Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 87 ( Perjuangan Bara )


__ADS_3

Selama satu tahun hidup di pedalaman, banyak lika liku kehidupan yang harus Bara lewati, apalagi kebanyakan orang yang hidup di sana tidak memiliki keyakinan, sampai akhirnya Bara membantu Kakek Adnan menyebarkan Agama Islam di sana.


Pada awalnya mereka menentang keras tausiah tausiah yang disampaikan oleh Bara dan Kek Adnan, tapi setelah banyak yang Bara lakukan untuk mendukung kemajuan di kampung tersebut, akhirnya semua warga dengan senang hati menerima Bara dengan tangan terbuka, bahkan mereka bahu membahu membantu Bara membuat kapal supaya bisa menyebrangi lautan untuk kembali kepada Anak dan istrinya.


Setiap hari, Bara juga membantu Kakek Adnan untuk mengajarkan mengaji serta membaca kepada Anak-anak yang tinggal di pedalaman, karena dulu Bara pernah belajar membaca dari Sukma.


"Sukma, aku sangat merindukanmu sayang, tunggu aku, sebentar lagi kita pasti akan kembali bersama," gumam Bara dengan mencium lukisan wajah Sukma yang ia buat, dan Bara selalu membawanya kemana-mana.


......................


Selama satu tahun tinggal di pedalaman, tidak ada satu pun kapal yang lewat, beruntung saat ini kapal yang dibuat oleh Bara dengan dibantu oleh semua warga yang berada di pedalaman sudah selesai, dan rencananya besok Bara akan berlayar menyebrangi lautan dengan bermodal nekad menembus hantaman ombak supaya bisa bertemu kembali dengan cinta sejatinya.


"Nak, terimakasih ya, selama Bara tinggal di sini, Bara sudah banyak membantu Kakek dan Nenek," ucap Nek Minah.


"Seharusnya Bara yang berterimakasih karena Kakek dan Nenek sudah menyelamatkan nyawa Bara."


"Sebenarnya Kakek berat melepaskanmu Nak, tapi Kakek juga ingin melihat kamu bahagia. Semoga kalian bisa kembali bersama, yakinlah jika Allah SWT sudah berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin."


......................


Keesokan harinya Bara telah bersiap untuk berangkat, dan Bara berpamitan kepada semuanya.


"Nak, semoga kamu selamat sampai tujuan, hanya do'a yang bisa kami berikan untuk menemani perjalananmu," ucap Kek Adnan.


"Makasih banyak Kek, Nek, semuanya. Bara pasti akan merindukan kalian," ucap Bara dengan memeluk Kek Adnan dan Nek Minah yang sudah Bara anggap sebagai orangtua kandungnya sendiri.


Semua orang melepas kepergian Bara dengan tangisan, karena mereka merasa sedih melepas kepergian orang yang sudah sangat baik bahkan banyak membantu pada saat mereka kesusahan.


Bara mengucap Basmalah sebelum akhirnya ia melajukan kapal untuk menuju keberadaan kekasih hatinya, kemudian Bara mengucap Salam serta melambaikan tangan sebagai Salam perpisahan.


Perjalanan Bara menerjang ombang tidaklah mudah, banyak sekali rintangan yang harus Bara hadapi untuk menuju pelabuhan terdekat.


Setelah satu minggu terombang-ambing di tengah lautan, dengan bekal seadanya, Bara akhirnya sampai di sebuah pelabuhan.


Bara mencoba bertanya tentang keberadaannya saat ini kepada para Nelayan yang baru pulang melaut.

__ADS_1


"Pak, sekarang saya berada di mana ya?" tanya Bara.


"Kita sekarang berada di pelabuhan Samudra di Samarinda, memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya seorang lelaki paruh baya yang bernama Pak Eko.


"Saya mau pergi ke Jakarta Pak, kira-kira berapa hari untuk menuju ke sana ya?" jawab Bara.


"Sekitar empat hari, dan ongkosnya sekitar lima ratus ribu," jawab Pak Eko.


Bara terlihat bingung karena saat ini dia tidak memiliki uang sepeser pun, karena saat di pedalaman, mereka melakukan sistem barter untuk mendapatkan makanan.


"Tapi saat ini saya tidak punya uang, dan saya hanya mempunyai kapal kecil itu, bahkan untuk sampai ke sini, saya memerlukan waktu tujuh hari," ujar Bara.


"Memangnya kamu berasal dari mana?" tanya Pak Eko yang merasa penasaran.


"Saya tadinya dari Jakarta, tapi selama satu tahun saya tinggal di desa pedalaman yang berada di sebuah pulau," jawab Bara.


Pak Eko yang mendengar cerita Bara merasa kasihan, sehingga beliau berniat untuk membantunya.


"Kalau begitu selama satu minggu ini kamu bekerja membantu saya mengangkut ikan, nanti saya akan memberikan upah supaya kamu bisa pulang ke Jakarta," ujar Pak Eko.


Tanpa berpikir panjang, Bara langsung menerima tawaran Pak Eko, bahkan Pak Eko berbaik hati mengajak Bara tinggal di rumahnya yang berada di dekat pelabuhan.


"Bara, terimakasih karena selama satu minggu ini kamu sudah banyak membantu saya, dan ini uang untuk ongkos dan bekal kamu naik kapal menuju Jakarta. Semoga kamu bisa segera berkumpul dengan istri dan Anakmu," ujar Pak Eko dengan memberikan uang satu juta kepada Bara, Pak Eko juga mengantar Bara menuju kapal yang akan menyebrang menuju pelabuhan Merak.


"Makasih banyak atas semua kebaikan Bapak, semoga Allah SWT membalasnya," ucap Bara dengan memeluk Pak Eko.


Bara akhirnya kembali berlayar menuju cinta sejatinya yang berada di sebrang lautan sana.


Empat hari pun terasa lama untuk Bara, sampai akhirnya Bara sampai di pelabuhan Merak.


Bara terlebih dahulu bertanya kepada orang yang berada di pelabuhan supaya dia bisa sampai di rumahnya, dan Bara memilih naik Bus kota, karena Bara mengira jika Sukma masih berada di Jakarta.


Jantung Bara berdebar-debar ketika berada di depan gerbang rumahnya, tapi tidak ada orang yang menjawab ucapan Salam Bara, sampai akhirnya terlihat seseorang menghampiri Bara dari dalam rumah.


"Maaf, Mas cari siapa ya?" tanya perempuan paruh baya yang menghampiri Bara.

__ADS_1


"Saya mau bertemu Sukma?" jawab Bara.


"Maaf, tapi di sini tidak ada orang yang bernama Sukma, mungkin Mas salah alamat," jawab perempuan tersebut.


"Saya tidak mungkin salah alamat, karena dulu ini adalah rumah saya," ujar Bara.


"Mungkin Bu Sukma yang dimaksud Mas adalah pemilik rumah yang dahulu, karena saya sudah hampir satu tahun membeli rumah ini dari Anaknya, dan saya dengar Bu Sukma sakit," ujar perempuan paruh baya tersebut.


Bara langsung merasa lemas ketika mendengar Sukma sakit.


"Tidak mungkin Sukma sakit, Sukma pasti baik-baik saja," ujar Bara, kemudian berlari menuju terminal Bus, karena Bara yakin jika saat ini Sukma masih berada di Jawa Timur.


Bara kembali naik Bus yang akan membawanya menuju Jawa Timur, dan sepanjang perjalanan, Bara terus saja meneteskan air mata karena khawatir dengan keadaan Sukma saat ini.


Sepuluh jam kembali Bara tempuh supaya bisa bertemu dengan kekasih hatinya, sampai akhirnya langkah Bara terhenti karena melihat bendera kuning yang terpasang di depan rumah Sandi dan Alexa.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Sukma meninggal dunia, itu pasti bukan Sukma, karena Sukma pasti baik-baik saja," ujar Bara yang merasa lemas sehingga ia menjatuhkan tubuhnya di atas aspal.


Yusuf yang baru pulang dari Masjid setelah selesai Shalat isya, langsung memeluk tubuh Bara ketika melihatnya.


"Ayah, ini benar Ayah kan? maafkan Yusuf Yah, Yusuf sudah banyak berdosa kepada Ayah dan Ibu."


"Nak dimana Ibu? Ibu baik-baik saja kan?" tanya Bara dengan memegang kedua bahu Yusuf yang saat ini terlihat menangis.


"Cepat katakan dimana Ibu kamu Nak?" ucap Bara lagi dengan menggoyangkan bahu Yusuf.


"Sebaiknya sekarang kita masuk dulu Yah, Yusuf akan mengantar Ayah menemui Ibu," ujar Yusuf dengan mengandeng tangan Bara.


Bara langsung menjatuhkan tubuhnya ketika melihat jenazah yang saat ini terbujur kaku di ruang keluarga rumah Alexa, karena Bara mengira jika Jenazah tersebut adalah Jenazah Sukma.


"Sukma, Sukma, kenapa kamu meninggalkan aku?" ujar Bara dengan terus menangis di depan jenazah.


"Ba_Bara," ucap seorang perempuan yang saat ini berdiri di belakang tubuh Bara.


*

__ADS_1


*


Siapa kira-kira perempuan tersebut, apakah itu Sukma? baca kelanjutannya di Bab terakhir ya, mohon dukungannya..🙏


__ADS_2