
Lisa dan Dev tiba di rumah, mereka disambut oleh Mike, Adam dan Pak Kevin. Mata Pak Kevin langsung terbelalak saat melihat wajah Lisa yang memar dan tangannya yang diperban. Dev sendiri sedang menyimpan gerobak di samping rumah.
“Yaaa... Lisa ada apa dengan wajahmu nak..” ucap Pak Kevin panik, dia langsung menarik Lisa dan memeriksa tubuh gadis itu sambil memutar mutar Lisa kesana kemari.
“Ada apa denganmu, kenapa kau terluka?” ucap Pak Kevin sambil menggoyang goyang tubuh gadis itu membuat Lisa sedikit pusing karena kelakuan Papanya.
“Berkelahi Pa, sama Herman, dia tadi bilang kalau usaha kita pakai pesugihan,” ucap Lisa dengan santainya masuk ke dalam rumah.
“Whaatt? Apa Dev tak menjagamu ?” tanya Pak Kevin.
“Tadi Dev lagi beliin salep buat luka bakar, tangan Lisa kena percik minyak, lukanya besar jadi Dev beli dulu obatnya, tau taunya kunyuk itu datang dan merusak lapak kita, Lisa dipukul tapi si kampret itu udah di hajar sama Kak Dev,” jelas Lisa.
Pak Kevin menarik nafas lega namun tidak dengan Mike yang mendengar penjelasan Lisa.
“Tunggu... apa kau bilang dia memukul orang ?” tanya Mike dengan tatapan tak percaya.
Lisa mengangguk membuat Mike dan Adam tak percaya, “Kau tidak bohong kan, apa ekspresinya asing atau sorot matanya lain?” tanya Mike.
“Ummm sedikit tajam tapi dia sadar, kenapa sih, kau pikir dia kumat? Tidak ya,” ucap Lisa dengan cuek dai masuk ke dalam kamarnya.
“Pa barang barang kak Dev kok disini?” tanya Lisa sambil menyembulkan kepalanya keluar dari pintu kamarnya.
“Lah jadi maksudmu diana, dia suamimu bukan suami Papa, suamimu ya tidur di kamar mu dasar aneh,” ucap Pak Kevin.
“Hahh? Satu kamar? Gak salah? Yakin? Tapi peraturan?” ucap Lisa terkejut bukan main.
“Sudah papa tempel di kamar kamu, itu tetap harus dipatuhi, kalian juga sudah menikah, dan ruang depan di pakai oleh bule Jerman dan bocah Jerman ini, mereka juga tinggal disini katanya, semoga betah sih,” ucap Pak Kevin dengan santai.
Lisa keluar dari kamarnya, dia menaruh tangannya di kepala pak Kevin,”Normal tapi kok agak gila sih Pa?” celetuk Lisa.
“Heh kau pikir papa gila, dasar anak durhaka,” ketus pak Kevin sambil menepis tangan Lisa dari keningnya.
“Ya siapa tau Papa lagi gak waras tiba tiba nyuruh Lisa satu kamar sama kak Dev,” ucap Lisa sambil memutar mutar jarinya di depak pelipisnya.
“Diam kau... dasar gadis tengil, papa menyatukanmu dengan Dev karena kalian sama sama tengil, bisa mati muda aku kalau bersatu dengan salah satu diantara kalian,” ketus Papa Lisa.
“Kenapa mati muda? Siapa? Papa kan udah tua?” celetuk Dev yang baru masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Prrfftthhhh hahahahha.... kau tepat sasaran kak Dev, Papa emang sok muda padahal udah tuwir juga hahahahah...” lisa tertawa terbahak bahak.
“Haishhh .... anak anak nakal, awas ya kalau gak cepat bersih bersih gak Papa kasih jatah makan malam,” ketus Pak Kevin.
Mike dan Adam hanya planga plongo menonton drama keluarga itu, mereka benar benar takjub dengan kekocakan rumah ini.
“Kak Dev cepat masuk, ambil pakaian, kita bersih bersih,” ucap Lisa.
“Ha? Kenapa kesini?” tanya Dev.
“Nanti dijelaskan, ambil saja pakaianmu,” ucap Lisa.
“Aku mandi duluan kak,” ucap Lisa sambil membawa pakaiannya keluar.
Lisa dan Dev pun membersihkan diri, di dalam kamar Lisa, Dev menunggu gadis itu selesai mandi karena hany aada satu kamar mandi di rumah itu, ia menatap kamar yang walaupun kecil dan sempit tertata dengan rapi, sebuah kasur berukuran sedang, sebuah lemari pakaian yang terbilang kecil, meja dengan banyak buku buku dan beberapa sepatu yang berbaris di kamar itu.
“Ini terlalu sempit untuk ditempati, kita harus mengganti kamar ini, kamar Papa juga pasti sempit, tidak boleh tinggal di tempat seperti ini, kalau perlu di renovasi,” ucap Dev.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa desain rumah yang dia sukai, “ kurasa ini akan cocok untuk Papa dan Lisa, hmmm tapi sepertinya tidak, Papa kan orangnya pelawak, kalau yang ini... hmmm mungkin akan cocok, aku pesan saja pada mereka, atau pindahkan saja kesini?” gumam Dev.
Pria itu terus memeriksa beberapa desain rumah yang menurutnya cocok untuk mereka tinggali, “Ahhh pusing aku tak menemukan yang tepat, kalau tinggal di mansion, mereka akan senang tidak ya? Atau rumah ini di bangun ulang saja deh, iya dibangun ulang saja, tapi,... apa papa akan setuju?” batin Dev.
Dev tersadar,” hmm? Tak sedang apa apa, kau sudah selesai?” tanya Dev.
“Hu... um sudah,” ucap Lisa yang masih menatap benda pipih di tangan Dev, benda yang selalu membuatnya penasaran.
Dev melihat arah mata Lisa,” kau mau pakai?” tanya Dev sambil menyodorkan ponselnya.
“Bolehkan?” tanya Lisa dengan mata berbinar binar.
“Boleh, tapi jangan menghapus apa pun ya, ada beberapa data perusahaan di dalam,” ucap Dev.
“Ahhh kalau begitu tak usah, kan disana ada data penting,” tolak Lisa.
“Tak apa, pakailah,” ucap Dev sambil berlalu keluar.
“Apa passwordnya kak?” tanya Lisa.
__ADS_1
“Tanggal pernikahan kita,” ucap Dev.
“ Baiklah,” ucap Lisa yang tertegun saat mengetahui kalau Dev bahkan menjadikan tanggal pernikahan mereka sebagai kata sandi ponselnya.
“Jadi ini ponsel ponsel canggih itu ya? Wahhh ini mah lebih dari keren, sesuai dengan apa kata orang orang mah ini,” ucap Lisa sambil menatap ponsel itu.
Lisa membuka aplikasi media sosial dan menjelajah disana, melihat semua hal yang selama ini dia ingin telusuri,”wahh ternyata hal hal seperti ini benar benar ada ya, bagaimana bisa dia membawa sepeda di seutas tali,” ucap Lisa yang sedang menonton pertunjukan akrobat.
“Wahh ini juga hebat, bagaimana mereka bisa membuat foto seperti ini,” ucap Lisa.
“Ini juga sangat cantik, hmmm aku penasaran desain baju yang cantik,” ucap Lisa membuka aplikasi internet dan menelusuri desain desain pakaian.
“Desain kamar, Desain Sepatu, Desain ruangan, ummm negeri Cina, Amerika,” Lisa mencari semua yang membuat dia penasaran.
Dev yang sudah selesai bersih bersih masuk ke kamar, dia melihat Lisa begitu serius melihat isi ponselnya, sebentar pria itu tersenyum melihat wajah polos itu.
“heh Mak Lampir ayo makan malam, kita masih mau jalan jalan ,” ucap Dev.
“Ehh sudah selesai, baiklah,” ucap Lisa menghentikan penelusurannya.
“Terimakasih untuk ponselnya,” ucap Lisa mengembalikan ponsel Dev.
“Sudah selesai?” tanya Dev yang dianggukkan oleh Lisa.
“Ya sudah ayo makan malam, aku sangat lapar,” ucap Lisa.
“Pergilah dahulu aku ingin memeriksa beberapa dokumen perusahaan sebentar,” ucap Dev.
“Ohh baiklah, tapi cepat,” ucap Lisa yang dianggukkan oleh Dev.
Pria itu membuka ponselnya, dia penasaran dengan apa yang dibuka oleh Lisa, Seketika dia tersenyum bahkan samapi menahan tawa saat melihat hasil penelusuran Lisa, “ Astaga dasar bocah ini, jadi dia fokus sejak tadi membaca informasi ini, hahahah kau lucu sekali Lisa,” Dev tertawa geli, sebenarnya alasannya memeriksa berkas hanyalah alasan karena dia penasaran dnegan apa yang dibaca istrinya karena Lisa tampak sangat serius tadi.
Mereka pun makan malam bersama dengan menu yang dimasak oleh Pak kevin di bantu oleh Bocah Jerman dan Bule Jerman yang disuruh untuk pertama kalinya mengulek cabai secara manual membuat tangan mereka berdua panas.
.
.
__ADS_1
.
like vote dan komen 😉