Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 42 ( Selamat jalan Jaka )


__ADS_3

Pak Parjo terus mengikuti Bu Atun yang berjalan semakin cepat karena katanya Bu Atun melihat Sukma.


"Bu, pelan-pelan jalannya, Bapak takut Ibu jatuh," ujar Pak Parjo.


Bruk


Bu Atun yang jalan terburu-buru akhirnya bertabrakan dengan Perawat sehingga membuat obat-obatan yang dibawa Perawat terjatuh.


"Aduh, maaf Mbak saya buru-buru," ujar Bu Atun yang kembali mengejar Sukma, sedangkan Pak Parjo membantu Perawat membereskan obat.


"Sukma, tunggu Nak, tunggu Ibu, Ibu kangen sama Sukma," teriak Bu Atun dengan berderai airmata, tapi Sukma terus saja melangkahkan kakinya dan tidak memperdulikan teriakan Bu Atun, sampai akhirnya Sukma bergegas masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruh Supir supaya segera pergi dari Rumah Sakit.


"Sukma, tunggu Ibu," teriak Bu Atun lagi sampai akhirnya Bu Atun terjatuh ketika mengejar mobil milik Sukma yang melaju meninggalkan Rumah Sakit.


Sukma sebenarnya tidak tega melihat Bu Atun yang terjatuh, tapi Sukma tidak bisa menemui Bu Atun dengan keadaan Bara yang masih membutuhkan banyak tumbal supaya bisa memulihkan tubuhnya, karena jika Sukma tinggal bersama kedua orangtua Jaka, Sukma pasti akan kesulitan untuk mencari tumbal.


Maafin Sukma Bu, Sukma juga kangen sama Ibu dan Bapak, tapi sekarang belum saatnya kita berkumpul kembali. Dan Selamat jalan Mas Jaka, semoga Mas Jaka tenang di alam sana, ucap Sukma dalam hati dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


Pak Parjo yang melihat Bu Atun terjatuh, bergegas menghampirinya dan membantu Bu Atun untuk berdiri.


"Ibu kenapa bisa sampai terjatuh begini, Bapak yakin kalau perempuan tadi bukan Sukma, kalau memang dia Sukma, dia tidak akan mungkin meninggalkan Ibu, apalagi sampai membiarkan Ibu terjatuh."


"Iya Pak, mungkin Ibu salah orang, Ibu kangen sama Sukma Pak, bagaimana keadaan kamu sekarang Nak," ujar Bu Atun dengan menangis.


Bu Atun dan Pak Parjo memutuskan untuk kembali ke dalam Rumah Sakit supaya bisa mengurus administrasi kepulangan jenazah Jaka.


Setelah selesai mengurus administrasi kepulangan jenazah, Bu Atun dan Pak Parjo di antar ke dalam kamar mayat untuk melihat jenazah Jaka.


Tubuh Bu Atun sudah gemetar hebat ketika melihat Jenazah Jaka yang terbujur kaku, dan ketika Petugas Rumah Sakit membuka tutup kepala jenazah Jaka, Bu Atun langsung menangis histeris kemudian menjatuhkan tubuhnya yang sudah terasa lemas.

__ADS_1


"Astagfirullah Jaka, maafin Ibu Nak, kenapa Jaka tega meninggalkan Ibu, padahal kita sudah satu tahun lebih tidak bertemu."


"Sudah Bu, ikhlaskan kepergian Jaka, Yuli juga pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Sekarang kita hanya bisa berdo'a semoga semua dosa Jaka di ampuni oleh Allah SWT, dan kita harus menjaga titipan Jaka dengan baik yaitu Yusuf," ujar Pak Parjo dengan memeluk tubuh Bu Atun yang masih terus saja menangis.


Sehari sebelum Jaka meninggal, tidak biasanya Jaka menelpon kedua orangtuanya, Jaka juga meminta maaf atas segala kesalahan yang Jaka lakukan kepada kedua orangtuanya, bahkan Jaka juga berpesan supaya kedua orangtuanya menjaga Yusuf.


"Pantas saja Jaka sudah menitipkan Yusuf kepada kita Pak, mungkin Jaka sudah mempunyai firasat akan meninggal dunia," ujar Bu Atun yang sudah merasa lebih tenang.


"Iya Bu, meskipun Yusuf tidak tinggal bersama kita, setidaknya kita bisa menabung untuk masa depan Yusuf, apalagi sekarang di usia Yusuf yang baru dua tahun, Yusuf sudah ingin Sekolah," ujar Pak Parjo.


Setelah Pak Parjo dan Bu Atun merasa lebih tenang, mereka berdua membawa Jenazah Jaka menggunakan Ambulance. Bu Atun dan Pak Parjo juga menemani jenazah Jaka di dalam mobil Ambulance, dan sepanjang perjalanan, mereka terus saja membaca surat Yasin.


Pak Parjo sebelumnya sudah memberitahukan tentang meninggalnya Jaka kepada Kyai Ahmad, sehingga Kyai Ahmad memutuskan untuk mengajak Umi Maryam, Yusuf dan beberapa Santri untuk mempersiapkan kedatangan jenazah Jaka di rumah Pak Parjo.


Jenazah Jaka akhirnya sampai di Jawa Timur pada pukul delapan malam, dan Pak Parjo sangat bersyukur karena di rumahnya sudah terlihat persiapan menyambut kedatangan Jenazah Jaka.


Bu Atun dan Pak Parjo mengucapkan Salam ketika sampai di halaman rumah, dan di sana sudah terlihat banyak tetangga yang ikut menyambut kedatangan mereka.


"Kyai, Umi, terimakasih banyak atas semuanya, saya sangat bersyukur karena Kyai sudah repot-repot mengurus ini semua," ucap Pak Parjo.


"Kita kan keluarga Pak, jadi sudah seharusnya kita saling membantu," ujar Abi Ahmad dengan merangkul tubuh Pak Parjo.


Bu Atun dan Pak Parjo yang melihat Yusuf menghampirinya langsung saja memeluk tubuh Yusuf.


"Nenek sama Kakek jangan menangis ya, Ayah sudah bahagia, itu Ayah lihatin Yusuf dengan tersenyum," ujar Yusuf dengan menunjuk Ruh Jaka yang berada di dekat jasadnya.


"Subhanallah Pak, Yusuf bisa melihat Jaka. Jaka pasti bahagia melihat Yusuf tumbuh menjadi Anak yang Saleh," ujar Bu Atun.


Jenazah Jaka kini dimandikan sebelum nanti dishalatkan di Mesjid yang berada di dekat rumah Pak Parjo.

__ADS_1


Mata batin Abi Ahmad melihat potongan kejadian sebelum Jaka meninggal dunia ketika beliau membantu memandikan jenazah Jaka. Beliau melihat Jaka yang menyerahkan dirinya kepada Sukma untuk dijadikan tumbal, tapi Abi Ahmad merahasiakan semuanya dari semua orang, karena beliau merasa tidak seharusnya membicarakan aib dan dosa orang yang telah meninggal dunia.


Jenazah Jaka yang telah selesai di bungkus dengan kain kafan akhirnya di bawa ke Mesjid untuk dishalatkan, dan Yusuf yang sudah lancar menghafal banyak surat dalam al-qur'an ikut serta menyolatkan jenazah Ayahnya.


Bu Atun yang ditemani Umi Maryam di rumahnya merasakan hawa dingin yang tiba-tiba terasa menusuk ke dalam kulitnya, sampai akhirnya Umi Maryam menyuruh seseorang untuk memanggil Abi Ahmad yang saat ini ikut menunggui jenazah Jaka di Masjid.


Abi Ahmad, Pak Parjo dan Yusuf, pulang terlebih dahulu untuk melihat Bu Atun, karena mereka takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Bu Atun.


Yusuf, Abi Ahmad, dan Pak Parjo bisa melihat Ruh Jaka yang saat ini sedang menangis dengan memeluk Ibunya.


"Ayah," ucap Yusup dengan menghampiri Ruh Jaka yang saat ini berada di samping Bu Atun, sehingga Bu Atun merasa bingung melihat Yusuf yang tiba-tiba berbicara sendiri.


"Pantas saja Bu Atun merasakan hawa dingin, karena saat ini Nak Jaka sedang memeluk tubuh Bu Atun," ucap Abi Ahmad.


Pak Parjo yang juga bisa melihat Jaka, secara perlahan menghampiri sosok Jaka.


"Nak, kenapa Jaka belum pulang? sekarang, kita sudah berbeda alam Nak," ucap Pak Parjo dengan menangis.


"Pak, maafin Jaka, Jaka ingin pamit dulu sama Ibu dan Bapak, Jaka juga ingin bertemu dengan Yusuf untuk yang terakhir kalinya," ujar Jaka.


"Jadi Jaka ada di sini Pak? dimana Jaka Anak Ibu Pak?" tanya Bu Atun dengan menangis dan melihat ke sekeliling, tapi Bu Atun sama sekali tidak melihat sosok Jaka.


"Nak Jaka, coba Nak Jaka pegang bahu Yusuf supaya Bu Atun bisa melihat Ruh Nak Jaka," ujar Abi Ahmad.


Jaka kini memegang Yusuf, dan benar saja, sekarang Bu Atun bisa melihat Jaka yang sedang melihat ke arahnya dengan menangis.


"Bu, maafin Jaka, selama ini Jaka belum bisa menjadi Anak yang berbakti. Jaka titip Yusuf kepada semuanya, terimakasih karena selama ini Kyai dan Umi sudah bersedia menjaga Yusuf. Yusuf, maafin Ayah Nak, semoga Yusuf menjadi Anak yang Saleh," ujar Jaka yang di Amini oleh semuanya.


Jaka juga berpesan supaya semua harta yang dia dan Yuli dapatkan dengan cara yang tidak benar, di sumbangkan kepada Fakir miskin, dan Anak Yatim, dan Jaka juga memberikan sejumlah uang yang dia hasilkan secara halal untuk Yusuf dan kedua orangtuanya, karena selama ini Jaka diam-diam mempunyai bisnis kecil-kecilan dengan temannya Riki tanpa sepengetahuan Yuli, dan Jaka menggunakan uang tabungannya yang dulu pernah Riki pinjam ketika masih bekerja di Restoran.

__ADS_1


"Nak, beristirahatlah dengan tenang, insyaallah Ibu sudah ikhlas melepas kepergian Jaka, Ibu juga sudah memaafkan semua kesalahan Jaka," ucap Bu Atun, kemudian secara perlahan Ruh Jaka pun menghilang.


__ADS_2