
📍Rumah Dev & Lisa
Lisa duduk di dapur, gadis itu tampak lesu setelah berbicara dengan suaminya, entah apa yang terjadi tetapi dia tampak lemas saat ini.
Adam yang sedang memanggang roti kering buatan mereka melihat wajah lesu gadis itu, jujur saja dia tak tega melihat Lisa seperti itu, tetapi apa boleh buat dia belum bisa menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Sa ada apa? kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? kau sedang sedih!?" tanya Adam.
"haaahh..." Lisa menghela nafas kasar sambil menatap Adan.
"Entah kenapa aku merasa kak Dev akan pergi jauh, aku... jantungku tiba tiba berdetak kencang, aku takut terjadi apa apa padanya," ucap Lisa sambil menatap Adam.
"Yang benar saja Lisa, jantung berdegup itu normal, kalau tak berdegup itu mati, kenapa kau mempermasalahkan itu sih..." Celetuk Adam.
"haihhss kak bukan begitu maksudku, ck kau memang tidak akan tau dasar bule Jerman kesasar, sembarang bicara!!" ketus Lisa, wajah gadis itu ditekuk membuat Adam tersenyum tipis.
"ck... ck... ck... bilang aja rindu sama suami tercinta hahahah... itu aja gengsi, pakai ngeles bilang perasaan gak enak dasar kamu," ejek Adam untuk membuat suasana lebih riuh dengan tujuan agar Lisa bisa melupakan kesedihannya.
"Ck... jangan ngajak ribut kak!!!" ketus Lisa.
Adam tersenyum tipis,"Aku juga khawatir sa, secepatnya kau pasti akan tau, tapi tidak untuk sekarang," batin Adam.
Sementara itu di Grup Alexander,
Dev, Pak Kevin dan Mike duduk di dalam ruangan Presdir. Ketiganya tampak diam dengan wajah datar.
"Jadi identitasku sebagai Presdir Alexander sudah diketahui!?" Dev menatap Pak Kevin dan Mike.
"Kalau itu, kita tidak bisa memastikan, apa kalian pernah membawa pengawal itu bersama kalian ke kantor ini dan menunjukkan identitas aslimu di depannya?" tanya Pak Kevin sambil menatap mereka dengan serius.
"Tidak pernah Pak Kevin, Pengawal Dev untuk ke perusahaan ada di tim khusus, selain itu kami selalu mengganti identitas Presdir Alexander untuk mengelabui mata mata seperti dia, tingkat keamanan paling tinggi diterapkan agar identitas Dev sebagai Presdir Alexander tertutupi!" jelas Mike.
"Hmmm... kalau begitu dia tidak tau apa apa tentang perusahaan ini dan hubungannya dengan Dev?" tanya Pak Kevin lagi.
"Dia tidak tau Pa, tapi... dia pasti tau Lisa, aku khawatir...
__ADS_1
"Sudah Papa bilang, Lisa aman, lingkungan tempat kamu tinggal dikawal ketat oleh anak buah Papa, semua orang yang tinggal disana adalah orang orang Papa, lingkungan itu dilindungi ketat oleh pertahanan militer, dan Lisa sendiri sudah Papa pasang alat pelacak di lehernya, kita bisa memastikan dia aman!" jelas Pak Kevin.
Dev setidaknya lega karena istrinya aman, masalah saat ini adalah informasi sebanyak apa yang sudah diketahui oleh Harry Pradipta ayah kandung Dev.
"Dev, kita haru menyelesaikan ini sekarang, tetapi risikonya sangat besar, kau harus menghadapi ketakutanmu sendiri, kau harus berhadapan langsung dengan Harry!" ucap Pak Kevin.
Mendengar hal itu sontak membuat Mike terkejut, ini tidak ada di dalam rencana yang telah mereka berdua bicarakan. Bahkan Dev sendiri terkejut dengan ucapan papa mertuanya.
"Pak Kevin, ini di luar rencana kita, anda tau jelas kalau Dev trauma pada pria itu, apa anda ingin membunuh Dev dengan mengirimkan nya ke pria bejat itu!!!" Mike berdiri sambil berkancah pinggang menatap Pak Kevin.
Pria tua itu tak menoleh sedikit pun, dia menatap Dev dengan yakin.
"Aku sudah merencanakan ini Mike, ini yang terbaik bagi Dev dan Lisa!" ucap Pak Kevin.
"Tapi dia belum siap Pak Kevin, ck... pria itu... dia yang membuat Dev seperti ini, menurut anda apa yang akan terjadi jika Dev sampai bertemu pria itu!!!"ucap Mike dengan lantang.
"Sebagai seorang dokter, bukannya kau lebih paham mengenai hal ini Mike? atau kau takut untuk mencoba!?" ucap Pak Kevin yang tak gentar sedikitpun.
"Bagaimana menurutmu Mike, apa aku akan sembuh dengan cara ini?" kali ini Dev angkat bicara, dia telah memikirkan hal tersebut.
"20% ya? setidaknya angka itu cukup besar, aku... akan melakukannya!" ucap Dev dengan yakin.
"TIDAK BOLEH!!!" Mike berteriak, dia berdiri menatap Dev dan Pak Kevin.
"Kau belum siap Dev, hanya melihat foto mendiang Ibumu saja sudah membuatmu gemetaran, apalagi melihat pria itu, kau.. belum siap untuk ini!!!" tegas Mike.
"Lalu sampai kapan Mike? sampai kapan aku akan hidup seperti ini, aku juga ingin bahagia aku ingin jadi laki laki normal yang bisa melindungi istriku bukan pria gila yang memiliki lebih dari satu karakter seperti orang kesurupan!" ucap Dev.
"Tapi.. itu hanya bagian dari dirimu Dev, kita bisa mengatasinya perlahan!" ucap Mike.
"Mau sampai kapan bocah Jerman, tiga belas tahun bahkan hampir seluruh hidupnya dia lalui Dnegan alter ego itu!!!" ucap Pak Kevin.
"Kembali ke Jerman! aku akan memberikan formula terbaik, lebih baik kita hadapi perlahan, kita lakukan seperti rencana awal Pak Kevin!" ucap Mike.
Sebenarnya beberapa waktu lalu pak Kevin sudah membicarakan hal ini dengan Mike, mereka setuju untuk membawa Dev kembali ke Jerman dan mendapatkan perawatan intensif disana, namun nyatanya Pak Kevin ternyata mengubah keputusannya.
__ADS_1
"Tidak, dia harus menghadapi ketakutan nya, itu cara paling cepat!!" tegas Pak Kevin.
"Tidak boleh seperti itu Pak, Dev masih sakit!!!" ucap Mike lagi sama tegasnya.
"Dia harus menghadapi nya Mike, dia harus!!!"
"Aku tidak setuju, aku dokternya disini, aku yang lebih paham kondisinya, memang cara itu yang akan kita tempuh, tetapi Anda sudah berjanji kalau Dev akan mendapatkan perawatan terlebih dahulu!" balas Mike.
Kedua pria itu berdebat satu sama lain,Dev menatap mereka berdua, pikirannya saat ini terus tertuju pada istrinya. Bagi Dev prioritas saat ini adalah keselamatan Lisa.
Tanpa dia sadari, dirinya terhanyut dalam pikirannya sampai dia terlelap. Namun tiba tiba mata pria itu terbuka, dia menatap Pak Kevin dan Mike dengan seringai dan tatapan licik disana.
Bibir pria itu melengkung ke atas, matanya menatap Pak Kevin sambil tersenyum cerah namun saat melihat Mike dia menatap pria itu dengan tatapan lain.
"Pembunuh!" ucap Dev sambil menatap Mike.
Kedua pria itu terdiam saat mendengar suara Dev, mereka perlahan-lahan menatap ke arah pria itu.
"Dev? apa yang barusan kau katakan!?" tanya Mike.
Pak Kevin terdiam, dia tau apa yang sedang terjadi melihat cara duduk Dev, pria itu melipat kedua tangannya seperti sedang berdoa dan menatap mereka.
"Dia bukan Dev!" ucap Pak Kevin yang sontak membuat Mike terbelalak.
"Bu..bukan Dev!!" ucap Mike dengan mata membulat sempurna.
"Hello bad Doctor!!" ucap Dev seraya melambaikan tangan nya dan menatap Mike dengan seringai di wajahnya.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉
__ADS_1