Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Jualan


__ADS_3

Dev dan Lisa berjalan sambil mendorong gerobak gorengan yang biasa di bawa oleh Pak Kevin berjualan. Dev mendorong di sisi kanan dan Lisa di bagian kiri.


Mereka melewati pohon besar dimana Lisa, Pak Kevin dan Dev bertemu waktu itu. Gadis itu berhenti sejenak lalu menatap area itu.


"Ada apa? apa kau melihat sesuatu?" tanya Dev.


"Ini tempat saat kami menyelamatkanmu, apa kau ingat ?" tanya Lisa.


Dev menatap tempat itu, dia menelisik dan mencoba mengingat jika dia pernah kesana, namun semakin dia mencoba dia tak bisa ingat apapun.


"Aku tak ingat,"ucap Dev.


"Hmmm tentu saja kau tak ingat, kau kan sudah aki aki, makanya cepat tua," ejek Lisa.


"Heh Mak Lampir, apa tak bisa semenit saja kau tidak mengejekku, bibirmu kok lemes banget neng??" ucap Dev dengan wajah kesal.


"Gak bisa wleeekk..." ledek Lisa.


"terserah!" ucap Dev.


"Ngomong ngomong apa Papa setiap hari berdagang seperti ini? apa tubuhnya tidak lelah mengingat usianya," tanya Dev.


"Dia itu ibarat robot, tenaganya akan terkumpul penuh saat berjualan, aku saja sampai terkejut, kau lihat kan tubuh Papa itu sangat kekar dan terbentuk, dia melatih tubuhnya dan hidup dengan sehat, papa itu agak aneh," ucap Lisa seraya berbisik.


"Tapi dia hebat bisa membesarkan seorang Mak Lampir seperti dirimu sendirian, aku yakin Papa pasti kewalahan menghadapimu," ucap Dev.


"Cihh.... kau memuji Papa sambil mengejekku, kau sangat licik!" ucap Lisa.


"Heh aku itu cerdas!" ucap Dev membela diri.


Mereka berdua berjalan sambil terus saling melempar candaan dan berdebat tentang banyak hal. Secara alami mereka berdua perlahan semakin dekat satu sama lain.


Keduanya berjalan, hari sudah sore dan ini adalah waktu yang tepat untuk berjualan.


Lisa dan Dev tiba di lapak dimana Pak Kevin biasa menjajakan jualannya, dan sudah memiliki banyak pelanggan setia.


"Dimana lapaknya?"" tanya Dev.


"Itu yang dekat pangkalan ojek, diantara tukang bakso sama penjual nasi goreng itu," ucap Lisa menunjuk lapak yang kosong yang sudah ada di depan mereka.


"Ohh... oke," ucap Dev.


Lisa dan Dev meletakkan gerobak mereka dengan benar, lalu menyusun beberapa kursi plastik yang di bawa dari rumah sebagai tempat duduk bagi pelanggan mereka.


"Kak aku akan memasak, kakak yang menerima pesanan, sebentar lagi pasti bakal rame ini, huh belum lagi pertanyaan pertanyaan mereka soal Papa, haisshhh bikin kesal saja," gerutu Lisa yang mulai mengeluarkan bahan bahan yang sudah mereka siapkan dari rumah.


"Heh kalau di depan jualan itu jangan ngedumel, nanti gak laku, jalani aja, aku bantu jawab nanti, dasar bocah," ucap Dev.


"tcihh...dasar Pak tua..." gerutu Lisa.


Dev membantu Lisa, meskipun awalnya sedikit kesulitan namun Dev mulai terbiasa karena bantuan Lisa yang mengajarinya sambil mengoceh ana itu sehingga membuatnya cepat hapal dengan semua yang harus dia kerjakan.


Setelah beres beberapa menit, orang orang dengan perut lapar baru pulang kerja, pulang sekolah dan fans Pak Kevin mulai berdatangan ke lapak itu.

__ADS_1


Namun kali ini kerumunannya tampak tidak normal sebab itu terlihat lebih banyak dia kali lipat dibanding hari hari biasanya.


"Sa... lihat ituuu...." Bisik Dev di telinga Lisa yang sedang memasak.


"Ada... APAAAAA!!!" Lisa berteriak heran saat melihat orang orang sudah berkerumun di dekat lapak mereka, rahangnya hampir terjatuh saat melihat orang orang yang berdiri di sekitar lapak mereka.


"Banyak sekali, apa setiap hari seperti ini?" tanya Dev pelan.


"Ini... ini banyak sekali Deeev!!" Lisa sampai terbelalak.


"Kak saya pesan goreng pisang lima ribu... campur ubi goreng 10 ribu..."


"Kak saya tempe 4 ribu..."


"Kak saya mau ubi 10ribu.....


para pelanggan mulai berebutan membeli gorengan mereka, dan anehnya yang mengantri disana terdiri dari laki laki dan perempuan dengan jumlah yang banyak.


"Waduh kak gimana nih!" ucap Lisa yang mulai kewalahan.


"Udah banyak yang masak?" tanya Dev.


"Belum, " ucap Lisa yang tampak sedikit panik.


"Tenang, kamu masak biar kakak tangani pembelinya ," ucap Dev.


"Tapi gimana caranya?" ucap Lisa.


"Tenang, masak aja ya," ucap Dev sambil menepuk pucuk kepala Lisa membuat semburat mereka muncul di wajah gadis cantik itu.


Matanya sesekali melirik Dev yang tampak mengatur para pembeli untuk berbaris dalam dua barisan dan menunggu pesanan mereka.


Entah pesona apa yang membuat mereka menurut begitu saja dengan Dev, tetapi pria itu berhasil membuat para pelanggan bersabar untuk menunggu.


"Mulai besok kami akan membuat kupon makan gorengan gratis, bagi siapa pun yang berhasil mengumpulkan sepuluh kupon utuh akan kami berikan menu spesial, dan gorengan gratis jika anda membayar dengan sepuluh kupon!" ucap Dev.


Para pelanggan terdengar senang, mereka sangat menyukai program yang dimunculkan Dev itu.


"Tetapi syaratnya adalah dengan membuat antrian yang rapi seperti ini, dan usahakan mendahulukan orang tua," ucap Dev.


"Kami akan beri bonus," ucap Dev seraya mengedipkan sebelah matanya membuat para wanita berteriak kegirangan saat melihat pria itu.


"Wohooo.... ini sangat menarik!" seru mereka.


"Wahh mereka benar benar pebisnis hebat, tatapi dimana Duda keren itu, yang ada anak gadisnya dan pria tampan itu," ucap salah satu janda muda yang mengincar Pak Kevin.


"Iya ya, tapi tak apalah, pria ini juga tampan, belum lagi pesona anak gadis pak Kevin," sahut pembeli laki laki.


"ngomong ngomong Pak Kevin dimana!" teriak salah satu fans berat Pak Kevin.


"Papa sedang di rumah, beristirahat sebentar sebelum mulai berjualan lagi, beliau juga menunggu kedatangan kalian!" jawab Dev.


Para wanita tampak bersemangat, mereka tersenyum sambil membayangkan si duda keren yang tampan apalagi kalau sampai bersanding dengan Dev si pria tampan penjual goreng itu.

__ADS_1


"Kenapa kau membiarkan Lisa kami memasak sendirian, kukunya bisa rusak terkena minyak panas!"teriak salah satu fans berat Lisa.


Dev menatap kesal ke arah pria sedangkan Lisa sudah tertawa terbahak-bahak disana, " mampus kau, hadapilah fans fanatik itu hahahah," Lisa cekikikan di dekat penggorengan yang berisi minya panas hingga....


Pletuk... peltup...


Minyak memercik dan terbang ke atas kulit tangannya membuat Lisa berteriak kesakitan.


"Awhhh... shhhh" Lisa meringis kesakitan saat kulitnya terkena minya panas.


Mendengar suara Lisa membuat Dev segera menghampiri Lisa.


"Sa baik baik baik saja? astaga kenapa kau ceroboh, yang digoreng itu ubi, pisang sama tempe bukan tanganmu Mak Lampir!" gerutu Dev saat melihat tangan Lisa yang terluka cukup lebar akibat percikan minyak panas itu.


"Tidak sengaja, adu duh ini sakit haissshhh....shhh" Lisa mendesis kesakitan.


"Bocah bocah, kau punya salep luka bakar?" tanya Dev.


"Tidak, ini disiram air saja," ucap Lisa.


"Jangan, itu akan menggembung," ucap Dev.


"Ck...kau bisa tahan sebentar? akan kulayani mereka dulu," ucap Dev.


"Bisa, tapi apa kau bisa sendiri," tanya Lisa.


"Serahkan saja padaku,"ucap Dev.


Dev mengambil alih pekerjaan dia menggoreng sekaligus melayani permintaan para pembeli yang sangat panjang, Lisa menahan perih di tangannya sambil membantu Dev sebisanya.


Karena antrian yang sangat panjang, gorengan Dev dan Lisa langsung cepat habis membuat Dev bernafas lega.


"Apa di sekitar sini ada toko obat?" tanya Dev.


"Ada beberapa meter dari sini," ucap Lisa.


"Tunggulah sebentar, aku akan mencari obat, jangan disiram dengan air, nanti menggembung," ucap Dev.


"Aku pergi," ucap Dev sambil berlari dengan cepat menuju toko obat yang dimaksud oleh Lisa.


Saat Lisa sedang menunggu, tiba tiba beberapa orang masuk ke lapak mereka sambil memukul gerobak Lisa.


Brakkk....


Prang....


"Ada apa dengan kalian!!" teriak Lisa dengan nada marah.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2