Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 25 ( Bayi Ajaib )


__ADS_3

Sukma begitu bahagia melihat Bayinya yang telah lahir dengan selamat dan juga sehat tanpa kurang suatu apa pun, tapi ada keanehan yang membuat semuanya merasa takjub, karena pada saat Sukma menyebutkan nama Yusuf Maulana, tubuh Yusuf memancarkan Cahaya kuning keemasan.


"Subhanallah, Cucu kita benar-benar ajaib Bu, Yusuf terlahir dengan membawa keistimewaan. Semoga kelak kamu menjadi Anak Saleh Nak," ucap Pak Parjo yang di Amini oleh Sukma dan Bu Atun.


Tabib yang menyerupai Mbah Inem kini pamit, karena Mbah inem yang asli akan segera tiba.


"Cah Ayu, selamat ya atas kelahiran Putramu yang memiliki keistimewaan. Semoga kelak dia menjadi seorang Pemimpin yang bijaksana. Kalau begitu si Mbah pulang dulu," ujar Tabib yang di Amini oleh semuanya, karena Tabib sudah bisa melihat masa depan Yusuf yang kelak akan menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana.


"Makasih banyak Mbah. Berapa biaya persalinannya?" tanya Sukma.


"Tidak perlu Nak, si Mbah ikhlas membantu kamu. Simpan saja uangnya untuk keperluan Yusuf," ujar Tabib, kemudian Tabib di antar keluar oleh Pak Parjo.


"Terimakasih Tabib, sampaikan juga terimakasih ku kepada Raja Genderewo," ujar Pak Parjo.


"Rupanya kamu sudah tau siapa aku sebenarnya Parjo. Kalau begitu kamu jaga Yusuf baik-baik, karena sebentar lagi akan ada orang jahat yang merebutnya dari kalian," ujar Tabib, kemudian menghilang.


"Astagfirullah," ucap Pak Parjo, dan sesaat kemudian Mbah Inem yang asli datang.


"Assalamu'alaikum Nak Parjo, bagaimana sekarang keadaan Sukma?" tanya Mbah Inem.


"Wa'alaikumsalam Mbah, Alhamdulillah Sukma sudah melahirkan Mbah," jawab Pak Parjo.


"Alhamdulillah..Kalau begitu si Mbah mau lihat bayi Sukma," ujar Mbah Inem yang hendak masuk ke dalam rumah, tapi Pak Parjo mencoba untuk menghalanginya.


"Terimakasih Mbah, tapi Sukma dan bayinya sekarang lagi tidur," ujar Pak Parjo yang mencoba mencari alasan.


"Gak apa-apa, Si Mbah cuma mau lihat saja sebentar," ujar Mbah Inem yang nyelonong masuk ke dalam rumah.


Aduh, bagaimana ini, Sukma dan Atun pasti bakalan bingung kalau Mbah Inem yang asli tiba-tiba datang, ucap Pak Parjo dalam hati.

__ADS_1


Bu Atun yang saat ini keluar dari dalam kamar Sukma untuk mencuci pakaian bekas Sukma melahirkan merasa heran ketika melihat Mbah Inem yang masuk lagi ke dalam rumahnya.


"Mbah rupanya belum pulang ya, atau ada yang ketinggalan?" tanya Bu Atun, sehingga membuat Mbah Inem merasa heran.


"Maaf Atun, Si Mbah baru datang, soalnya tadi hujan deras, jadi Si Mbah baru bisa ke sini setelah hujan reda. Oh iya, siapa yang membantu Sukma lahiran?" tanya Mbah Inem, sehingga membuat Bu Atun terlihat heran.


"Lho, bukannya tadi si Mbah sendiri ya yang bantuin Sukma melahirkan," jawab Bu Atun.


Mbah Inem semakin merasa heran dengan perkataan Bu Atun.


"Kamu kalau bercanda jangan keterlaluan Atun, si Mbah baru saja datang, mana bisa bantu Sukma lahiran," ujar Mbah Inem, sontak saja wajah Bu Atun menjadi pucat pasi.


"Kalau Mbah Inem baru datang, lalu yang tadi membantu Sukma melahirkan siapa?" gumam Bu Atun yang kini bertanya-tanya.


Pak Parjo kini menghampiri Bu Atun yang terlihat ketakutan.


"Sudahlah Bu, jangan terlalu banyak pikiran, yang penting sekarang Sukma dan Cucu kita sudah selamat. Mbah, Saya mohon, si Mbah merahasiakan semuanya dari Sukma supaya Sukma tidak kepikiran dengan makhluk yang menyerupai Mbah Inem untuk membantu Sukma melahirkan," ujar Pak Parjo, dan sontak saja Mbah Inem merasa ketakutan.


Bu Atun yang merasa penasaran mencoba untuk menanyakan lagi kepada Suaminya tentang sosok makhluk tersebut.


"Pak, siapa toh yang sudah membantu Sukma melahirkan?" tanya Bu Atun.


"Sebenarnya yang menyerupai Mbah Inem untuk membantu Sukma melahirkan adalah Tabib kerajaan Genderewo yang telah di utus oleh Raja Genderewo," jawab Pak Parjo.


"Pantesan saja dari tadi bulu kuduk Ibu merinding saat di dekatnya, ternyata dia adalah Mbah Inem jadi-jadian," ujar Bu Atun dengan bergidik ngeri.


"Mereka memang berbeda alam dengan kita Bu, tapi mereka lebih baik dibandingkan dengan manusia yang berhati iblis, dan tadi tabib berpesan supaya kita menjaga Yusuf dengan baik, karena akan ada orang jahat yang mengambil Yusuf dari kita," ujar Pak Parjo.


"Bapak jangan buat Ibu takut dong. Apa mungkin jika orang jahat yang dimaksud oleh Tabib adalah Si Pelakor Yuli?" tanya Bu Atun.

__ADS_1


"Kita tidak boleh berprasangka buruk Bu, yang penting kita tetap waspada saja," ujar Pak Parjo.


Bu Atun kini mencuci kain bekas Sukma lahiran, tapi Bu Atun tidak menemukan kotoran atau darah sedikit pun pada kain tersebut, sedangkan Pak Parjo langsung saja mencuci ari ari serta menambahkan beberapa bumbu dapur pada ari ari Yusuf, kemudian memasukannya ke dalam kaleng sebelum beliau kubur.


Setelah selesai melakukan semuanya, Pak Parjo dan Bu Atun kembali melihat Sukma yang sudah tertidur pulas, lain hal nya dengan Yusuf yang sedang terlihat duduk dengan mengusap lembut kepala Ibunya, sehingga Pak Parjo dan Bu Atun hampir saja berteriak melihat keanehan pada bayi yang baru saja dilahirkan tersebut.


"Pak, Ibu gak salah lihat kan?" ucap Bu Atun dengan lirih.


"Iya Bu, Bapak juga terkejut melihat Yusuf yang baru lahir sudah langsung bisa duduk," jawab Pak Parjo yang kini menghampiri Cucunya.


"Subhanallah, Yusup adalah bayi ajaib Bu," ujar Pak Parjo dengan menggendong Yusuf.


Tiba-tiba Yusuf berbicara, dan ternyata Yusuf juga sudah memiliki gigi.


"Ibu, Ibu," ucap Yusuf, dan lagi-lagi Pak Parjo dan Bu Atun merasa terkejut sekaligus takjub dengan keistimewaan ynag dimiliki oleh Yusuf.


"Mungkin Yusuf ingin kembali tidur dengan Sukma Pak," ujar Bu Atun.


Pak Parjo kini menidurkan Yusuf di samping Sukma, dan Yusuf langsung saja tertidur dengan memeluk Sukma.


"Jaka pasti menyesal telah menyia-nyiakan mereka Pak, apalagi Yusuf terlahir memiliki keistimewaan."


"Iya Bu, tapi sebaiknya kita menyembunyikan dulu tentang keistimewaan yang dimiliki oleh Yusuf, Bapak takut akan banyak orang yang berusaha untuk mengambilnya dari kita," ujar Pak Parjo.


"Betul Pak, Ibu sangat setuju, Ibu takut kalau ada yang memanfaatkan keistimewaan yang dimiliki oleh Yusuf," ujar Bu Atun.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita istirahat saja, Sukma dan Yusuf juga sudah tidur."


"Kalau begitu Ibu tidur di sini saja Pak, Ibu kasihan kalau nanti Sukma bangun dan memerlukan bantuan Ibu."

__ADS_1


"Kalau begitu Bapak tidur di luar ya Bu, kalau ada apa-apa Ibu bangunin Bapak saja," ujar Pak Parjo kemudian keluar dari kamar Sukma.


__ADS_2