Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 23 ( Meminta Cerai )


__ADS_3

Sukma mencari keberadaan Alex dan Alexa ke sekeliling rumah ketika dia terbangun, dan Bu Atun merasa kebingungan melihat tingkah Sukma.


"Kamu daritadi cari apa toh Ndo, kayak orang kebingungan gitu?" tanya Bu Atun.


Sukma kembali memikirkan Alex dan Alexa yang tadi kembali datang dalam mimpinya bahkan Sukma sudah melihat sosok Bara.


Aku tidak mungkin menceritakan kembali tentang mimpiku yang bertemu dengan Alex dan Alexa, apalagi tadi aku juga bertemu dengan lelaki yang bernama Bara. Kenapa mimpi itu terasa seperti nyata? batin Sukma kini bertanya tanya.


"Sukma hanya mencari sapu saja Bu, tadi sebelum tidur sepertinya Sukma memegang sapu," jawab Sukma.


"Kamu ada-ada aja sih Ndo, kirain Ibu kamu cari sesuatu yang hilang."


Sukma saat ini merasa bahagia karena masih ada kedua orangtua Jaka yang menyayanginya, tapi Sukma merasa enak karena dia masih belum bisa maafkan Jaka.


"Bu, maaf ya kalau Sukma belum bisa memaafkan kesalahan Mas Jaka."


Bu Atun kini duduk di samping Sukma.


"Ndo, Ibu tau kalau kamu sangat marah sama Jaka, dan sebagai orangtua Jaka, Ibu meminta maaf atas nama Jaka. Ibu juga seorang perempuan Nak, dan Ibu pasti akan melakukan hal yang sama jika ada dalam posisi Sukma saat ini, karena Jaka memang sudah keterlaluan."


"Makasih banyak ya Bu, karena Ibu sudah sangat pengertian kepada Sukma, Ibu juga sudah sayang sama Sukma," ucap Sukma dengan memeluk tubuh Bu Atun.


"Seharusnya Ibu yang bilang seperti itu Nak, karena Sukma sudah menjadi Anak Ibu juga, apalagi sekarang ada Cucu Ibu dalam kandungan Sukma. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita sarapan dulu ya, Ibu juga tadi udah masak makanan kesukaan Sukma," ujar Bu Atun dengan menggandeng Sukma menuju meja makan.


Sukma dan Bu Atun kini makan dengan lahap, sampai akhirnya terdengar suara seseorang yang membuat Sukma merasa tidak nafsu makan lagi.

__ADS_1


"Sukma, Mas boleh bicara sama kamu kan?" tanya Jaka dengan memeluk tubuh Sukma dari belakang.


Sukma yang merasa geram terhadap Jaka, kini berusaha untuk melepaskan pelukan Jaka.


"Mas, bisa gak jangan bersikap kurang ajar seperti ini?" ujar Sukma.


"Sayang, kamu itu masih Istri nya Mas, biarkan Mas melakukan semua ini sebentar saja," ujar Jaka dengan mengeratkan pelukannya.


"Jadi Mas masih menganggap diri Mas sebagai Suami Sukma? Suami macam apa yang sudah mencampakkan Istrinya begitu saja bahkan dalam keadaan hamil, Mas juga membiarkan Sukma mencari nafkah untuk berjuang hidup sendirian. Apa Mas ingat kalau saat Sukma berjualan gorengan keliling, Mas terang terangan menghina Sukma bahkan dengan teganya menendang dagangan Sukma hingga tumpah? dan yang lebih parahnya lagi, Sukma di usir dari tempat tinggal kita dulu karena Mas tidak membayar cicilan rumah tersebut? mungkin semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit Sukma yang tidak dapat bertemu dulu dengan Mbok Ningsih saat beliau sakit, dan semua itu gara-gara Mas Jaka," ujar Sukma dengan menahan sesak dalam dadanya.


Jaka secara perlahan melepaskan pelukannya terhadap Sukma, dan Jaka merasa malu dengan perlakuannya terhadap Sukma selama ini.


"Maafin Mas, Mas menyesal telah melakukan semua itu."


"Tidak Sukma, aku tidak akan menceraikanmu, aku sangat mencintai kamu Sukma, dan aku tidak mau kehilanganmu," ujar Jaka dengan berjongkok di hadapan Sukma.


Bu Atun menghela nafas panjang melihat hubungan Jaka dan Sukma. Meskipun Bu Atun berharap Jaka dan Sukma tidak berpisah demi Bayi yang saat ini berada dalma kandungan Sukma, tapi Bu Atun juga tidak mungkin memaksa Sukma setelah apa yang Jaka perbuat.


"Jaka, kamu tidak boleh egois Nak, kasihan Sukma kalau statusnya kamu gantung terus, mungkin ini yang terbaik untuk kalian, daripada Sukma harus terus menderita karena perbuatan kamu," ujar Bu Atun.


"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu Sukma." ujar Jaka, dan sesaat kemudian Yuli nyelonong masuk ke dalam rumah Sukma tanpa mengucapkan Salam terlebih dahulu.


"Mas Jaka, apa yang sedang Mas Jaka lakukan? daritadi Yuli mencari Mas, karena Yuli merasa lapar setelah apa yang kita lakukan semalam," ujar Yuli tanpa tahu malunya.


"Dasar perempuan gak tahu malu, udah merebut Suami orang, masih saja bangga. Kalau lapar sana beli, aku gak sudi masakan buatanku di makan oleh Pelakor seperti kamu, lebih baik aku kasih kucing daripada harus aku kasih sama kamu," ujar Bu Atun.

__ADS_1


"Mas, kamu denger sendiri kan kalau Ibu kamu sudah jahat sama aku, masa dia lebih sayang sama kucing daripada Menantunya sendiri," ujar Yuli mengadu kepada Jaka, sehingga membuat Bu Atun semakin geram, rasanya Bu Atun ingin menjambak rambut Yuli serta mencakar wajahnya.


"Yuli, sebaiknya kamu cari makan ke warung nasi di depan, jangan cari gara-gara di sini," ujar Jaka.


"Aku pokoknya gak bakalan pergi kalau gak di antar sama Mas Jaka," rengek Yuli.


Jaka saat ini mengelus perut Sukma yang sudah semakin membesar, rasanya Jaka berat untuk kembali lagi ke Jakarta serta meninggalkan Sukma.


"Sayang, Ayah pergi dulu ya, kamu jangan nyusahin Ibu," ucap Jaka dengan mengelus lembut perut Sukma, kemudian menciumnya, dan semua perlakuan Jaka membuat hati Sukma semakin sakit, sehingga Sukma terus saja menahan airmata yang sudah hampir menetes.


"Bu, Jaka titip Sukma ya, maaf jika selama ini Jaka belum bisa menjadi Anak yang berbakti, dan Jaka selalu nyusahin orangtua saja," ucap Jaka dengan mencium punggung tangan Bu Atun.


Jaka ingin sekali memeluk Sukma dan mencium keningnya sebelum pergi, tapi Yuli menariknya dan berbisik kepada Jaka.


"Cepat kita pergi dari sini, kalau tidak, aku akan membocorkan semua rahasia Mas Jaka kepada mereka tentang Mas Jaka yang saat ini terlilit hutang karena judi, dan pastinya mereka akan semakin kecewa terhadap Mas Jaka," bisik Yuli, sehingga Jaka pasrah ketika Yuli menarik tubuhnya untuk keluar dari rumah Sukma.


Sukma yang sudah tidak kuat membendung airmata, kini pamit kepada Bu Atun untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Bu, Sukma ke kamar dulu ya," ucap Sukma, dan Bu Atun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Bu Atun tau kalau Sukma pasti sudah tidak kuat menahan semuanya, sehingga Sukma ingin menumpahkan semuanya lewat tangisan.


Sukma yang saat ini sudah berada di dalam kamar langsung saja menumpahkan airmata yang sudah tidak dapat di bendung lagi.


"Kamu tega Mas, kamu tega," ujar Sukma yang semakin kecewa terhadap sikap Jaka.


Sesaat kemudian ada sosok tangan kekar mengelus lembut kepala Sukma, sampai akhirnya Sukma merasa lebih tenang dan kembali tertidur.

__ADS_1


__ADS_2