
Tepat enam jam lewat lima belas menit, pesawat mendarat di Bandar udara Tullamarine, Bandara tersebut adalah bandara utama yang melayani kota Melbourne dan bandara tersibuk kedua di Australia.
"Kak Jack, ayo bangun kita sudah sampai," ucap Viola seraya menepuk pundak Jack pelan.
Jack mengerjapkan matanya perlahan. Saat kesadarannya mulai pulih, ia langsung berdiri dari posisinya, melihat keluar jendela. "Wahh luar biasa, akhirnya aku sampai di Melbourne." Ia terpana saat melihat para petugas lapangan bandara yang sedang berlalu lalang di lapangan.
"Ayo kita turun, semua orang sudah di bawah," ucap Viola lagi. Ia menarik Jack agar melangkah turun bersamanya.
Elisa yang sejak tadi sudah di bawah, menghirup udara di kota itu dalam-dalam. Setelah lebih dari satu tahun, akhirnya ia kembali lagi. "Ia be back," gumamnya.
"Kamu kelihatan senang sekali kembali ke sini," ucap Reynald yang saat ini tengah berdiri di samping sang istri.
"Sangat, sangat senang. Aku akan mengajak kamu dan yang lain ke tempat-tempat keren di kota ini," ujar Elisa sambil menoleh kearah Reynald.
"Kamu pasti sering jalan-jalan ya di sini?" tanya Reynald.
"Sebaliknya, aku jarang pergi jalan-jalan karena aku tidak punya teman. Tapi aku tau beberapa tempat bagus," ujar Elisa.
Mereka melangkah menuju halaman depan Bandara, di mana mobil yang sudah di sewa Elisa selama satu minggu kedepan berada. Ya, tentu saja mobil sewaan itu sudah di sertai supir juga.
"Wah, sekarang kita akan kemana, apartemen Tasya dan Melvin ya?" tanya Tante Eva.
"Saya ikut saja," sahut Bi Nini yang terlihat lemas.
"Maaf, apa di sini ada tempat makan yang menyediakan nasi, perut ku tidak normal karena hanya makan mie dan roti saat di pesawat tadi," sahut Jack seraya mengelus perutnya.
"Bagaimana ya, Restauran masakkan Nusantara di sini sedikit jauh. Mungkin kalau hari ini kita tidak bisa kesana," ujar Elisa yang merasa tidak enak dengan Jack.
"Tau seperti itu, aku bawa Magicom dan beras," ujar Jack dengan wajah sendunya.
"Sudahlah, Jack. Seminggu ini kita belajar jadi bule. Nanti pasti kamu akan terbiasa x ujar Reynald seraya menepuk pundak sang sahabat.
"Tenang saja, Kak. Jangan merengut seperti itu," ucap Viola.
"Ya baiklah. Sekarang kita kemana?" tanya Jack pada Elisa.
"Kita akan ke apartemen Tasya dan Melvin, mungkin sekarang mereka masih di kampus," jawab Elisa.
"Lalu bagaimana kita akan masuk ke dalam apartemen mereka jika mereka saja belum pulang," ujar Tante Eva.
"Tenang saja, aku sudah minta kunci cadangannya ke manager tempat itu, kebetulan dia adalah salah satu pemegang saham di EA group, dia tau aku yang sudah menyewa apartemen itu untuk Tasya dan Melvin," tutur Elisa.
"Wah, istri ku memang luar biasa. Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat menuju apartemen mereka," ucap Reynald.
Para rombongan, memasuki dua mobil mewah yang sudah terparkir di parkiran Bandara. Entah bagaimana ekspresi wajah Melvin dan Tasya saat mengetahui kedatangan keluarga mereka.
...**...
__ADS_1
Di tempat berbeda, tepatnya di universitas Melbourne, Australia. Melvin sedang duduk di taman kampus, ia melambaikan tangannya saat melihat Tasya melangkah kearahnya. Karena mereka berbeda jurusan, jadi mau tidak mau mereka harus saling menunggu siapa yang terlambat keluar.
Tasya langsung duduk di samping, Melvin dan memeluk kekasihnya itu. Ya, jika di negara mereka pelukan adalah sesuatu yang tabu maka di Melbourne orang sudah terbiasa dengan hal seperti itu, bahkan tak jarang bule di sana berciuman di depan umum.
"Kamu kenapa, datang-datang langsung meluk saja?" tanya Melvin.
"Entah kenapa aku tiba-tiba rindu Mama, Kak El, Raffa ... pokoknya aku rindu semuanya. Malam tadi bahkan aku mimpi mereka datang ke Melbourne," ucap Tasya seraya menyadarkan kepalanya di pundak Melvin.
"Aku juga rindu, sangat rindu. Semoga saja musim cepat berganti, biar kita bisa pulang," ucap Melvin sambil menoleh kearah Tasya.
Tasya juga ikut tersenyum lalu dengan cepat mencium pipi Melvin. Melvin nampak sangat kaget hingga menoleh kanan kiri.
"Kamu ini kenapa, tiba-tiba saja. Ini tempat umum tau," ucap Melvin yang terlihat gugup.
Tasya kembali menyandarkan kepalanya di pundak Melvin, "Memangnya kenapa." Tasya menunjuk ke arah sepasang kekasih yang duduk tidak jauh dari mereka. "Kamu lihat di sana, mereka bahkan berciuman panas di depan umum. Sementara aku dan kamu sudah tinggal berdua sejak beberapa bulan terakhir tapi mencium bibir ku saja belum pernah, teman-teman sekelas ku saja sudah berhubungan itu dengan pacar mereka."
Melihat wajah cemberut Tasya, Melvin kembali menghembuskan napas berat. "Jangan sama kan budaya barat dan timur. Tinggal satu tempat dengan kamu saja sudah membuat aku tersiksa. Kalaupun kita berciuman bibir, jika aku tidak bisa menahan diri bagaimana, terus kita melakukan hal itu lalu kamu hamil, siapa yang kita kecewakan? Tentu saja banyak, Kak Elisa dan Kak Rey dan Mama kamu terutama."
"Kamu benar juga." Tasya menegapkan posisinya lalu menepuk pelan kepala Melvin. "Good boy, aku hanya menguji kamu saja tadi, kamu serius sekali ... tapi aku berharap kamu mau mencium ku sekali saja."
"Ah kamu ini, mulai lagi." Melvin segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendahului Tasya.
"Hey kamu mau kemana? Tidak menunggu ku ya!" pekik Tasya.
Melvin menghentikan langkahnya, berbalik melihat Tasya yang sedang memasang wajah cemberutnya. "Ayo kita pulang, nanti kita ketinggalan bus lagi."
"Astaga." Melvin menghela napas panjang kemudian kembali menatap sang kekasih. "Oke, nanti tapi tidak di sini, oke. Ayo kita pulang." Ia menggenggam tangan Tasya erat, mereka melangkah beriringan keluar dari area kampus yang sangat luas itu.
~~
Pukul lima sore waktu Melbourne Australia.
Setelah mendapatkan kunci apartement, Elisa dan rombongan bergegas masuk kedalam unit apartemen itu sebelum Tasya dan Melvin pulang. Saat masuk kedalam, semua nampak terpana dengan interior dalam yang begitu mewah untuk di tinggali dua orang.
Memang tidak sedikit uang yang Elisa keluarkan untuk tempat itu, namun sebagai Kakak yang baik, ia ingin memberikan yang terbaik untuk adik-adiknya. Raffa yang sudah bangun sejak tadi di bawa oleh Bi Nini dan Tante Eva untuk melihat-lihat tempat itu, sementara Viola, Jack, Reynald dan Elisa memilih untuk duduk di ruang tamu.
"Wah, tempat ini besar sekali," ucap Reynald yang juga nampak terpana.
"El, jujurlah. Berapa uang yang kamu keluarkan untuk menyewa tempat ini?" tanya Jack tiba-tiba.
"Emm, berapa ya ... biasanya di sini orang-orang membayar sewa itu perminggu, sekitar 1500 USD dolar per satu minggu. Tapi karena aku tidak mau repot jadi langsung aku bayar saja untuk tiga tahun ke depan," tutur Elisa.
Mendengar penuturan Elisa, semuanya nampak mulai berhitung.
"Astaga," ucap Viola tiba-tiba.
"Kamu kenapa?" tanya Jack.
__ADS_1
"Kalau seribu lima ratus USD itu kan dua puluh satu juta lebih perminggu, berarti kalau tiga tahun itu ... bisa lima milyar lebih," ucap Viola pelan.
Reynald yang memang tidak tahu apapun, menoleh kearah Elisa. "Sayang, kamu ...."
"Ah sudahlah, kenapa harus di ributkan. Aku sudah membayarnya. Lihatlah aku memang sudah merencanakan akan kesini jadi aku memilih tempat yang punya lima kamar tidur dan juga ruang tamunya sangat luas, ini sebanding dengan uang yang aku keluarkan."
Elisa berdiri dari posisi duduknya. "Ayo bereskan barat kalian, nanti Melvin dan Tasya keburu datang, surprisenya gagal lagi."
"Dari mana kita tahu mereka kapan pulangnya," ujar Reynald.
"Aku sudah minta tolong kepada petugas keamanan di depan, untuk menghubungi aku kalau mereka datang. Ayo masukkan barang-barang ke kamar.
~
Hari mulai gelap, akhirnya Tasya dan Melvin sudah sampai di depan gedung apartement tempat mereka tinggal. Tasya tidak henti-hentinya bergelayut manja di lengan kekasihnya itu.
Tasya mendekati telinga Melvin untuk membisikkan sesuatu. "Kapan kita akan ...."
"Kapan apa?" tanya Melvin yang terus melanjutkan langkahnya.
"Yang tadi kamu bilang itu," jawab Tasya lirih.
Melvin tak menjawab dan memilih untuk mempercepat langkahnya. Sesampainya di depan unit apartemen mereka, Tasya segera membuka kunci pintu. Namun saat masuk kedalam, mereka terheran-heran karena ruangan sangat gelap.
"Apa listriknya padam? Biasanya kita masuk, secara otomatis lampu akan hidup," ucap Melvin yang tidak bisa melihat wajah Tasya dengan jelas.
"Mungkin ini pertanda, kita harus menyelesaikan urusan yang tertunda," bisik Tasya lalu tersenyum penuh arti.
"A-apa maksud kamu?" tanya Melvin gugup.
Tasya menggerakkan tangannya untuk menangkup wajah kekasihnya itu meski harus meraba-raba karena gelap. "Kiss me please, jika kamu takut mencium ku saat terang, maka ini saat yang tepat," ucap Tasya berbisik.
Glek.
Melvin menelan salivanya sekuat tenaga. Ya, sebenarnya tidak ada salahnya, semua muda mudi sudah biasa berciuman asal tidak keluar batas.
Lagi pula di sini hanya kami dan sedang mati lampu, ah baiklah sekali ini saja, batin Melvin.
Melvin menggerakkan tangannya, meraih tekuk leher Tasya, wajah mereka pun semakin mendekat, deru napas terasa begitu hangat, tinggal beberapa centimeter lagi dan---
"Surprise!!!!"
Semua lampu hidup secara tiba-tiba.
Tasya dan Melvin membulatkan mata mereka saat melihat orang-orang yang ada di hadapan mereka tiba-tiba saja memberi kejutan di saat yang tidak tepat.
Melihat posisi Melvin dan Tasya sekarang, Elisa dan yang lainnya pun mendadak terpaku. Mereka bisa menebak apa yang akan Melvin dan Tasya lakukan, sebelum mereka secara tidak sengaja menggagalkannya.
__ADS_1
Bersambung 💕