
Pagi ini semua bersiap-siap untuk pergi ke bandara untuk mengantarkan Melvin dan Tasya. Semua barang-barang sudah masuk kedalam bagasi mobil.
"Hati-hati di sana ya Nona Tasya," ucap Bi Nini seraya memeluk Tasya, beberapa bulan ini mereka sangat dekat dan kompak menjaga Raffa saat Elisa ke kantor.
"Iya Bu terimakasih ya, maaf menyusahkan Bibi selama aku di sini," ucap Tasya lalu melepaskan pelukannya, ia beralih menatap Viola dan juga memeluknya.
Tak lama Melvin, Elisa dan Reynald keluar dari dalam. Terlihat Elisa sedang menggendong Raffa sebelum pergi. Setelah puas mencium bayinya ia memberikan Raffa kepada Bi Nini. "Mama pergi sebentar ya sayang."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang ya," sahut Reynald.
"Oh okey, semua barang sudah masuk kedalam bagasi kan?" tanya Eva memastikan.
"Sudah Tante," jawab Melvin.
"Kita berangkat sekarang takut terlambat," ucap Tasya seraya melihat jam di tangannya.
Reynald dan yang lain beranjak masuk kedalam mobil setelah semua masuk mobil itu melaju meninggalkan hamalan Mansion. Tinggalah bi Nini dan Viola yang tetap tinggal.
"Bu kalau gitu aku juga ke kantor ya sekarang," ucap Viola lalu menyalami tangan sang Ibu.
"Iya kamu hati-hati," ucap Bi Nini.
"Sampai jumpa Tuan muda kecil," ucap Viola pada Raffa yang nampak selalu tersenyum saat di ajak bicara.
Saat Viola hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba Jack datang dengan mengendarai motornya. Ia terlihat kebingungan saat Mansion nampak sepi.
Jack turun dari motor dan langsung menghampiri Viola dan Ibunya. "Semua orang sudah pergi ya?"
"Kak Jack dari mana saja, tadi di tunggu tuan Reynald tapi Kakak tidak muncul-muncul juga," ucqp Viola.
"Ah ini, aku kesiangan. Sudah terlambat ya ... ya sudahlah malam tadi aku juga sudah bertemu Melvin.
"Nak Jack masuk dulu, sepertinya kelelahan sekali," ujar Bi Nini.
"Tidak usah Bi, wah Raffa di tinggal Mama Papa ya, lucunya," ucap Jack lalu mengelus pipi Raffa.
"Kalau begitu aku ke kantor dulu ya , sepertinya sudah terlambat mana macet lagi," ucap Viola sembari terus melihat jam di tangannya.
"Mau aku antar? Pakai motor pasti lebih cepat," sahut Jack tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak usah Kak, ngerepotin," tolaknya.
"Vio tadi kamu bilang ada rapat penting kak, nanti Nona Elisa marah loh kalau kamu telat, ikut Jack saja," ujar Bi Nini.
"Em, oke maaf merepotkan ya Kak Jack," ucap Viola.
"Ah kamu ini jangan sungkan," ucap Jack.
Viola melangkah beriringan bersama Jack menuju motor yang terparkir di halaman Mansion. Jack memberikan helm kepada Viola lalu naik terlebih dulu baru di ikuti oleh Viola.
~
Sepanjang perjalanan, Jack lebih banyak diam. Sementara Viola di hinggapi rasa penasaran dan ingin segera bertanya. "Kak, waktu kita jalan minggu lalu, sebentar Kak Jack mau ngomong apa sih, kok tiba-tiba tidak jadi, aku masih penasaran tau."
Jack terdiam sesaat. Ia merasa terlalu serakah jika menginginkan Viola yang begitu pintar dan punya masa depan cerah. Tadinya ia ingin menyatakan cinta tetapi ia mundur perlahan dan lebih nyaman berteman dengan Viola. "Oh itu ... tidak ada apa-apa. Aku hanya mau kita berteman, selama ini aku hanya punya satu teman yaitu Reynald, sekarang dia sibuk dengan anak dan istrinya aku merasa sendiri."
"Oh seperti itu, aku pikir apa. Aku juga sama butuh teman, rata-rata semua teman ku bekerja di Jepang. Aku suka bicara dengan Kakak, kakak itu lucu seperti pelawak saja," ucap Viola agak kencang agar terdengar oleh Jack yang sedang mengemudikan motor.
"Tapi kamu tidak punya pacar kan?" tanya Jack tiba-tiba.
"Oh belum Kak, mau fokus kerja dulu," jawab Viola.
"Syukurlah, aku tidak enak kalau kamu ternyata punya pacar," ucap Jack.
"Kak Jack sendiri punya pacar?" tanyanya balik.
"Itu dia mana ada yang mau sama jomblo karatan seperti ku, sebenarnya aku sudah lelah di ejek Melvin dan Reynald. Ya kalau memang sudah waktunya nanti juga metemu jodoh kok, aku sih santai," jawab Jack.
"Haha kok jomblo karatan sih. Tenang saja Kak pasti suatu saat nanti ketemu jodohnya kok," ucap Viola.
Jack hanya diam lalu menambah kecepatan laju motornya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia juga ingin bahagia seperti Reynald dan Elisa. Tetapi nasib orang berbeda-beda prihal jodoh.
Di luar ia bisa membuat semua orang tertawa karena tingkahnya tetapi mereka tidak tahu, jika sebenarnya Jack kesepian, ia terus fokus bekerja demi kedua orang tuanya yang sudah renta, sampai lupa membahagiakan diri sendiri.
Akankah Viola adalah akhir dari perjalanannya? Ya mungkin saja tetapi Jack tidak ingin berharap lebih, jalani dan nikmati saja dengan santai.
Motor Jacj berhenti tepat di depan lobby kantor. Viola turun dan langsung membuka helm. "Kak terimakasih sih ya," ucap Viola sambil menyerahkan helm itu kepada Jack.
"Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu ya," ucap Jack.
__ADS_1
"Eh tunggu Kak, ... em Kakak malam ini ada di bengkel?" tanya Viola tiba-tiba.
"Iya, aku sekarang tinggal di sana," jawabnya.
"Aku boleh mampir, mau menyicipi mie instan buatan Kak Jack yang katanya enak itu," ucap Viola tiba-tiba.
Jack terdiam sesaat. Ia mencoba menetralisir ucapan Viola yang berhasil membuat wajahnya memanas. "Ehm, ya boleh saja."
"Oke, jam tujuh malam, tunggu aku ya," ucap Viola lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Jack masih di posisinya, memandangi kepergian Viola hingga menghilang dari pandangannya. Entah kenapa ia merasa saat dirinya ingin mundur tapi takdir kembali menariknya untuk sebuah harapan bahwa ini adalah jalan untuk ia menemukan cintanya.
...**...
Pukul satu siang. Setelah mengantar Melvin dan Tasya ke Bandara. Reynald, Elisa dan Eva kembali ke Mansion. Saat mobil berhenti di depan teras utama, mereka langsung turun dari dalam mobil.
"El besok Tante mau pindah ke apartemen lagi ya," ucap Eva tiba-tiba.
"Tinggallah dulu Tante, lagian di sana tante sendiri," sahut Reynald.
"Benar Tante, tinggal di sini saja," sambung Elisa.
"Ah kalian ini kompak sekali, baiklah kalau begitu. Lagi pula di sini ada Raffa yang bisa Tante jaga," ujar Eva.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja seorang petugas keamanan datang dengan sebuah kotak yang berukuran sedang di tangannya. "Maaf Nona, ini ada paket untuk Anda," ucap petugas keamanan itu kepada Elisa.
"Oh iya pak, terimakasih ya," ucap Elisa lalu menerima kotak itu.
"Kamu pesan baju Raffa di online shop lagi?" tanya Reynald.
Elisa menggeleng perlahan. "Tidak, aku tidak pesan apa-apa. Coba aku buka ya."
Elisa membuka paket itu dan--
Aaakkkkk....
Elisa melempar kotak itu saat melihat isi di dalamnya ada tikus mati yang masih berlumuran darah. Reynald juga tak kalah terkejutnya saat mendapati kertas bertuliskan 'Kamu harus mati'
Sontak Reynald langsung memeluk Elisa yang nampak ketakutan. Entah kenapa firasat Reynald buruk tentang ini, ia menoleh kearah Eva yang juga melihat kearahnya. Sepertinya Reynald dan Eva punya firasat yang sama.
__ADS_1
Bersambung π
Jangan lupa dukungannya ya reader terimakasih.