
Lisa dan Dev kembali ke rumah setelah Dev merawat luka lisa dengan baik, mereka berjalan perlahan lahan menyusuri jalanan menuju rumah mereka. Dev yang mendorong gerobak sedangkan Lisa berjalan di sampingnya, dia tak di perbolehkan mendorong gerobak dengan luka di tangannya itu.
“Pak Tua, kurasa kita akan menghadapi omelan si beruang tua itu nanti, haisshhh aku tak ingin bertemu Papa dalam kondisi seperti ini,” gerutu Lisa yang berjalan sambil menunduk dan menendang batu batu di jalanan itu.
“Makanya kau hati hati mak lampir, baru sehari jualan kau langsung luka luka, dasar ceroboh!” ucap Dev dengan wajah kesal.
“Ck... aku bisa apa kak Dev, tanganku terluka dan dia mengejek jualan papa, tak mungkin aku tak melawannya kan? mulutnya itu perlu dikasih cabe rawit supaya berhenti bicara, aku sangat membencinya,” kesal Lisa.
“heh itu ide bagus, bagaimana kalau kita lakukan itu,” ucap Dev denagn seringai nakal di wajahnya.
“Jangan buat masalah dengan si Herman kak, kita akan diserang bapaknya nanti, nafasnya bau jengkol aku membenci itu,” ucap Lisa mengingat Pak Herlambang yang kalau berbicara ludahnya muncrat kemana mana dan nafasnya selalu bau jengkol setiap hari.
“Heh kau tak asik,” ucap Dev.
“Heh aku tak mau menambah masalah kak Dev, kalau kita diusir dari kampung ini bagaimana?” ucap lisa dengan nada kesal.
“Ya kita pindah saja, apa susahnya,” ucap Dev dengan enteng.
“Haisshhh dasar pak tua, kau memang tak paham ya, “ ucap Lisa mendengus kesal.
“kau jelaskan lah supaya aku paham Lisa,” ucap dev.
“Malas..” ucap Lisa.
Mereka berdua berjalan dengan saling berdebat, membahas berbagai hal mulai dari urusan negara sampai urusan pribadi buk markonah yang super ngeselin.
“Haishhh kau ini cerewet sekali ternyata,” ucap Lisa.
“aku begitu karena kau yang mengajariku Mak Lampir,” ucap Dev.
“Mana ada, memang dasar kau cerewet,” ucap Lisa ,”Seperti Steve alter egomu, dan tadi kau terlihat seperti Alex si Licik itu dan sebelumnya di lapak jualan kau terlihat seperti Kiel, apa kau menahan mereka semua Dev?” batin Lisa.
“Ck... mungkin saja aku memang cerewet hahahah..” pria itu tertawa.
“Dan sekarang terlihat seperti Demon,” batin Lisa.
__ADS_1
“Lisa, ayo jalan jalan, aku belum sempat berkeliling kota ini,” ucap Dev sambil tersenyum.
“Jalan jalan? Baiklah, tapi kita ijin pada Papa dulu,” ucap Lisa.
“Baiklah,” jawab Dev dengan senyum sumringah.
“Tapi ini sudah malam, apa ada tempat menarik yang bisa dilihat malam malam begini?” tanya Dev.
“Hmmmm ada, kita ke pasar malam saja, aku juga sudah lama tidak kesana, “ ucap Lisa.
“Baiklah, aku penasaran dengan pasar malam, aku belum pernah kesana,” ucap Dev.
“Hah? Belum pernah? Seumur hidup?” tanya Lisa yang di jawab anggukan kepala oleh Dev.
“Wahhh ada ya manusia langka sepertimu yang belum pernah ke pasar malam, yang benar saja Dev,” ucap Lisa.
“heheh sebenarnya bukan seumur hidup, aku tak pernah ke pasar malam setelah Mamaku meninggal dunia Sa, sejak saat itu aku hidup sendirian dan seperti orang gila, kau tau kan aku berganti ganti dengan ‘mereka’ setiap waktu,” ucap Dev.
“Kau pasti bisa menghadapinya Dev, kita hadapi bersama sama, aku yakin kau bisa sembuh Dev,” ucap Lisa.
“Hey, ayolah, bukankah kau sudah berhasil menahan mereka sebanyak beberapa kali, itu sebuah kemajuan yang besar Dev,” ucap Lisa.
“Ya kau benar, tapi aku tak yakin entah aku bisa menahannya lagi,” ucap Dev.
“Jiah ternyata Pa tua ini mudah menyerah juga ya, pantas saja sebutan pak tua sangat cocok untuk mu hahah... kau gampang menyerah, sangat LEMAH!” ucap Lisa menekankan kata Lemah.
“Ck... diam kau mak Lampir, kau selalu mengejekku,” ketus Dev
“Wleekkk... suka suka saya... hahahah, yang sampai duluan ke rumah yang menentukan permainan yang kita mainkan malam ini,” ucap Lisa sambil berlari mendahului Dev.
“Lah curang, aku bawa ini sa..” teriak Dev yang sudah ditinggalkan oleh Lisa.
“Hahahah kejar aku Pak tua... kau lemah hahahhah...”lisa berlari di depan Dev sambil terus terusan mengejek pria itu.
“Yaaaa.... kau curang...” teriak Dev.
__ADS_1
“kau itu laki laki pasti bisa kejar hahahahah.... bye bye Dev, siap siap mengikuti permaiananku alam ini hahahahah...” lisa tertawa, dia terus berlari di depan Dev dengan girangnya.
Dev tersenyum melihat tingkah gadis itu, “ dasar bocah, kau benar benar masih bocah tengil hahahah..” Dev tertawa.
Pria itu mendorong gerobak gorengan itu, dia berjalan dengan cepat , tak bisa berlari karena gerobak itu besar dan dari pengamatan Dev, rodanya mudah ngambek aliaa macet kalau diajak bekerja terlalu berat dan itu akan menyusahkan Dev.
Dev berjalan sambil terus menatap Lisa yang berjingkrak jingkrak kesana kemari seperti anak kecil.
Suasana di malam hari yang belum terlalu larut membuat Dev sedikit mempercepat langkahnya, namun suara tawa seseorang terdengar jelas di telinganya.
“Hahahahah.... besok kita kerjai lagi keluarga si Lisa hahah, kudengar suaminya itu orang gila, pasti dia itu orang miskin hahahah,haisshhh ini sangat sakit aku akan membalas pria gila itu besok iya kan Liam,” terdengar suara pria yang mengganggu Lisa sore tadi di sebuah rumah yang terbilang cukup mewah namun bagi Dev itu hanya sebuah gubuk murah yang tak ada apa apanya jika dibandingkan mansionnya.
Dev berhenti di depan rumah itu, dia menatap rumah itu cukup lama, tatapan yang tak bisa di artikan, dia mengepalkan kedua tangannya saat melihat rumah itu. Dev hanya menatap rumah itu, namun terlihat sangat menyeramkan. Pria itu terlihat seperti seekor serigala hitam yang sedang menatap kandang musuhnya dan mempelajari kandang musuhnya untuk bisa menerkam musuhnya sewaktu waktu.
“Deeevvv...” Panggilan Lisa menyadarkan pria itu.
Dev beranjak, sebuah seringai aneh tergambar di wajahnya saat dia menatap ruamah itu, seringai yang akan muncul jika alter ego liciknya keluar, tampaknya Alex saluran kelicikan pria itu sempat bangun lalu kembali lagi.
“Tunggu aku Lisaaaa... kenapa kau meninggalkanku, ini sangat berat tauuu..” teriak Dev sambil berjalan menghampiri Lisa.
“Kau yang terlalu lambat berjalannya, dasar Pak Tua,” ejek Lisa.
“hehh kau yang jingkrak jingkrak seperti seekor jangkrik kesan kemari, memangnya kau lady jangkrik hah?” ketus Dev yang tampak terengah engah mengejar Lisa.
“Cihhh dasar.... kau yang terlalu lemah, memang kalau sudah tua begitu, tulang tulang akan sakit, jalannya lambat, pinggangnya encok... awuuuu... encookk... awuuu hahahahha...” Lisa tertawa terbahak bahak sambil menirukan orang yang encok.
“Apa apaan ekspresi itu, seperti orang kebelet pipis hahahahahaha...” ejek Dev.
"Tau ah"
.
.
Like, Vote dan komen
__ADS_1