Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Berhasil Menahan Lagi


__ADS_3

Lisa menatap orang orang yang merupakan tetangga rumah Lisa masuk ke area lapak jualan Lisa sambil bergaya seperti preman jalanan yang sedang menagih uang jalan di area itu.


“Hohohoh... jadi ini bisnis yang pakai pesugihan itu ya, pantas saja kalian laris sekali, ternyata kau memakai pesugihan kan?” ucap pria yang tak lain adalah Herman yang merupakan musuh bebuyutan Lisa di tempat tinggal mereka.


“Apa maksudmu Herman berengsek, beraninya kau mengatai bisnis Papaku pakai pesugihan!” ucap Lisa dengan wajah marah dan kesal, dia bangkit berdiri dan menatap Herman dengan tajam.


“Heh ternyata kau manis juga ya kalau dilihat dari dekat,” ucap pria itu seraya mencolek dagu Lisa.


Plakkkk


Plakkk


“Beraninya kau menyentuh wajahku bajingan!” geram Lisa yang memukul wajah Herman sebanyak dua kali karena merasa diperlakukan tidak baik.


“Sial kau wanita sundal! kau itu hanya seorang wanita, kau tak bisa apa apa, kau hanya bisa menggunakan tubuhmu untuk menggoda para pembeli iya kan?” ucap Herman.


“Cuiihhh...” Lisa meludahi wajah Herman, dia benar benar marah saat ini.


Plalaakkkk....


Satu pukulan keras mendarat di wajah Lisa membuat wajah gadis itu memar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


“Arghhkkkk.... shhh” Lisa mendesis kesakitan.


“Kemari kau perempuan jal4ng, aku akan memberikan pelajaran yang tepat untuk orang orang seperti kalian!” ucap Herman sambil menarik lengan Lisa yang tekena percikan minyak membuat lukanya bertambah parah.


“Kalian hancurkan lapak mereka!” ucap Herman pada teman sepermainannya yang juga ikut membuat onar disana.


“Jika ada satu orang pun yang berani ikut campur disini, maka kalian akan bernasib sama dengan perempuan jal4ng ini!” ucap Herman.


Semua orang ketakutan, Herman adalah anak Pak Herlambang yang sempat merasa terancam karena keberadaan Lisa.


Pak Herlambang adalah orang kaya di area tempat tinggal mereka sehingga tak ada yang beran i berkutik jika pria itu sudah bertindak, bahkan para warga menurut pada Herman.


“Sialan... lepaskan aku,... awhhh... kau melukai tanganku berengsek, apa yang kalian lakukan pada tempat jualan kami... lepaskan aku!” teriak Lisa meronta ronta.


Prakkk.... pletakk


Sebuah batu kecil berhasil mendarat di punggung Herman dan berhasil membuat pria itu meringis kesakitan, dia melepaskan tangannya dari Lisa. Lisa mengambil kesempatan itu untuk menghajar Herman.


Bughh... bughh... bughh Brakkk...


“Rasakan itu sialan, beraninya kau menyentuh tanganku bajingan...” teriak Lisa dengan penuh kemarahan, dia tak peduli dengan dan wajahnya yang berdarah, dia memukuli Herman dengan kedua tangannya.


Lisa mengambil ancang ancang dan...


Bughh

__ADS_1


Sebuah tendangan keras mendarat di alat vital pria itu membuatnya meringis kesakitan, Lisa terdiam , bukan dia yang melakukan hal itu.


“De... Dev....” ucap Lisa sambil menatap pria dengan sorot mata tajam di sampingnya, namun dia terbelalak saat melihat perubahan wajah itu.


“Si... siapa...” ucap Lisa terkejut, dia tidak melihat sorot mata Dev yang biasa disana, gadis itu menoleh ke belakang dan melihat teman teman Herman sudah tergeletak di atas tanah.


“Si... siapa kau...” ucap Lisa dengan suara bergetar, tangannya terasa perih.


“Ini aku lisa, aku Dev,” ucapnya pelan sambil merangkul Lisa.


“Kau baik baik saja? “ tanya Dev sambil menatap wajah Lisa.


Betapa terkejutnya Dev saat melihat wajah Lisa lebam dan sudut Bibirnya berdarah, matanya tertuju pada lengan gadis itu yang juga ikut berdarah.


“Sialan... beraninya kau menyentuh istriku bangsat!” teriak Dev sambil berjalan menghampiri Herman yang meringkuk kesakitan di atas tanah.


Lisa melihat tangan Dev gemetaran namun berusaha disembunyikan oleh pria itu, hati kecil Lisa bergetar saat melihat tubuh pria di depannya itu berusaha menekan alter egonya.


“Am... punhh.. akk,... aahkk... ampun...” ucap Pria itu seraya menahan rasa sakit di bagian alat vitalnya, Dev menendangnya dengan sangat keras.


“Kak..” panggil Lisa membuat Dev berhenti, dia berbalik dan kembali menghampiri Lisa.


“Maaf... maaf aku lama, kemari biar ku obati, “ ucap Dev sambil menatap Lisa yang tampak sedikit ketakutan.


Lisa berjalan pelan dan..


Dia memeluk pria itu dengan erat, tak ada tangisan yang ada hanya sebuah pelukan hangat yang Lisa salurkan pada Dev.


Dev terkejut, Lisa dapat mendengar dengan jelas degup jantung pria itu tak beraturan, pasti beberapa saat lalu Dev akan memanggil alter egonya.


“Kau hebat, kau menahan mereka,” ucap Lisa pelan, tanpa dia sadari air matanya mengalir.


“Terimakasih sudah datang dengan cepat,” ucap Lisa.


Dev terdiam dia mengingat kejadian beberapa saat lalu,


Dev berlari secepat mungkin menuju lapak jualan mereka sambil membawa salep luka bakar dan beberapa obat lainnya yang dia pikir perlu untuk persiapan di rumah.


Saat tiba di lokasi jualan, dia terbelalak saat melihat Herman menarik paksa Lisa dan menyakiti gadis itu, beberapa orang mulai merusak tempat jualan mereka, membuang bahan bahan gorengan yang tersisa dan mengambil uang hasil jualan mereka.


Dada Dev naik turun, dia tak berani mendekat, dia butuh alter egonya untuk menghadapi orang orang itu, sebentar dia tampak seperti orang bodoh yang ketakutan, namun suara Lisa yang kesakitan memaksa dirinya bertindak sendiri, hampir dia berubah dan mengeluarkan alter egonya, namun suara Lisa membuatnya tetap tersadar.


Dev menghajar empat orang yang merusak barang jualan mereka dan membuat mereka tergeletak di atas tanah.


Pria itu mengambil batu kecil , entah dapat keberanian dari mana, Dev melemparkan batu itu ke punggung Herman dengan sangat kuat, sorot matanya tajam dan tampak berbeda, jika dilihat dia seperti alter egonya bernama Kiel, yaitu alter ego pemberontak.


Saat itu dia mendekati Lisa dan menggantikan Lisa menghajar Herman.

__ADS_1


Kembali ke masa sekarang, Dev menatap tubuh kecil yang memeluknya itu, tangannya terulur mengusap kepala gadis itu.


“Ayo ku obati, wajah dan tanganmu berdarah,” ucap Dev.


Lisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Dev menuju lapak mereka yang sedikit berantakan.


“duduk disini,” ucap Dev yang dianggukkan oleh Lisa.


Pria itu menatap para perusuh itu dan menatap semua orang yang memperhatikan mereka disana, dia tak menyangka kalau dirinya bisa menekan alter egonya, Dev tidak akan bisa mengatasi rasa takutnya, gelisah dan kesepiannya tanpa bantuan alter egonya, namun kali ini berbeda, kehadiran dan suara Lisa membuatnya tetap sadar seperti kejadian sebelumnya.


“Berkat kalian aku menemukan obatku, tetapi kalian tak akan kubiarkan lepas dari masalah ini,” gumam Dev.


Pria itu pergi ke tempat penjual bakso di samping mereka, “Pak boleh saya minta sedikit air hangatnya, istri saya terluka,” ucap Dev dengan ramah.


“Bo... boleh, maaf kami tak bisa membantu tadi, pria itu anak pak Herlambang, kami selalu dibuat kesusahan oleh mereka, bukan maksud saya membiarkan lisa sendirian tapi saya sendiri sudah tua,” ucap pria tua itu sambil memberikan satu buah wadah berisi air hangat dan sebuah handuk kering yang bersih.


“Tak apa pak, saya paham, terimakasih untuk airnya,” ucap Dev.


“Jangan terlibat dengan Herman, dia berhubungan dengan preman di area ini, saya takut Lisa jadi korban mereka,” ucap penjual bakso itu.


“Iya pak, terimakasih,” ucap Dev.


Dev kembali ke tempat jualan mereka, matanya tak lepas dari wajah Lisa yang terluka. Pria itu duduk di depan Lisa.


“Lihat sini, kenapa kau tidak hati hati wajahmu jadi terluka,” ucap Dev sambil mengompres wajah Lisa dengan handuk basah.


“Itu salah kodok liar itu,” ucap Lisa dengan wajah kesal.


“Dasar bocah, diamlah biar ku bersihkan!” ucap Dev.


Lisa menurut, Dev merawat lukanya dengan baik, dia mengoleskan salep dengan lembut dan menutup lukanya dengan benar. Gadis itu terus menatap Dev dengan kedua bola matanya.


“kenapa menatapku seperti itu? Aku sudah tau kalau aku ini tampan Lisa,” ucap Dev dengan angkuhnya.


“Sombong!” ucap Lisa.


“Itu fakta,” ucap Dev dengan senyuman tipis di wajahnya.


Sementara mereka disana, Liam tampak mengintip dari balik penjual nasi goreng, dia mengeraskan rahangnya saat melihat Dev tak berubah.


“Sial... rencanaku gagal, harusnya dia berubah tadi, setelah itu ku rekam dan kuserahkan pada warga dan kau akan diusir, beraninya kau menyentuh wajah Lisa dengan tangan kotormu itu,” batin Liam anak uncle Chung yang menyukai Lisa.


.


.


.

__ADS_1


Like, Vote dan Komen.


__ADS_2