
Sukma merasa grogi karena Bara terus saja memeluk tubuhnya serta terus mencium tengkuk lehernya, sehingga jantung Sukma terus saja berdebar-debar, sampai akhirnya Sukma menepikan mobilnya.
"Kamu kenapa sayang? apa aku melakukan kesalahan sehingga dari tadi kamu diam saja?" tanya Bara.
"Bara, kamu bisa tidak duduknya di kursi sebelah saja?" tanya Sukma.
"Kenapa seperti itu, apa kamu tidak mau dekat-dekat denganku lagi?" tanya Bara yang terlihat sedih.
"Kamu jangan salah paham dulu, hanya saja saat kamu terlalu dekat denganku, jantungku terus berdetak dengan kencang," jawab Sukma, sehingga membuat Bara tersenyum bahagia.
"Baiklah, kalau memang seperti itu, sekarang aku akan duduk di sampingmu sayang," ujar Bara, kemudian pindah ke kursi sebelah Sukma.
Sukma kembali melajukan mobilnya, dan sekarang Sukma sudah terlihat lebih lancar, tapi sesaat kemudian Sukma mengerem mendadak karena melihat seseorang yang tergeletak di depan mobilnya.
"Bara, siapa itu, apa dia sudah mati?" tanya Sukma.
"Tunggu sebentar sayang, biar aku coba mengeceknya," ujar Bara, kemudian ke luar dari mobil.
Sesaat kemudian Bara kembali masuk ke dalam mobil dengan menghela nafas panjang .
"Kamu kenapa Bara, apakah dia sudah mati?" tanya Sukma yang terlihat ketakutan.
"Sebaiknya sekarang kita pergi saja dari sini, sepertinya dia korban Raja iblis," jawab Bara.
"Apa tidak sebaiknya kita menolong orang tersebut Bara?" tanya Sukma yang merasa kasihan kepada orang yang tergeletak di tengah jalan.
"Dia sudah meninggal dunia, jadi kita tidak bisa menolongnya, aku juga tidak mau kalau kamu sampai terlibat dengan Polisi." ujar Bara.
Sukma akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju rumah, meski pun Sukma sebenarnya merasa tidak tega kepada orang yang tadi tergeletak di tengah jalan.
"Ternyata istriku yang cantik ini gampang bisa ya kalau di ajarin," ujar Bara.
"Aku masih grogi Bara, mungkin karena baru pertama kali belajar," ujar Sukma, kemudian setelah gerbang rumah Sukma di buka oleh Satpam, Sukma memasukan mobilnya ke dalam garasi.
"Jadi ini rumah yang kamu beli?" tanya Bara.
__ADS_1
"Iya, ini bukan hanya rumahku, tapi rumah kita, karena aku membelinya dengan uang pemberian darimu," ujar Sukma dengan membuka pintu rumah.
"Sayang, kamu tinggal bersama siapa di sini?" tanya Bara.
"Aku cuma sendiri Bara, tapi kemarin ada Sandi dan Satpam yang tidur di bangunan dekat Pos Satpam, sedangkan siang hari, ada Asisten Rumah Tangga yang akan bersihin rumah," jawab Sukma.
"Berarti aku bebas dong," ujar Bara dengan cengengesan.
"Kamu ke luar atau masuk juga gak bakalan ada yang tau," ujar Sukma dengan santainya membuka baju di depan Bara karena dia berniat untuk berganti baju.
"Apa kamu berencana untuk menggodaku?" taya Bara dengan memeluk tubuh Sukma dari belakang.
Sukma sebenarnya tidak sadar dengan yang dia lakukan, makanya dia membuka bajunya di depan Bara karena biasanya tidak pernah ada orang di dalam kamarnya.
Bara membalikan badan Sukma untuk menghadap kepadanya, kemudian Bara menatap lekat wajah cantik istrinya tersebut.
"Aku sangat merindukanmu sayang, kamu tidak tau kalau setiap saat aku selalu gila karena memikirkanmu," ujar Bara yang hendak mencium bibir Sukma, tapi Sukma terlihat menitikkan airmata.
"Kenapa kamu menangis? apa kamu sudah tidak menginginkanku lagi? kalau begitu aku tidak akan memaksamu Sukma," ujar Bara dengan melepas pelukannya kemudian membalikan badannya membelakangi Sukma.
"Kamu tidak tau bagaimana hari-hari yang aku lewati tanpa kamu Bara. Aku juga merindukanmu, sangat sangat merindukanmu, tapi aku merasa jijik dengan diriku sendiri, aku sudah kotor Bara, tubuhku bahkan sudah dinikmati oleh banyak lelaki_" perkataan Sukma terhenti karena tiba-tiba Bara membungkamnya dengan ciuman.
"Kamu melakukan semua itu untukku, kamu rela mengotori tubuhmu demi kesembuhanku, dan sekarang aku sendiri yang akan membersihkan kotoran itu," ujar Bara dengan menjelajahi lekuk tubuh Sukma, sampai akhirnya malam itu menjadi malam panjang yang indah untuk Bara dan Sukma.
......................
Keesokan paginya, Sukma terbangun ketika Bara membuka gorden kamar, karena saat ini tubuh Sukma terkena cahaya mentari yang sudah mulai terik.
"Pagi sayang, sarapan dulu yuk, aku udah buatin kamu roti bakar sama susu cokelat hangat," ujar Bara dengan duduk di sebelah tubuh Sukma.
Sukma langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Bara.
"Aku masih ngantuk sayang, semalaman kamu sudah membuatku capek," ujar Sukma yang masih terlihat enggan untuk bangun.
"Kalau begitu sekarang kamu sarapan dulu, nanti setelah sarapan kita tidur lagi," ujar Bara dengan mencium kening Sukma.
__ADS_1
Sukma yang masih belum memakai sehelai benang pun menyandarkan tubuhnya pada dashboard ranjang.
"Kamu mau cuci muka dulu? biar aku gendong ke kamar mandi," tanya Bara.
"Bara, badanku rasanya sakit sekali, gak apa-apa kan kalau aku langsung minum susu nya," ujar Sukma.
Bara kini memberikan segelas susu kepada Sukma dan secara perlahan Sukma meminumnya.
"Meski pun gak mandi juga kamu tetap terlihat cantik," ucap Bara dengan menyuapi Sukma roti bakar, dan Sukma begitu bahagia karena dirinya merasa sangat dicintai.
"Kamu pagi-pagi udah gombal aja," ujar Sukma.
"Aku ngomongin fakta, apalagi aku lebih suka kalau kamu gak pake baju seperti sekarang ini," ujar Bara, sehingga Sukma yang baru menyadari kalau dirinya belum memakai pakaian, langsung saja menutup tubuhnya menggunakan selimut.
"Kenapa harus kamu tutupi segala, bukannya aku udah sering melihatnya bahkan merasakannya," goda Bara.
"Kalau aku tidak menutupinya, nanti kamu bakalan macem-macem lagi," ujar Sukma kemudian kembali berbaring.
Bara mengambil minyak urut, kemudian mengoleskannya pada punggung Sukma yang saat ini sedang dalam posisi tengkurap.
"Bara, kamu mau ngapain?" tanya Sukma, ketika Bara mengoleskan minyak urut pada tubuhnya.
"Bukannya tadi bilang badan kamu sakit? makanya aku ngolesin minyak urut pada tubuh kamu, dan aku akan memijat nya supaya tubuh kamu tidak merasa pegal lagi," ujar Bara, dan secara perlahan Bara mulai memijat tubuh Sukma.
"Pijatan kamu enak sekali ya, sepertinya kalau buka panti pijat bakalan laku," ujar Sukma dengan terkekeh, dan saat ini badan Sukma terasa lebih enakan.
"Aku baru kali ini memijat seseorang, dan aku hanya akan melakukan semua itu kepada Ratu ku saja," ujar Bara.
"Makasih ya sayang, aku bahagia karena kamu selalu mengerti aku," ujar Sukma dengan memeluk tubuh Bara.
"Tidurlah, jangan sampai aku membuat badan kamu sakit lagi."
Bara kembali memijat Sukma dengan lembut, sampai akhirnya terdengar suara dengkuran halus dari Sukma.
"Kasihan Sukma, sepertinya aku terlalu bersemangat sampai-sampai membuat Sukma merasa kesakitan," gumam Bara dengan membaringkan tubuhnya di samping Sukma, kemudian mendekap erat tubuh Sukma.
__ADS_1
Mungkin ke depannya akan ada banyak rintangan yang harus kita hadapi Sukma, asalkan bersamamu, apa pun rintangannya aku akan selalu siap menghadapi semuanya, karena kamu adalah sumber kekuatanku, dan Aku tidak akan membiarkan kamu kembali berkorban untukku. Aku harus lebih waspada karena sekarang Raja iblis sudah mulai berani mengambil tumbal meski pun tanpa perantara lagi, ucap Bara dalam hati.