
Elisa menatap wajah suaminya lekat. Sejak pertama kali ia memutuskan untuk menikah dengan Reynald, meski status mereka hanya pura-pura tetapi ia tidak pernah melihat kebohongan dari mata suaminya.
Reynald selalu berjuang untuk membahagiakan sang istri. Tak pernah ingin di anggap menikah dengan pewaris tunggal EA grup adalah aji mumpung dalam hidupnya, Karena baginya ia adalah tulang punggung keluarga yang harus memberikan nafka untuk anak istri meski tidak sebesar pendapatan sang istri sebagai pemilik perusahaan besar.
"Aku marasa beruntung sekali karena bisa bertemu pria seperti kamu." Elisa mendekati sang suami dan langsung memeluknya. "Aku sudah memikirkannya, sepertinya punya satu anak lagi tidak masalah."
Reynald melepaskan pelukan Elisa darinya. Di tatapnya wajah Elisa penuh harap. "Kamu serius? El, aku benar-benar menginginkan adik untuk Raffa. Jika kamu mau malam ini kita berjuang lagi dan aku tidak akan memakai pengaman itu"
Bug..
Elisa memukul lengan sang suami, ia malu dan kesal karena Reynald membahas hal seperti itu di depan umum. Ya, meskipun mungkin tidak akan ada yang mengerti bahasa mereka di sana. "Kamu jangan bahas itu dong, aku kan malu. Pokoknya begitu lah jangan di bahas lagi." Elisa kembali berjalan meninggalkan sang suami yang masih diam terpaku dengan senyum yang tak hentinya mengembang sempurna.
~
__ADS_1
Jack dan Viola yang sedang membeli camilan di sebuah stand yang tidak jauh dari sungai. Jack hanya bisa terperangah saat mendengar kemampuan berbahasa Inggris sang pacar, tentu saja tidak di ragukan lagi karena Viola adalah lulusan terbaik di salah satu universitas di Jepang.
"Thank you, this cake looks delicious." Viola menyerahkan uang untuk membayar kue yang ia beli.
Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Jack dan Viola melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah kursi panjang yang terletak persis di bibir sungai.
Mereka duduk saling berdampingan. Viola menyerahkan sekotak cake dan minuman cola kepada Jack. "Kamu harus mencoba ini, aku lihat di internet kue ini sangat enak."
Viola menghentikan aktivitas makannya dan beralih menatap sang pacar yang duduk tertegun di sampingnya. "Kenapa merasa seperti itu. Kamu tidak liat Nona Elisa dan suaminya, mereka langgeng saja meskipun Tuan Reynald hanya pria biasa."
"Ya, tapi Reynald punya usaha sendiri dan sekarang sudah sangat berkembang hingga akan membuka cabang di berbagai daerah, sementara aku hanya jomblo karatan yang selalu mengekor di belakang Reynald."
Viola menggenggam tangan Jack dengan erat. "Kamu tau, cinta yang tulus itu susah di cari. Aku menyukai kak Jack karena apa adanya diri kakak, Ibu juga mendukung dan tidak mempermasalahkan pekerjaan Kakak, yang penting aku bahagia itu saja sudah cukup kok."
__ADS_1
"Terimakasih, aku akan bekerja lebih keras agar bisa meresmikan hubungan kita, aku ingin kita menikah secepatnya. Jujur aku iri melihat Reynald yang sudah punya istri dan anak."
Wajah Viola seketika memerah padam. "Me-menikah? ... ehm, Kak Jack jujur sekali. Seharusnya di rahasiakan dulu sampai Kakak benar-benar melamar ku Seca resmi."
"Memangnya kamu mau di lamar seperti apa? Aku ini orang yang gerogian, mau romantis malah gagal kan tidak lucu." Lagi-lagi Jack menghela napas panjang.
Viola menggelengkan kepalanya cepat. "Aku mau Kakak melamar ku saat Kakak sudah benar-benar yakin dan jadilah diri Kakak sendiri."
"Aku sudah yakin walaupun hanya mengenal kamu belum lama ini, tapi lamaran hanya akan terjadi sekali seumur hidup jadi harus menjadi salah satu momen yang sakral. Aku mau setelah ini kamu bertemu dengan kedua orang tua ku, tapi jangan kaget mereka hanyalah orang sederhana."
"Kenapa bilang gitu sih, Kak. Aku juga bukan orang berada, jangan malu. Huh ... aku jadi tidak sabar kembali ke tanah air, mau ketemu orang tua Kakak."
Bersambung π
__ADS_1