ke enya baru tau kamu."
"Wahaha, sekarang kamu bahkan mengambil perhatian enya. Aku merasa anak tiri kalau gini," ucap Jack menatap Viola tak percaya.
"Udah ah acara tinggal seminggu lagi kita jangan sampai berantam. Aku cinta kamu dan mau nikah sama kamu makanya aku mau yang terbaik meskipun di mata kamu itu bukan yang terbaik," lirih Viola.
"Hufft." Jack menghela napas panjang kemudian menggenggam tangan calon istrinya itu.
"Aku minta maaf ya, pokoknya mulai sekarang apapun yang kamu mau aku pasti turuti deh, udah jangan ngambek, pipinya tambah bulet," ucap Jack seraya menahan tawanya.
"Ah ayang, jangan ngeledek. Ayuk jalan aku lapar," ucap Viola dengan manjanya.
"Oke, siap Tuan Putri," ucap Jack lalu tancap gas meninggalkan tempat itu.
Bersambung π
__ADS_1