Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
"Aku Punya Keluarga"


__ADS_3

Lisa kembali terlelap, sang Candra kembali bertahta di angkasa raya menyinari Pertiwi Indonesia di malam yang dingin menusuk ini.


Pak Kevin juga turut melanglang buana di dalam dunia mimpinya, beliau tidur di atas bed rest yang disediakan oleh pihak rumah sakit di daam kamar perawatan pria itu.


Dia sama sekali tidak mau meninggalkan putri kesayangannya sendirian disana meskipun Dev turut berjaga di dalam ruangan itu.


Aroma kopi menerobos rongga hidung manusia tampan yang masih duduk di samping tempat tidur Lisa sambil memandangi wajah cantik yang tengah terlelap itu.


“Ini,” ucap Adam yang datang sambil membawakan kopi espresso yang diminta Dev beberapa menit yang lalu.


“terimakasih,” ucap dev sambil menerima kopi hangat itu.


“Ka.. kau tidak sedang sakit kan? Kau masih waras kan?” tanya Adam dengan mata membulat sempurna saat mendengar satu kata dari Dev.


Bugh..


“Aku akan mengurusnya, jangan tidur terlalu lama,” ucap Mike sambil menarik Adam dengan paksa dan membawa pria itu keluar dari kamar perawatan Lisa.


Dev menatap tubuh Lisa, tatapannya tak bisa diartikan, dia sudah seperti itu sejak dua jam yang lalu hanya diam dan menatap Lisa dengan tatapan lembut.


“Siapa kau sebenarnya?” batin Dev.


Dia meletakkan kopi nya di atas meja, kemudian menaruh kedua tangannya di atas bed rest Lisa sambil menatap gadis itu,” why i can’t take my eyes from you girl,” gumam Dev.


Mata indah itu menatap Lisa dengan lembut, dia tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Lisa, wajah lembut yang sedang menikmati dunia mimpinya itu berhasil membuat Dev berdebar tak karuan padahal dia hanya melihat wajahnya.


Perlahan tangan Dev turun dan mendekati tangan Lisa, dia menggenggam tangan itu dengan lembut, ada sesuatu yang lain dalam dirinya entahlah hanya saja sebuah perasaan yang mengatakan kalau dia merindukan gadis di depannya itu.


“Jangan menyentuhnyaaaa... haahh fiuuu fiuuu... ha fiiuuu... fiuu,” Pak Kevin tiba tiba terduduk di atas tempat tidurnya dan menghadap ke arah Dev .


Dev bahkan sampai terkejut, dia baru menyentuh tangan Lisa tetapi pak Kevin langsung beraksi.


“wah dia penyihir atau apa? Kenapa bisa tau kalau aku menyentuh tangan putrinya,” batin Dev yang sudah melepaskan tangan Lisa.


Ajaibnya, setelah dia melepaskan tangan Lisa Pak Kevin kembali terlelap dan tidur dengan tenang.


“Hufftttt... sepertinya beruang besar itu akan menjadi penghalang besar, aku bisa mati muda kalau seperti ini terus,” gumam Dev sambil geleng geleng kepala.

__ADS_1


“mwehehehaeh...... hahahhaha... hahahha kau lucu hahahh ,...” bukan hanya Pak Kevin yang beraksi tetapi Lisa juga ikut ikutan mengigau, hampir saja Dev bersumpah serapah di depan kedua orang itu.


“Astaga... anak sama bapak sama saja, ya ampun kenapa kalian harus membuatku jantungan di tengah malam seperti ini, mana pas jam dua belas malam lagi haishhh... sebaiknya aku tidur saja,” ucap Dev yang langsung bangkit berdiri dan naik ke bed rest di sebelah milik Lisa.


Pria itu sekali lagi menatap Lisa dan Papa mertuanya, seketika seutas senyuman terukir indah di wajah pria tampan itu ,” Aku punya keluarga... aku bahagia,” batin Dev.


Sungguh sebuah harapan yang sangat sederhana, memiliki keluarga yang utuh dan hidup dalam kebahagiaan.


Dev merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memiringkan tubuhnya dan tidur sambil menatap istrinya yang begitu cantik dan masih sangat muda.


“Selamat tidur semuanya,” ucap Dev sambil terlelap.


Dev tertidur dengan tenang, sebuah senyuman bahagia terukir di wajahnya, tak pernah dia tidur setenang itu.


Diluar pintu kamar itu, siapa sangka kalau Mike bahkan belum terlelap, dia berdiri di depan pintu kamar menanti kalau kalau Dev akan kumat, sepertinya pria itu semakin memahami kondisi Dev.


“Jika dia sangat bahagia maka Monster itu akan keluar, aku harus berjaga sebelum dia membuat kekacauan, dia bisa membuat Lisa dan Pak Kevin dalam bahaya,” batin Mike yang sudah siap dengan alat setrumnya.


Di dalam kamar perawatan Lisa, Dev terlelap dengan tenang, bahkan sangat tenang.


Namun tiba tiba pria itu bergerak, dia memutar arah tubuhnya menghadap ke atas langit langit. Matanya terbuka, raut wajahnya terlihat menyeramkan, dia tersenyum menunjukkan giginya yang berjejer rapi, pembuluh darahnya menegang dan jakunnya tampak naik turun.


Alter ego itu bangun, dia adalah saluran kepuasan Dev akan pembalasan Dendam, dia adalah saluran pembalasan Dev atas rasa sakit yang dia terima. Alter ego yang akan menghancurkan semua kesenangan yang dinikmati Dev, sebuah ego yang tidak ingin membiarkan dirinya untuk merasa bahagia dengan adanya kasih sayang dan kehangatan, egois dan mementingkan pembalasan dendam.


Dia bangkit dari tempat tidur, dia mantap ke arah Lisa dan Pak Kevin yang terlelap di dalam ruangan itu. Alter ego itu melihat Lisa dia terbelalak saat melihat wajah itu, wajah yang sama seperti 10 tahun lalu yang pernah bertemu dengannya ketika dia akan membunuh seekor anjing untuk melampiaskan rasa sakitnya.


“Jadi dia yang membuat Dev bahagia? Dia... Dia.... arhhkkkk.... eghh..... kenapa harus diaa.... kenapa harus dia.... jangan dia... jangan dia Dev... dia akan dalam bahaya, Lucifer akan mengambilnya... jangan dia lindungi dia Demon, arkkhhhh diamlah Steve.. Kiel aku dulu... Alex sana... ahh” ucap nya meracau tak jelas sepertinya sedang terjadi perebutan kesadaran di dalam tubuh itu hingga membuat Dev berganti ganti alter ego.


Lisa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Dev yang menggerutu, berdebat dengan dirinya sendiri sebenarnya sungguh menyedihkan dan mengerikan memiliki alter ego seperti itu tanpa bisa dengan bebas mengekpresikan apa yang dirinya sendiri ingin lakukan.


Lisa mengintip dia mendengar racauan tak jelas dari mulut pria itu hingga tiba tiba pria itu berhenti dan tatapannya kini sangat menyeramkan, giginya menggertak, rahangnya mengeras, matanya membulat sempurna, nafasnya naik turun.


“Aku Lucifer akan mengambil alih seluruh tubuh ini, akan kuhancurkan mereka semua yang mengganggu keinginanku hahahhaha...” suara Dev terdengar berbeda lebih dingin dan menusuk di bandingkan dengan lima kepribadian di dalam rubuh itu.


“Dia keluar, sesuatu yang menyakitkan ini akhirnya keluar,” batin Lisa.


“Apa yang harus kulakukan, tak mungkin aku berteriak, papa pasti akan panik,” lisa bergelut dengan dirinya sendiri, dia memikirkan cara untuk menenangkan pria itu.

__ADS_1


Lisa akhirnya menemukan ide bertepatan saat tangan Dev terulur ke leher gadis cantik itu berusaha untuk mengambil nyawa Lisa.


Grep...


Lisa membuka matanya dan menarik Dev hingga terjatuh ke atas tempat tidur itu, dia menarik Dev ke sisinya sementara Alter ego itu masih menguasai tubuh Dev,” Aku hanya berharap dia kan terkejut dan ini akan berhasil,” batin Lisa.


Dia menatap wajah marah itu dan..


Cup...


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Dev, entah mendapat ide gila dari mana, tetapi apa yang dilakukan Lisa saat ini berhasil membuat alter ego itu diam dan tak berdaya, dia melunak sesuatu menarik dirinya untuk kembali terlelap.


“Selamat tidur , aku akan memelukmu jangan takut aku ada disini,” ucapan Lisa yang dia karang entah dari mana,” biarlah toh sudah sah,” batin Lisa.


Gadis itu memeluk Dev dengan erat,” pasti rasanya berat kan? Aku tau rasa itu, tapi kau jangan sampai keluar batas,” bisik Lisa yang memeluk Dev yang kini berbaring di atas ranjang yang sama dengan dirinya.


Grrhhhh.... grrrhhhh


Deru nafas Dev terdengar begitu keras, dia seperti sedang geram namun tertahan.


“Husshhh tenanglah... ada aku disini, tenang lah... tenang lah, semua akan baik baik saja.... tenang lah.... nananan.. nananana...” Lisa bersenandung sambil menepuk nepuk dada Dev dan menenangkan pria itu.


Benar saja, senandung lembut dari bibir mungil itu berhasil menarik Lucifer kembali ke dalam tempat peristirahatannya.


Tanpa Lisa dan Dev sadari, Pak Kevin dan Mike menatap mereka dengan tatapan terkejut, terlebih Mike yang sampai mengusap kedua matanya tak menyangka apalagi melihat reaksi pak Kevin yang tampak tenang sejak dia bangun. Mike memperhatikan semuanya, baginya ini adalah sebuah keajaiban.


“Dia pasti sembuh, dia tidak akan menyakiti Lisa,” batin Pak Kevin sambil menatap mereka berdua dengan senyuman tipis lalu kembali tidur.


“Se...sebenarnya apa ini? Ke,, kenapa seperti ini? Pak Kevin.... a.. apa beliau sudah tau?” batin Mike sambil cepat cepat berjalan keluar dari dalam ruangan itu.


Lisa dan Dev terlelap dengan posisi Lisa memeluk Dev.


.


.


.

__ADS_1


Like, Vote dan Komen


__ADS_2