
Pak Urip masih terlihat bingung ketika menutup pagar, sampai akhirnya beliau terlonjak kaget karena Bi Ijah menepuk bahunya.
"Kodok loncat, kodok loncat," ujar Pak Urip dengan memegang dadanya, dan Bi Ijah hanya tertawa melihat Pak Urip yang latah.
"Astagfirullah Ijah, ngapain kamu gak ada kerjaan pake ngagetin aku segala," ujar Pak Urip yang merasa kesal karena Bi Ijah telah mengejutkannya.
"Maaf Rip, aku cuma mau ngasih ini," ujar Bi Ijah dengan memberikan paper bag kepada Pak Urip.
"Ini dari siapa Jah?" tanya Pak urip.
"Emangnya barusan kamu gak lihat Suami Non Mona?" Bi Ijah balik nanya.
"Ooooh, jadi Tuan yang tadi bawa mobil entu Suami Non Mona?" ujar Pak Urip.
"Memangnya semalam kamu gak lihat Tuan Bara masuk rumah Rip?" tanya Bi Ijah yang terlihat heran.
"Enggak Jah, makanya aku dari tadi kebingungan. batinku ini bertanya-tanya kapan Tuan masuk rumahnya, tau-tau udah ke luar aja sama Non Mona," jawab Pak Urip.
"Mungkin kamu ketiduran Rip, makanya gak lihat Tuan datang."
"Masa iya aku ketiduran, semalam aja Non Mona aku lihat bawa mobil sendiri, karena si Sandi masuk Rumah Sakit."
"Mungkin kamu gak lihat Tuan duduk di sampingnya, mata kamu kayaknya harus diperiksa Rip."
"Apa iya ya, tapi aku seneng karena bisa ketemu sama kembaran," celetuk Pak Urip.
"Kamu itu kalau menghayal jangan ketinggian Rip, Tuan Bara itu gantengnya tiada tara, kalau kamu gak ada ganteng-gantengnya."
"Nyampe segitunya loe hina gue Jah."
"Bukan menghina Rip, tapi ngomongin fakta. Ya udah aku mau lanjutin bersih-bersih dulu, sebentar lagi aku mau OTW pulang."
"Hadeuh laga loe, coba jadi gue Jah, kerja 24 jam, apalagi gak ada si Sandi."
"Tapi gaji kamu dobel toh? udah bagus kita masih punya kerjaan, punya majikan juga baik banget," ujar Bi Ijah.
__ADS_1
"Iya, iya, makasih ya udah bawain hadiahnya, barang dari luar negeri emang beda. Emang Tuan habis dari luar negeri nya dari Negara mana?" ucap Pak Urip dengan melihat isi Paper bag.
"Mana aku tau Rip, masa aku tanya-tanya, nanti dikiranya aku kepo. Iya sama-sama, kalau gak disuruh sama Tuan juga aku males ngasih sama kamu Rip. Aku masuk duluan yo. Jaga yang bener, jangan molor terus," ujar Bi Ijah dengan kembali masuk ke dalam rumah.
"Hadeuh laga loe Jah melebihi majikan saja, makanya loe gak kaya-kaya, baru jadi Pembokat aja laga loe udah belagu," ujar Pak Urip dengan terkekeh, kemudian kembali masuk ke dalam pos security.
......................
Sepanjang perjalanan Bara terus saja memegangi tangan Sukma dengan sesekali menciumnya.
"Bara, kalau lagi nyetir itu lepasin dulu tangannya, kamu juga harus fokus melihat ke arah jalan," ujar Sukma.
"Sayang, bukannya kamu sendiri yang meminta syarat, kalau aku harus terus pegangin tangan kamu?" tanya Bara.
"Iya, tapi nanti kalau udah sampai tempat acara, kalau lagi nyetir berbahaya sayang."
"Aku gak pegang setir juga mobilnya bisa jalan sendiri, jadi kamu gak perlu khawatir. Atau kamu mau kalau kita melakukan sesuatu di dalam mobil?" goda Bara dengan menaik turunkan alisnya.
"Jangan suka mesum, aku gak mau ya kalau nanti penampilanku berantakan karena ulah kamu," ujar Sukma.
"Bara Awas," teriak Sukma, sehingga Bara melihat ke arah jalan.
"Awas apa? tidak ada apa-apa juga. Mobil ini udah aku pasangin mata, jadi otomatis bisa jalan sendiri. Ternyata kamu nakal juga ya," ujar Bara dengan menggelitik pinggang Sukma sehingga Sukma merasa geli.
"Udah lepasin, ampun, ampun, pokoknya aku nyerah," ujar Sukma dengan tertawa kemudian mengangkat kedua tangannya.
"Oke, kali ini bakalan aku lepasin, tapi tidak dengan nanti malam, karena meskipun kamu meminta aku untuk berhenti, aku tidak akan menuruti kemauanmu," bisik Bara hingga bulu kuduk Sukma meremang.
Saat ini Sukma dan Bara telah sampai di tempat parkir gedung tempat acara akan dilaksanakan, dan Bara turun terlebih dahulu supaya bisa membukakan pintu mobil untuk Sukma.
"Silahkan turun sayangku, cintaku, Ratuku, Permaisuriku," ujar Bara dengan tersenyum, sehingga Sukma tersenyum malu mendengar perkataan Bara yang selalu memperlakukannya secara spesial.
"Makasih," ucap Sukma singkat.
"Apa hanya itu yang aku dapatkan?" tanya Bara.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semuanya Suamiku sayang," bisik Sukma dengan mencium pipi Bara, dan Bara tersenyum bahagia mendengarnya.
Sukma dan Bara terus saja bergandengan tangan ketika masuk ke dalam gedung, dan semua pasang mata menatap kagum pasangan yang sangat serasi tersebut.
"Selamat datang Nona Monalisa, suatu kehormatan untuk kami karena Anda sudah berkenan hadir pada acara seminar yang kami adakan," ujar ketua penyelenggara.
"Terimakasih atas sambutannya Tuan Frans," ucap Sukma, dan Tuan Frans hendak mencium punggung tangan Sukma, tapi ternyata Bara menukarnya dengan tangan milik Bara, sehingga tangan yang dicium oleh Tuan Frans adalah tangan Bara, dan Tuan Frans menjadi bahan tertawaan semua orang yang melihatnya, termasuk Sukma.
"Seharusnya Anda mencium punggung tangan orangtua Anda, bukan tangan saya. Apa tangan saya sangat harum makanya Anda terus saja menciuminya," ujar Bara, dan Tuan Frans yang menyadari kalau dirinya salah mencium tangan pun langsung melepaskan tangan Bara.
"Maaf Tuan, saya pikir tangan Anda adalah tangan Nona Mona."
"Perkenalkan nama saya Bara, dan saya adalah Suami Monalisa," ujar Bara dengan mengulurkan tangan kepada Tuan Frans.
Tuan Frans menjabat uluran tangan Bara, tapi Bara dengan kuat memegang erat tangan Tuan Frans sehingga Tuan Frans merasa kesakitan.
"Jangan berani memegang milik saya kalau kamu tidak ingin tangan kamu hilang," ancam Bara dengan berbisik pada telinga Tuan Frans, sehingga bulu kuduk Tuan Frans merinding.
Sukma yang melihat kemarahan Bara, mencoba mengajaknya untuk pergi meninggalkan Tuan Frans, karena Sukma tidak mau terjadi keributan.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita mencari tempat duduk," ajak Sukma kepada Bara.
"Maaf Tuan Frans kami duluan," sambung Sukma, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Tuan Frans yang terlihat marah bercampur takut.
"Siapa Bara sebenarnya, kenapa tanganku terasa panas dan rasanya hampir remuk ketika berjabat tangan dengannya?" gumam Tuan Frans dengan memegang tangannya yang memerah.
Sukma dan Bara ternyata kebagian tempat duduk di sebelah Bos Tono, dan Bos Tono yang melihat Sukma pun langsung menatap penuh damba.
"Sepertinya kita berjodoh Nona Monalisa, karena kita selalu saja bertemu tanpa disengaja," ujar Bos Tono dengan hendak memeluk Sukma, tapi Bara menghalanginya.
"Siapa kamu, berani-beraninya menghalangiku? apa kamu pengganti bocah tengik Supir Nona Mona yang sudah aku buat masuk Rumah Sakit?" sindir Bos Tono.
"Perkenalkan Nama saya Bara, dan saya adalah Suami Monalisa," ujar Bara dengan mengulurkan tangannya, tapi Bos Tono terlihat enggan menerima uluran tangan Bara, karena saat ini batin Bos Tono masih bertanya-tanya tentang siapa sosok Bara yang sebenarnya.
Siapa sosok Bara sebenarnya, kenapa dia memiliki Aura yang sangat kuat ? ucap Bos Tono dalam hati.
__ADS_1