
Bara yang mendapatkan pertanyaan dari Sukma tentang siapa Sandi sebenarnya, terlihat berpikir sebelum akhirnya Bara menjawab pertanyaan Sukma tersebut.
"Sandi sebenarnya adalah saudara kembar Jaka, tapi Sandi di culik oleh Dukun beranak yang membantu Bu Atun melahirkan."
"Ternyata dugaanku benar kalau Sandi dan Jaka adalah saudara kembar," gumam Sukma.
"Iya sayang, tapi aku harap kamu tidak akan beralih profesi menjadi seorang detektif," goda Bara dengan tersenyum.
"Aku bahagia karena kamu akhirnya sembuh Bara," ucap Sukma dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Bara yang saat ini masih berada dalam tubuh Sandi.
"Sayang, apa kamu tau kalau aku sedih ketika mendengar kamu berkorban demi kesembuhan ku, aku tidak rela kalau milikku disentuh oleh oranglain, lebih baik aku mati daripada harus melihatmu melakukan semua itu," ucap Bara dengan mengelus lembut rambut Sukma.
"Maafkan aku Bara, aku melakukan semua itu demi kesembuhan kamu, walau pun sebenarnya aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri," ujar Sukma.
"Maafkan aku sayang, seharusnya sebagai seorang Suami, aku bisa melindungimu," ucap Bara yang sangat merasa bersalah kepada Sukma.
"Sudahlah Bara, aku tidak mau kamu terus merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi. Aku sangat mencintaimu, meski pun aku tau kalau kita tidak akan pernah bisa hidup bersama selamanya, tapi selama aku masih bisa bernafas, aku tidak akan rela melihat kamu harus mati di hadapan ku, dan aku akan melakukan apa pun demi kesembuhanmu."
"Sukma, terimakasih banyak karena kamu telah tulus mencintaiku," ucap Bara dengan mengecup kening Sukma.
Setelah sampai rumah Sakit, Bara ke luar dari tubuh Sandi yang saat ini masih berada di kursi kemudi dengan keadaan tidak sadarkan diri, dan Sukma Bara suruh untuk meminta bantuan kepada Perawat.
"Pak, tolong bantu saudara saya, dia sekarang ada di dalam mobil dan tidak sadarkan diri," ujar Sukma, kemudian Sandi langsung dibawa menuju ruang IGD supaya bisa mendapatkan tindakan.
Bara hanya bisa terlihat oleh Sukma, dan saat ini Bara menemani Sukma duduk di depan ruang IGD.
Sukma dan Bara terlihat enggan untuk berpisah, sehingga Bara terus memegang tangan Sukma yang saat ini menyandarkan kepalanya pada bahu Bara.
Sesaat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD.
"Dok, bagaimana keadaan Pasien?" tanya Sukma.
__ADS_1
"Pasien sudah sadarkan diri, tapi sebaiknya dirawat sehari untuk pemulihan. Nona bisa mengurus administrasinya supaya Pasien bisa dipindahkan ke kamar perawatan," ujar Dokter.
Sukma dan Bara bergegas menuju bagian administrasi untuk mengurus kepindahan Sandi, dan Sukma yang cantik selalu saja menjadi pusat perhatian.
Ketika Sukma duduk untuk menunggu panggilan, ada seorang lelaki hidung belang yang ingin duduk di bangku kosong yang berada di sebelah Sukma. Orang tersebut tidak tau kalau bangku tersebut saat ini telah diduduki oleh Bara sehingga ketika orang tersebut hendak mendudukkan bokongnya Bara menendang bokongnya hingga lelaki hidung belang tersebut tersungkur di atas lantai, dan lelaki hidung belang tersebut pun langsung berlari karena malu kepada Sukma, apalagi semua orang yang melihatnya terdengar menertawakannya, termasuk Sukma yang tersenyum melihat keisengan Bara.
"Bara kenapa kamu jahil sekali?" ucap Sukma yang saat ini berkomunikasi dengan Bara lewat telepati, karena jika di tempat umum Bara menyuruh Sukma untuk melakukan semua itu, supaya oranglain tidak mengira Sukma berbicara sendiri.
"Apa kamu tidak lihat jika bola matanya hampir keluar karena melihat wajah cantikmu, rasanya aku ingin sekali mencongkel matanya yang jelalatan," jawab Bara.
"Yang penting cintaku hanya untuk kamu sayang, jadi kamu tidak perlu cemburu," ujar Sukma, sehingga Bara langsung saja memeluk erat tubuh Sukma.
Setelah selesai mengurus administrasi Sandi, Sukma dan Bara kembali ke depan ruang IGD untuk menunggu Sandi yang hendak dipindahkan ke kamar perawatan yang telah Sukma pesan.
Sandi terus saja menatap heran kepada Sukma, karena Sandi yang mempunyai kelebihan melihat makhluk halus bisa melihat Bara yang saat ini terus memeluk Sukma.
"Kenapa kamu memeluk Nona Mona?" tanya Sandi kepada Bara, sehingga semua Perawat menatap heran kepada Sandi, karena mereka tidak bisa melihat sosok Bara yang saat ini tengah memeluk serta mencium Sukma.
"Sepertinya Sandi mempunyai indra keenam. Ya sudah, biarkan saja dia melihatku memelukmu, supaya dia tidak terlalu berharap kepadamu, dan membuang perasaannya jauh-jauh," jawab Bara.
"Apa maksud kamu?" tanya Sukma lagi.
"Dia itu punya perasaan lebih sama kamu sayang, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut kamu dariku," jawab Bara.
Sandi yang belum mendapat jawaban dari Bara, terus saja melihat Bara dan Sukma, apalagi Bara terlihat sengaja memanas-manasi Sandi, dan setelah Perawat ke luar dari dalam kamar perawatannya, Sandi kembali angkat suara.
"Nona, siapa makhluk halus yang saat ini sedang memeluk Nona?" tanya Sandi.
"Dia Bara, dan Bara adalah Suamiku," jawab Sukma.
Degg
__ADS_1
Hati Sandi terasa sakit mendengar jawaban dari Sukma.
"Jadi selama ini Anda telah bersekutu dengan iblis?" tanya Sandi ynag kecewa terhadap Sukma.
"Kamu jangan berbicara sembarangan Anak muda, karena kamu tidak tau apa pun tentang istriku," ujar Bara dengan menatap tajam Sandi.
Beberapa saat kemudian Ibu Sandi yang bernama Inem datang ke kamar perawatan Sandi setelah sebelumnya Sandi memberitahukan kalau dirinya masuk Rumah Sakit.
"Astagfirullah Nak, kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Bu Inem.
Jadi ini orang yang telah menculik Sandi, sebaiknya aku berbicara dengannya supaya dia bisa memberitahukan semua kebenarannya kepada Sandi. Ibu dan Bapak pasti akan bahagia karena masih ada Sandi sebagai pengganti Mas Jaka, ucap Sukma dalam hati.
"Bu, sebelumnya saya minta maaf kepada Ibu, karena penyebab Sandi masuk Rumah Sakit adalah Saya," ucap Sukma.
"Jadi kamu yang sudah membuat Anak saya menjadi babak belur seperti ini?" ujar Bu Inem dengan Nada yang tinggi.
Bara yang tidak terima mendengar Sukma di bentak pun hendak melayangkan pukulan kepada Bu Inem, tapi Sukma melarangnya.
"Bu, semua ini bukan salah Non Mona, karena sebagai Supir Pribadi Non Mona, Sandi harus melindunginya."
"Jadi dia adalah majikan kamu? sebaiknya kamu berhenti saja menjadi Supir pribadinya, terlalu berbahaya jika kamu menjadi Supir Pribadi perempuan tidak benar seperti dia," sindir Bu Inem.
"Bu, tidak seharusnya Ibu berbicara seperti itu kepada Non Mona, Ibu tidak tau apa-apa tentang Non Mona, jadi Ibu tidak boleh berbicara sembarangan," ujar Sandi yang mencoba membela Sukma.
"Kenapa kamu lebih membela perempuan ini dibanding dengan Ibu kandung kamu sendiri Sandi? kamu harusnya membela Ibu yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kamu," ujar Bu Inem.
Sukma yang merasa geram dengan perkataan Bu Inem langsung saja angkat suara.
"Apa yakin kalau Anda yang telah melahirkan Sandi?" sindir Sukma.
"Apa maksud kamu?" tanya Bu Inem yang merasa terkejut.
__ADS_1
"Apa Anda kenal dengan Bu Atun dan Pak Parjo yang tinggal di Jawa Timur?" tanya Sukma, sehingga tubuh Bu Inem gemetar ketakutan.