
Seorang pria paruh baya seumuran pak Kevin tengah duduk di kursi kebesarannya, dia benar benar bangga dengan bisnisnya yang sudah berkembang kemana mana.
Pria itu duduk menatap seluruh ruangan dengan mata tajamnya, Rambutnya sudah memutih namun tak mengurangi kharisma nya.
"Bagaimana? apa kerja sama kita dengan perusahaan Alexander itu sudah bisa dilakukan? kenapa lama sekali Beni? sudah hampir dua bulan tetapi tidak juga ada titik terang!" Pria itu berbicara kepada Asistennya.
"Mereka meminta banyak sekali persyaratan tuan Harry, kami harus memenuhi semuanya dan itu butuh waktu," jelas Beni asisten Harry Pradipta.
"Hmmm.... tak apa, lakukan yang terbaik, perusahaan itu adalah sumber uang dan harta Karun kita, jika kita berhasil mendapatkan perusahaan ini maka Bisnisku akan semakin membesar!" ucap Pria itu sambil tertawa.
"Baik tuan!" jawab Beni.
"Apa kau sudah dapat posisi anak itu? dia itu monster yang harus segera dibunuh, jika tidak dia akan menghancurkan ku segera!" ucap Harry.
"Kami sudah menemukan posisinya tuan, dia berada di Indonesia, " ucap Beni.
"Berani juga dia kembali ke negara ini, hahahha.... kau mencari kematianmu sendiri bodoh, lihat apa yang akan ku perbuat padamu!" ucap Harry sambil menyeringai.
"Ada informasi baru tuan, Dia sudah menikah," ucap Beni.
"Hahahhaha.... menikah? dia menikah? Monster itu menikah? hahhaha wanita mana yang mau menikah dengan monster seperti dirinya hahahhaha.... benar benar naif!" Harry tertawa terbahak bahak mendengar informasi baru dari asistennya.
"Apa kau punya foto wanita yang mau pada Monster itu?" tanya Harry.
"Ada tuan, sudah saya kirimkan pada ponsel tuan semalam, sepertinya tuan belum memeriksa ponsel tuan," ucap Beni.
"Ahhh... maafkan aku, akhir akhir ini aku pelupa," ucap Harry.
"Anda harus meminum obat Anda dengan rutin tuan," ucap Beni.
"Hmm aku tau Ben, ini semua karena anak sialan itu, dia itu monster!" umpat Harry sambil memegang bagian belakang kepalanya yang memiliki bekas luka yang cukup panjang.
Kejadian saat usia Dev 8 tahun,
Dev kecil sedang bermain di taman di halaman rumah, dia baru pulang dari sekolah.
Harry baru saja pulang dari kantor dengan tubuh dan pikiran yang lelah, saat itu dia belum menjadi Presdir, dia adalah bawahan istrinya sendiri Ibu kandung Dev.
Dia bekerja sekuat tenaga, Dev kecil yang melihat kepulangan ayahnya merasa senang bukan main, dia berlari menghampiri Harry dengan senyuman ceria di wajahnya.
"Papa!" seru anak kecil itu.
__ADS_1
Harry mendengus kesal, entah kenapa dia tidak menyukai anaknya sendiri, dia tidak menyukai segala hal tentang istri dan anaknya.
"Menjauh dariku, kau bau!" umpat Harry yang langsung membuat Dev kecil berwajah kecewa.
"Pa Dev mau main," ucap anak kecil itu.
Harry menatap seluruh rumah yang diisi dengan kamera CCTV, dia tiba tiba tersenyum padahal beberapa saat lalu dia memasang wajah marah.
"Ikut Papa," ucapnya seraya menunjukkan kalau hubungannya sangat baik dengan Dev, nyatanya itu semua hanya akting.
Dev di bawa ke dalam ruangan kerja Harry, melihat ruangan kerja Harry yang gelap, Dev langsung paham kalau dia akan mendapatkan hukuman lagi dari Papanya.
"Pa maaf... Dev gak nakal lagi jangan bawa Dev kesana!" pekik pria kecil itu.
"Diam kau anak sialan, kau akan dihukum karena sudah mengganggu Papa yang lelah bekerja!" ucap Harry dengan nada dingin dan tajam menusuk.
Dev di tarik masuk ke dalam ruangan itu dan disiksa disana, pria kecil itu menangis meronta ronta, dia tidak dipukul dengan benda keras tetapi di setrum dengan listrik, dan di bekap bahkan hampir mati saat itu.
Harry meluapkan kekesalannya karena dia merasa direndahkan oleh istrinya padahal memang perusahaan itu milik istrinya dan dia hanyalah seorang pria yang datang dan diterima tanpa memandang status sosial yang jauh berbeda dengan status sosial istrinya.
"Mati kau bangsaaatt, kau dan wanita itu sama, kalian merendahkan aku!!" pekik Harry sambil menatap Dev dengan tatapan tajam.
Tak sampai disitu, Dev ditarik ke kamar mandi dan di tenggelamkan kepalanya ke dalam bak kamar mandi membuat anak kecil itu kesulitan bernafas.
Harry mengeluarkan nya dengan wajah panik, jika Dev mati sebelum dia mendapat apa apa maka sia sia perjuangannya selama ini.
Plakk... Plakkk
"Heh bocah bangun kau!" Harry menampar pipi Dev dengan keras untuk membangunkan anak kecil yang tidak tau apa apa itu.
Tiba tiba mata Dev terbuka, sorot Matanya tajam dan sangat berbeda, tangannya meraih botol sampo yang terbuat dari gelas, Harry yang sedang membelakanginya tidak tau kalau bocah itu sudah bangun hingga...
Pranggg.... Brakkk Sreettt
Dev kecil menghantam kepala Harry yang berjongkok membelakanginya dengan benda di tangannya hingga kepala pria itu terluka akibat pukulan yang sangat keras.
Harry menatap Dev dia benar benar marah, pria itu mencekik leher Dev dengan kuat membuat anak lelaki itu tercekat.
"Mati kau bangsaaatt!!!" pekik Harry.
...****************...
__ADS_1
"Hah... hah... hah...," Dev terbangun, dia duduk di atas tempat tidurnya dengan nafas ngos-ngosan, keringatnya bercucuran, mimpi buruk yang sama yang selalu datang dalam pikirannya berhasil membuat tidurnya terganggu.
"Kak kau Kenapa? ada apa? kau keringatan!" Suara gadis yang selama hampir dua bulan ini terus mendampingi Dev seketika terdengar di telinga pria itu, hatinya tenang hanya mendengar suara gadis itu.
Grepp
Dev menarik Lisa dan memeluk Gadis itu dengan erat, tanpa dia sadari air matanya mengalir bahkan sampai membasahi kaos Lisa.
Lisa memegang lengan pria itu, jam menunjukkan pukul 12 malam dan Dev terbangun di tengah malam setelah tidak sadarkan diri seharian.
"Hei ada apa? apa kau sakit? pusing? apa yang terjadi hmmm?" tanya Lisa seraya menepuk lengan pria itu.
"Aku ingin memelukmu sebentar saja, kumohon tetap seperti ini," ucap Dev pelan, dia masih menangis.
"Kau menangis?" Lisa terkejut namun Dev tak menanggapi.
Lisa membiarkan Dev memeluk dirinya sedikit lebih lama selama pria itu bisa tenang.
" Ada apa? kenapa kau menangis?" tanya Lisa sambil menatap Dev dan mengusap wajah Dev persis seperti seorang Ibu yang menenangkan anak lelakinya yang menangis karena mimpi buruk.
"Aku... aku takut," ucap Dev sambil menunduk, ada kalanya seorang pria merasa takut, ada kalanya seorang pria merasa lemah, tak selamanya seorang pria itu harus tetap kuat, mereka juga manusia yang butuh kasih sayang.
Tangan Lisa mengusap lengan Dev," takut apa hmm?" tanya Lisa dengan lembut.
"Kau takut aku menghilang, aku takut kehilangan kamu dan Papa dan teman temanku, aku takut terjadi sesuatu pada kalian, aku... aku tak bisa melindungi kalian dengan keadaan ku seperti saat ini sa, aku...
Lisa langsung memeluk Dev, matanya berkaca-kaca, dia menghela nafas berat, dia tau Dev berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak berubah tetapi setiap dia tertidur, pria itu pasti was was kalau dirinya akan kembali kumat.
"Kita atasi bersama sama, ingat kau tak sendirian lagi, ada aku dan Papa keluarga mu, ada Kak Mike dan kak Adam, aku akan melindungi mu Dev," ucap Lisa.
Dev mempererat pelukannya, dia benar-benar merasa kalau ini adalah Titik terberat di dalam hidupnya.
Brakkk...
Pintu kamar mereka tiba tiba di buka paksa membuat keduanya terkejut dan melihat siapa gerangan yang membuka paksa pintu kamar itu.
"Papa?" ucap mereka berdua saat melihat sosok pak Kevin mendobrak pintu mereka.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😉😊