Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Tak jadi diculik


__ADS_3

Seorang pria bermasker tampak membawa brankar Lisa keluar dari ruangan itu dengan posisi Lisa tertidur di atas brankar. Pria itu berjalan seolah dia hanya membawa pasien yang sakit dan memindahkannya ke lokasi baru.


“Wadaoooo... apa apaan ini, kenapa dia membawa brankarku?” batin Lisa yang sebenarnya mengetahui kalau ada orang yang masuk ke dalam ruangannya dan menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus yang terpasang di tangannya.


Beruntung dia sigap dan langsung melepaskan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangannya sehingga cairan mencurigakan itu tidak sempat masuk ke dalam tubuhnya.


“Ya ampun ya ampun ini sudah seperti film mafia mafia jaman sekarang dimana si tokoh utama perempuan di culik terus akhirnya diselamatkan sama si tokoh utama pria yang rela berkorban untuk si wanita, dan mati karena tertembak,” batin Lisa yang malah menghayal tentang yang tidak tidak.


“Omo... omo.... apa yang harus kulakukan, masa iya aku harus menunggu Dev menyelamatkanku, yang ada suamiku disakiti oleh mereka, hmmmm berpikir Lisa, berpikir, pasti ada jalan keluar,” batin gadis itu.


Brankarnya terus bergerak entah kemana yang pasti Lisa tidak tau kalau dia akan dibawa kemana.


“Aku membawa gadis yang dimaksud oleh tuan, pasti tuan akan senang,” ucap pria itu pada salah satu rekannya yang menunggunya di belakang pintu rumah sakit.


“Kau bergerak cepat rupanya,” ucap temannya sambil membukakan pintu mobil box berwarna putih yang siap untuk mengangkut Lisa di atas brankar itu.


“Haihhh mikir Lisa gimana nih, kalau aku teriak belum tentu ada yang dengar ,” batin gadis itu.


Brankar Lisa dimasukkan ke dalam mobil box , kedua orang itu tampak masih berbicara di depan mobil box yang masih belum tertutup sempurna.


“Itu ada apa disana, apa kalian membawa stok obat obatan?” tiba tiba salah satu petugas rumah sakit yang biasa memeriksa stok obat menghampiri kedua pria mencurigakan itu.


Mendengar itu membuat Lisa dengan sigap melompat dari brankarnya dan memasang apa saja yang dia dapat disana di atas brankar agar terlihat seperti dirinya. Pelan pelan Lisa mengendap dan mengintip kedua orang yang membawanya ke dalam mobil itu.


“hahh mumpung mereka masih ngomong disana sebaiknya aku kabur,” gumamnya sambil melihat situasi dan ...


Hap


Lisa melompat dari mobil box itu, lalu menutup pintu dengan pelan, dia berjalan dengan pelan menghindari kedua orang yang sedang berbicara dengan petugas medis itu.


“Aman,” gumamnya sebelum akhirnya gadis itu kabur secepat kilat dari areal itu.


Lisa berlari sekencang kencangnya dengan tenaganya yang masih begitu besar,” Hayo Lisa pergi ke tempat ramai, sialan mereka, bagaimana bisa menangkapku,” kesal gadis itu.


Lisa berlari dengan sangat kencang hingga dia samapi di depan halaman utama rumah sakit yang begitu besar itu.


“Hah... haahhhh... haihhh capek arhhh...” gadis itu berdiri sambil memegang pinggulnya, dia benar benar lelah karena berlari dengan kencang menggunakan baju pasien rumah sakit.

__ADS_1


“Hoh.... mantap dah, akhirnya lepas, cihhh... siapa pun kalian, aku akan menghajar kalian suatu saat nanti, beraninya menculikku, kampret,” Lisa mengumpat kesal.


Tanpa dia sadari seorang pria dengan stelan kemeja lengkap menatapnya dari kejauhan ,” aman tuan,” ucapnya melalui earphonenya lalu pergi dari sana setelah memastikan sesuatu.


Lisa melangkah dengan langkah ringan, sementara itu di dalam rumah sakit, Dev, Mike, Adam dan pak Kevin panik saat menemukan kalau brankar Lisa hilang dari kamar itu, tak ada yang melihat karena kamar perawatan Lisa tidak diawasi.


" Lisa? Dimana Dia, kenapa bisa terjadi hal seperti ini!" Dev memijit pelipisnya dia benar benar panik karena istrinya tak ada di ruangan itu.


"Segera periksa CCTV, kurasa ada yang main main dengan kita Dev!" ucap Pak Putra sambil mengeraskan rahangnya.


Dev benar benar panik, dia berlari dengan kencang mencari ruang kendali yang terletak di lantai pertama rumah sakit.


Saat melihat Lisa tidak ada di kamarnya sudah berhasil membuat Dev memikirkan hal yang tidak tidak. Hampir saja alter egonya keluar.


Dev berlari kesana kemari, namun saat di lantai satu dia berhenti saat melihat sosok Istrinya berjalan sambil clingak clinguk sana sini.


" Lisa!" teriak Dev, tampak wajahnya benar benar khawatir.


Mendengar ada yang memanggil nama kebesarannya, Lisa menoleh ke sumber suara. Dapat dilihatnya dengan jelas wajah khawatir dan panik pada suaminya.


"Kak Dev," sapa Lisa sambil memasang senyum lembut dan melambaikan tangannya pada Dev.


" Ahhh kemana saja kau, kau membuatku benar benar ketakutan Lisa, kenapa brankarmu bahkan tidak ada di ruangan kamar perawatan, apa yang terjadi?" Dev melemparkan serentetan pertanyaan pada Lisa karena dia benar benar panik.


" Maaf, nanti kuceritakan," jawab Lisa sambil membalas pelukan suaminya.


" Apa kau baik baik saja?" tanya Dev sambil menatap Lisa.


" Apa ada yang terluka? apa ada yang sakit, apa ada yang tergores hmmm?" Dev memeriksa seluruh tubuh istrinya dengan tatapan khawatir.


" Tak ada yang sakit, maaf membuatmu khawatir," ucap Lisa sambil menggenggam tangan suaminya.


Dev terdiam dia menatap Lisa dengan kalut " Sa... kalau sampai terjadi apa apa padamu aku mungkin tidak akan ada di dunia ini lagi, aku... aku takut aku kehilanganmu, aku...


Dev berhenti bicara saat Lisa memeluknya dengan serat seraya menepuk punggung pria itu, satu hal yang Lisa sadari kalau saat ini Dev tidak berubah menjadi Steve saluran rasa takutnya dan itu sebuah kemajuan yang patut diberi acungan jempol.


" Tenang, kau belum tau siapa istrimu ini, aku lebih kuat dari yang kau pikirkan," ucap Lisa sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


" Maaf aku tak bisa melindungi mu," ucap Dev sambil menunduk.


" Malah kau yang menjagaku kan selama ini, jadi jangan bicara omong kosong, sekarang kita pulang, aku benci rumah sakit," ucap Lisa.


" baik kita pulang, ayo temui Papa dan yang lain mere juga panik mencarimu tadi.


Lisa tersenyum sambil mengangguk.


Pasangan itu berjalan sambil bergandengan tangan, mereka tidak sadar kalau semua orang yang menyaksikan keduanya malah menatap iri pada kemesraan Lisa dan Dev, mereka memang selalu membuat siapa pun iri.


Mereka tiba di depan ruangan perawatan Lisa dimana pak Kevin, Adam dan Mike menunggu.


" Lisa, kau darimana saja!" teriak Pak Kevin yang langsung menghampiri Lisa dan Dev.


" Ehh hehehhe, hai beruang besar aku tadi jalan jalan dulu, terus jajan karena bosan heheheh maaf nih gak bilang bilang ," kekeh Lisa sambil bersembunyi di belakang tubuh suaminya.


" Kau selalu begitu nak, selalu menyembunyikan semua hal sakit yang kau alami dari Papa, kau tak perlu melakukan itu, tak usah menjaga perasaan Papa, Papa sayang padamu nak," lirih Pak Kevin di dalam hatinya.


Mendengar jawaban Lisa membuat Dev, Mike dan Adam merasa curiga, pasti ada yang disembunyikan oleh Lisa.


" Dasar kau anak tengil, kemari kau, ku pites kepala kau Lisaaaa," gerutu pak Kevin yang ingin menghampiri Lisa.


" Eitss no Pa, jangan diapa apain kepala Lisa," Dev menghalangi Pak Kevin.


" Wleekkkk hahahah, Lisa punya tempat sembunyi wleekkk," ejek Lisa dari belakang tubuh Dev.


" Ck.... dasar anak tengil, kalau begitu kau saja, " ketus Pak Kevin sambil mengapit kepala Dev di bawah ketiaknya.


Tak ada Lisa Dev pun jadi,


"Arkhh... uhuk.. Lepas Pa... papa......


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2