Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Klinik


__ADS_3

Pak Kevin, Dev, Uncle Chung dan Liam anak Uncle Chung duduk di ruang tunggu sementara itu Lisa ditangani pihak medis di dalam ruang perawatan.


“Bagaimana ini semua bisa terjadi paman ? “ tanya Liam anak uncle Chung yang baru tiba di kota itu, dia baru mendapatkan libur kampus dan pulang saat ini.


“Nanti saja kita bahas Liam, paman juga gak tau kejelasannya,” ucap Pak Kevin.


“Lalu pria ini siapa?” tanya Liam dengan tatapan tidak suka, sambil menunjuk Dev yang sedang menunduk sambil memeriksa luka lukanya.


Pak Kevin tersadar kalau Dev juga terluka, dia menepuk bahu anak menantunya itu.


“Nak sana obati lukamu,” ucap Pak Kevin lembut membuat pria itu menoleh ke arah Pak Kevin.


“Ahh ini tak apa apa tuan, saya baik baik saja,” ucap Dev lembut namun tatapan matanya begitu tajam saat melihat Liam yang tampak melemparkan tatapan tajam ke arahnya, seketika Liam merinding ketakutan.


“Apanya yang tidak apa apa, kalau kamu terluka begini bagaimana kamu akan menjaga anak ku yang cantik itu,” ucap Pak Kevin kembali memukul bahu Dev hingga membuat pria itu tiba tiba menringis karena Pak Kevin memukul tepat di bagian yang terluka karena di lempar batu tadi.


“Ahh... ssshhhh.... maaf tuan, akan saya obati, arhhhkkk tak kusangka akan sakit begini,” ucap Dev mendesis kesakitan.


“Ck... sok jagoan, makanya di obati,” omel Pak Kevin yang membuat Dev tersenyum tipis.


Mike dan Adam masuk ke ruangan itu dan menghampiri Dev membuat Dev menatap kesal ke arah mereka.


“Dev,” seru mereka berdua dengan wajah panik, Mike langsung memeriksa tubuh Dev yang terluka begitu juga dengan Adam.


“Siapa kalian? Mau kalian apakan menantuku hah?” ucap Pak Kevin yang berpikir kalau mereka adalah orang suruhan para warga untuk kembali mengusik pria itu, bahkan Pak Kevin sampai berdiri di depan Dev dan sedikit mendorong kedua orang itu.


“Apa ? Menantu?” pekik Adam dan Mike saat mendengar pria itu menyebut Dev sebagai menantunya.


“Iya kenapa hah..?” ucap Pak Kevin mendengus kesal karena mereka datang tiba tiba.


Pak Kevin memasang wajah garangnya, dia persis seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya jika berani mengganggu anaknya.


“Eh... tu...tuan ki...kita nggak mau ngapa ngapain, di... dia temen kita tuan,” ucap Adam yang nyalinya tiba tiba menciut melihat kegarangan Pak Kevin apalagi badan besar Pak Kevin yang berotot membuat mereka benar benar ketakutan.


Entah kenapa Dev merasa senang ketika melihat Pak Kevin melindunginya seperti itu, dia merasa hangat di dalam hatinya, benar benar sebuah rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


“Tuan tak apa mereka rekan saya, pria berambut panjang itu Mike dan yang satu ini Adam, mereka rekan saya, tak perlu khawatir,” jelas Dev menghentikan kepanikan pria itu.

__ADS_1


“Hushh apa yang gak apa apa nak, kau lihat dia langsung pegang pegang badanmu tadi, bagaimana kalau dia itu pecinta sesama jenis bisa jadi janda muda anak ku padahal belum malam pertama,” seloroh Pak Kevin yang malah membuat Dev , Uncle Chung dan Adam tertawa.


“hahahahaha.... Dia normal kok tuan, dia tidak akan berani melakukan itu, dia dokter saya tuan,” Jelas Dev sambil tertawa terbahak bahak namun sesekali meringis kesakitan.


“Astaga Kevin, sepertinya kau sangat menyukai menantumu itu ya,” ucap Uncle Chung yang juga tertawa.


Lain halnya dengan Mike dan Liam, jika Mike diam karena di ejek sekaligus terkejut melihat Dev sedekat itu dengan pria tua, Liam menatap benci pada Dev karena Pak Kevin menyukai Dev.


Padahal sebenarnya Liam menyukai Lisa sudah sejak lama dan kepulangannya kali ini adalah untuk menyatakan perasaannya pada Lisa, namun ternyata gadis pujaannya sudah menikah dengan pria asing yang bahkan tak dikenal oleh Liam sama sekali.


“Yah aku hanya khawatir, “ ucap Pak Kevin sambil menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal itu.


“Tuan..”


“Eits jangan panggil aku tuan, aku Bapak Mertuamu sekarang jadi panggil aja..”


“Pamer” ucap Uncle Chung yang membuat mereka semua menoleh pada pria tua berambut putih namun masih terlihat muda padahal sudah tua, ahh membingungkan.


“Siapa yang pamer Om?” tanya Adam.


“Pamer pamer, saya mana pamer Chung,” ucap Pak Kevin.


“Bwahahahahaha, kau benar juga, ahhh tapi tak elit Chung, ya kali dia panggil aku Pamer, dikira aku papa yang sombong hahahaha,” tawa Pak Kevin terdengar menggema di ruangan itu,, sampai sampai perawat datang dan menegur pak Kevin.


“tuan mohon kecilkan suaranya ini bukan pajak, dasar orang rendahan,” umpat perawat yang sangat tidak ramah itu.


Mendengar itu membuat mereka semua terdiam, bagaimana perawat itu bisa sekasar itu padahal perawat yang membantu Lisa tadi sangat lembut.


“berani sekali dia,” ucap Dev dengan nada kesal , mendengar suara Dev yang kesal membuat Mike dan Adam wanti wanti kalau pria itu kumat sebab Dev sangat sensitif.


Puk..


Pak Kevin meletakkan tangannya di bahu Dev membuat menantunya itu menoleh pada Pak Kevin,”Tak Apa,” ucap Pak Kevin dengan senyuman lembut.


“Tapi dia..”


“Sudah tak apa, sana obati lukamu,” ucap Pak Kevin.

__ADS_1


“Baiklah Tuan,” jawab Dev menurut.


“Ck... panggil Papa jangan panggil tuan, aku bukan majikanmu nak, aku papa mertuamu,” ucap Pak Kevin dengan bangga salah satu alasannya karena putrinya menikah dengan pria tampan.


“Baiklah Pa,” ucap Dev menurut.


Mike dan Adam saling menatap melihat interaksi antara Dev dan Pak Kevin, benar benar hal baru yang mereka lihat dari pria itu.


“Apa benar kau Dev?” tanya Mike, dia khawatir kalau Dev yang sekarang bukan Dev yang asli.


“Iya ini aku,” ucap Dev sambil menatap mereka.


Mike dan Adam terbelalak, mereka tak pernah melihat Dev seperti itu, “Mike segera siapkan ruangan untuk kami, gadis itu akan di rujuk ke rumah sakit, Adam kau urus semuanya khususnya perawat tadi,” titah Dev dengan wajah datarnya seperti biasa.


Melihat hal itu membuat Mike dan Adam yakin kalau Dev sahabat mereka.


“Pa sebentar aku membalut luka ini bersama mereka,” ucap Dev sopan.


“Iya pergilah, kalau ada apa apa langsung kesini,” ucap Pak Kevin.


“Baik Pa,” jawaban Dev sambil menunduk, belum pernah dia menghormati pria yang lebih tua usianya dari dirinya dengan sehormat itu.


Adam dan Mike benar benar terkejut, hanya beberapa hari tak bertemu tetapi Dev bagaikan bukan Dev yang mereka kenal selama ini.


“Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Dev tiba tiba berubah? Ada apa sebenarnya?” pikir Mike.


Mereka bertiga segera mencari ruangan lain untuk mengobati luka itu, beruntung Klinik itu punya beberapa ruangan yang bisa dipakai.


Mike membalut luka Dev tanpa banyak bicara sebab melihat wajah Dev saja sudah menciutkan nyalinya untuk bertanya dan sepertinya bukan waktu yang tepat kecuali, Dev sendiri yang berbicara.


“Mike ini pertama kalinya, ini pertama kalinya mereka gagal keluar,” ucap Dev membuat Mike tiba tiba terdiam dan menatap Dev dengan tatapan tak percaya.


“A...apa kau bilang Dev?” yang berbicara bukan Mike tapi Adam yang baru menyelesaikan administrasi dan masuk ke ruangan itu sambil membawakan apa yang diminta Mike.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2