
Adam melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Mike berada, sebab beberapa saat lalu dia diminta untuk menjemput Mike.
Drrtt... drrtt... drrtt
“Ada apa Dev, ah maaf aku tak bilang tadi, aku sedang menjemput Mike,” ucap Adam.
“Tak Apa, bawakan barang barang pribadiku dan kirimkan laporan perusahaan, pakaian dan kelengkapan lain, bawa pakaian kasual saja dan dua pasang pakaian formal, aku akan tinggal disini,” ucap Dev.
“Ahhh baiklah, apa perlu yang lain?” tanya Adam.
“Ummm tak ada, ahhh bawa uang tunai juga ,” ucap Dev.
“ Baiklah,” jawab Adam.
Pria bertubuh kekar dengan kulit putih dan sorot mata tajam itu melaju menuju rumah sakit milik Dev. Mulutnya sudah tak sabar ingin menceritakan segala hal yang dia dengarkan di rumah Lisa beberapa saat lalu.
“Ini benar benar hal yang menakjubkan, tapi kenapa kalau Devano kumat dia selalu menyerang kami ? tapi Lisa bisa selamat? Apa sebenarnya yang terjadi?” pikir Adam.
Dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit denan berbagai pertanyaan yang siap dia lontarkan pada Mike.
Sementara itu di rumah Lisa, Gadis itu bersama Dev sedang asik memotong ubi , pisang dan mengiris Tempe. Namun mulut Lisa tak berhenti komat kamit saat melihat cara kerja Dev yang benar benar berantakan.
“Haisshhh bukan begitu kak Dev, ini kebesaran kita bisa rugi kau ini sudah ku jelaskan berulang kali juga,” gerutu Lisa sambil mengambil potongan ubi yang di buat oleh Dev , selain bentuknya aneh, ukurannya juga besar besar entah apa yang dilakukan pria tampan itu tetapi dia mengacaukan pekerjaan Lisa.
Belum lagi pisang yang harusnya di belah tiga malah di belah lima akhirnya jadi berantakan semua.
“Yahhh aku kan baru pertama kali pegang beginian Lisaa...” elak Dev.
“Haiisshhhh ... motongnya begini loh kak, lihat Lisa potong sepanjang 7 centi meter aja jangan lebih terus pisangnya dibagi tiga untuk pisang ukuran besar bukan di bagi lima begini ,” gerutu Lisa.
“Ck... kan gak ada bedanya Mak Lampir, toh mau digoreng juga kan,” ucap Dev yang tak merasa bersalah sama sekali.
Lisa mendengus kesal, “ Lihat nih begini caranya, sini tanganmu dasar Pak tua,” ketus Lisa sambil menarik paksa tangan Dev yang memegang pisau.
Dia memotong Ubi sambil memegang tangan Dev dan mempraktekkannya dengan benar.
”Begini caranya, potong begini kecil kecil tapi jangan tipis,” ucap Lisa sambil mengomeli Dev dengan mulut super cerewetnya itu.
Dev bukannya menatap cara memotong yang diajarkan Lisa, dia malah menatap Lisa dengan senyuman tipis di wajahnya itu. Dia malah memandangi Lisa yang memegang tangannya dengan lembut sabil mengajarinya memotong ubi dan pisang dengan benar.
__ADS_1
“Gimana paham kan?” tanya Lisa sambil menoleh ke arah Dev yang sejak tadi menatapnya.
Pukk..
“Woiii paham gak sih? Malah bengong lagi,” ucap Lisa sambil memukul kening Dev dengan tangannya.
“Ehhh ekhmm... paham paham.... iya kecil kecil kan, “ ucap Dev sambil mengangguk.
“hmmm kalau gitu yang bener, kita ngejar waktu kak, udah dua hari gak buka, entar ada yang curi lapak kita malah jadi bahaya,” ucap Lisa.
“Iya iya mak lampir dari tadi nge dumel melulu dasar Mak rempong,” celetuk Dev sambil memotong ubi dan pisang dnegan cara yang benar .
“Ck... gara gara siapa? Kan gara gara situ juga, dasar aki aki berengsek, haisshhh.... kalau 20 menit lagi itu gak selesai, ku tambahi kerjamu, aku mau buat adonan tepung dulu,” ucap Lisa sambil mengambil bahan bahan lain dan mulai membuat resep gorengan mereka.
Lisa menunduk dengan serius, kerah bajunya turun apalagi kaos lisa, kaos yang kebesaran untuk tubuh kecil, sehingga dadanya terekspos.
Tak sengaja Dev melihat sesuatu disana, dia langsung mengalihkan pandangannya, dan mengambil kain panjang yang ada di dalam paper bag yang mereka bawa tadi.
Pria itu berdiri sambil geleng geleng kepala,” Dasar bocah,” ketus Dev sambil melilitkan Kain itu di leher Lisa agar tertutup.
“Ehhh kenapa Pak tua?” tanya Lisa.
“Balon kecilmu kelihatan, dasar bocah,” bisik Dev.
“Lain kali hati hati, jangan sampai kau begitu di depan orang lain, bahaya, “ ucap Dev kembali duduk dan melanjutkan Pekerjaannya.
Lisa menatap Dev dengan wajah memerah karena malu, bagaimana bisa pria itu mengucapkannya segampang itu.
“Haisshshh kenapa juga dia harus lihat arrhhhh maluuuu....” batin gadis itu berteriak.
“Ekhhmm.... terimakasih, tapi kau... beraninya kau melihat...” Lisa melirik dadanya.
“Beraninya kau Pak tuaaa....” kesal Lisa dengan wajah memerah.
“Heh kau yang tidak hati hati, mana kecil lagi, gak selera,” celetuk Dev yang fokus tanpa menoleh pada Lisa.
“kau.... haisshhhh sial, dasar aki aki mesum,” kesal Lisa.
“Eh Mak Lampir , yang nunjukin ke saya kan situ, jadi situ yang salah, syukur itu kuingatkan, gimana kalau orang lain lihat, hati hati dong dasar bocah tengil,” ejek Dev.
__ADS_1
“Huhh.... awas kau nanti Pak tua mesum,” geram Lisa sambil mengaduk aduk adonan itu.
“Tapi dia sedikit baik,” batin Lisa sambil tersenyum tipis memegang kain panjang yang menutupi lehernya itu.
“Apa lihat lihat heh? Aku ganteng ? kan emang iya? “ ejek Dev yang ternyata memperhatikan Lisa yang malah bengong menatap Dev sejak tadi.
“Cihhh... wajahmu kayak kakek kakek, cocok jadi pasangan bu Markonah, “ ejek Lisa.
“Terserah Mak lampir dah,” balas Dev.
Kedua orang itu mengerjakan pekerjaannya sambil teru menerus berdebat. Mulut keduanya komat kamit tentang berbagai hal, jika dilihat mereka bukanlah pasangan normal lainnya yang biasanya canggung jika baru menikah dan malah tinggal serumah serta melakukan pekerjaan bersama sama untuk pertama kalinya.
Mereka berdua justru sangat akrab seperti sudah lama bersama, memang keduanya benar benar cocok.
Pak Kevin mengintip Lisa dan Dev dari balik pintu kamarnya, sebentar dia cekikikan mendengar pembicaraan mereka, sebentar lagi mendengus kesal karena Dev bisa dengan cepat beradaptasi dengan Lisa.
“Haishhhh dasar anak anak tengil ini, membuat tidurku terganggu,” gumam Pak Kevin dengan wajah kesal.
“Tapi mereka sangat manis, hahahah... kupikir mereka akan canggung , tau taunya sama sama cerewet, hah syukurlah kalau mereka bisa dekat,” ucap Pak Kevin lagi yang tiba tiba berubah menjadi senang karena hubungan anak dan menantunya cukup membaik.
“Eh tapi Lisa akan cepat jatuh cinta pada Dev dan dia akan meninggalkanku, ahhhh tiiidaaakkkk...” ucap Pak Kevin sambil mengacak acak rambutnya.
Dia sudah seperti orang gila berjalan kesana kemari sambil mengacak acak rambutnya sendiri, sebentar tertawa, sebentar menangis sebentar lagi marah marah, sepertinya yang penyakitan disini bukan Dev tapi Pak Kevin, ada ada saja Pamer ini.
Lisa dan Dev sudah menyelesaikan perlengkapan gorengan mereka, Lisa terbelalak dengan hasil kerja Dev yang begitu rapi meski pun dia membuat kekacauan pada adonannya, tepung berserakan kemana mana bahkan wajahnya Sampai cemong cemong terkena adonan tepung.
“Prrrffttthhhhhh.... bwahahahahahah tepung kanji kembaran bu Markona huahahahahahahha....” Lisa tertawa terbahak bahak melihat wajah Dev yang belepotan.
“Heh kenapa neng? Sinting ya?” ucap Dev sambil bangkit berdiri bertepatan dengan itu Mike dan Adam tiba di rumah dan baru saja masuk ke dalam rumah.
Brukkk..
“Seeeetaaannnnnn.......” teriak kedua tampan itu sambil berlari terbirit birit saat melihat Dev berbalik dan menunjukkan wajahnya yang belepotan .
“Bwahahahahaha.... seeetannn hahahahha...”Lisa terpingkal pingkal melihat reaksi kedua sahabat Dev benar benar menyenangkan untuk menghilangkan stress..
.
.
__ADS_1
.
Like, Vote dan Komen.