Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Jalan


__ADS_3

Musuh bebuyutan Lisa sedang berjalan bersama komplotannya anak anak muda satu gengnya yang juga dihasut untuk membenci keluarga Lisa.


Herman dan sekitar lima orang temannya laki-laki dan perempuan berjalan dengan santai di sekitar kampung itu, hari sudah sore dan biasanya mereka akan berangkat menuju lapak atau warung warung untuk cari makan atau sekedar hang out.


Wajah Herman tampak di tutup dengan plester putih dan lengannya juga di perban, namun ada yang aneh, cara jalan pria itu menunjukkan kalau benda pusaka masa depannya masih belum membaik.


" Herman perbaiki cara jalanmu itu, kau tidak malu dilihat orang? aku saja malu!" ejek Liam yabg juga bergaul dengan pria kaya itu.


"Ck... ini masih sakit Liam, coba kau yang rasakan, belum lagi ini dan ini, tubuhku juga terasa sakit semua seperti disiksa," ucap Herman menunjuk luka di Pipi dan lengannya.


Tadi pagi dia bangun dan mendapati Dirinya bermimpi buruk kalau ada monster mengerikan yang memukuli dirinya dan membakar lengannya. Alasannya pada teman temannya dia terluka karena memukul Dev dan membuat Dev kalah telak untuk menutupi rasa malunya.


Mana mungkin dia mengatakan kalau dia memukuli dirinya sendiri saat sedang bermimpi, dia pasti akan di ejek, satu satunya cara adalah menumbalkan orang lain yang dia anggap lemah.


"Ck... hanya melawan orang gila itu saja kau tak bisa bahkan ***"*mu sampai hampir lepas dasar bodoh!" ejek Liam dengan niat jahatnya untuk membuat semua orang di kampung itu membenci keluarga Lisa .


"Ishhh aku jijik dengan pembicaraan kalian, bisa kah bahas yang lain? kenapa selalu membahas benda layu itu!" ketus salah satu teman perempuan mereka yang ilfeel dengan topik bahasan kedua pria itu.


"Haishh sudah suah ayo kita ke tempat biasa, aku sudah lapar!" teriak yang lain .


"Kau yang traktir kan Man, kau sudah janji kalau kami membantu kau traktir kami," ucap Jeki salah satu temannya.


"Iya iya ayo kutraktir, makan saja sepuas kalian, aku kan punya banyak uang," seru Herman dengan angkuh dan sombongnya.


"wohooo..... ternyata Herman lelaki sejati hahahha, cap cus kita makan makan!!" seru mereka sambil melangkah dengan riang menuju warung terdekat.


"Eh kenapa kita gak pakai mobil Man?" tanya yang lain.


"Mobilku yang mahal itu akan rusak kalau dibawa keliling kampung ini, aku tak mau bannya lecet, kau Taulah harganya ratusan juta ,mana ada diantara kalian yang sanggup membeli mobil semahal itu," ucap Herman berlagak kaya seolah olah dia adalah pemimpin di kelompok itu.


"Jiahhh iyalah hanya Herman yang sanggup membeli mobil semahal itu, iya kan Man, kalau begitu kau juga sanggupkah menyewa orang untuk menghancurkan Dev pria sok kaya itu," ucap Liam seraya merangkul bahu Herman dengan senyum liciknya.


"Liam kenapa kau begitu membenci suami Lisa? atau jangan jangan kau suka ya pada gadis miskin itu? kau kan dulu sangat dekat dnegan keluarga mereka,"ucap Cika teman perempuan mereka.


"Ehh itu... ekhhhmm bukan begitu, mana mungkin aku menyukai gadis miskin seperti Lisa, aku hanya pernah mendengar kalau teman teman Suaminya si Lisa itu punya penyakit mental, kayak orang kesurupan gitu loh, dia bisa tiba tiba berubah, makanya itu gak baik buat keamanan kampung ini, aku melakukannya juga untuk kampung ini," ucap Liam membekas dirinya dnegan mengutarakan alasan alasan aneh walaupun sebenarnya itu ada benarnya.


"Tau dari mana kau?" tanya Jeki.


"Aku dan Papaku pernah mengantar mereka ke klinik jadi ya aku tau dari cerita teman temannya," ucap Liam.

__ADS_1


"Wahhh kalau begitu bahaya dong, warga disini harus cepat di beritahu, tapi mana mungkin mereka langsung percaya, kita harus ada bukti dulu," ucap Cika.


"Ya kita harus ada bukti, kita harus merekamnya saat dia berubah,, makanya Herman," Liam menatap pria itu.


"Kau tau kan cara melakukan yang terbaik, ingat apa yang dikatakan Lisa tentang Papamu, apa kau mau Lisa menjelekkan nama pak Herlambang ?" tanya Liam.


"Tentu tidak, aku... aku akan menghajarnya sendiri, kita yang akan membuat dia berubah, jangan melibatkan lebih banyak orang, kita saja, aku akan membayar kalian!" ucap Herman yang mulai masuk ke dalam jebakan Liam.


"Baiklah, kalau begitu kita makan dulu!" seru mereka.


Mereka berjalan dnegan angkuh, jika dilihat mereka itu seperti gantungan brand brand palsu sebab semua aksesoris yang menempel di tubuh mereka adalah barang tiruan yang dibeli dari barang Second hand seharga kacang goreng satu porsi.


Saat mereka berjalan, kebetulan Lisa dan Dev lewat, mereka saling menatap, Lisa tidak peduli namun Dev menatap Herman dengan tatapan tajam, meski wajah Dev terlihat pucat tatapan pria itu benar benar tajam membuat Herman, Jeki dan Liam tak bisa bernafas dnegan normal.


Pasokan udara mereka seperti tercekat membuat mereka sesak apalagi sorot mata itu seperti akan memakan mereka, di akhir tatapan itu bibir Dev tersungging sebelum akhirnya pria itu kembali menatap ke depan Karena dipanggil oleh Lisa.


Herman terbujur kaku, tubuhnya membeku, dia diam di tempat tak bisa bergerak, seketika pikirannya kalut, dia merasa kenal dengan sorot mata itu, sorot mata pembunuh yang terbayang dnegan jelas di kepalanya.


Herman gemetar ketakutan, dia berlari ketakutan dan meninggalkan teman temannya tanpa alasan yang jelas.


"Tidak... tidak... jauhkan aku dari diaa... ahhhhh tiidaakkk..." teriak Herman sambil berlari dengan kaki mengangkak, dia lari dengan cara berjalan kepiting karena bagian bawahnya masih berdenyut akibat tendangan maut Dev.


Lain halnya dengan gadis gadis yang mengikuti mereka, ketiganya malah terpana dengan ketampanan Dev .


Lisa menggandeng tangan Dev, pria itu memaksa ikut ke lapak jualan mereka, Pak Kevin sudah terlebih dahulu pergi membawa gerobak mereka.


Pak Kevin menyeret serta Mike dan Adam yang dia jadikan sebagai asistennya untuk dijadikan asisten lebih tepatnya menghukum Mike yang telah berkata kasar.


"Kau masih pusing? " tanya Lisa dan dijawab anggukan kepala oleh Dev.


"Sudah kubilang istirahat saja di rumah, aku juga tidak akan lama kak, kenapa susah sekali dibilangi sih!" gerutu Lisa.


"Aku takut sendirian Sa... aku tak..


"Baiklah baiklah, maaf aku tidak tau, seharusnya kita di rumah saja," ucap Lisa.


"Lain kali aku lebih peka," ucap Lisa.


"Apa kegiatanmu sehari hari?" tanya Dev.

__ADS_1


"Aku?seperti yang beberapa kali kau lihat waktu itu, aku memulung, mengumpulkan barang bekas, kelayapan, ngerjain si Herman, apa lagi ya pokoknya banyak deh," ucap Lisa.


"Apa kau tidak malu?" tanya Dev.


Lisa menatap pria itu sebentar lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain.


"Kalau aku malu, hutang Papa tak akan Lunas, kalau aku gengsi aku gak akan bisa makan, gak bisa punya rumah, gak bisa tidur nyenyak dan ya gak bakal ketemu sama kamu," ucap Lisa.


"Apa kau tidak sedih dengan keadaan seperti itu?" tanya Dev.


"Awalnya berat, tapi lama lama terbiasa dan aku menikmatinya," ucap Lisa.


"Lalu bagaimana denganmu? apa yang kau lakukan di Jerman? kenapa kau bisa tiba disini? keluargamu? atau teman teman atau mungkin bisa saja kau punya kekasih di Jerman sana, bagaimana kehidupan mu selama ini?" tanya Lisa.


"Aku mengelola perusahaan milikku di Jerman, aku datang ke Indonesia karena ini negara kelahiran ku dan negara mendiang Ibuku, keluarga? aku punya ayah yang tidak pernah mengakui ku dan punya ibu tiri dan adik tiri, kerabat Ibuku bahkan menghindari ku karena menganggap ku sebagai monster, aku hidup bersama Mike dan Adam, mereka temanku kalau kekasih tak ada makanya aku menikahimu," Dev menjawab semua pertanyaan itu.


"Ummm.... apa keluargamu di Jerman?" tanya Lisa.


"Tidak, mereka di Indonesia, itu alasannya Mike memaksaku untuk keluar dari negeri ini karena aku pasti akan menggila kalau bertemu dengan mereka, kejadian saat kamu dan Papa menemukanku waktu itu setelah aku melihat ayahku dan ibu tiriku di Mall, itu membuatku marah bahkan mengingat nya saja membuatku marah, "


"tetapi kau menahannya sekarang, iya kan?" ucap Lisa.


"Hmmm kau benar, akhir akhir ini aku bisa menahannya karena ada kau disini," ucap Dev.


"Wohhh hahaha aku hebat dong, iya kan hahhahaha," Lisa tertawa seraya membusungkan dadanya.


"Hmmm kau itu aneh," ucap Dev


"Terserah padamu lah, kita sudah sampai... Whaaaatttt!!!!" Lisa tiba tiba berteriak saat melihat lapak mereka.


"heh ada apa?" tanya Dev sambil menoleh ke arah Lapak mereka.


Keduanya terbelalak kaget saat melihat keadaan di lapak mereka, mulut mereka terbuka, mata mereka membulat tak percaya dengan apa yang terjadi pada lapak mereka.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 😊😉😉


__ADS_2