Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.87 (Aku pikir tidak akan sesakit ini)


__ADS_3

Sofia yang baru saja terbangun dari tidurnya melangkah cepat menuju toilet ketika merasakan perutnya begitu mual. Morning sicknes yang di alami Sofia membuat ia sedikit terganggu karena setiap pagi harus memuntahkan isi perutnya.


Niko menyusul ke toilet. Sesampainya di dalam toilet, ia memijat tekuk leher istrinya itu. Sebagai seorang pria, ia baru tahu jika ternyata hamil itu tidak lah mudah, ada banyak tahapan yang harus di lalui hingga akhirnya anak itu terlahir ke dunia.


"Kamu sudah merasa enakan?" tanya Niko kepada Sofia.


Sofia berbalik badan lalu menatap sang suami. "Aku sudah lebih baik, aku harap aku cepat berhenti mual, ini lumayan menyiksa ku."


"Kamu yang sabar ya, aku lihat di internet morning sicknes itu hanya berlangsung di trimester pertama," ujar Niko.


"Hufft, baiklah. Sebenarnya aku sangat bosan di rumah, tapi aku tidak bisa keluar jalan-jalan, kenapa hidup ku menjadi seperti ini," ucap Sofia seraya memijat tekuk lehernya yang sangat pegal.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Karena hari ini aku libur, bagaimana kalau kita piknik di taman samping rumah kamu saja," ucap Niko.


"Ah tidak mau, pasti para penjaga itu akan mengawasi kita," tolak Sofia.


"Aku akan meminta mereka untuk mengawasi kita dari kejauhan saja, bagaimana kamu mau?" tanya Niko.


"Baiklah, setuju," ucapnya lalu tersenyum kepada sang suami.


Setelah menggelar tikar dan menyiapkan makanan ringan. Niko dan Sofia duduk di atas tikar tersebut. Sofia menghembuskan napas panjang seraya memandangi ranting pepohonan yang bergoyang karena hembusan angin.

__ADS_1


Sofia menoleh kearah Niko yang duduk diam di sampingnya. Entah kenapa ia sangat senang saat bersama suaminya, ia pikir itu bawaan bayi saja tetapi nyatanya setiap kali ia melihat Niko hatinya bergetar. Perlahan ia menggerakkan kepalanya bersandar di pundak kokoh sang suami.


Tentu saja kaget atas tindakan tiba-tiba, Sofia. Namun ia tak ingin bertanya dan membuat Sofia tidak nyaman. Tangannya menepuk pelan pundak sang istri, sungguh ia sangat bahagia karena akhirnya secara perlahan namun pasti ia berhasil masuk tanpa penolakan.


"Sewaktu kecil, aku dan Elisa adalah teman baik. Tapi karena Mama ku dan Papa Elisa menjalin hubungan gelap, persahabatan kami pun hancur. Kami yang dulu teman perlahan menjadi lawan. Aku merasa dia begitu beruntung karena masih bergelimang harta setelah Papanya tiada, sementara hidupku dan Mama semakin hari semakin hancur. Aku bertambah kesal dan marah karena dia juga berhasil membuat Reynald berpaling, tapi semakin ke sini aku semakin sadar bahwa aku tidak bisa mengatur takdir yang telah di tentukan. Saat ini aku masih berharap bisa memperbaiki hidup ku seperti semula," tutur Sofia panjang lebar, seolah mengeluarkan semua beban dalam pikirannya.


Niko tersenyum tipis saat mendengar curhatan sang istri. Ia bisa mengerti dengan perasaan sang istri karena ia pun juga pernah mengalami hal yang sama di masalalunya. "Roda kehidupan itu selalu berputar tapi tidak akan pernah keluar dari porosnya. Putaran itu akan selalu pada satu lingkaran yang sama. Sama halnya dengan kehidupan terkadang kita harus melalui keterpurukan tapi percayalah kamu akan kembali menemukan kebahagiaan."


"Ck, semuanya sudah terlambat, cepat atau lambat aku akan kembali menjalani hukuman ku dan ... Mama, aku merindukan Mama, huft aku menyesal karena tidak sabar menghadapi dan malah membawanya ke tempat rehabilitasi alkohol. " Sofia mendongakkan kepalanya agar air mata yang hampir terjatuh kembali tertahan.


"Kamu tidak salah, aku tau kamu melakukan itu karena kamu perduli, percayalah setelah Mama kamu berhasil sembuh, dia akan bersyukur karena kamu sudah membawanya ke sana."


"Terimakasih, Nik. Aku tidak percaya kamu akan menemani aku sampai sejauh ini, kalau tidak ada kamu aku tidak tau akan seperti apa aku sekarang."


Sontak Niko dan Sofia langsung berdiri dari posisi mereka, melihat kearah seorang wanita paruh baya yang sedang memandangi mereka dengan tatapan tajam.


"Mama," ucap Niko tak percaya. Ia tidak menyangka jika sang Mama akan menyusulnya hingga ke rumah Sofia. Ia menoleh kearah Sofia, ia nampak khawatir kalau saja sang Mama ke tempat itu hanya untuk mengata-ngatai Sofia.


"Kamu benar-benar sudah berubah karena wanita ini! Mama menelpon tidak pernah kamu angkat. Mama sangat kecewa sama kamu, kamu tau sekarang Papa kamu sedang di rawat di rumah sakit tapi kamu malah bersenang-senang dengan wanita narapidana ini, di mana otak kamu."


Sofia hanya bisa diam tertunduk mendengar ucapan mertuanya itu. Ia merasa memang pantas mendapatkan cacian seperti sekarang, karena ia tahu mana ada orang tua yang merelakan anaknya menikah dengan wanita seperti dirinya.

__ADS_1


"Papa masuk rumah sakit?" tanya Niko memastikan kembali.


"Iya. Sebenarnya Mama sudah tidak perduli lagi sama kamu tapi Papa memaksa Mama memanggil kamu. Jadi sekarang ikut Mama ke rumah sakit."


Niko nampak berpikir, ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan sang istri dalam keadaan seperti ini. Tetapi di sisi lain ia juga harus menemui sang Papa.


Melihat Niko yang nampak kebingungan, Sofia meraih tangan Niko dan menggenggamnya erat. "Pergilah, kasihan Papa kamu pasti sudah menunggu. Aku baik-baik saja, sungguh." Ia mencoba tetap tersenyum walau rongga dadanya mulai terasa sesak.


Mama Niko memutar bola matanya malas, ketika mendengar ucapan Sofia yang menggelikan baginya, "Mama tunggu kamu di mobil, Mama tidak tahan jika terus perhadapan dengan wanita ini." Mama melangkah pergi dari tempat itu.


Para petugas keamanan yang berjaga hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat mendengar dan melihat hinaan yang di berikan Mama Niko, kepada Sofia. Meskipun Sofia seorang narapidana tetapi ia tetaplah manusia biasa yang ingin di hargai meskipun tak lagi mempunyai harga diri untuk itu.


"Maafkan sikap Mama ya, dia memang orang yang keras tapi sebenarnya orang yang sangat baik. Kalau begitu aku pergi sebentar, aku akan kembali secepatnya," ujar Niko kepada Sofia.


"Hm pergilah, aku akan menunggu kamu," ucap Sofia lalu melepaskan genggaman tangannya.


Niko melangkah cepat menyusul sang Mama yang sudah menunggunya di dalam mobil yang terparkir di bahu jalan.


Setelah kepergian Niko, Sofia kembali duduk di atas tikar itu sendiri. Ia menatap nanar kearah langit biru di atas sana. Sesak di dadanya kian menjadi saat meratapi nasib yang kian berat, hingga akhirnya ia menangis sendiri, tanpa suara namun perihnya begitu terasa.


Aku pikir tidak akan sesakit ini, tapi ternyata begitu sakit, kenapa aku harus di paksa takdir untuk melewati semua ini, batin Sofia.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


Maaf untuk keterlambatan updatenya. Insyaallah mulai hari Senin tanggal 21 Maret, author akan aktif update tiga bab perhari. Yuk ikuti terus kisahnya karena akan segera tamat di akhir bulan Maret ini, jangan sampai ketinggalan!!!


__ADS_2