
Semua Warga kini mencari keberadaan kepala hantu Kuyang yang masih belum ditemukan, tapi ada salah satu Warga yang mengenali ciri-ciri tubuh Hantu Kuyang tersebut.
"Sepertinya ini tubuh Juminten, soalnya kemarin saya bertemu dengan dia terlihat mengenakan pakaian yang sama," ujar Bu Isah.
"Memangnya dimana rumahnya Mbak Juminten? biar kita coba cari saja di rumahnya," ujar Kyai Ahmad.
"Rumahnya dekat Pak Kyai, mari saya antar," ujar salah satu Warga, dan saat ini Kyai Ahmad beserta yang lainnya mendatangi rumah Juminten sebagai tersangka utama.
Setelah sampai di depan rumah Juminten, mereka memanggil nama Juminten, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Juminten yang hanya tinggal sendirian karena dia adalah seorang Janda.
Semuanya merasa mual karena mencium aroma busuk dari dalam rumah Juminten.
"Pak Kyai, apa kita dobrak saja pintu rumahnya, soalnya ada aroma bau bangkai dari dalam rumahnya," ujar salah satu tetangga Juminten.
"Baiklah kalau seperti itu, silahkan Bapak-bapak dobrak saja pintunya, soalnya saya takut kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Mbak Juminten," ujar Kyai Ahmad.
Setelah pintu rumah Juminten berhasil dibuka dengan cara didobrak, mereka mencari asal bau busuk yang menyeruak masuk ke dalam indra penciuman, dan ternyata bau busuk tersebut berasal dari dalam kamar.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap semuanya, ketika melihat kepala Juminten tergeletak di atas ranjang dengan organ tubuh yang sudah membusuk.
"Ternyata benar kalau selama ini Juminten yang sudah menjadi hantu Kuyang dan meneror kita," ujar salah satu Warga dan suasana rumah Juminten langsung ramai, apalagi Polisi serta Wartawan datang untuk meliput berita terkini tentang kejahatan yang telah Juminten lakukan selama menjadi hantu Kuyang.
"Maaf Pak Polisi, sebaiknya kita segera menguburkan Jenazah supaya tidak mengundang Makhluk-makhluk Astral lainnya datang ke tempat ini, dan saya sarankan supaya tubuh dan kepalanya dikuburkan secara terpisah," ujar Kyai Ahmad.
"Terimakasih Pak Kyai atas semua bantuannya, sehingga kami sekarang sudah terbebas dari teror hantu Kuyang," ujar Pak Kades yang kembali mengucapkan terimakasih kepada Kyai Ahmad.
"Sebaiknya ucapan terimakasih kita panjatkan kepada Allah SWT sang pencipta alam semesta, karena tanpa ijin dan pertolongan-Nya saya bersama Yusuf, Sandi dan Pak Parjo tidak akan dapat mengalahkan hantu Kuyang. Bapak-bapak sekalian juga harap kembali memenuhi Masjid untuk melaksanakan Shalat berjamaah, dan kita semua harus lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah SWT supaya tidak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Semoga saja yang menimpa Mbak Juminten saat ini menjadi contoh untuk kita supaya tidak tergoda dengan tipu muslihat iblis yang mengajak manusia untuk bersekutu dengannya" ujar Kyai Ahmad.
Setelah acara pemakaman Jenazah Juminten selesai, Kyai Ahmad, Umi Maryam, Yusuf dan Sandi memutuskan untuk segera berangkat menuju Pesantren supaya tidak kemalaman.
__ADS_1
"Pak Parjo, Bu Atun dan Bu Inem, kami berangkat dulu ya. Kami mohon do'anya semoga diberikan keselamatan sampai tujuan," ujar Kyai Ahmad.
"Iya Pak Kyai, kami akan selalu mendo'akan kelancaran semuanya. Semoga ketika nanti Yusuf dan Sandi pulang, jiwa mereka sudah kembali ke tubuh yang seharusnya," ujar Pak Parjo yang di Amini oleh semuanya.
Bu Atun terlihat bingung karena Sandi tidak mungkin menyetir mobil menggunakan tubuh Yusuf yang baru berusia tiga tahun.
"Terus siapa yang akan menyetir mobil Sandi?" tanya Bu Atun.
"Biar saya saja yang menyetir mobil Sandi, kebetulan saat kemarin ke sini kami di antar oleh Santri dan sekarang kami tidak menyuruhnya untuk menjemput lagi," ujar Kyai Ahmad.
"Syukurlah kalau begitu, Ibu sudah bingung karena Sandi masih berada dalam tubuh Yusuf," ujar Bu Atun.
Kyai Ahmad dan Umi Maryam duduk di kursi depan, sedangkan Yusuf dan Sandi duduk di jok belakang, dan semuanya terdengar mengucap Salam sebelum pergi.
Setengah perjalanan telah mereka tempuh, dan saat ini Kyai Ahmad menepikan mobil yang mereka berempat tumpangi di halaman sebuah Masjid untuk melaksanakan Shalat Ashar terlebih dahulu.
"Iya Bi, Sandi juga sudah kebelet pipis."
"Awas saja Om kalau Om Sandi sampai pipis lagi di celana seperti semalam," sindir Yusuf.
"Malu-maluin aja sih Tong pake bahas yang semalam lagi. Ya sudah, cepetan antar Om Sandi, Om Sandi kan masih kecil, jadi takut ada yang nyulik."
Yusuf dan Sandi bergegas ke Toilet untuk buang air kecil, serta mengambil wudhu, begitu juga dengan Kyai Ahmad dan Umi Maryam.
Setelah semuanya selesai melaksanakan Shalat Ashar secara berjamaah, Yusuf merasa lapar, sehingga semuanya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali perjalanan.
......................
Sukma terbangun dari tidurnya karena tidak merasakan pelukan hangat Bara. Namun, ternyata Bara saat ini sedang duduk di samping ranjang karena masih melamunkan tentang syarat yang harus ia penuhi dari Maharaja supaya bisa menjadi manusia.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu melamun terus?" tanya Sukma.
"Aku tidak kenapa-napa," jawab Bara singkat.
"Bara, aku tau kalau ada yang kamu sembunyikan dariku. Apa kamu tidak mau membaginya denganku?" tanya Sukma yang saat ini melihat kegelisahan pada raut wajah Bara.
"Sayang, maaf jika tadi aku pergi ke Istana Maharaja tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepadamu," ujar Bara.
"Siapa Maharaja? dan untuk apa kamu datang ke Istananya?" tanya Sukma
"Maharaja adalah Raja dari semua makhluk Ghaib, dan tujuanku ke sana untuk meminta petunjuk supaya aku bisa berubah menjadi manusia," jawab Bara.
"Apa kamu sudah menemukan petunjuk itu?" tanya Sukma dengan mata yang berbinar.
"Sudah, tapi syaratnya terlalu berat, dan aku tidak akan sanggup untuk melakukannya. Maafkan aku Sukma," ujar Bara dengan tertunduk sedih.
"Memangnya syarat apa yang harus kamu lakukan supaya menjadi manusia?" tanya Sukma yang merasa penasaran.
"Aku harus menumbalkan 7 bayi kita. Jadi, jika kamu melahirkan, aku harus menumbalkan bayi kita kepada Maharaja, dan setelah bayi ke-7 aku akan berubah menjadi manusia," jawab Bara.
Sukma menghela nafas panjang mendengar penuturan Bara, karena mereka tidak mungkin menumbalkan darah daging mereka sendiri.
"Bara, meski pun selamanya kamu menjadi Genderewo, aku akan tetap mencintaimu, karena aku tulus mencintaimu tanpa syarat."
"Tapi kamu belum pernah melihat wujud asliku Sukma, aku mempunyai wujud yang menyeramkan, tapi jika aku berubah menjadi manusia, aku akan selamanya memiliki wajah ini."
"Kamu salah Bara, karena manusia semakin hari akan semakin tua dan keriput, jika kamu menjadi manusia, wajah kamu saat ini akan berubah juga, tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan umur manusia tidak ada yang sampai ratusan tahun, tapi rasa cintaku padamu tidak akan berubah meski pun kamu dalam bentuk apa pun," ujar Sukma dengan memeluk tubuh Bara.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku akan memperlihatkan wujud asliku kepadamu, kita lihat apa nanti kamu masih akan tetap mencintaiku," ujar Bara.
__ADS_1