Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Sendal Jepit


__ADS_3

Mendengar Adam menyebut Bu Markonah sebagai Nenek, membuat Para warga tertawa terbahak bahak, lain halnya dengan bu Markonah wajahnya memerah karena marah dan malu merasa dipermalukan oleh Adam.


“Nenek ... nenek... nenek ndasmu bule bodoh,” ejek Bu Markonah dengan wajah kesal dan marah.


“I’m sorry nenek, i don’t understand,” ucap Adam menghiraukan bu Markonah yang sebenarnya sudah siap tempur dan adu mulut, tapi sayangnya dia kalah bahasa sama bule jerman itu.


“Ck... sial,” umpat Bu Markonah.


Adam membukakan pintu mobil, seluruh mata tertuju pada sosok yang di sambut oleh Adam dengan cara terhormat itu.


Tap.... pijakan kaki seorang pria bertubuh kekar berusia hampir kepala lima tampak sangat tegas, sendal jepit cap buaya melekat di kakinya, eh tunggu sendal jepit? Gak salah Mak? Ya enggaklah.


Para warga menyerngitkan kening mereka melihat sendal jepit cap buaya darat yang lagi lari di kejar bebek.


“Siapa nih, orang kaya bukan ya?” gumam mereka dengan wajah benar benar penasaran.


Pak Kevin keluar dari dalam mobil dengan gagah dan berkharisma, para warga terbelalak saat melihat penampilan Pak Kevin yang tampak berwibawa dengan kaos oblong dan celana katun super besar yang melekat di tubuhnya, kumisnya di pelintir, dia menatap warga dengan tatapan angkuh seperti yang biasa para warga lakukan pada mereka.


"Hiiikk.... hiikk... hookkk...hiiikk... hookk," Bu Markonah mulai sesak nafas tinggal nunggu kentut supernya.


Tap.... satu lagi, kaki dengan sendal jepit merek Hello Kitty berwarna merah muda keluar dari mobil itu dengan wajah angkuh persis seperti Papanya.


Lisa dengan kaos oblong berwarna pink pudar dengan celana pendek hitam dan rambut di cepol ke atas, keluar dari dalam mobil itu sambil mengunyah ngunyah permen karet di mulutnya.


“Huh apa kalian lihat lihat hah? Iri? Bilang kampret...” ucap Lisa seraya menatap mereka dengan tatapan sinis.


"Tak mungkin hikkk hookk... hiiikk... hookk... prett.... ," Bu Markonah terkejut bukan main, dia sampai sesak nafas, kentutnya di tahan sekuat mungkin.


Dev keluar dari sisi lain mobil, penampilannya berhasil menghipnotis para emak emak tukang julid disana, Dev memakai kemeja panjang dengan jas hitam dan celana tisu berwarna hitam tapi jangan lupakan masih pakai sendal jepit merek Upin ipin keluaran baru.


“Busyet dah ini siapa?” ucap para warga menatap Dev terutama para gadis dan emak emak yang menatap Dev dengan tatapan lapar.


“Ck... sial... dia terlalu berdamage,” gumam Lisa yang kesal kalau Dev dilihat orang orang.


“Heh apa lihat lihat suami saya, kemarin aja mulutnya yang pedes kayak cabe sekebon itu ngejek ngejek suami saya, syuhh... syuhh... pelakor gak diperlukan disini,” ketus Lisa yang menarik Dev ke belakang tubuhnya, padahal badannya lebih kecil dari Dev.


Pak Kevin berdiri di depan anak dan menantunya untuk menutupi Dev dan Lisa,” gak usah lihat lihat dasar kampungan, mau jadi pelakor bu tepung kanji hah? Mau ngapain lagi hah? Dasar warga kampret tak punya hati, minggir sana,” ketus pak Kevin.

__ADS_1


“Ya elah... lebay amat sih , emang dasar ya orang miskin itu norak, mau gimanapun penampilannya, kalian itu tetap yang paling norak cihhh baru naik mobil sewaan aja bangga dasar keluarga miskin,” umpat bu Markonah yang mulutnya benar benar harus dijahit supaya tida membuat telinga panas.


“Si Lisa gak malu ih, perempuan kok gitu ish najissss,....” umpat warga yang lain.


“Cih bener kata bu Markonah, kalian naik mobil sewaan aja bangga dasar keluarga miskin , dan kamu Lisa beraninya kamu mengancam ancam kami hah, dasar perempuan sundal, perempuan busuk, pere....” mulut orang itu langsung terdiam saat melihat aura hitam keluar dari kedua pawang Lisa.


Pak Kevin dan Dev mengeraskan rahang mereka saat mendengar pria itu mengejek Lisa terang terangan di depan mereka.


Adam malah wanti wanti sambil menatap Dev yang takutnya akan kembali berubah karena marah seperti saat ini.


Lisa sadar papa dan suaminya sedang marah, dia menggenggam tangan keduanya dengan lembut.


Pak Kevin dan Dev menoleh ke arah Lisa yang malah tersenyum dan berkata “ Nggak apa apa, biar Lisa yang hadapi,” ucapnya sambil tersenyum lembut menenangkan kedua pria yang sudah seperti singa kelaparan itu.


Lisa melepas tangan mereka dan maju ke depan, “Situ yang mulutnya lemes banget, sini nih datang sama Lisa, biar ku becek becek bibir lemesmu itu hah, kurang ajar, jadi orang mulutnya gak bisa di jaga, pantas kampung ini selaku rusuh ada mulut mulut tetangga yang harus di diamkan,” sindir Lisa.


“Ummm by the way, siapa yang dua hari lalu lagi berduaan di belakang kantor lurah sambil pegang pegang paha padahal bininya baru lahiran di rumah, “ ucap Lisa sambil melirik para warga dengan senyuman jahil.


“Terus yang membawa kotak amal dari mesjid di depan dan coret coret dinding gereja di samping mesjid, hayooo... ngakuuu kamuuu...” Lisa menatap seorang pria muda, menatap janda muda di kampung itu, menatap pria berbibir lemes tadi dan menatap semua warga dnegan seringai.


Pak Kevin dan Dev terbelalak apalagi Adam, hampir saja dia terjungkal ke tanah mendengar ucapan sensual Lisa.


“Pinjem dong plisss...” bisik Lisa.


Dev mengangguk Paham, entah apa yang akan dilakukan Lisa pokoknya dia kasih aja ponselnya pada Lisa.


“Ya Tuhan, Papa bisa membunuhku kalau seperti ini,” batin Dev sambil melirik Pak Kevin yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam dan dengan aura kemarahan.


“Sungguh bukan aku yang suruh Pa,” batin Dev berteriak.


“Beraninyaaa.....” geram Pak Kevin.


Lisa mengambil ponsel mahal itu, lalu mengangkatnya ke atas,”Aku... ingin menunjukkan foto foto yang sangat menarik... jika pada hitungan ketiga kalian tidak bubar dari sini maka akan ku bongkar semua rahasia kalian iya kan pak Herlambang, bu Idah, kak Caca yang di ba..”


“Ck... mengesalkan, sialan kau, sudah ayo ayo bubar dari sini, lebih baik kita ke rumah saya saja yuk bapak bapak ibu ibu, kita makan makan saya traktir, daripada bicara dengan orang orang miskin ini , nanti kita ikutan miskin lagi,” ucap Pak Herlambang dengan wajah yang tiba tiba panik dan pucat pasi begitu juga dengan orang orang yang ditatap Lisa.


“ Iya ayo ayo buruan, kita biarkan saja mereka, memang dasar ya orang miskin ngomongnya gak pernah benar, dasar orang kampungan,” ucap mereka yang beramai ramai meninggalkan keluarga itu disana.

__ADS_1


“Huhhhfftt... beres, ini Kak Dev, maaf untuk yang tadi heheh,” Lisa terkekeh sambil menyerahkan ponsel Dev kembali.


“Wahhh warga disini benar benar mengerikan , bagaimana kalian bisa bertahan disini Om? Lis?tanya Adam yang terheran heran dengan sifat aneh orang orang kampung itu.


“Sudah biasa kak, mereka memang seperti itu, gak bisa lihat orang bahagia, sudahlah gak usah di bahas ayo ke dalam,” ucap Lisa sambil menggandeng lengan Papanya.


“Lain kali jangan berbuat seperti itu ya, kalau mereka minta fotonya gimana dasar kamu ini,” bisik Pak Kevin.


“Hahahah... ya biar mereka pulang aja kali pa, lagian kan emang Lisa gak punya foto apa apa, “ ucap Lisa sambil tertawa.


“Kau benar benar berani, apa warga tak akan marah padamu?” tanya Dev yang tak habis pikir dengan kelakuan Lisa.


“Ummm sudah biasa kak Dev, lagian emang bener kok yang Lisa bilang, mereka itu selain mulutnya berbisa kelakuannya juga mengerikan, “ ucap Lisa seraya berbisik ke arah Dev.


“Husshhh sudah lah gak usah dibahas, kampung ini memang aneh Dev, kau harus berhati hati, lain kali tak perlu memakai pakaian seperti itu, kau sok ganteng,” celetuk Pak Kevin dengan wajah masam.


“Ehh kan emang ganteng Pa, asal gak genteng aja hahahaha,” celetuk Lisa sambil berjalan bersama Papanya.


“Hushhh diem, yang paling ganteng itu Papa, bukan yang lain,” ucap Pak Kevin tak mau kalah.


“Cihhh cemburu nieee hahahah...” Lisa terus menggoda Papanya.


“Wahh Dev kita pergi saja, warga disini aneh aneh,” bisik Adam.


“Diam kau, selidiki orang orang di kampung ini, kalau sampai ada yang mencurigakan langsung laporkan, aku mana bisa pergi meninggalkan keluargaku disini, dasar kau ini,” ucap Dev sambil menepuk bahu Adam.


“Whaatt?” pekik Adam .


“Kak Adam masuuukkk...” teriak Lisa dari dalam.


.


.


.


Like, Vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2