Suami Sewaan Nona Muda Arogan

Suami Sewaan Nona Muda Arogan
Bab.73 (Penculikan part.1)


__ADS_3

"Ah aku lupa, susu Raffa kan masih ada di mobil," ucap Elisa sesaat setelah kepergian Bi Nini.


"Biar aku ambilkan di mobil, kamu susul Bi Nini saja ke kamar, pasti dia bingung mencari tempat susunya," ujar Reynald pada sang istri.


"Oh oke." Elisa menoleh kearah Viola dan Jack. "Kalian handel pesta ini sebentar ya, aku mau ke kamar."


"Siap, Nona," jawab Viola.


Elisa melangkah beriringan dengan Reynald meninggalkan tempat pesta. Mereka berpisah di depan pintu ruangan, Elisa melangkah ke kiri sementara Reynald ke arah kanan. Karena memang lokasi pesta dan tempat pesta masih berada di satu lantai jadi Elisa tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke kamar tersebut.


Saat sudah semakin dekat, Elisa membulatkan matanya melihat Bi Nini yang sudah jatuh pingsan di depan pintu kamar. Ia mempercepat langkahnya dan langsung duduk bersimpuh di hadapan Bi Nini. "Bi...Bi Nini, sadar Bi." Elisa mencoba membangunkan Bi Nini namun tidak ada respon.


Wajahnya pun nampak semakin panik ketika mengingat Raffa. Ia pun segera berdiri dan masuk kedalam kamar. "Raffa, tidak ada." Dalam keadaan panik, Elisa segera mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menelpon Reynald.


"Ha-halo, cepat kesini sekarang! Raffa hilang dan Bi Nini jatuh pingsan, anak kita pasti di culik orang." Derai air mata kembali membasahi pipinya.


Elisa mematikan panggilan telepon itu tanpa mendengar ucapan sang suami. Ia kembali melangkah mendekati Bi Nini, mencoba untuk menyadarkannya lagi. "Bi, bagunlah, Bi." Elisa mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya benar-benar campur aduk.


Tak lama Reynald datang dengan napas tersengal-sengal. Ia mendekati Elisa yang sedang terduduk di depan pintu kamar bersama Bi Nini yang belum juga sadar. "Apa yang terjadi, kenapa Raffa bisa hilang."


"Aku juga tidak tau, Rey. Aku menemukan Bi Nini sudah pingsan dan Raffa tidak ada. Pasti anak kita di culik orang." Elisa terlihat semakin panik setelah kedatangan Reynald.


"Tenanglah, kalau memang Raffa di culik, pasti penculik itu masih ada di gedung hotel ini." Reynald mengambil ponselnya di saku celana untuk menelpon Jack.


"Hallo, Jack. Cepat ke pusat keamanan hotel sekarang, minta semua petugas keamanan menutup akses masuk dan keluar hotel."


[Kenapa, Rey. Apa terjadi sesuatu?]


"Raffa di culik, sekarang Bi Nini pingsan."


[Apa! Ba-baiklah, aku akan segera ke pusat keamanan]

__ADS_1


Reynald mematikan panggilan telepon itu lalu menggedong Bi Nini masuk kedalam kamar.


~


Hoekkk...hoekkk


Raffa terus saja menangis saat akan keluar dari gedung hotel itu. "Aduh, ini anak berisik sekali sih!"


"Kamu jangan berteriak seperti itu, bagaimana dia tidak takut, bersikap lah lebih lembut," ujar Niko seraya terus melangkah menyusuri koridor hotel yang nampak sepi karena sudah di sewa oleh Elisa.


"Kamu jangan banyak ngomong, sekarang kita harus cepat keluar dari sini, kita lewat pintu belakang saja," ujar Viola.


"PERHATIAN UNTUK SEMUA PENGUJUNG HOTEL, PINTU KELUAR DAN MASUK KAMI TUTUP UNTUK SEMENTARA DI KARENAKAN, PUTRA DARI NONA ELISA MENGHILANG, DI KHUSUKAN UNTUK ORANG YANG SUDAH MENCULIK ANAK TERSEBUT, UNTUK SEGERA MENGEMBALIKAN ANAK TERSEBUT KE PUSAT INFORMASI."


"Bagaimana ini, Sof. Kita sudah tertangkap basah, di sini juga pasti banyak CCTV, lebih baik kita serahkan anak ini lagi ke mereka. Aku yakin jika kita meminta maaf mereka pasti akan memaafkan kita."


"Kamu gila? Aku sudah sampai ke tahap ini, bagaimana mungkin aku akan menyerah, hah! Kalau kamu tidak mau membantu ku, pergi sana." Sofia melangkah pergi meninggalkan Niko sambil membawa Raffa.


"Bagaimana, apa sudah ketemu?" tanyq Elisa.


Jack menatap Elisa dan Reynald secara bergantian. "Kami belum menemukan posisi penculik itu sekarang, tapi aku sudah melihat video saat Bi Nini pingsan. Pelakunya dua orang, penculik itu memakai masker dan topi jadi aku tidak tahi siapa yang sudah menculik Raffa."


Elisa kembali menangis. Reynald dengan cepat memeluk sang istri. "Bagaimana dengan anak kita ,Rey. Aku takut Raffa di lukai."


"Raffa akan baik-baik saja, kita akan segera memeluk dia lagi dalam keadaan sehat," ujar Reynald yang tetap berusaha kuat meski sebenarnya ia juga sangat khawatir.


"Ini dia orangnya,' sahut salah satu petugas keamanan yang sudah menemukan penculik Raffa.


"I-itu Raffa. Anak kita mau di bawa kemana," ucap Elisa panik, sambil menunjuk layar monitor.


"Sepertinya orang yang membawa bayi Nona akan pergi ke atap gedung," ujar petugas keamanan itu.

__ADS_1


"A-apa, atap gedung!" Reynald mulai berpikir negatif tentang hal apa yang akan terjadi pada anaknya. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar dari ruangan itu untuk menyusul si penculik itu. Ia bahkan tidak lagi mengajak Elisa ataupun Jack.


"Kak Jack, ayo kita susul, Reynald."


"Iya, ayo." Jack dan Elisa melangkah keluar bersama dengan dua orang petugas keamanan lainnya.


~


Reynald berhenti sejenak saat akan segera sampai ke atap gedung itu. Setelah beberapa saat ia kembali menaiki tangga dan membuktikan pintu atap gedung itu.


Saat berada di atas, ia menggedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling ruangan terbuka itu. Hingga akhirnya pandangannya, tertuju pada seseorang yang berdiri di pinggir besi pembatas seraya menggedong Raffa.


"Jangan bergerak!" hardik Reynald pada orang yang masih belum ia ketahui identitasnya itu.


"Jangan mencoba untuk melakukan hal buruk kepada anak ku." Pelahan Reynald melangkah mendekat.


"Berhenti di situ!" hardik penculik itu pada akhirnya.


Reynald membulatkan matanya saat suara orang yang ada di pandangannya saat ini terdengar begitu tidak asing. "So-sofia."


Karena merasa tidak perlu bersembunyi lagi, akhirnya Sofia membuka penutup wajahnya. "Aku pikir kamu tidak mengenali wajah ku lagi, Rey."


"Sof, berikan Raffa pada ku. Aku tahu kamu bukan orang yang sejahat itu, kita ini teman. Kamu ingat?"


"Hahaha, mana mungkin aku melupakan kamu, Rey. Kamu ingin aku mengembalikan anak kamu, kamu pikir segampang itu, hah! Kamu sudah mencampakkan aku, Rey. Aku hanya ingin kamu kembali, tapi apa ... kamu malah memilih wanita sombong itu! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu!"


"Sof, cinta tidak bisa di paksakan. Aku tau kamu tidak mencintai ku, kamu itu hanya terobsesi. Aku mohon sadarlah, Sof. Berikan Raffa pada ku."


"Raffa!" pekik Elisa saat ia baru datang dan pandangannya langsung tertuju pada Sofia yang sedang berdiri di pinggir atap sambil menggedong Raffa.


"Wah, akhirnya lengkap sudah, apa kabar, Nona muda," sapa Sofia dengan senyum jahatnya.

__ADS_1


Bersambung πŸ’•


__ADS_2