
Abi Ahmad saat ini mengutarakan maksudnya kepada Pak Parjo dan Bu Atun untuk membawa Yusuf dan Sandi kembali ke Pesantren tanpa memberitahukan yang sebenarnya bahwa Yusuf akan menemui Sukma.
"Pak, besok saya dan Anak-anak berniat untuk kembali ke Pesantren, siapa tau di sana kami mendapatkan petunjuk tentang cara menukarkan kembali jiwa Yusuf dan Sandi," ujar Abi Ahmad.
"Kami hanya bisa membantu do'a saja Pak Kyai, karena kami tidak bisa membantu apa-apa lagi," ujar Pak Parjo.
"Semoga jiwa kalian bisa segera ditukar kembali ya, Ibu suka bingung kalau manggil Yusuf sama Sandi," ujar Bu Atun yang di Amini oleh semuanya.
"Umi juga bingung, pengen meluk tubuh Yusuf, tapi di dalamnya ada jiwa Sandi, jadi gak enak juga," ujar Umi Maryam dengan tersenyum.
"Sebaiknya sekarang kita semua beristirahat, supaya besok Sandi dan Yusuf bisa bangun pagi-pagi," ujar Pak Parjo.
Semuanya kini masuk ke dalam kamar masing-masing, begitu juga dengan Bu Inem yang pulang menuju rumah Sukma, tapi saat diperjalanan pulang, Bu Inem berteriak ketakutan karena melihat sosok kepala manusia tanpa tubuh yang mengejarnya.
"Tolong, tolong," teriak Bu Inem.
Sandi dan Yusuf yang terlebih dahulu mendengar teriakan Bu Inem, bergegas ke luar dari dalam rumah Bu Atun.
"Ibu tidak kenapa-napa kan?" tanya Sandi kepada Bu Inem.
"Alhamdulillah Ibu tidak sampai terkena gigitannya Nak," jawab Bu Inem.
"Kalau begitu Ibu menginap saja di rumah Orangtua Sandi, kasih tau Bapak sama Abi Ahmad supaya membantu kami melawan hantu kepala Buntung," ujar Sandi.
Setelah Bu Inem masuk kembali ke rumah Pak Parjo dan Bu Atun, Sandi dan Yusuf mendekati hantu kepala tersebut.
"Astagfirullah, hantu apa itu Yusuf? Om takut sekali," ujar Sandi dengan tubuh yang gemetar, bahkan Sandi sampai pipis di celana karena melihat kepala manusia dengan isi perut yang menggantung terlihat terbang ke sana ke mari.
"Itu namanya hantu Kuyang Om," jawab Yusuf.
"Apa, hantu Ku*tang?" tanya Sandi yang salah dengar.
"Kuyang Om bukan Ku*tang," ujar Yusuf.
"Kenapa bisa ada makhluk seperti itu?" tanya Sandi lagi.
"Hantu Kuyang adalah manusia yang bersekutu dengan iblis, dan hantu Kuyang saat ini sedang mencari tumbal, jadi kita harus waspada," ujar Yusuf.
"Kalau begitu kamu saja yang lawan si Kuyang, Om kan masih kecil," ujar Sandi beralasan.
"Bilang saja Om takut."
__ADS_1
"Wah sekate-kate loe Tong," ujar Sandi yang tidak terima dengan perkataan Yusuf.
"Itu kenapa celananya basah sama bau pesing?" sindir Yusuf.
"Ini tadi ketumpahan air," ujar Sandi dengan tersenyum malu.
"Iya, air pipis. Malu-malu in Yusuf aja sih Om, oranglain kan tidak tau kalau jiwa kita tertukar, nanti mereka kira Yusuf pipis di celana."
"Kapan kamu lawan si Kuyang nya kalau kamu ngobrol terus sama Om," ujar Sandi.
"He he, iya maaf Yusuf lupa. Maaf nunggu lama ya Kuyang," ujar Yusuf, kemudian membaca Basmalah sebelum memulai pertarungan.
"Kenapa kalian menghalangiku untuk mendapatkan tumbal?" teriak hantu Kuyang.
"Enak saja mau jadiin Ibu Aku tumbal, kalau berani, sekarang ayo lawan Yusuf," teriak Sandi, kemudian mundur karena merasa takut dengan sosok menyeramkan yang kini ada di hadapannya.
Yusuf dan hantu Kuyang kini bertarung dengan seimbang, apalagi Yusuf menggunakan tubuh Sandi, jadi Yusuf lebih leluasa.
Sampai akhirnya datang bantuan dari Abi Ahmad dan Pak Parjo yang datang membantu Yusuf.
"Pak Parjo, Sandi, sebaiknya sekarang kalian cari tubuh hantu Kuyang ini, dia sudah bersekutu dengan Iblis, dan kita harus memusnahkannya," ujar Abi Ahmad.
Ketika Hantu Kuyang tersebut sibuk bertarung dengan Abi Ahmad dan Yusuf, Sandi dan Pak Parjo mencari tubuh hantu Kuyang, dan ternyata tubuh Hantu Kuyang tersebut tidak jauh dari tempatnya bertarung.
"Sekarang bagaimana caranya kita membuat si Kuyang tidak bisa masuk lagi ke dalam tubuhnya," ujar Pak Parjo.
Pak Parjo dan Sandi nampak berpikir, sampai akhirnya terlintas sebuah ide dari otak Sandi.
"Pak bagaimana kalau kita masukin batu saja ke dalam tubuhnya, nanti si Kuyang pasti gak bakalan bisa masuk tuh karena tubuhnya dipenuhi oleh banyak batu," ujar Sandi.
"Ide yang bagus juga tuh. Tumben Sandi pinter? mungkin karena jiwa Sandi ada dalam tubuh Yusuf ya," ujar Pak Parjo.
"Sandi yang punya ide, tetep aja si bocil Yusuf yang dipuji."
"Udah gak usah marah, Anak Bapak memang pinter, siapa dulu Bapaknya, Parjo." ujar Pak Parjo dengan terkekeh.
"Tetep aja ujung-ujungnya Bapak malah muji diri sendiri," ujar Sandi dengan cemberut.
"Udah gak usah cemberut seperti itu, sekarang kita harus bergegas mencari batu yang banyak," ujar Pak Parjo.
Pak Parjo dan Sandi akhirnya mencari batu, kemudian memasukan banyak batu melalui lubang leher sampai tubuh Hantu Kuyang terisi penuh.
__ADS_1
"Sekarang kita harus bagaimana Pak?" tanya Sandi.
"Kita sembunyikan dulu tubuhnya supaya si Kuyang sibuk mencari tubuhnya sampai pagi," jawab Pak Parjo, kemudian menggusur tubuh tersebut ke dalam semak-semak.
Setelah selesai melakukan semuanya, Pak Parjo dan Sandi kembali menemui Abi Ahmad dan Yusuf yang sudah duduk di lantai rumah Pak Parjo karena merasa kelelahan.
"Dimana si Kuyang nya Yusuf, biar Om Sandi hajar?" tanya Sandi.
"Tuh di belakang Om," jawab Yusuf asal, sontak saja membuat Sandi memeluk tubuh Yusuf karena ketakutan.
"Tadi sok soan nanyain," sindir Yusuf dan Sandi hanya nyengir kuda menanggapinya.
Umi Maryam, Bu Atun, dan Bu Inem, membawa air dan cemilan ke depan rumah saat melihat Yusuf dan Abi Ahmad terlihat kelelahan.
"Bagaimana Bi Hantu Kuyang nya? apa sudah berhasil kalian kalahkan?" tanya Umi Maryam.
"Hantu Kuyang sudah terluka parah Mi, tapi dia tidak akan bisa musnah kecuali hantu Kuyang tidak bisa menemukan tubuhnya sampai pagi," jawab Abi Ahmad.
"Abi tenang saja, Sandi dan Bapak sudah menyembunyikan tubuh hantu Kuyang di semak-semak, sebelumnya juga kami sudah memasukan batu ke dalam tubuhnya, jadi meski pun si Kuyang menemukannya, dia tidak akan bisa masuk juga," ujar Sandi.
"Alhamdulillah kalau begitu, kita besok bisa melihat siapa orang yang telah bersekutu dengan iblis tersebut, karena pasti masih tetangga sekitar sini," ujar Abi Ahmad.
Semuanya masuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat, apalagi waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.
......................
Keesokan pagi nya, warga digegerkan dengan penemuan mayat tubuh tanpa kepala yang ditemukan dibalik semak-semak, dan Abi Ahmad beserta yang lainnya ikut melihat siapa sebenarnya sosok hantu Kuyang yang meresahkan tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucap Abi Ahmad dan yang lainnya saat datang ke lokasi kejadian.
"Wa'alaikumsalam Pak Kyai. Pak Kyai dan Mas Sandi kan yang semalam bertarung dengan Hantu Kuyang yang sudah beberapa hari ini meneror di Desa kami? kami sebenarnya melihat dari kejauhan karena merasa takut," ujar salah satu warga.
"Saya kebetulan lagi menginap di rumah Pak Parjo, dan semalam Bu Inem dikejar oleh hantu Kuyang tersebut, jadi kami tidak bisa tinggal diam saja," jawab Abi Ahmad.
"Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Kyai dan Mas Sandi, karena Hantu Kuyang sudah sempat berhasil menculik dua bayi di Desa sebelah," ujar Kepala Desa.
Sandi yang berada di dalam tubuh Yusuf terlihat senyum-senyum sendiri karena dirinya yang dipuji.
"Enak ya, Yusuf yang lawan, Om yang di puji," bisik Yusuf pada telinga Sandi.
"Gak apa Tong, sesekali Om dipuji," bisik Sandi.
__ADS_1
"Apa kepala nya sudah berhasil ditemukan?" tanya Abi Ahmad.