Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.49 (Nama untuk bayi kita)


__ADS_3

Elisa menatap Reynald dengan ekspresi kebingungan. Kenapa tiba-tiba saja suaminya itu membahas hal yang mereka telah akhiri. "Kamu tidak ingat apa yang sudah terjadi? ... kita sudah mengakhiri perjanjian itu sejak lama."


Klek.


Belum sempat Reynald menjawab. Dua orang perawat sudah masuk dengan membawa brankar, karena mulai sekarang Reynald akan di rawat di kamar yang sama. Untung saja kamar itu sangat luas dengan fasilitas hotel berbintang.


Tak lama, Melvin dan yang lainnya juga ikut masuk. Elisa menoleh kearah Jack yang saat ini sudah berdiri di sampingnya. "Kak kenapa Reynald tidak melupakan beberapa fakta tentang pernikahan kami."


"Ingatan Rey belum pulih sepenuhnya, tapi kata dokter seiring berjalan waktu, ia akan kembali pulih jadi kamu tenang saja,"jawab Jack.


Reynald yang masih nampak kebingungan karena Elisa tidak menjawab pertanyaannya hanya bisa menatap sang istri. Ya, ia harap ingatannya lekas pulih seperti semula, ia ingin tahu hal apa saja yang sudah mereka lewati hingga akhirnya mempunyai bayi.


...**...


Pagi kembali menyapa dengan situasi berbeda. Reynald mengerjakan matanya perlahan saat matahari menelusup masuk dari kaca jendela. Ia menoleh kesisi kirinya, di mana sang istri yang ternyata juga sedang menoleh kearahnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Reynald.


"Hm, aku tidak bisa tidur. Aku takut ini semua hanya mimpi. Aku masih tidak menyangka akhirnya kamu terbangun dari koma ... apa kamu tahu, saat kamu belum sadar aku tidak pernah meninggalkan kamu, tapi saat kamu terbangun, aku tidak ada di sisi mu," ujar Elisa.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Ahk ... aku benar-benar kesal saat aku bangun kenapa aku melupakan banyak hal termasuk kehamilan kamu, aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita," ujar Reynald seraya tersenyum kepada sang istri.


"Ada satu hal yang harus kamu tau tentang perjanjian itu ... sebenarnya kita sudah mengakhirinya," ucap Elisa.


"Maksudnya kita sudah berpisah?" tanya Reynald yang nampak sangat kaget.


"Bukan, maksud ku kita mengakhiri perjanjian itu karena kita sepakat untuk memulai hubungan suami istri yang sesungguhnya ... kamu tidak perlu khawatir, aku akan membuat kamu mengingat semuanya seperti dulu," tutur Elisa.


Klek.


Pintu kamar itu terbuka. Melvin dan Jack muncul dari balik pintu dan langsung menghampiri pasangan suami istri yang sedang mengobrol.


"Wah apa kami mengganggu kalian?" tanya Jack.


"Tidak, masuklah kalian dari mana saja terus tidur di mana?" tanya Reynald.


"Kak Elisa menyewa satu kamar lagi untuk kami di sebelah. Rumah sakit ini sudah seperti rumah kita sendiri, bayangkan saja empat bulan kakak koma," jawab Melvin seraya menghampiri sang Kakak.

__ADS_1


"Oh iya tadi kami lewat ruangan bayi saat turun mencari sarapan. Kami lihat anak kalian, dia sangat tampan. Aku tanya perawat katanya bayi kalian akan di antar setelah selesai di mandikan," ujar Jack yang saar ini sudah duduk di samping Reynald.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya," ujar Reynald.


~


Tasya baru saja di kantor polisi untuk menjenguk sang Mama. Hari ini ia membawa beberapa jenis makanan kesukaan Mamanya itu. Di lihatnya jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


"Huh, tepat waktu." Tasya kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu depan kantor itu.


Sesampainya di dalam, sudah banyak orang yang datang untuk mengunjungi keluarga mereka. Hal itu membuat Tasya mau tidak mau harus mengantri terlebih dahulu.


Namun baru beberapa menit ia duduk. Tiba-tiba terdengar suara kehebohan dari dalam. Sontak ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kerumunan orang-orang itu. "Ada apa pak?" tanya Tasya kepada seorang petugas.


"Ada tahanan yang pingsan, wanita paruh baya," jawab bapak itu.


"Apa wanita paruh baya, namanya siapa pak?" tanya Tasya yang mulai merasa curiga.


"Oh itu, kalau tidak salah namanya Eva Eduardo," jawab bapak itu.


"Oh Nona ini anaknya, silahkan ikut saya kalau begitu," ujar Bapak itu lalu melangkah beriringan dengan Tasya masuk ke bagian dalam.


~


Sesampainya di ruangan khusus untuk tahanan yang sakit. Tasya langsung berhambur memeluk sang Mama yang sudah di pasangi jarum infus. "Ma, mama kenapa begini?"


Eva hanya tersenyum saat melihat kedatangan putrinya. "Akhirnya kamu datang juga, Nak. Mama tidak apa-apa hanya kurang tidur saja."


"Pasti tidur Mama tidak nyenyak ya, di sini tidak enak. Aku tidak bisa melihat Mama seperti ini terus. Aku akan bicara ke Kak Elisa untuk membebaskan Mama," ujar Tasya dengan mata berkaca-kaca.


Namun Eva hanya menggeleng perlahan. "Jangan, Mama pantas mendapatkan hukuman ini. Kamu tenang saja ya. Pokoknya selama Mama di sini kamu harus kuliah dengan baik dan jaga diri kamu baik-baik ya," ucap Eva seraya menepuk pundak sang putri.


"Aku sayang Mama, pokoknya Mama harus sehat terus. Hari ini aku akan pindah ke Mansion Kak Elisa, dia meminta ku untuk tinggal di sana selama Mama di sini," ujar Tasya sambil memeluk Mamanya.


"Syukurlah, Mama memang mengkhawatirkan kamu jika sendirian."


Tasya melepaskan pelukannya dan kembali menatap Eva. "Oh iya Ma, Kak Elisa sudah melahirkan dan Kak Reynald sudah sadar."

__ADS_1


"Benarkah? ... kalau kamu bertemu Reynald, tolong sampaikan permintaan maaf Mama ya," ucap Eva lagi.


"Tentu saja Ma."


...**...


Wajah Elisa dan Reynald nampak terpana saat melihat seorang perawat mendorong ranjang bayi masuk keruangan mereka.


Bukan hanya Elisa dan Reynald, tapi Jack dan rose Melvin juga begitu.


"Wah tampan sekali, mirip Kak Rey," ujar Melvin yang saat ini sudah lebih dulu menghampiri kereta bayi itu.


"Sudah ku bilang, mana mungkin mirip sama kamu, Vin," seloroh Jack seraya melangkah mendekati Melvin.


"Kak Jack iri ya, masih jomblo padahal lebih tua dari Kak Rey," ucap Melvin.


"Huh kamu sendiri gimana," ucap Jack tak mau kalah.


"Hey kalian jangan bertengkar. Aku ingin melihat anak ku," ujar Reynald.


"Sus, tolong berikan bayi kami Papanya," ucap Elisa kepada perawat itu.


"Baik, Nona."


Perawat itu menggedong bayi mungil yang masih setia terlelap lalu di berikan kepada Reynald.


Reynald nampak sangat berhati-hati saat mengendongnya. Seketika matanya langsung berkaca-kaca saat melihat bayi mungil yang sangat mirip dengannya. Mulai dari hidup, alis, dan juga garis wajah yang mewarisi semua darinya


Elisa yang berjarak dua meter dari suaminya hanya bisa memandangi dengan perasaan haru. Ia pikir saat anaknya lahir, Reynald tidak akan melihat anak mereka tapi ternyata keajaiban itu sungguh nyata.


"Anak tampan Papa, kamu yang sudah membangunkan Papa dari tidur panjang ya, Nak. Terimakasih sayang," ucap Reynald seraya mengecup kening mungil bayinya.


"Rey, aku mau kamu yang memberikan anak kita nama," ujar Elisa tiba-tiba.


Reynald memandangi sang istri sambil tersenyum. "Em, bagaimana kalau Raffa, Raffa Dimitri."


Bersambung πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2