
Sang mentari kembali bertahta di atas langit Jakarta. Tampak keluarga baru di dalam ruangan itu masih terlelap dengan tenangnya. Dev tampak terlelap sambil berpelukan. Lisa tampak nyaman di peluk Dev begitu pun dengan Dev.
Sebenarnya Lisa saat ini tengah bermimpi tengah memeluk seekor beruang besar yang terasa sangat hangat dan Dev tengah bermimpi memeluk anak kecil dalam dekapannya.
Pak Kevin menatap kedua insan itu dengan senyuman tipis namun seketika wajahnya berubah menjadi sangat garang, dia sudah benar benar siap untuk mencabik cabik Dev yang berani beraninya memeluk Lisa bahkan melingkarkan kedua tangannya di tubuh mungil sang anak gadis.
“Kenapa juga aku membiarkannya memeluk Lisa semalaman arhrkkkk... ini tidak bisa dibiarkan, enak saja dia mau merebut malaikat kecilku dari sisiku, aku saja jarang memeluknya,” gerutu Pak Kevin yang dilanda cemburu karena melihat lisa dan Dev berpelukan dengan mesra walaupun sebenarnya sah sah saja.
Tapi jangan sebut dia Pak Kevin si penjual Gorengan dengan panggilan Papa Tampan yang usil kalau dia tidak berhasil menghukum Dev.
“Ekhmm..... sudah pagi kalian bangunlah,” ucap Pak Kevin yang duduk bersila di atas ranjangnya sambil menatap keduanya.
Namun tak ada respon dari kedua sejoli itu, mereka tampaknya malah semakin lelap tidurnya.
“BAAAANGUUUUNN........” Pekik Pak Kevin sekencang kencangnya, suara Pak kevin yang begitu besar terdengar menggelegar dalam ruangan besar itu.
“Ahhhh.... setan mampus... anjir ada setan ngamuk mampus eh mampus lu kampret...” Lisa terperanjat dari tidurnya bahkan sampai bersumpah serapah di depan Papanya sendiri.
“Ehh setan mana setan kita kebiri setannya, arrhhh...” Dev ikut meracau persisi seperti Lisa.
Wajah Pak Kevin kini merah padam , dia benar benar geram melihat pasangan aneh itu.
“Grrrrhhhh..... berani beraninya kalian berduaaaa.......” geram Pa Kevin yang diteriaki setan oleg Anak dan menantunya sendiri.
Dev dan Lisa terbelalak kaget saat sadar dengan realita yang harus mereka hadapi saat ini, beruang besara sedang mengamuk dan mereka harus bersiap menghadapai serangan beruang besar itu.
“Kemari kalian berdua anak anak nakaaallll...” kesal Pak Kevin sambil menjewer telinga Lisa dan Dev sebagai hukuman karena mengejeknya sebagai setan apalagi Lisa sampai mengumpat Papanya sendiri hadehhhh....
Lisa dan Dev meringis kesakitan ,sebenarnya Pak Kevin bukannya menjewer telinga mereka tetapi menarik anak rambut mereka yang ada di dekat telinga, rasanya oh... mantap sungguh sakit luar biasa.
“Ampun Pa.. ampun awhh awhhh awhh... sakit sakit sakit... shshshh,” keduanya meminta ampun dari hukuman Maut sang Papa yang berubah jadi penyihir berkedok duda ganteng.
“Ampun apa hah? Dasar anak anak tengil kalian berdua sama saja, aku sepertinya sedang mengurus dua bayi besar yang tidak punya akhlak dasar pasangan gilaaaa...” omel Pak Kevin .
“Pa maaf hiks hiks hiks... sakit Pa... Lisa masih pusing huaaaa....” Lisa menangis sambil menahan tangan Papanya yang menarik anak rambutnya.
“Halah jangan ngeless kamu,” ucap Pak Kevin yang sudah kebal dengan rayuan maut Lisa.
“papa jahat huaaaa.....” kali Ini Lisa menangis lebih keras.
__ADS_1
“Pa... ini sakit kenapa ditarik beg..” Dev langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan maut dari Papa mertuanya.
“Ck... dasar, anak sama menantu sama saja, sama sama tengil !!” ketus Pak Kevin sambil melepaskan tangannya dari rambut kedua sejoli itu.
“Shhhhh...... Papasakit tauuuuu....” gerutu Lisa dengan wajah kesal sambil menghapus air mata palsunya itu.
“Cihhhh dasar aku sudah tau trikmu Lisa, jangan kau pikir Papa akan tertipu lagi dengan air mata buayamu itu,” ucap Pak Kevin sambil melemparkan tatapan kesal ke arah Lisa.
“Cihhhh... kupikir tadinya akan berhasil, haisshhhhh beruang besar ini sepertinya harus punya pawang,” gumam Lisa yang bisa di dengar jelas oleh Dev.
“Wahhh aktingnya benar benar natural, aku saja sampai tertipu, kupikir dia menangis betulan , betulan sih tapi gak tulus,” batin Dev sambil menatap Lisa dan Pak Kevin bergantian.
“Apa kau bilang heh? Dasar anak tengil, lihat ya kalau kamu sudah pulang ke rumah, kau harus jualan gorengan menggantikan Papa nggak ada penolakan,” ucap Pak Kevin dengan tegas.
“No... Papa nggak mauuuu... Lisa gak mau jualan goreng mending mulung ajaaaaa.... gak mau huaaa... jangan jualan goreng entar lisa dikerumuni emak emak dari segala penjuru, fansnya Papa Lisa gak mau ladenin emak emak berdaster, jamud alias janda muda bahkan anak gadis fans garis keras Papa,” rengek Lisa sambil mengentak hentakkan kakinya menendang selimutnya.
“Nggak mau pokoknya Lisa gak mau menghadapi reporter dadakan huaaa...” teriak Lisa lagi.
Dev bahkan samapi menutup telinganya mendengar rengekan gadis cantik di sampingnya itu, melihat Lisa saja, Dev sudah paham mengapa Pak Kevin samapi membuat peraturan dan melindungi Lisa dengan begitu tegas.
“Dia seperti Bocah ,” batin David.
“Tidak ada penolakan, dan kau....” ucap Pak Kevin sambil menatap Dev dengan tatapan tajam, Dev masih duduk di atas bed rest Lisa.
Glek...
Dev menelan kasar salivanya saat melihat tatapan tajam dari Pak kevin.
“Mampus... dan kenapa aku berada ditempat ini ya ampuuunnnnn.... mampus aku di panggang sama beruang besar,” batin Dev.
“Kau akan ikut jualan bersama Lisa, tidak ada penolakan, kalian jualan gorengan selama seminggu dan aku akan santai di rumah, dasar anak anak tengil, kalau sampai penjualan anjlok gara gara kalian gak pintar jualnya tidur di luar,” ucap Pak Kevin.
“Papa....” Rengek Lisa.
“Ya kali Lisa jualan sama dia, gak laku tau Pa, dia mana tau jualan , huh” ucap Lisa sambil menatap Dev dengan tatapan kesal.
“Loh kok jadi aku, kamu kali yang gak bisa jualan, mana ada pembeli yang mau beli jualan perempuan gila seperti dirimu,” balas Dev.
“heh pak tua, mana ada orang yang mau beli jualan aki aki tua seperti dirimu, yang ada gorengannya di ramein sama Lalat,” kesal Lisa.
__ADS_1
“lah aku bukan pak tua dasar nenek lampir, lihat wajahmu itu ada kerutan padahal usiamu masih 20 tahun,” balas Dev.
“heh pak Tua kau sadar diri dong usiamu jauh di atasku kau dewasa sedikit lah, emang ya kalau udah aki aki seperti dirimu udah mulai aneh ,” balas Lisa lagi.
Jadilah mereka berdua berdebat di atas ranjang itu, samapi samapai Pak Kevin melipat kedua tangannya di depan dada dan menyaksikan drama pagi kedua orang itu.
“Dasar anak anak tengil beraninya berkelahi di depan orang tuaaaa...” geram Pak Kevin, dia menaruh tangannya di masing masing sisi kepala kedua sejoli yang beradu mulut tanpa henti itu dan,....
Bughhh.....
“Rasakan anak tengil , dasar bocah cepat beres beres kita pulang,” ketus pak Kevin setelah membenturkan kepala kedua orang itu dan berhasil membuat mereka meringis kesakitan.
“Awhhhh... sshhhh... ini salahmu,” ucap Lisa sambil menatap Dev dengan tatapan kesal.
“Heh ini salah mu nenek lampir bukan aku,” ucap Dev lagi sambil mengucap kepalanya.
“Ck salahmu,”
“Salahmu... pokoknya salahmu,”
“eits yang mulai debat siapa heh?
“Papa,”
“Ya udah salah Papa dong,”
“Iya ini salah Papa,”
“APA KALIAN AKAN TERUS BERDEBAT BOCAH TENGIIILLLLL.....” Teriak Pak Kevin.
Dev dan Lisa saling menatap seketika mereka tertawa bersama sama melihat wajah pak Kevin yang sudah memerah karena menahan amarah, hadeh kompak dalam kegoblokan ini mah.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1