
“Pa, Lisa sama kak dev mau jalan jalan, ijin keluar ya, Papa mau ikut?” tanya Lisa.
“Nggak, Papa capek, mau istirahat kalian saja yang pergi, jangan pulang terlalu larut, Dev jaga Lisa,” ucap Pak Kevin.
“Siap Pa,” seru mereka berdua.
“Kalian bagaimana mau ikut atau tidak?” tanya Pak Kevin.
“Tidak Pak, saya ada pekerjaan,” jawab Adam.
“Saya mau istirahat,” ucap Mike.
“Jadi hanya kita yang berangkat,” ucap Lisa yang dianggukkan oleh Dev.
“Baiklah, sesuai perjanjian tadi, kan aku yang menang jadi aku yang nentuin kita naik wahana apa nanti oke,” seru Lisa.
“kalian mau kemana?” tanya Pak Kevin.
“Ke pasar malam Pa,” ucap Lisa yang membuat Pak Kevin sedikit terkejut.
“Apa kamu gak apa apa nak?” tanya Pak Kevin pada Lisa, pasalnya gadis itu memiliki trauma di pasar malam.
“Nggak apa apa, Lisa baik baik aja selama gak naik wahana itu,” ucap Lisa sambil tersenyum.
“Ada apa emang Pa?” tanya Dev.
“Lisa trauma dengan Bianglala, dia pernah hampir jatuh sewaktu dia masih kecil, jadi papa sarankan jangan ajak dia naik wahana yang tinggi ya Dev,” ucap Pak Kevin.
“Benarkah? Ternyata Mak Lampir ini juga punya kelemahan ya,” ucap Dev.
“Heh diam Pak Tua, coba kau yang naik biang lala pasti kau juga gemetar ketakutan, itu sangat menyeramkan ihhkkk...” Lisa merinding ketakutan hanya membayangkan dirinya menaiki wahana itu.
“heh yang benar saja,” ucap Dev.
“Itu benar,” ucap Pak Kevin yang membuat mereka semua menoleh pada pria itu.
“Eh maksud Papa?” tanya Lisa.
“Lisa benar pasti anak tengil ini takut naik biang lala hahahah, dia kan lemah,” ejek Pak Kevin yang bisa bisanya bercanda di saat makan malam seperti ini.
“Garing tau Pa,” ketus Lisa.
“hehehhe ya maaf, sudah sudah cepatlah makan,” ucap Pak Kevin.
Setelah selesai makan malam, Lisa dan Dev berangkat menuju Pasar malam ,”Ingat jangan naik wahana yang tinggi baik Lisa mau pun Dev,” pesan Pak Kevin.
“Baik Pa,” ucap mereka berdua.
“kami Pamit,” seru keduanya.
Adam melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek data data dan laporan perusahaan sedangkan Mike mengambil waktu untuk beristirahat sebab seharian ini dia dikerjai habis habisan oleh pria tua itu.
__ADS_1
Dev dan Lisa berjalan kaki menuju pasar malam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Lisa.
“Apa kau jalan kaki jika mau pergi kemana mana? “ tanya Dev.
“tentu saja, mau naik apa lagi kak, naik kuda?” ucap Lisa.
“Kalau ada kuda naik kuda aja biar cepat,” celetuk Dev.
“heh mana ada kuda disini, dasar pak tua,” ejek Lisa.
Lisa dan Dev berjalan dengan girang menuju pasar malam, sepanjang jalan mereka tak henti hentinya mengoceh tentang berbagai hal.
Seperti yang dijanjikan sebelumnya, bahwa Lisa yang akan menentukan kemana mereka bermain di pasar malam itu. Lisa mengajak Dev bermain komidi putar, masuk ke rumah hantu bukannya mereka yang takut tapi malah Lis ayang menakut nakuti hantu disana.
Bermain tembak tembakan, menangkap boneka, panah panahan dan permainan menyenangkan lainnya. Dev membelikan gulali dan bandana untuk Di pakai Lisa.
“Nah ini cocok untukmu, kau kan Mak lampir hahahahah,” tawa Dev yang memasang sebuah bandana berbentuk tanduk berwarna merah yang bisa menyala di kepala Lisa.
“Haisshhh dasar pak tua, kalau begitu kau memakai ini, cocok untuk mu kau kan aki aki hahahahah,” ucap Lisa sambil memasangkan janggut palsu dan topi penyihir seperti milik Voldemorth dalam serial Harry Potter.
“hohoho... aku malah tampak seperti santa hahahah..” Dev tertawa melihat penampilannya sendiri.
“Kita ambil foto,” ucap Dev sambil mengeluarkan ponselnya, dia berdiri di belakang Lisa dan..
Cekrek...
Beberapa jepretan foto mereka ambil, keduanya berpose seperti anak remaja yang sedang jtuh cinta.
Hingga tiba tiba keduanya berhenti tepat di depan sebuah bianglala raksasa yang menjulang tinggi ke atas.
Baik Lisa maupun Dev sama sama terbujur kaku di depan bianglala itu, mereka berdua terdiam, spontan Dev menggenggam tangan Lisa, dapat Lisa rasakan kalau tangan Dev gemetaran.
Gadis itu menatap Dev , wajah Dev tampak berubah menjadi sendu sepeti sedang ketakutan, “Steve,” batin Lisa mengingat alter ego dev yang menyalurkan rasa takutnya.
“Kak Dev,” ucap Lisa pelan, dengan segera Lisa menarik Dev dari daerah Biang lala itu meskipun Lisa sama sama ketakutan saat melihat benda besar itu.
“Ayo kesana kak,” ucap Lisa pelan.
Dev menutup matanya, dia menyerngitkan keningnya, kepalanya pusing, Lisa menjadi khawatir, dia menarik Dev secepatnya dan membawa Dev duduk di dekat sebuah air mancur.
“Kak Dev...” panggil Lisa meski tangannya juga gemetaran.
Dev tampak berperang dengan dirinya sendiri, “sshhhh... akhh... “ Dev mendesis lalu tiba tiba dia berhenti bergerak dan menunduk.
“Kak.. jangan buat Lisa khawatir,” ucap Gadis itu pelan seraya mengusap punggung tangan Dev.
Dev menatap Lisa dan membuka matanya dia melihat Lisa yang tampak gemetaran, bahkan dia bisa merasakan tangan gadis itu bergetar.
“Apa kau takut?” tanya Dev.
Lisa mengangguk pelan,” aku tidak suka bianglala,” ucap Lisa sambil menunduk ketakutan.
__ADS_1
Dev menarik Lisa dan memeluk gadis itu ,” tenang Lisa, “ ucap Dev.
“Kau berhasil kak,” cicit Lisa sambil menatap Dev yang tidak berubah.
“aku menekannya lagi Lisa,” ucap Dev.
“Baguslah, kau berhasil kak, “ ucap Lisa.
“hmmm... sudahlah, ayo pulang, kau pasti lelah, aku tak menyangka sepertinya aku memiliki trauma dengan biang Lala, aku hampir hilang kendali tadi," ucap Dev pelan.
"Kita pulang kak, ayo," ucap Lisa.
Keduanya berjalan pulang, Lisa terlihat kelelahan, belum lagi luka di pipi dan tangannya belum sembuh total membuat gadis itu cepat lelah.
Beberapa kali gadis itu menguap sambil mengusap lengannya karena udara dingin, jarak rumah ke pasar malam tak terlalu jauh tetapi berada lama di luar berhasil membuatnya kedinginan.
Dev merasa tak enak, dia berjalan di depan Lisa dan menundukkan punggungnya," ayo ku gendong kau pasti lelah dan mengantuk," ucap Dev.
"hoaammm.... aku lelah kak, minta tolong ya," ucap Lisa yang tanpa segan segan naik ke atas punggung Dev.
"ayo," ucap Dev.
Pria itu menggendong Lisa di punggungnya, dia berjalan dengan lambat sambil menatap langit dan mempelajari tempat tempat di sekitar lingkungan rumah mereka.
Baru beberapa menit Lisa di punggung Dev, gadis manis itu sudah terlelap dengan tenang di punggung Dev.
Pria itu tersenyum tipis," dasar bocah, cepat sekali tertidur nya, luka mu harus segera diobati," ucap Dev yang mempercepat langkahnya agar dia segera mengobati luka Lisa.
Beberapa menit berjalan akhirnya dia tiba di rumah dimana dia tinggal bersama yang lain.
Dev membaringkan tubuh Lisa di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuh mungil itu.
Diambilnya obat yang dia beli dari toko obat tadi lalu di oleskan ke pipi gadis itu.
"tidur yang nyenyak," ucap Dev sambil memandangi wajah cantik itu.
Tak lama dia juga ikut terlelap, Dev duduk di atas lantai di samping ranjang Lisa, dia tidur sambil meletakkan kepalanya di atas kasur.
Jam menunjukkan pukul 1 malam, semua orang sudah terlelap, tiba tiba Dev membuka matanya, dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tidur di atas lantai.
"wajahnya..." gumam pria itu menatap wajah Lisa yang masih membiru.
"Hmmm... ini saatnya," ucapnya sambil berlalu keluar dari dalam kamar itu, dia membawa sebuah masker hitam dan topi.
Dev keluar dari rumah setelah memastikan tak ada yang bangun, dia keluar dari rumah di tengah malam entah apa yang ingin dilakukan pria itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😉