Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 27 ( Tidak mau satu atap )


__ADS_3

Jaka terlihat gelagapan saat mendengar pertanyaan Pak Parjo.


Aku harus jawab apa sama Bapak, Bapak pasti marah kalau tau aku sudah terlilit hutang yang sangat banyak akibat judi, sehingga sudah tidak mempunyai apa pun lagi, ucap Jaka dalam hati.


"Jaka kena PHK Pak, jadi rumah sama harta yang Jaka punya habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Jaka dengan berbohong.


"Bapak kecewa sama kamu Jaka, kamu jadi berubah setelah bertemu dengan Pelakor itu."


"Maaf Pak, Yuli juga istri Jaka, jadi Jaka tidak mungkin meninggalkannya, dan Jaka harus menafkahi Yuli."


"Lalu apa yang sudah kamu lakukan sama Sukma selama ini? kamu bahkan menelantarkan Sukma ketika tau Sukma hamil. Bukannya Sukma juga masih istri kamu? tapi kamu sama sekali tidak pernah memberikan nafkah kepada Sukma," ujar Pak Parjo yang merasa kesal terhadap Jaka.


"Bukannya Jaka tidak mau menafkahi Sukma Pak, tapi untuk makan Jaka sama Yuli saja, sekarang Jaka sudah kesusahan."


"Ya sudah kalau begitu mulai sekarang kamu bantu Bapak kerja di kebun sama ngurus ternak, biar Yuli membantu Ibu di warung, karena Bapak tidak akan membiarkan Sukma kecapean, apalagi Sukma harus mengurus Yusuf."


"Baik Pak, Jaka akan belajar bertani dan mengurus ternak, supaya bisa membantu pekerjaan Bapak."


Setiap hari Jaka selalu membantu pekerjaan Pak Parjo di kebun dan mengurus ternak, meskipun Jaka masih harus banyak belajar, begitu juga Yuli yang selalu disuruh oleh Bu Atun untuk melayani pembeli di warung milik Sukma yang baru dibuka beberapa bulan yang lalu, apalagi setelah kelahiran Yusuf, warung tersebut semakin ramai.


Yuli merasa kesal karena Jaka sekarang lebih memperhatikan Yusuf dan Sukma, sedangkan Yuli terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah juga, karena saat ini Sukma begitu dimanja oleh kedua orangtua Jaka.


Lihat saja Sukma, tunggu pembalasanku, gara-gara kamu aku harus hidup menderita. Nanti aku akan kembali mencoba menyuruh Mbah Jarwo untuk mengirimkan teluh lagi kepada Sukma, karena selama ini Mbah Jarwo selalu gagal. Mbah Jarwo bilang Sukma mempunyai pelindung yang sangat kuat, aku jadi penasaran terhadap sosok makhluk halus yang melindungi Sukma selama ini, ucap Yuli dalam hati.


Jaka selalu berusaha mendekati Sukma, bahkan Jaka meminta ijin supaya bisa tidur dengan Yusuf dan juga Sukma, tapi Sukma selalu saja menolaknya.


"Sukma, aku ini masih Suami kamu, kenapa kamu selalu saja menolak ku?" tanya Jaka.


"Maaf Mas Jaka, tapi bagiku kamu bukan siapa-siapa aku lagi, dan sekarang sudah lebih dari enam bulan kamu tidak memberikan nafkah kepadaku, jadi secara hukum Agama kita sudah bukan Suami istri lagi, lagian kita juga cuma nikah siri," ujar Sukma.

__ADS_1


Jaka yang tidak terima dengan perkataan Sukma berniat untuk memaksa Sukma melayaninya, tapi tiba-tiba Yusuf bangun dan menangis, sehingga Jaka mengurungkan niatnya.


"Maaf Sukma, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya merindukanmu saja," ujar Jaka.


"Sebaiknya sekarang kamu keluar dari sini Mas," ujar Sukma yang merasa sakit hati dengan perlakuan Jaka.


Setelah Jaka ke luar dari kamar Sukma, Yusuf akhirnya berhenti menangis, dan langsung mengusap airmata yang menetes pada pipi Sukma.


"Terimakasih ya sayang, Yusuf memang Anak yang baik," ucap Sukma, dan Yusuf langsung saja tersenyum kepada Sukma.


......................


Enam bulan sudah Yuli dan Jaka tinggal di Jawa Timur, dan setiap bulan Yuli dan Jaka selalu diberikan keuntungan hasil tani, ternak, mau pun warung, tapi Yuli yang serakah tidak pernah merasa cukup, sehingga Yuli sudah merencanakan rencana licik untuk mengambil semua harta yang dimiliki oleh Sukma dan orangtua Jaka.


"Mas, kamu ingat kan tujuan kita datang ke sini?" tanya Yuli.


"Maaf Yuli, sekarang aku sudah hidup tenang, dan aku tidak mau berbuat maksiat lagi. Meskipun Sukma selalu menolak ku, tapi kami memiliki Yusuf, jadi aku tidak mau menyakiti mereka," jawab Jaka yang sudah berubah pikiran.


"Aku mohon jangan lakukan itu Yuli, orangtuaku pasti akan kecewa, apalagi Sukma, dia pasti akan semakin kecewa kepadaku."


"Kalau begitu nanti malam kita bawa kabur Sukma dan Yusuf untuk diserahkan kepada Mbah Jarwo," ujar Yuli.


"Aku tidak tega jika harus melakukan semua itu," ujar Jaka dengan mengacak rambutnya secara kasar.


"Jadi kamu lebih memilih kita mati konyol Mas?" tanya Yuli, dan semua itu membuat Jaka menjadi bimbang.


Aku harus bagaimana? aku tidak mungkin menumbalkan Istri dan Anakku sendiri, ucap Jaka dalam hati.


......................

__ADS_1


Yusuf sudah bisa berjalan bahkan berlari di usianya yang baru delapan bulan, dan Yusuf juga sudah fasih berbicara serta hafal beberapa surat pendek dalam Al-qur'an, sehingga Yusuf selalu menjadi kebanggaan Sukma beserta Kakek dan Neneknya.


Sukma berencana untuk pindah ke rumah peninggalan Mbok Ningsih, karena Sukma merasa tidak enak jika terus tinggal satu atap bersama Jaka.


"Bu, sebaiknya Sukma kembali tinggal di rumah si Mbok saja ya."


"Kenapa seperti itu Nak? Ibu tidak mau kalau jauh-jauh dari Yusuf."


"Jarak rumah si Mbok ke sini juga cuma beberapa meter saja, bahkan dari sini juga kelihatan. Jadi, Ibu sama Bapak bisa main setiap hari sama Yusuf."


"Apa Sukma merasa terganggu karena harus tinggal satu atap dengan Jaka dan Yuli?" tanya Bu Atun, tapi Sukma hanya diam tanpa mau menjawabnya.


"Meskipun Sukma tidak menjawabnya, Ibu sudah tau jawabannya."


Sukma yang merasa sedih langsung saja memeluk tubuh Bu Atun dan menumpahkan tangisannya.


"Bu, Sukma hanya manusia biasa yang akan merasa sakit jika dikhianati. Semakin lama Sukma semakin tidak sanggup melihat Mas Jaka hidup dengan perempuan lain di depan mata kepala Sukma sendiri."


"Ibu tau Nak, Ibu juga pasti akan merasa sakit hati jika berada di posisi Sukma, nanti kita bicarakan dulu semuanya sama Bapak ya," ujar Bu Atun yang sudah benar-benar menyayangi Sukma seperti Anak kandungnya sendiri.


......................


Selepas Maghrib, Pak Parjo mengumpulkan semuanya di ruang keluarga untuk membahas keinginan Sukma, dan setelah semuanya berkumpul, kecuali Yuli yang sedang membuat minuman, Pak Parjo mulai berbicara.


"Sukma, Bapak tau kalau kamu tidak ingin tinggal di sini karena ada Jaka dan Yuli kan? tapi maaf jika Bapak keberatan kalau kamu dan Yusuf keluar dari rumah ini, karena Bapak dan Ibu tidak mau berpisah dengan Yusuf, jadi sebaiknya saran Bapak, biar Jaka dan Yuli saja yang tinggal di rumah Mbok Ningsih."


Sukma nampak memikirkan usul Mertuanya, dan sesaat kemudian, Yuli datang dengan membawa lima cangkir Teh manis.


"Silahkan diminum semuanya, mungpung lagi hangat," ujar Yuli.

__ADS_1


"Tumben kamu bersikap manis, kamu tidak berniat meracuni kami kan?" sindir Bu Atun.


"Sudahlah Bu, kita tidak boleh berprasangka buruk. Sebaiknya kita minum dulu teh nya, sambil nunggu jawaban Sukma yang masih memikirkan usul Bapak," ujar Pak Parjo dengan meminum teh manis hangat yang dibuatkan Yuli, begitu juga dengan yang lainnya, sehingga Yuli tersenyum licik melihatnya.


__ADS_2