Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Psikopat


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, langit gelap, angin malam yang dingin menusuk di temani suara suara kehidupan malam membuat siapa pun merinding di malam yang dingin ini.


Namun tidak bagi seorang pria tampan yang tengah keluar dari dalam kediaman Lisa dengan mengenakan Jaket hitam dilengkapi masker dan penutup kepala.


Pria itu berlari dengan cepat, melesat seperti Monster yang sedang mencari cari mangsa nya.


kepulan uap dari mulutnya keluar menandakan kalau tubuh pria itu berjuang melawan dinginnya malam yang menusuk ke tulang tulang.


Sorot matanya berbeda, senyumannya begitu menyeramkan, seringai licik keluar dari matanya.


Kombinasi antara Alex dan Demon yang sedang mengamuk akibat kejadian tadi. Gabungan antara Alex yang licik dengan Demon monster pembalasan dendam yang tak segan segan mencincang tubuh musuhnya menjadi kombo paling efektif yang keluar dari kepribadian Dev.


Semakin banyak pria itu menahan alter egonya maka semakin besar pula keinginan alter ego itu untuk keluar.


Tubuh Dev yang dikendalikan oleh Demon melesat menuju rumah orang yang melukai Lisa sore tadi. Pria itu menatap rumah mewah di kawasan tempat tinggal Lisa, seringai seperti sebelumnya saat dia menatap rumah itu kembali muncul.


"Apa kau siap Demon?" " tentu aku siap Alex, ini waktunya untuk makan hahhahahaha...," Demon tertawa terbahak-bahak di depan pagar rumah yang penghuninya sudah terlelap di dalam dunia mimpi mereka.


Pria itu melompati pagar dengan sangat tenang, dia masuk ke rumah itu dengan berhati-hati. Dev memanjat rumah bertingkat itu, dia tau kalau kamar Herman ada di lantai dua sebab saat alter ego itu muncul sepersekian detik saat bersama Lisa, dia melihat Herman di balkon kamarnya.


Dia masuk ke dalam rumah itu, seperti maling di malam hari yang tak tau kapan datangnya. tak ada keributan, tak ada kekacauan yang ditimbulkan pria itu.


Dia masuk ke dalam kamar Herman, dengan seringai di wajahnya dia mengunci kamar itu dari dalam dengan sangat pelan.


Dia melihat ada catokan rambut disana, dinyalakannya catokan itu dan dibiarkannya panas.


kemudian dia menatap Herman dengan tatapan mengerikan, di keluarkannya obat bius yang di dapatnya entah dari mana.


Dia mendekati tubuh Herman, wajah nya tepat berada di depan wajah Herman tanpa melepaskan maskernya.


Dia menatap Herman dengan mata melotot, "Hahahaha..." dia tertawa melihat wajah mangsanya, di tutupnya mulut pria itu dengan tangannya membuat Herman kesulitan bernafas.


"Emhphh... le..pahmmkan...akuuu..." ingin Herman berteriak namun dia hanya bisa meronta ronta di bawah tangan kokoh itu.


mata menyeramkan yang siap menerkamnya menatapnya dengan tajam.


Bughh....


Satu pukulan mendarat di wajah Herman di tempat yang sama persis dengan Luka milik Lisa.


"Untuk wajah yang kau rusak," bisikan itu terdengar menusuk di telinga Herman membuatnya tak bisa berkutik selain karena tenaga Dev yang luar biasa.

__ADS_1


Tangan Dev masih ada di atas mulut pria itu, dia meraih catokan yang sudah panas tadi dan....


Cesshhhh.....


"Arhmmmmphh...." Herman meronta ronta kesakitan saat catokan rambut itu memanggang kulit tangannya di tempat seperti di tangan Lisa. Tangan Herman terangkat, dia mencakar leher Dev membuat lehernya terluka dan berdarah namun tidak dia pedulikan.


"untuk luka di tangannya yang semakin parah!" bisik Dev lagi dengan nada menusuk di telinga.


"Siapa khauu... emphhhh... akhhhh..," Pria itu merintih kesakitan, dia tidak mengenal siap orang yang melakukan itu, bahkan sorot matanya sangat berbeda, bagaimana seseorang bisa berubah seperti itu dalam waktu sekejap.


"Aku?" alter ego bernama Alex itu melirik Herman, "Malaikat mautmu!" ucapnya sambil menutup kepala Herman dengan menggunakan bantal membuat pria itu meronta kesakitan, tenaganya kalah kuat dengan tenaga monster gila di depannya.


Herman pingsan,dia tak sadarkan diri, Alter ego itu mendekati Herman," Kau bermimpi buruk, kau membakar tanganmu sendiri karena frustasi dengan dirimu, dan kau memukul wajahmu sendiri karena kesalahan yang tak bisa kau perbaiki!" bisik pria itu.


Dia keluar dari rumah itu setelah melakukan pembalasan dendam, dia berjalan dengan santai di tengah gelapnya malam dengan senyuman menyeringai yang tak ada habisnya.


Dia berjalan menatap beberapa rumah, namun dia berhenti di sebuah rumah dengan banyak barang rongsokan di depannya.


"Harus mencari cara bersih dan aman, Ayahnya tak bersalah," ucap pria itu.


Malam yang dingin pun berlalu, Lisa bangun dari tidurnya, dia merasakan sosok seseorang yang juga terlelap di sampingnya dengan sangat sopan, bagaimana bisa pria itu tidur dengan begitu rapi, tubuhnya lurus, tangannya di lipat di atas perut, dan menghadap ke langit langit kamar.


Mata gadis itu menangkap luka yang masih baru di leher Dev, dia menyerngitkan keningnya, "Dari mana dia dapat luka ini?" gumam Lisa sambil menyentuh leher Dev.


Namun matanya terbelalak saat merasakan tubuh Dev yang panas bahkan terasa berkeringat. Dia memegang kening pria itu, tubuh Dev gemetaran, tangannya terasa dingin tetapi kening dan tubuhnya terasa panas.


"Yaa... kak Dev... kenapa kau bisa demam? astaga, kak Dev... " Lisa menjadi panik.


Dev bangun dari tidurnya karena suara Lisa yang begitu keras membuat tidurnya terganggu.


Dev merasa kepalanya sangat sakit, perutnya terasa kembung, dia mual tetapi tenggorokannya kering.


"Ahkk.... pusing... kepala ku pusing ahkkk..." Dev meringkuk kesakitan, dia merem4s kepalanya sendiri, tubuhnya terasa lemah dan dia merasa kedinginan.


"Ya ampun, kenapa kau bisa sampai demam kak Dev, lalu luka apa ini? astaga, pakai selimutmu, sebentar ku panggil Mike," ucap Lisa panik, dia langsung menyelimuti tubuh Dev dengan selimut tebal.


Lisa berlari keluar dari dalam kamarnya dengan rambut acak acakan, wajahnya masih belekan, bahkan air liurnya masih belum di bersihkan. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi.


Mata Lisa menangkap Mike dan Adam yang terlelap di ruang depan. Lisa mendekati Mike dan berjongkok dekat pria itu sambil menggoyang goyangkan lengan pria itu, dia tak ingin memanggil agar tidak membangunkan Adam.


"Haishh ini orang kerbau atau sapi? kenapa tidurnya seperti ini sih!!" Lisa menggerutu di dalam hati.

__ADS_1


Dia menggoyang goyang lengan Mike tetapi pria itu tidak juga bangun.


Lisa mencari cara untuk membangunkan Mike, dia melihat sepatu milik Papanya yang disimpan di rak sepatu dekat pintu, senyuman jahil tampak di bibirnya.


Dia mengambil kaos kaki dari dalam sepatu itu, kaos kaki yang selama sebulan tidak dicuci.


Lisa mengendap endap lalu menaruh kaos kaki itu di hidung pria itu, namun seolah kebal Mike tak juga bangun.


"Astaga apa apaan pria ini, kenapa susah sekali dibangunkan!" ketus Lisa dengan wajah kesal.


"Terpaksa harus dengan cara itu!" kesal Lisa dengan wajah ditekuk.


Lisa duduk di samping Mike lalu mengangkat tangannya dan....


Plaakkk.....


Tamparan keras terdengar nyaring di ruangan itu sontak membuat sang pemilik wajah tersentak kaget dari tidurnya.


"Kak bangun kak kau pasti mengalami mimpi buruk, astaga apa mimpimu buruk sekali sampai kau terkejut begitu, aku ingin membangunkan mu tadi tapi kau tiba tiba tersentak!" ucap Lisa pura pura panik melihat wajah kaget Mike yang tampak seperti orang bodoh saat ini dengan wajah mengantuk.


"Ahhggkk... pipiku sakit sekali, ada apa sebenarnya ini? " gerutu Mike sambil mengusap pipinya.


"Kakak mimpi buruk aku mendengar kakak teriak teriak tadi sambil memukul wajah kakak, kak cepat periksa Dev dia sedang demam!" ucap Lisa yang langsung menarik tubuh Mike menuju kamarnya.


Mike yang nyawanya masih belum terkumpul mengikut saja sesuai arahan Lisa.


Seseorang mengintip mereka sambil menelan kasar Salivanya, dia bahkan sampai keringat dingin melihat bagaimana Lisa memukul wajah Mike dengan sangat kuat dan berpura pura kalau Mike mengalami mimpi buruk.


"Psikopat anjay!!" umpat Adam yang bergetar ketakutan.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😉😊


HAHAHAHA PASANGAN PSIKOPAT, SUAMINYA GILA ISTRINYA LEBIH GILA HAHHAAH.


AKU PADAMU BANG ADAM 🤦🏿‍♂️🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2