
Mobil box berwarna hitam yang tadinya akan membawa Lisa tiba di lokasi di sebuah gedung yang tampak seperti sebuah markas.
Terlihat banyak penjaga yang berjaga disana, ada yang sedang latihan dan melakukan aktifitas lainnya.
Sepertinya lokasi itu merupakan sebuah tempat penyiksaan terlihat dari model bangunan yang tampak seperti penjara.
Kedua pria yang membawa Lisa tadi keluar dari mobil dengan wajah bangga karena berhasil menjalankan misi mereka untuk menculik Lisa gadis yang ditargetkan oleh bos mereka.
Di saat yang sama, sebuah mobil mewah memasuki area gedung itu diikuti mobil hitam di belakangnya.
Seluruh anak buah langsung berbaris dengan rapi karena mereka langsung mengenali siapa yang tiba di lokasi itu.
Pintu mobil dibukakan oleh asistennya, dan tampak seorang pria tua yang tak lain adalah Harry Pradipta, Papa kandung Devano Alexander keluar dari dalam mobil itu dengan gaya angkuh dan sombongnya.
Berjalan seraya mengibaskan jasnya dengan angkuhnya.
Para anak buah menunduk hormat pada pria tua itu.
" Selamat datang tuan!" ucap dua anak buah yang ditugaskan untuk menculik Lisa.
" Apa kau sudah dapat wanita itu?" tanya pria itu tanpa basa basi sebab dia datang kesana karena diberitahu kalau Lisa sudah mereka dapatkan.
Kedua pria yang membawa Lisa tadi sama sama tersenyum saat mereka berpikir kalau misi mereka sudah sukses.
"Sudah kami dapatkan tuan, dia ada di dalam mobil," ucap mereka berdua.
" Keluarkan wanita itu!" ucap Tuan Harry.
" Baik tuan," jawab Mereka.
Pintu mobil dibuka, tampak brankar rumah sakit yang dipakai Lisa masih ada di dalam sana dengan kain putih menggembung ke atas pertanda kalau ada objek yang disembunyikan di tempat itu.
Mereka menurunkan brankar dari dalam mobil dan menunjukkan pada Tuan Harry.
" Buka!" ucap Tuan Harry pada anak buahnya.
Mereka membuka penutup wajah Lisa dan...
Jeng ..jeng... jeng..
Seluruh mata di area itu terbelalak saat melihat apa yang ada di bawah kain putih itu, hanya bantal yang disusun dengan sebuah emotikon menjulurkan lidah.
__ADS_1
Kedua pria itu terkejut bukan main, mereka jelas jelas sudah menyuntikkan obat ke cairan Lisa dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil box itu tetapi nyatanya yang ada di depan mereka hanya tumpukan bantal yang disusun menyerupai manusia.
" Tu... tuan..." Suara mereka terdengar bergetar ketakutan karena mereka benar benar telah gagal menyelesaikan misi bahkan membuat Tuan Harry merasa seperti sedang dipermainkan.
Tuan Harry menatap mereka sambil mengeraskan rahangnya, dia mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan...
Dor... Dor
Dua tembakan telak melesat dan kini anak timah bersarang di kepala kedua orang yang seketika itu ambruk ke atas tanah dan kehilangan nyawanya.
Seluruh anak buahnya bergetar ketakutan melihat bagaimana kejamnya Tuan Harry yang tak segan segan membunuh siapa pun yang mengganggunya, bahkan istrinya sendiri dibunuhnya.
" Sialan, kalian pikir aku sebuah permainan!" Tuan Harry mengumpat kesal sambil menatap mereka. Dia datang kesana hanya karena diberitahu kalau Lisa sudah di culik tapi yang dia temui hanya setumpuk banyak yang disusun di atas brankar bahkan dengan emotikon mengejek.
" Siapa pun yang melakukan kesalahan akan berakhir seperti mereka berdua, jadi pikir pikir lah dahulu sebelum melaporkan sesuatu padaku!" ucap Tuan Harry dengan tegas.
" Kalian pikir aku mainan dasar manusia sampah, tak bisa diandalkan!" umpat Tuan Harry.
" Beni pastikan tubuhnya dilalap hiu peliharaan ku dan kirim kepalanya ke rumah keluarga mereka!" ucap Tuan Harry pada asistennya Beni.
" Baik Tuan!" ucap pria itu, tampak dia mengepalkan tangannya sambil mengeraskan rahangnya.
Sementara itu di kediaman keluarga Lisa, tampak semua barang barang penting di rumah itu sudah di kemar rapi dan siap dinaikkan ke dalam mobil pengangkut.
Semua keputusan sudah bulat dan Lisa tidak bisa menolak, dia akan menghadapi kehidupan baru yang lebih tenang di apartemen baru mereka dibanding dengan di tempat ini.
" Jadi kita benar benar akan meninggalkan rumah ini?" ucap Lisa yang duduk di atas tumpukan barang, dia memakai celana kodok berwarna hijau dan kaos putih serta topi kupluk hitam yang menutupi kepalanya.
" Apa kau tidak suka? tapi kita tak bisa berbuat apa apa, Beruang besar penentunya," ucap Dev berbohong padahal dia yang setuju kalau mereka harus pindah.
" Ummm... malah aku senang kak hahahahh, aku tidak akan bertemu dengan tetangga tetangga julid itu," celetuk Lisa dengan wajah kesal kalau mengingat para tetangga yang sebenarnya sedang berbaris menyaksikan kepindahan mereka dari rumah itu.
Bayangan saja di depan rumah Lisa dipenuhi dengan tetangga yang berbaris sambil menyaksikan barang barang dari rumah Lisa diangkat ke dalam mobil barang.
Mereka semua menatap ke arah rumah itu dengan tatapan penasaran, entah apa yang sedang terjadi.
Semua barang penting dimasukkan ke dalam mobil pengangkut barang. Pak Kevin tampak memandang rumah nya dia membawa bingkai foto sang istri yang ditutup dengan kertas koran serta foto masa kecil Lisa yang belum pernah dia tunjukkan pada Lisa maupun Dev.
Dev dan Lisa keluar dari dalam rumah, tampak Dev menggenggam tangan Lisa dengan berani meski beruang besar mereka ada disana.
" Kak Dev Papa lihat entar dimarahi," bisik Lisa.
__ADS_1
" Gak akan Sa, malah Papa udah cabut peraturannya hihihihi.... " bisik Dev sambil tersenyum.
" Dasar Pak tua tukang modus," ledek Lisa.
Lisa dan Dev tampak sangat serasi, para tetangga julid malah jadi terpana melihat penampilan Dev yang benar benar baru, berbeda dengan penampilannya sebelumnya.
Pria itu memakai Kaos oblong hijau toska dengan celana jeans hitam dan sepatu hitam, serta mengenakan topi kupluk seperti milik Lisa di kepalanya.
Tinggi badannya, proporsi tubuhnya benar benar sempurna dan sangat cocok dengan Lisa yang memang sudah cantik dari lahir.
" Wahh apa itu benar benar pria gila kemarin, dia benar bena tampan!" ucap para warga yang terpana dengan ketampanan pari purna milik Dev.
Lisa yang menyadari sejak tadi para janda muda, gadis gadis komplek, bahkan emak emak tetangganya memandangi wajah suaminya menjadi kesal dan marah karena miliknya dilihat oleh orang lain.
" Kak Dev pakai masker, aku gak suka mereka lihat lihat wajah kakak," ucap Lisa sambil memberikan masker pada Dev.
" Cemburu yaaa," tiba tiba Pak Kevin nimbrung dari belakang mereka sambil menatap keduanya dengan tatapan jahil.
" Ehhh pa.. papa," Lisa panik dan berusaha melepaskan tangannya dari Dev namun Dev bertingkah biasa saja.
" Kaka Dev lepasin dulu, ini beruang besar marah entar," batin Lisa.
"kalau cemburu suaminya di karungin aja Sa hahahha, awas Loh suaminya diambil janda muda," celetuk Pak Kevin.
Lisa memutar malas kedua bola matanya mendengar celetukan Papanya.
"Ya elah si papa masa kak Dev dikarungin? emangnya anak kucing," ucap Lisa.
" Hahahah... dia mah anak gorilla " kekeh Pak Kevin.
" Kita sudah siap berangkat," ajak Adam yang sudah memastikan semua barang penting masuk ke dalam mobil.
" Baiklah ayo,"
Mereka semua berangkat menuju rumah baru.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉