Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Gedung Terbengkalai


__ADS_3

Hari terus berlalu, kejadian hari kemarin menjadi kejadian yang akan dikenang seumur hidup, kejadian di masa lalu hanya menjadi bagian dari masa lalu, dan kini saatnya menjalani masa depan yang di mulai dengan adanya masa lalu itu.


Lisa melakukan aktivitasnya seperti biasa, David tak lagi sakit, keadaannya sudah sangat sehat. Pak Kevin seperti hari hari biasanya akan berjualan goreng sepanjang hari namun kali ini tidak pakai edisi khusus seperti beberapa hari yang lalu.


Mike, Adam dan Dev melaksanakan pekerjaan mereka, meski tinggal di rumah Lisa, Dev meminta ijin pada Pak Kevin untuk melaksanakan kegiatannya sebagaimana biasanya mengingat di aadalah pimpinan sebuah perusahaan.


Ketiga pria itu bekerja di dalam rumah, bisa di katakan kalau kantor mereka di pindah ke dalam rumah kecil itu. Ketiganya setidaknya merasa sedikit tenang di dalam rumah itu, mereka tak harus bertemu dengan banyak karyawan dan tak harus meladeni semua urusan karyawan.


Karena, Adam sudah mengatur dan melimpahkannya pada sekretaris mereka untuk mengurus perusahaan selama mereka di Indonesia.


“Aghhhh sudah lama aku tidak setenang ini dalam bekerja, biasanya lari kesana leri kesini, terbang sana, terbang sini, lompat lompat jungkir balik bahkan gak sempat tidur seandainya terus begini maka aku akan berumur panjang hahahaha...” Adam tampak senang dengan pekerjaannya yang akhir akhir ini tampak ringan bahkan masalah di perusahaan sepertinya tidak ada, membuatnya bisa sedikit bersantai.


“Mimpi kau,” kata kata yang dikeluarkan Dev sontak membuat Adam keluar dari mimpi indahnya, Dev tampak mengirim beberapa file ke laptop pria itu terdengar dari bunyi notifikasi di benda lebar yang ada di atas meja itu.


“Apa ini?” mata Adam terbelalak, baru beberapa menit dia merasa tenang dengan pekerjaannya, Dev sudah mengirimkan tugas pada dirinya.


“kerja sama dengan Global Company, selagi kita di Indonesia kita harus mendekati perusahaan itu,” ucap Dev.


Mike dan Adam tersentak, Global Company adalah perusahaan milik ayah kandung Dev bagaimana mungkin pria itu ingin menjalin kerja sama dengan orang yang jelas jelas membuat dirinya menjadi gila seperti itu.


“Dev kau jangan mengambil risiko besar, perusahaan itu... kau tidak harus menjalin kerja sama dengan perusahaan itu Dev,” ucap Adam dengan nada khawatir.


“Dev apa rencanamu?” tanya Mike, dia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.


“Tak ada, aku hanya ingin merebut apa yang menjadi milik mamaku,” ucap Dev dengan nada datar seperti biasa.


Mike tak bisa santai dia sudah merogoh kantongnya dan memegang obat penenang yang selalu dia kantongi jika Dev tia tiba mengamuk.


“Kau tidak sedang kumat kan Dev?” tanya Adam.


“Hahahha... santai saja, perusahaan itu memiliki prospek yang cukup bagus dan figur mereka sangat baik di mata dunia, aku ingin melihat seberapa hebat perusahaan itu, “ ucap Dev.


“Aku masih waras untuk tidak mencari masalah Mike, Adam, kalian tau kan aku punya dua orang yang harus ku jaga mulai saat ini, papa dan istriku Lisa,” ucap Dev sambil bangkit berdiri dan menutup laptopnya.

__ADS_1


Mike dan Adam saling menatap, kata kata pria itu benar benar tak tertebak. Melindungi? Apakah dia lupa kalau dirinya yang perlu dilindungi dan dirawat di sini?


“Dev kau belum sembuh, terakhir kali kau kumat dan mengeluarkan monster itu karena kau mellihat pria itu kan? Jangan begini Dev, kau bisa dalam bahaya besar,” ucap Mike tak terima dengan keputusan Dev.


“Inilah alasannya aku memaksamu pulang ke Jerman Dev, kau tidak akan baik baik saja jika tetap disini,” tegas Mike.


“Aku akan ke Jerman jika aku sudah sembuh Mike, aku akan membawa Papa dan Lisa ke Jerman tapi setelah aku sembuh,” ucap Dev dengan tegas, dia berjalan keluar rumah meninggalkan mereka berdua disana.


“Sialan kau dasar pria gila,” umpat Mike.


“Dasar sialan, apa sebenarnya yang dipikirkan pria bodoh ini haishhh.... “ Mike benar benar kesal.


Lain hal nya dengan Adam, wajahnya sudah keriting saja, begitu banyak yang harus dia lengkapi untuk melaksanakan perintah mutlak dari bosnya itu.


Dev berjalan keluar rumah, sesuai perintah Pak Kevin si beruang besar diktator Dev memakai pakaian kasual dan tidak mencolok , dia hanya memakai celana panjang parasut dilengkapi dengan kaos oblong dan jaket hitam dengan memakai sendal jepit sungguh berbeda dengan penampilannya yang biasanya selau memakai setelan tuksedo atau kemeja.


“Wah ini benar benar nyaman, kenapa selama ini aku tidak memakai pakaian seperti ini ya?” gumam Dev .


Plukk....


Saat Dev berjalan, tiba tiba kepalanya di lempar batu membuat Dev terkejut, beruntung tidak terlalu kuat.


“Siapa itu?” ucap dev menoleh ke belakang namun tak ada siapa pun disana.


“haishhh siapa yang berani bermain main dengan ku?” gumam Dev dengan wajah kesal.


Plukk


Lagi lagi dia terkenna lemparan batu, kali ini bukan di kepala tapi di punggungnya dan itu terasa sakit karena bukan Cuma satu lemparan tetapi lima sekaligus.


Dev menatap tajam ke belakang matanya menangkap seorang pria misterius yang tampak lari ke belakang sebuah rumah.


Dev mengejar pria itu dan ikut berlari ke belakang rumah itu, dia berlari mengejar orang yang melempar tubuhnya dengan batu, dia melihat pria misterius itu berlari bersama beberapa orang temannya, tampaknya mereka juga ikut serta dengan pria tadi.

__ADS_1


“Sial.... apa mau mereka,” umpat Dev yang berlari sekuat tenaga mengejar orang itu hingga dia tiba di sebuah gedung terbengkalai yang tak pernah di pakai.


Dia melihat orang orang itu masuk ke dalam gedung itu.


Perlahan Dev masuk ke dalam sana, gedung putih tak terurus yang sudah lama tak di pakai, suasananya gelap, bau dan lembab.


Dev mencoba masuk ke dalam, lagi lagi dia di lempari batu.


“Sial....” teriak Dev.


“keluar kalian bajingan , apa yang kalian lakukan hah?” teriak Dev kesal bercampur marah.


“Hahahahahah... heh dia marah lihat dia marah hahahah,” terdengar suara beberapa orang tertawa di sudut ruangan gelap itu, hanya berkas berkas sinar matahari yang menerobos jendela dan sedikit pencahayaan disana.


“Siapa kau bajingan,” teriak Dev.


“hahaahha.... kau hanya orang gila, kau itu punya penyakit Jiwa, berani beraninya kau menikahi gadisku hah? Lisa itu hanya cocok bersamaku bukan bersama pria gila seperti dirimu,” teriak pria itu.


“Sialan siapa kau, dan kenapa kau mebawa bawa istriku, apa maksudmu mengatakan aku gila hah?” Dev benar benar kesal dia tak bisa melihat apa apa, pintu juga sudah ditutup dan dikunci.


“Aku sudah mencari tau, kau itu orang gila, hahahah lihat lah ruangan ini, apa ruangan ini tidak membuatmu ketakutan? Atau apa ruangan gelap ini tidak membuatmu kesurupan seperti saat kau melukai Herman di malam itu?” ucap pria itu menyinggung soal apa yang terjadi pada Herman.


Dev sadar, dia telah masuk ke dalam jebakan mereka, seketika ingatan akan penyiksaan yang dilakukan Papanya sejak dia kecil berputar di kepalanya, Dev terduduk di atas lantai.


.


.


.


Like, vote dan komen


.

__ADS_1


__ADS_2