
plakkk!
"Kamu anak tidak berguna, cepat belikan Mama minuman lagi!!"
Sofia jatuh tersungkur ke lantai saat baru saja pulang bekerja di salah satu perusahaan swasta. Lagi-lagi ketika pulang, ia mendapati sang Mama yang mabuk-mabukan. Sudah sejak lama Mamanya menjadi seorang pecandu alkohol, di usia yang tak lagi muda, Mama belum juga bisa berhenti dari kebiasaan buruknya.
"Ma, kita harus berhemat. Pengeluaran kita bulan ini sangat banyak, meski gaji ku besar, tidak akan pernah cukup jika Mama terus mabuk-mabukan seperti ini, cukup Ma, cukup!" Sofia menangis tersedu-sedu di lantai ruang tamu rumahnya.
Setiap hari, terasa semakin berat untuknya. Mencoba untuk menguatkan diri, namun tak semua tidak semudah yang di bayangkan, ia butuh sandaran namun semua seolah menghilang darinya.
"Hemat? ... Seharusnya kita tidak perlu berhemat andai kamu tidak membatalkan pertunangan kamu dan Diki!" Mama mendekati Sofia dan menjambak rambutnya. "Sekarang kamu keluar dan belikan Mama minuman lagi!"
Sofia hanya bisa meringis kesakitan. Ia berdiri dari posisinya dan malah melangkah cepat menuju kamar. Ia masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia duduk dengan menekuk kedua lututnya di depan pintu kamar.
Andai dulu ia tidak mengikuti keinginan Mama. Mungkin saat ini ia sudah bahagia bersama Reynald. Sekarang karma seakan menimpanya secara berturut-turut, ia frustasi dan ingin menghilang dari dunia.
Namun dendam dalam dirinya kembali berkobar. "Semua ini demi Elisa, kenapa semua orang berpihak kepadanya. Awas saja kamu gadis sombong," gumam Sofia.
"Hey bodoh! Cepat buka pintunya, belikan Mama minuman cepat. Dasar anak tidak berguna, kalau kamu tidak punya uang lagi jual diri saja sana!"
Sofia duduk meringkuk seraya menutup kedua telinganya, berharap ia tidak lagi mendengar ucapan sang Mama. Semua orang di luar sana memujinya cantik dan punya kehidupan yang bahagia.
Tetapi mereka tidak tahu, apa saja yang Sofia sembunyikan dari balik senyuman dan keceriaannya di depan semua orang. Ia hanyalah anak yang harus menopang segala keegoisan sang Mama, baik itu dulu ataupun sekarang.
~
Melvin masih diam terpaku di tempatnya. Ia menatap Tasya tak percaya, hampir tergoda namun sedetik kemudian ia mencoba menyadarkan diri agar tidak lagi menaruh harapan jika pada akhirnya akan patah lagi.
Tangan Melvin bergerak dan...
__ADS_1
Ptaaakk...
"Aw sakit," keluh Tasya merasakan nyeri di bagian jidatnya karena di jitak Melvin.
"Kamu lagi becanda ya, atau ada maunya bilang aja nanti Kak Melvin kabulin nggak perlu ngomong ngawur," ujar Melvin yang berusaha tetap bersikap normal.
"Siapa yang ngawur sih ak--"
Tasya tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Melvin berdiri dari posisinya. "Udah malem nih, aku balik ya."
Tasya ikut berdiri dan langsung menghadang langkah Melvin. "Kok cepat banget, katanya mau bantu aku."
Lagi-lagi tangan Melvin bergerak dengan gerakan seperti akan memberikan jitakkan ke kepala Tasya. Tasya memejamkan matanya, namun ternyata yang ia dapatkan adalah tepukan lembut di bagian kepala. "Beresin sendiri ya, aku takut nemu segitiga lagi." Melvin melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar itu.
Tasya hanya bisa diam terpaku. Sekujur tubuhnya merinding hanya karena mendapatkan sentuhan di bagian kepala. Ia bukanlah gadis polos yang tidak pernah merasakan sentuhan pria, karena ciuman pertamanya pun sudah di ambil oleh mantan pacarnya, Alex.
Di luar kamar...
Melvin akhirnya bisa bernapas lega, ia menyadarkan tubuhnya di besi pembatas tangga. Tangannya menempel di dada sebelah kiri, ia bisa merasakan detak jantungnya tidak beraturan. Maafkan aku, Sya. Kamu sudah terlalu sering membuat ku salah paham dan menyangka kamu benar-benar menyukai ku ternyata itu hanya bentuk perhatian kamu aja. Kali ini aku tidak akan terkecoh lagi, batin Melvin.
"Vin kapan kamu datang?" tanya Reynald yang tiba-tiba saja berada di hadapan sang Adik.
Melvin sampai terperanjat kaget ketika tiba-tiba saja sang Kakak muncul dengan muka bantalnya. "Astaga, Kenapa Kakak berantakan sekali?"
"Aku ketiduran bersama Raffa. Kamu mau pulang atau baru datang?" Reynald mencoba merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ini mau pulang Kak, tadi cuma ketemu Tasya sebentar," jawabnya.
"Jangan pulang dulu, kita ngopi di taman belakang," ujar Reynald.
__ADS_1
Melvin melihat jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul delapan malam. "Boleh lah, sudah lama kita nggak ngopi bareng."
...**...
Di area taman belakang Mansion. Reynald kembali menghampiri sang adik dengan dua cangkir kopi instan buatannya sendiri. Ia meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja lalu ikut duduk di samping Melvin.
"Gimana sudah siap kuliah di luar dengan modal yes no yes no aja?" tanya Reynald yang lebih terkesan meledek.
"Kakak jangan meledek ku, meski bahasa Inggris ku masih kurang, tapi sekarang akan ada mbah google translate, lagi pula ada Tasya yang jago bahasa Inggris," tutur Melvin lalu meraih secangkir kopi di atas meja.
"Kakak perhatikan kamu sangat perduli dengan Tasya, kamu suka sama dia?" tanya Reynald tiba-tiba.
"Uhukk...uhukk." Melvin sampai tersedak kopi, ia mencoba mengatur napas kemudian menoleh ke samping Kakaknya. "Bukan begitu, kita kan keluarga bukannya sudah seharusnya saling bantu, saling perduli."
Reynald terkekeh seraya menepuk pundak adiknya. "Hey, kamu udah berapa tahun jadi adik Kakak hah?"
"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja saat Mama melahirkan ku. Kakak ada-ada aja." Melvin menghela napas panjang kemudian beralih menatap langit malam.
Reynald juga ikut menatap nanar ke arah langit. Melihat sang adik sekarang, ia seperti dirinya yang dulu, ketika tergila-gila kepada Sofia tetapi tidak bisa mengungkapkannya.
"Vin, cinta itu sama dengan kejelasan. Saat laki-laki hanya membutuhkan sebuah komitmen tapi perempuan butuh pengakuan, mereka menginginkan status yang jelas. Jangan sampai kamu menyesal, membiarkan tahun-tahun berlalu dengan sia-sia sampai akhirnya kembali harus melihat dia bahagia dengan orang lain. Kakak sudah pernah mengalami, jangan sampai nasib kita sama," jelas Reynald.
"Ya Kakak memang nggak dapat Kak Sofia tapi gantinya dapat crazy rich Elisa Eduardo, gimana tuh. Aku juga mau kalau di ujung perjuangan dapat tuan putri," ujar Melvin.
"Yakin nggak suka sama Tasya, kalian bakal tinggal bareng di Melbourne, kalau tiba-tiba dia bawa pacar bule kamu yakin nggak nyesel, cuma bisa elus dada aja," ucap Reynald saat menoleh kearah sang adik.
Melvin kembali tertunduk lesu. Ucapan sang Kakak ada benarnya. Ia sendiri tidak yakin akan baik-baik saja jika kelak Tasya punya pacar baru.
Bersambung π
__ADS_1