Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 43 ( Kemarahan Bara )


__ADS_3

Saat ini di Kerajaan Genderewo, kondisi Bara sudah mulai membaik, dan Bara sudah mulai sadar.


"Dimana Sukma?" tanya Bara ketika pertama kali membuka matanya.


Tabib dan kedua Anak Jaka terlihat diam karena takut Bara akan murka jika mengetahui kalau Sukma sedang mencari tumbal untuk kesembuhan Bara.


"Sekali lagi aku tanya kalian, Dimana istriku?" tanya Bara dengan nada yang tinggi.


"Sebaiknya Ayah jangan terlalu banyak pikiran, Ayah juga harus banyak istirahat supaya tubuh Ayah cepat pulih," ujar Alexa dengan membantu Bara untuk kembali berbaring.


"Nak, dimana Bunda? Bunda baik-baik saja kan?" tanya Bara kepada Alexa.


"Ayah jangan khawatir, Bunda baik-baik saja."


"Lalu dimana sekarang Bunda kalian?" tanya Bara yang masih bersikeras menanyakan keberadaan Sukma.


"Bukannya Ayah sendiri yang telah menyuruh Bunda untuk kembali menuju alam manusia?"


"Iya, tapi Ayah ingat betul kalau Sukma menghalangi tubuh Ayah ketika Ayah hendak dimusnahkan oleh Raja iblis. Bahkan Raja iblis terluka parah oleh kekuatan cinta yang kami miliki. Ayah juga tidak pernah melupakan ciuman yang Sukma berikan sebelum Ayah kembali tidak sadarkan diri."


Tabib dan kedua Anak Bara lagi-lagi bingung harus berkata seperti apa.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Ayah?" tanya Bara yang terus mendesak Tabib dan kedua Anaknya.


"Maaf yang mulia, tapi Ratu memutuskan untuk kembali menuju alam manusia."


"Aku sangat mengenal Sukma, dia tidak mungkin meninggalkanku dalam keadaan terluka, bahkan dia rela mengorbankan nyawanya untukku, jadi tidak mungkin Sukma pergi begitu saja."


Bara nampak memikirkan semuanya, karena dia tidak mungkin pulih dengan begitu cepat apabila tidak mendapatkan tumbal, dan media yang bisa memberikan tumbal untuk Bara hanyalah Sukma. Bara langsung saja berteriak mengingat kemungkinan yang terjadi kepada Sukma


"Tidak mungkin, tidak mungkin Sukma melakukan semua itu, aku tidak akan pernah rela perempuan yang aku cintai mengorbankan dirinya sendiri."


"Maaf Raja, tapi Ratu melakukan semua itu demi kesembuhan Raja, karena tidak ada cara lain selain Ratu mencari tumbal supaya Raja bisa kembali pulih."

__ADS_1


"Kenapa kalian membiarkan Sukma melakukan pengorbanan sebesar itu? aku lebih baik mati daripada Sukma harus mengorbankan dirinya," teriak Bara, kemudian mencoba untuk berdiri, tapi tubuh Bara masih terasa lemas.


"Ayah, kami mohon, Ayah jangan seperti ini, Ayah mau kemana?" tanya Alexa.


"Ayah mau menyusul Bunda kalian, di luar sana terlalu bahaya untuk Sukma, dan Ayah tidak akan membiarkan Sukma mengorbankan dirinya lagi."


"Tapi saat ini kondisi Ayah masih belum pulih, Ayah harus menghargai semua pengorbanan yang Bunda lakukan untuk Ayah, apa yang nanti harus kami jelaskan jika Bunda melihat kondisi Ayah yang masih belum kembali sehat," ujar Alex yang mencoba menahan tubuh Bara.


"Apa pun yang terjadi, Ayah akan tetap melindungi Bunda, walaupun nyawa Ayah taruhannya."


"Dengan sikap Ayah seperti ini, apa Bunda akan merasa senang? tidak Yah, Bunda akan sedih kalau melihat kondisi Ayah semakin memburuk," ujar Alexa yang juga ikut mencoba menahan Bara.


Bara menangis dengan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Sukma, maafkan aku, aku hanyalah Suami yang tidak berguna, seharusnya aku yang selalu melindungimu," gumam Baram dengan terus meneteskan airmata penyesalan karena saat ini dirinya merasa tidak berguna.


......................


Sukma memutuskan untuk kembali mencari tumbal di sebuah klub malam, tapi dia ingat perkataan mendiang Jaka bahwa Bos Tono sangat berbahaya, jadi Sukma mencoba mencari tumbal di klub malam lain.


Aku harus segera mendapatkan tumbal yang banyak untuk kesembuhan Bara, ucap Sukma dalam hati.


Sukma dengan mudah mendapatkan tumbal di klub tersebut, dan setelah melakukan ritual untuk mendapatkan tumbal, Sukma selalu merasa jijik dengan tubuhnya yang sudah kotor dan banyak dinikmati oleh lelaki hidung belang.


Sukma mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower dengan terus menangis, apalagi selama beberapa bulan ini, sudah sepuluh lelaki yang menjadi tumbal Sukma.


"Sekarang aku sudah menjadi seorang pembunuh, sekarang aku sudah kotor. Apakah Tuhan masih akan menerima ibadahku," gumam Sukma dengan terus berlinang airmata.


Sukma juga masih belum mengetahui keadaan Bara saat ini, dan setiap malam Sukma selalu merindukannya.


"Bara, aku merindukanmu, kapan kita akan kembali bersama lagi," gumam Sukma sebelum ia memejamkan mata.


Supir Sukma yang bernama Sandi diam-diam selalu memperhatikan Sukma, karena sejak pertama kali bertemu dengan Sukma, Sandi sudah jatuh hati kepada sosok Sukma, tapi Sandi sadar diri kalau dirinya hanyalah seorang Supir yang tidak pantas bersanding dengan Sukma yang kaya raya, apalagi untuk menutupi harta yang ia dapatkan dari Suami Ghaib nya, Sukma membuat pusat perbelanjaan dan mempunyai banyak bisnis lainnya, sehingga Sukma banyak menjadi incaran para lelaki hidung belang yang berusaha untuk mendekatinya, bahkan mengajak Sukma untuk menikah, begitu juga dengan Bos Tono yang sudah berhasil menemukan sosok Sukma yang sudah berganti nama menjadi Monalisa.

__ADS_1


"Maaf Tuan, sudah berapa kali saya katakan kalau saya tidak ingin menjalin sebuah pernikahan dengan siapa pun juga, karena saya lebih menikmati kesendirian saya," ujar Sukma yang kembali menolak pinangan Bos Tono.


"Ayolah Mona, ini sudah ke sepuluh kalinya kamu menolak cintaku, setidaknya kamu coba dulu menerimaku, apa kamu tidak ingin merasakan keperkasaanku," bisik Bos Tono di telinga Sukma.


Plak


Satu tamparan keras kini mendarat pada pipi Bos Tono.


"Jaga mulut Anda, apa Anda pikir saya perempuan murahan?" ujar Sukma yang merasa geram dengan perkataan Bos Tono.


"Jangan munafik kamu Mona, memangnya kamu pikir aku tidak tau dengan yang telah kamu lakukan, aku sering melihat kamu berkencan dengan banyak Pria, dan setelah itu lelaki yang kamu kencani akan mati dengan cara yang berbeda, dan aku yakin kalau kamu memakai pesugihan, apalagi aku bukan orang sembarangan, karena aku dapat melihat kalau kamu adalah seorang perempuan bahu laweyan."


"Kalau kamu sudah tau aku adalah perempuan bahu laweyan, kenapa kamu masih bersikeras ingin menikahiku?"


"Karena aku punya penangkal supaya aku tidak mati di tangan Suami ghaib mu itu. Bahkan kalau aku menikahimu, aku akan semakin kaya dan ilmu yang aku miliki akan semakin kuat."


Sukma gemetar ketakutan mendengar perkataan Bos Tono, apalagi saat ini Bos Tono terus mendekati tubuh Sukma sehingga menempel di tembok.


"Mau apa kamu?" teriak Sukma.


"Aku ingin menikmati tubuh kamu Mona," ujar Bos Tono dengan berusaha menggerayangi tubuh Sukma, tapi sesaat kemudian Sandi datang karena mendengar teriakan Sukma dari dalam rumah.


Bugh


Sandi menarik tubuh Bos Tono yang saat ini mengungkung tubuh Sukma, kemudian Sandi meninju perut Bos Tono, sehingga perkelahian antara keduanya tidak dapat terelakkan lagi.


Sukma yang sudah melihat Bos Tono babak belur karena dihajar oleh Sandi menyuruh Sandi supaya berhenti menghajarnya.


"Cukup Sandi, hentikan semuanya. Biarkan dia pergi," ujar Sukma.


"Lihat saja kalian, aku pasti akan membalas semua perbuatan kamu bocah ingusan," ancam Bos Tono, kemudian pergi dari rumah Sukma.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Sandi.

__ADS_1


"Tidak Sandi, terimakasih sudah menolong saya. Kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Sukma kepada Sandi, tapi sesaat kemudian Sukma langsung terkejut sehingga hampir saja terjatuh ketika dengan Seksama melihat wajah Sandi, karena biasanya Sandi selalu memakai topi dan masker saat mengantar Sukma, dan Sandi juga baru beberapa bulan ini menjadi Supir pribadi Sukma jadi Sukma tidak terlalu memperhatikannya.


"Mas Jaka," ucap Sukma dengan suara tergagap.


__ADS_2