Suamiku Bukan Monster

Suamiku Bukan Monster
Talak


__ADS_3

Devano sudah sadarkan diri, dia bangkit dari bed restnya dan...


Sreet...


Dia menarik jarum selang infus dari pergelangan tangannya, yang pertama kali dia ingat saat dia sadar adalah Lisa yang pingsan dan dalam perawatan.


Pria itu menatap seluruh ruangan kelas VVIP yang disediakan khusus untuk dirinya, ruangan yang cukup mewah untuk sekedar kamar rumah sakit.


“Lisa,” gumamnya sambil bangkit berdiri, dia mendapat pemulihan yang cepat setelah beristirahat sebentar.


Pria tampan itu keluar dari dalam kamar dia mencari cari keberadaan Lisa yang sudah berstatus sebagai istrinya.


“Dev, kau sudah bangun? Astaga kenapa kau asal cabut jarumnya, darah mu menetes bodoh,” umpat Mike dengan wajah kesal, ya kebiasaan pria itu selalu saja mengumpat setiap dia kesal.


“Minggir kau, dimana Lisa dan Pak Kevin? Dimana mereka?” tanya Dev dengan tatapan tajam seperti biasa namun tak begitu untuk Pak Kevin dan lisa, tatapannya selau saja teduh dan seindah pelangi di langit yang cerah.


“Ck.... di ruangan itu, mereka disana, Lisa sudah bangun, dasar pria aneh,” gerutu Mike sambil menempelkan plester di lengan Dev.


Dev berjalan melangkah menuju kamar dimana Lisa di rawat , sebuah kamar dengan fasilitas yang sama dengan milik Dev. Pria itu berjalan perlahan lahan, dia mendekati pintu ruang perawatan seraya mencuri dengar percakapan mereka.


Dev meletakkan telinganya di daun pintu, tanpa dia sadari sudah ada dua mahkluk menyebalkan yang ikut nimbrung meletakkan kepalanya di daun pintu itu.


“Kau dengar sesuatu? “Bisik Adam pada Mike yang berdiri di belakangnya.


“Tidak, apa kau mendengar sesuatu,” tanya Mike pada adam namun di balas gelengan kepala oleh pria itu.


Dev berdiri menatap mereka dengan tatapan datar, tangannya terulur membuka pintu dan....


Ceklek... Brukkk... Brukkk


“Awoooo wajahku yang tampan arghhhh ssshhh ,” teriak kedua pria itu saat mereka terjatuh ke lantai bahkan wajah mereka sampai membentur lantai.


“Deeeevvvv...” pekik mereka.

__ADS_1


Dev memasang wajah datar, dia berjalan melangkahi mereka berdua tanpa memperdulikan pekikan kedua orang yang sangat menyebalkan itu.


“Awas kau kampret ngapain kau pegang pegang punggungku kampret aku masih perjaka aku tak mau ternodai oleh dokter culun seperti dirimu..” gerutu Adam sambil mendorong Mike dari atas tubuhnya.


“Sial, kau pikir aku berminat dengan pisang dasar pria bangsat kau!!” umpat Mike dengan mulutnya yang tajam dan pedas itu.


Lisa dan Pak Kevin terbelalak mendengar kedua pria itu berdebat di ujung pintu masuk benar benar pemandangan yang mengherankan melihat status mereka sebagai orang kalangan atas.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?” tanya Dev yang langsung berdiri di samping Pak Kevin yang tengah menyuapi Lisa memakan makanannya.


“Ini tidak apa apa, aku baik baik saja, hanya lecet selebihnya tak ada masalah, pria itu mengurusku dengan baik,” jawab Lisa dengan senyuman manis di wajahnya sambil mengangkat pergelangan tangannya yang di beri perban dan menunjuk Mike.


“hufftthhh syukurlah kalau kau baik baik saja,” ucap Dev menghela nafas lega.


“Kau sendiri bagaimana keadaanmu?” tanya Lisa.


“Aku sudah baikan, hanya butuh istirahat,” jelas Dev.


“Kapan kami bisa pulang?” tanya Lisa sambil memakan bubur yang disuapkan oleh Pak Kevin yang terlihat diam dan memasang wajah datar tidak seperti sebelumnya, sepertinya ada yang sedang dipikirkan oleh pria itu.


“Ahhh... pernikahan itu ya, baiklah, toh kita sudah menikah hehehe,” gadis itu tersenyum, dia tampak tidak masalah dengan pernikahan dadakan ini.


“Apa kau tidak apa apa? Kau tau kan aku ini hanya...” Lisa memotong perkataan Dev.


“Aku tak apa, justru aku senang karena aku penasaran dengan itu heheheh,” jawab Lisa jujur yang malah membuat Dev terkejut, bagaimana seorang gadis normal yang cantik jelita dan berbakat seperti dirinya justru penasaran dengan dirinya yang penyakitan itu.


“Apa aku tidak salah dengar? Ini soal pernikahan Lisa, bukan perkara mudah, apa kau yakin?” tanya Dev sekali lagi.


Prang...


Sendok yang di pegang oleh pak Kevin terjatuh ke lantai membuat mereka semua terkejut dengan hal tersebut, bahkan si kembar tak seiras sampai berhenti dari perdebatan mereka di depan pintu masuk itu.


“papa kenapa?” tanya Lisa sambil memegang lengan Papanya.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Pria itu dengan suara sendu, dia memungut sendok itu lalu meletakkannya di atas nakas bersama mangkuk berisi bubur milik Lisa.


“Pa, ada apa? Pastian ada yang Papa Pikirkan, katakan ada apa pa? Jangan buat Lisa khawatir,” ucap Lisa sambil memegang lengan Papanya dengan erat.


“Hmmm... Papa perlu bicara dengan Dev, bisa minta waktunya sebentar kan?” ucap Pak Kevin sambil berdiri namun tanpa menatap Dev.


“Nggak boleh, Papa mau sembunyikan apa lagi hah? Papa mau ngomong apa memang? Ngomong aja disini, aku tau ada sesuatu yang papa Pikirkan, apa Papa Khawatir soal pernikahan ini?” tanya Lisa blak blakan yang membuat dev terkejut sambil menatap mereka berdua secara bergantian.


Pak Kevin menarik nafas dan menghembuskan, “Hufffttt... sepertinya memang aku tak bisa bicara berdua dengannya, baiklah akan ku sampaikan disini,” ucap Pak Kevin kembali duduk di kursi itu sambil menatap Dev.


“Ada apa tu.. tuan?” tanya Dev, ya kali ini Pak Kevin adalah satu satunya pria yang berhasil membuat Dev merasa tercekat hanya untuk bernafas, dia tengah menghadapi sidang dari Papa mertuanya.


Adam dan Mike juga ikut tercekat, alasannya sama, aura Pak Kevin benar benar menyeramkan , dia seorang Pria tetapi auranya seperti aura seorang Ibu mertua yang tengah melindungi anak gadisnya dari menantunya.


“Aku sudah tau siapa dirimu sebenarnya, kau orang kaya dan kau memiliki status berbeda dengan anakku, kau jauh di atas kami,” ucap Papa Lisa yang sontak saja membuat Lisa dan Dev menatap pria itu.


“Aku tak ingin suatu saat nanti kau berlaku semena mena pada anakku, hanya dia hartaku dan hanya dia yang kupunya di dunia ini sehingga aku bisa bertahan hidup, kalau toh ujung ujungnya kau tidak memperlakukannya dengan hormat lebih baik...”


Tak


“Talak cerai anakku sekarang juga sebelum dia hidup menderita dengan seorang suami yang tidak bisa menjaganya, aku tak ingin Lisa menderita menikahi seorang pria yang tidak menghargai anakku,” ucap Pak Kevin.


Mereka terkejut bukan main dengan ucapan Pak Kevin yang terdengar tegas dan penuh penekanan.


“Aku tak mau melihat putriku yang berharga disakiti, kami bukan orang yang mengincar harta, aku hanya ingin putriku yang malang ini bertemu pria yang bisa bertanggung jawab atas dirinya, selama aku masih hidup aku akan berusaha membahagiakan putriku,” ucap Pak Kevin sambil membelai kepala Lisa yang menatap Papanya dengan mata berkaca kaca.


“Dia hanya seorang gadis tamatan SD, dia hidup tanpa seorang ibu sejak usianya 13 tahun, Dia berjuang membantuku melunasi hutang hutang kami, dia anak yang pintar tetapi dia tak bisa bersekolah karena aku tak berguna,” ucap Pak Kevin .


“Papa...” lirih Lisa sambil menangis, Dev mendengarkan dengan seksama ucapan Papa mertuanya sambil menatap Lisa dan Pak Kevin bergantian.


.


.

__ADS_1


.


Like, Vote dan Komen


__ADS_2