
Bara memutuskan untuk datang melihat keadaan Sukma yang sedang tidak baik-baik saja, Bara terus mengusap lembut kepala Sukma sampai akhirnya Sukma merasa tenang kemudian tertidur. Bara kini ikut berbaring dengan mendekap erat tubuh perempuan yang sangat dicintainya.
"Sayang, maafkan aku karena masih belum bisa menemanimu serta melindungimu, tapi sebentar lagi kita akan kembali hidup bersama, dan aku berjanji akan mengeluarkanmu dari semua penderitaan ini," ucap Bara, kemudian kembali menghilang, karena saat ini Bara masih belum bisa tinggal lama-lama di alam manusia, sebab portal ghaib masih harus ia tutup demi melindungi buah cintanya dengan Sukma.
Alex dan Alexa saat ini sudah semakin kuat, mereka juga sudah tumbuh menjadi remaja dengan cepat.
"Ayah pasti sudah menemui Bunda kan?" tanya Alexa dengan menghampiri Bara yang saat ini baru sampai setelah melihat keadaan Sukma.
"Iya sayang, Bunda kalian saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan Ayah merasa kasihan terhadapnya."
"Kenapa Ayah tidak membawa Bunda ke sini sekarang saja?" tanya Alex yang ikut menghampiri Bara.
"Sekarang belum saatnya, apalagi sebentar lagi Bunda akan segera melahirkan Adik kalian."
"Adik kami laki-laki dan akan Bunda beri nama Yusuf," ujar Alexa yang bisa mengetahui masa depan.
"Iya Nak, tapi Yusuf tidak akan bisa dibesarkan oleh Bunda kalian, karena dia akan di ambil oleh Jaka dan Yuli. Kasihan Bunda kalian yang akan menderita karena kehilangan Yusuf."
"Tapi Yusuf akan tumbuh menjadi Anak yang saleh, dan suatu saat nanti Yusuf yang akan memutuskan ikatan yang terjalin antara Ayah dengan Bunda. Apa kami harus melakukan sesuatu kepada Yusuf supaya kita nanti tidak berpisah dengan Bunda?" tanya Alexa.
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, apalagi cinta Ayah dengan Bunda kalian adalah cinta beda Dunia. Yusuf juga adalah Anak Ayah, meskipun dia benih dari Jaka, tapi Ayah yang telah menanamnya, dan Kita tidak boleh menyakitinya, karena sebagai Kakak kalian harus melindungi Adik kalian," ujar Bara.
"Baik Ayah, sebagai Anak yang berbakti kami akan melakukan perintah Ayah dengan baik," jawab Alex dan Alexa yang selalu membuat Bara bangga, karena mereka mempunyai kecerdasan yang luar biasa.
"Ayah bangga sama kalian berdua, karena kalian tumbuh dengan sangat baik meskipun tanpa kasih sayang Bunda kalian."
__ADS_1
"Ayah salah, karena sebenarnya ikatan batin Bunda dengan kami begitu kuat, meskipun kami tidak hidup bersamanya, tapi kasih sayang Bunda selalu mengalir untuk kami, dan sifat welas asih Bunda juga menurun kepada kami meskipun kami bukan manusia seutuhnya, bahkan kami bisa selalu masuk ke dalam mimpinya ketika Bunda memikirkan kami," ujar Alex dan Alexa dan Bara tersenyum mendengar perkataan kedua Anaknya.
......................
Hari berganti hari telah Sukma lewati tanpa sosok Jaka di sampingnya dan saat ini usia kehamilan Sukma sudah memasuki sembilan bulan.
Sukma merasa beruntung karena ada Bu Atun dan Pak Parjo yang selalu ada untuk Sukma, bahkan ketika Sukma hendak berjualan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, mereka melarangnya, sehingga kebutuhan Sukma selalu mereka penuhi.
"Bu, Pak, terimakasih ya Ibu dan Bapak sudah baik sama Sukma, Sukma beruntung masih memiliki kalian berdua yang selalu menemani hari-hari Sukma," ucap Sukma yang saat ini sedang nonton Televisi bersama Bu Atun dan Pak Parjo, karena setelah empat puluh hari acara tahlilan Mbok Ningsih, Sukma di ajak tinggal di rumah orangtua Jaka. Meskipun awalnya Sukma menolak, tapi kedua orangtua Jaka memaksa Sukma karena merasa khawatir jika meninggalkan Sukma sendirian dalam keadaan hamil tua.
"Sudah seharusnya kami melakukan semua itu Nak, karena Sukma adalah Anak kami juga," ujar Bu Atun dengan mengelus lembut perut Sukma yang sudah mendekati taksiran persalinan.
"Bu, kenapa ya dari semenjak pagi, perut Sukma rasanya sakit terus, pinggang Sukma juga rasanya panas."
"Enggak tau Bu, tapi sekarang Sukma ingin buang air kecil terus."
Saat ini di luar cuaca sedang turun hujan dengan derasnya, belum lagi petir yang terus saja terdengar menggelegar.
"Bagaimana ini Pak Sukma sepertinya sudah mau melahirkan," ujar Bu Atun yang panik karena melihat Sukma yang sudah merasakan kontraksi hebat pada perutnya.
"Bapak juga bingung Bu, sekarang di luar sedang hujan lebat, kita tidak mungkin membawa Sukma ke rumah Bidan dengan cuaca seperti ini," jawab Pak Parjo yang sudah ikut panik juga.
"Sebaiknya kita panggil saja Mbah Inem, Ibu kebetulan ada nomor handphone nya, semoga saja masih aktif," ujar Bu Atun, kemudian menelpon Mbah Inem yaitu dukun beranak di daerahnya.
Setelah berhasil menelpon Mbah Inem, beberapa saat kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu, dan ternyata itu adalah sosok Tabib kerajaan Genderewo yang menyamar sebagai Mbah Inem, karena jika menunggu Mbah Inem tiba akan terlalu lama, dan Sukma sudah tidak bisa menahannya lagi, jadi Bara mengutus Tabib di Istananya supaya menyerupai Mbah Inem.
__ADS_1
Pak Parjo yang membuka pintu merasa terkejut melihat Mbah Inem yang saat ini ada di hadapannya.
"Lho Mbah, cepet amat datangnya?" tanya Pak Parjo.
"Kebetulan Si Mbah sedang berada di dekat sini, makanya datangnya cepat. Cah Ayu sekarang kita ke kamar, karena bayimu sudah mau lahir," ujar Tabib, dengan membantu menggandeng Sukma menuju kamar.
"Bu, sakit banget Bu, Sukma udah gak kuat," ujar Sukma dengan menangis.
"Yang sabar ya Nak, sebentar lagi sakitnya pasti akan hilang setelah kamu berhasil melahirkan," ujar Bu Atun dengan terus mengelus lembut perut Sukma.
"Cah Ayu, ayo sekarang tarik nafas dalam-dalam dari hidung, setelah itu keluarkan dari mulut," ujar Tabib yang terus memberikan pengarahan kepada Sukma.
Setelah beberapa kali Sukma mengejan, akhirnya Sukma berhasil melahirkan seorang bayi tampan.
"Alhamdulillah Nak, kamu sudah berhasil melahirkan bayi yang sangat tampan," ujar Bu Atun dengan bahagia.
Anehnya hujan yang tadi turun dengan derasnya, tiba-tiba berhenti dan berganti dengan sinar Rembulan yang menerangi alam semesta. Bukan hanya itu, Bayi yang dilahirkan Sukma bersih tanpa ada kotoran sedikit pun, bahkan organ vital bayi tersebut sudah seperti melakukan sunat.
Pak Parjo akhirnya masuk setelah mendengar suara tangisan bayi Sukma.
"Subhanallah Nak, Bayi kamu terlahir spesial, saat ini hujan yang tadi turun dengan deras tiba-tiba reda dan berganti dengan Cahaya rembulan, bahkan Cucu Bapak tidak memiliki kotoran sedikit pun, apalagi bentuk organ vitalnya sudah seperti melakukan Sunat," Ujar Pak Parjo yang saat ini sedang menggendong bayi Sukma, kemudian Pak Parjo mengumandangkan Adzan.
"Mau kamu beri nama apa Cucu Bapak yang tampan ini?" tanya Pak Parjo.
"Yusuf Maulana," ujar Sukma dengan tersenyum.
__ADS_1