Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 56 ( Perlakuan manis Bara )


__ADS_3

Sandi dan Yusuf saat ini menghampiri Bu Atun dan yang lainnya.


"Kalian darimana saja Nak?" tanya Bu Atun.


"Tadi sandi minta di antar Yusuf berkeliling Pesantren Bu, supaya Sandi tidak tersesat kalau jalan sendirian," jawab Sandi.


Yusuf yang mendengar Sandi berbohong, kemudian berbisik kepada Sandi.


"Om, bukannya bohong itu dosa ya?" tanya Yusuf.


"Tapi kalau berbohong demi kebaikan tidak apa-apa Yusuf," jawab Sandi, dan Yusuf menganggukan kepalanya tanda mengerti perkataan Sandi.


"Kenapa sih kalian pake bisik-bisik segala?" tanya Pak Parjo.


"Bukan apa-apa Pak, biasa, rahasia Anak muda," jawab Sandi dengan terkekeh.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita masuk, kasihan semuanya pasti merasa kecapean setelah melakukan perjalanan jauh," ajak Kyai Ahmad.


Yusuf langsung saja mengajak Sandi ke dalam kamarnya yang berada di dalam rumah Kyai Ahmad.


"Maaf ya Pak Kyai, saya ijin masuk ke dalam kamar Yusuf," ujar Sandi yang meminta ijin terlebih dahulu.


"Monggo Mas Sandi, tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri," ujar Kyai Ahmad.


Setelah sampai di kamar Yusuf, Yusuf memperlihatkan gambar-gambar yang dia buat, dan Sandi begitu tercengang melihat semua gambar Yusuf, terlebih lagi Yusuf menggambar sosok Sukma dan Bara.


"Ini semua benar Yusuf yang buat?" tanya Sandi yang merasa tidak percaya jika Anak berumur dua tahun bisa menggambar sebagus itu.


"Iya Om, itu semua Yusuf yang gambar, gambar Yusuf bagus kan?"


"Subhanallah, ini bukan hanya bagus, tapi sangat bagus. Yusuf belajar dari siapa?"


"Yusuf belajar sendiri saja Om. Gambar Ayah dan Ibu mirip kan Om?" tanya Yusuf.


"Iya mirip sekali, tapi darimana Yusuf tau kalau yang tadi adalah Ayah Yusuf?" tanya Sandi.


"Sebenarnya Ayah sering hadir dalam mimpi Yusuf, Ayah Jaka juga sama. Jadi, Yusuf punya dua Ayah," ujar Yusuf yang masih polos.


"Kalau Om boleh tidak menjadi Ayah Yusuf?" tanya Sandi.


"Kalau Om tidak boleh menjadi Ayah Yusuf, karena nanti Om akan bertemu dengan seorang perempuan yang mirip sekali dengan Ibu," jawab Yusuf.


"Siapa perempuan itu? apa Om mengenalnya?" tanya Sandi yang jiwa kepo nya mulai meronta-ronta.

__ADS_1


"Nanti Om juga bakalan tau. Pokoknya Om harus rajin menuntut ilmu di Pesantren, supaya Om bisa segera bertemu dengan perempuan tersebut," ujar Yusuf, sehingga membuat Sandi menjadi bersemangat.


......................


Sukma yang saat ini baru terbangun, merasa terkejut karena Bara tidak ada di sampingnya.


"Kemana Bara, kenapa Bara meninggalkanku?" gumam Sukma dengan menitikkan airmata karena Sukma begitu takut kalau Bara meninggalkannya.


Bara tiba-tiba berada di samping Sukma yang saat ini terlihat menangis.


"Kemana Permaisuriku menangis heum?" tanya Bara dengan memeluk tubuh Sukma.


"Aku kira kamu pergi meninggalkanku," jawab Sukma dengan memeluk erat tubuh Suami ghaib nya tersebut.


"Selama aku masih bisa bernafas, aku akan selalu berada di sampingmu Sayang."


"Lalu kamu habis darimana? kenapa pergi tidak bilang-bilang dulu? aku kan jadi takut," ujar Sukma dengan masih terisak.


"Bagaimana aku mau bilang dulu kalau kamu masih tidur."


"Kamu kan bisa bangunin aku Bara."


"Aku gak tega kalau harus bangunin kamu sayang."


"Kalau mau bicara lap dulu ingusnya, nanti bagaimana kalau ingusnya kemakan," goda Bara dengan mengelap hidung Sukma menggunakan ujung bajunya.


"Kamu kok malah pake baju kamu buat mengelapnya, kamu kan bisa keluarin tisu," ujar Sukma.


"Kenapa aku bisa lupa ya kalau aku bisa mengeluarkan apa saja," ujar Bara dengan terkekeh.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu barusan habis dari mana?" tanya Sukma lagi.


"Ya sudah, kalau kamu mau tau, sekarang kamu ikut aku," ujar Bara.


Bara kini menggendong Sukma untuk ke luar dari kamar mereka menuju meja makan, dan mata Sukma langsung berbinar ketika melihat banyak makanan yang sangat menggugah selera tersedia di depan matanya.


"Dari mana semua ini Bara?"


"Tentu saja aku memasaknya spesial untuk istriku yang cantik ini. Aku memasak ini semua tidak menggunakan kekuatan yang aku miliki lho."


"Terus bagaimana caranya kamu bisa memasak semua ini?" tanya Sukma dengan mencicipi semua masakan buatan Bara.


"Aku lihat cara memasak di YouTube," jawab Bara dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Sukma merasa tersentuh dengan semua perlakuan manis Bara.


"Terimakasih sayang, kamu selalu membuatku bahagia," ucap Sukma dengan memeluk tubuh Bara.


"Kamu salah Sukma, karena kamulah sumber kebahagiaanku."


"Bara, kenapa kamu melakukan ini semua, padahal dengan mudah kamu bisa menyiapkan semuanya dengan kekuatanmu?" tanya Sukma.


"Meski pun aku tidak bisa menjadi manusia, setidaknya aku bisa melakukan semua pekerjaan seperti manusia pada umumnya, karena aku ingin selalu membahagiakanmu," jawab Bara.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu, aku juga sudah lapar sekali, apalagi semenjak Bi Ijah dan Pak Urip tidak bekerja di sini, aku belum pernah memakan masakan rumah," ujar Sukma dengan lahap memakan masakan Bara.


Semenjak kejadian Pak Urip yang dirasuki oleh Raja iblis, Sukma dan Bara memutuskan untuk tidak mempekerjakan Bi Ijah dan Pak Urip lagi, karena mereka tidak mau kalau sampai Pak Urip dan Bi Ijah berada dalam bahaya, sampai akhirnya mereka memberikan modal usaha untuk Pak Urip dan Bi ijah.


"Sayang, pelan-pelan makannya, nanti kamu tersedak," ujar Bara.


"Bara, kamu gak makan?" tanya Sukma, karena Bara terus saja memandanginya.


"Melihat kamu makan saja aku sudah kenyang," jawab Bara.


"Mana boleh seperti itu, sebaiknya sekarang aku menyuapimu makan," ujar Sukma dengan menyendokan makanan kemudian menyuapi Bara yang terlihat senyum-senyum sendiri.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Sukma


"Memangnya ada yang salah denganku? Bara balik bertanya.


"Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri terus," ujar Sukma.


"Aku hanya lucu saja melihat tingkah kamu yang sampai lupa tidak mencuci muka, kamu tau kalau di mata kamu banyak yang nempel," ujar Bara dengan terkekeh.


Sukma berlari menuju wastafel, dan ternyata banyak kotoran mata yang masih menempel pada wajahnya, belum lagi di pipi Sukma terdapat garis-garis putih yang ke luar saat berada di pulau kapuk.


Sukma yang merasa malu pun bergegas mencuci wajahnya, dan setelah bersih, Sukma kembali duduk di samping Bara.


"Kenapa sebelumnya kamu tidak memberitahuku," ujar Sukma dengan cemberut.


"Sayang, meski pun penampilan kamu seperti itu, tapi di mata ku, kamu tetap terlihat cantik," puji Bara.


"Tapi tetap saja aku malu," ujar Sukma dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Memangnya kamu pikir aku siapa, kita itu sudah menjadi satu, dan kamu tidak perlu merasa malu terhadapku, karena aku merupakan bagian dari hidupmu. Ya sudah kalau begitu sekarang kita lanjutin makan lagi, sayang juga kalau makanannya tidak habis, padahal aku sudah capek-capek masak spesial buat kamu," ujar Bara dengan mengambil sendok, kemudian ikut makan dari piring Sukma, dan sekarang giliran Sukma yang begitu terpesona dengan semua perlakuan manis Bara terhadapnya.


Sepertinya aku semakin cinta sama kamu, ucap Sukma dalam hati.

__ADS_1


"Sama, aku juga semakin cinta sama kamu," celetuk Bara, dan Sukma semakin malu karena dia lupa kalau Bara bisa mendengar isi hati seseorang.


__ADS_2