Suamiku Genderuwo Tampan

Suamiku Genderuwo Tampan
Bab 54 ( Keinginan Sandi )


__ADS_3

Sandi dan Pak Parjo pulang dari Masjid setelah selesai melaksanakan Shalat isya, dan ketika tiba di rumah, Bu Atun mengajak semuanya untuk makan bersama.


"Nak, ayo kita makan, Ibu udah masak yang banyak buat Sandi," ujar Bu Atun dengan menggandeng Sandi untuk duduk di meja makan.


"Makasih ya Bu, masakan Ibu sepertinya enak nih, Sandi gak sabar untuk mencicipinya."


Bu Atun mengisi piring kosong Sandi dengan nasi dan aneka lauk lainnya, kemudian Sandi terlihat makan dengan lahap.


"Masakan Ibu enak sekali, Sandi jadi ingin makan terus," ujar Sandi dengan tersenyum bahagia.


Sandi terlihat bahagia karena bertemu dengan orangtua kandungnya. Maafkan Ibu Nak, karena selama ini Ibu sudah memisahkan Sandi dengan kedua orangtua Sandi, ucap Bu Inem dalam hati.


Sandi yang melihat Bu Inem melamun, langsung saja angkat suara.


"Ibu kenapa melamun terus? Ibu baik-baik saja kan?" tanya Sandi.


"Ibu baik-baik saja Nak, Ibu hanya merasa berdosa kepada Sandi, karena selama ini Ibu sudah memisahkan Sandi dengan kedua orangtua Sandi."


"Bu, selama ini Sandi sudah dibesarkan oleh Ibu dengan penuh cinta dan kasih sayang, dan bagi Sandi, Ibu akan tetap menjadi Ibu nya Sandi juga."


"Terimakasih Nak, Sandi memang Anak yang baik," ucap Bu Inem.


"Ibu tidak perlu mengucapkan terimakasih, seharusnya Sandi yang mengucapkan terimakasih kepada Ibu."


"Sandi benar Inem, Sandi tidak akan menjadi Anak yang baik kalau kamu tidak mendidik Sandi dengan baik, dan kami berterimakasih atas semua yang telah kamu lakukan untuk Sandi," ujar Bu Atun dengan memeluk tubuh Bu Inem yang saat ini terlihat menangis.


Setelah selesai makan, Sandi mengutarakan maksud untuk menuntut ilmu di Pesantren Kyai Ahmad.


"Pak, Bu, sebenarnya ada yang ingin Sandi sampaikan."


"Apa itu Nak?" tanya Bu Atun yang sudah merasa penasaran.


"Sandi ingin memperdalam ilmu Agama di Pesantren Kyai Ahmad, Sandi juga bisa sekalian menjaga Yusuf di sana."


Bu Atun, Bu Inem dan Pak Parjo merasa bahagia dengan keinginan mulia Sandi, meski pun mereka sebenarnya tidak ingin berpisah kembali dengan Sandi.


"Bapak bahagia mendengar keinginan mulia kamu Nak, meski pun sebenarnya kami tidak ingin tinggal berjauhan dengan Sandi, tapi sebagai orangtua, kami hanya bisa mendukung semua keinginan Sandi, karena itu demi masa depan Sandi juga. Dulu, kami sudah gagal mendidik Jaka dengan baik, dan sekarang kami yakin kalau Sandi tingg di Pesantren, Sandi akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk bekal Dunia dan Akhirat Sandi."

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau semuanya mengijinkan Sandi untuk mondok. Kalau Ibu rencananya mau tinggal di sini atau kembali ke Jakarta? meski pun sebenarnya Sandi ingin Ibu tinggak di sini saja, supaya Ibu tidak merasa kesepian karena ada Ibu dan Bapak yang akan menemani Ibu," tanya Sandi kepada Bu Inem.


"Ibu juga sudah memikirkan semuanya, rencananya Ibu akan mengisi rumah Sukma, dan Ibu akan berjualan jamu saja di depan rumah untuk menyambung hidup, karena Ibu merasa cape kalau jualan keliling terus," jawab Bu Inem.


"Kamu tenang saja Nem, kalau untuk makan sehari-hari, insyaallah kami akan membantu. Alhamdulillah warung kami juga laku, dan kamu bisa membantuku melayani pembeli," ujar Bu Atun, dan Bu Inem menyambut bahagia tawaran dari Bu Atun, dan Sandi sangat bersyukur karena ternyata kedua orangtuanya sangat baik.


Alhamdulillah Ya Allah, karena ternyata kedua orangtua kandungku sangat baik. Terimakasih Sukma karena kamu telah memberitahukan semuanya, aku pasti akan membalas semua kebaikan kamu seperti permintaan Jaka, ucap Sandi dalam hati.


......................


Bara dan Sukma selalu menghabiskan hari bersama dengan saling mencintai, meski pun mereka sangat sadar jika mereka telah melakukan sebuah kesalahan dengan melanggar hukum alam.


Sukma saat ini terlihat melamun di depan jendela, pikirannya menerawang terhadap ketiga Anaknya, dan Bara tau betul apa yang saat ini tengah Sukma rasakan.


"Sayang, aku tau kalau saat ini kamu sedang merindukan ketiga Anak kita, apa kamu melihat Yusuf ke Pesantren? meski pun kita hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja," ujar Bara.


Mata Sukma berbinar ketika mendengar perkataan Bara, setidaknya Sukma bisa melepas rindu kepada Yusuf yang sudah satu tahun lebih tidak pernah ia jumpai.


"Dengan cara apa kita akan pergi ke Pesantren Bara?" tanya Sukma.


"Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya sekarang tutup mata kamu," ujar Bara.


"Kenapa sih kamu tuh pikirannya mesum terus? kita itu mau menghilang supaya sampai lebih cepat," ujar Bara yang merasa gemas terhadap Sukma yang selalu berpikiran negatif kepadanya.


"Emang bisa ya?" tanya Sukma.


"Bisa, tapi sekarang tutup dulu matanya sayang, supaya kita cepat sampai," jawab Bara, dan Sukma hanya nyengir kuda melihat ekspresi Bara yang terlihat kesal kepadanya."


Setelah Sukma menutup matanya, Bara memeluk erat tubuh Sukma dan mereka langsung menghilang.


"Aduh, aku salah mendarat," gumam Bara, karena saat ini mereka malah masuk ke dalam bedug.


"Bara, kenapa sempit sekali?" tanya Sukma.


"Maaf Sayang, terjadi kesalahan teknis, tutup terus matanya ya, jangan dibuka dulu sebelum aku menyuruhnya," ujar Bara, kemudian kembali membaca mantra untuk menghilang.


Sekarang buka matanya," ucap Bara kepada Sukma.

__ADS_1


Sukma secara perlahan membuka matanya, dan Sukma langsung menitikkan airmata ketika melihat Yusuf yang sedang mengaji di depan Masjid.


"Nak, maafkan Ibu karena tidak bisa menjaga Yusuf," gumam Sukma dengan menahan sesak dalam dadanya.


Bara ikut menangis karena merasakan sakit juga dalam hatinya, kemudian Bara mendekap erat tubuh Sukma.


"Maaf ya sayang, untuk saat ini kita belum bisa menemui Yusuf," ucap Bara.


Dari kejauhan Sukma dan Bara melihat rombongan Sandi dan keluarganya yang baru tiba di Pesantren, dan Sukma tersenyum bahagia melihat Bu Atun dan Pak Parjo yang terlihat sangat bahagia.


"Ternyata jadi juga bocah ingusan itu mondok di sini," gumam Bara.


"Jadi tujuan Sandi ke sini untuk menuntut ilmu?" tanya Sukma.


"Benar sayang, dan itu semua atas permintaan mendiang Jaka yang menginginkan Sandi supaya selalu menjaga Yusuf, dan nanti setelah Sandi mendapatkan cukup ilmu di sini, Sandi juga akan kembali ke rumah kita untuk membantu kita melawan Raja iblis," jawab Bara yang sudah tau semua kejadian di masa mendatang.


"Aku beruntung memiliki Suami yang tampan, pintar, dan Sakti mandraguna," celetuk Sukma.


"Nambah lagi tuh panggilannya," ujar Bara dengan tersenyum.


Sukma sebenarnya masih kangen dengan Yusuf, tapi Sukma tidak ingin kalau Yusuf atau pun orang-orang yang berada di dekatnya berada dalam situasi bahaya, karena Raja iblis pasti tidak akan tinggal diam saja.


"Bara, sebaiknya sekarang kita pergi dulu sebelum ada yang melihat kita di sini," ujar Sukma yang berat hati harus mengajak Bara untuk pulang tanpa memeluk Yusuf terlebih dahulu.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa melakukan lebih dari ini untukmu, karena aku juga tidak akan bisa menembus pagar ghaib yang telah Pesantren ini buat," ucap Bara dengan menyesal.


"Tidak apa-apa Bara, sekarang rinduku sudah terobati setelah melihat Yusuf, meski pun hanya dari kejauhan," ujar Sukma.


Ketika Bara dan Sukma sudah bersiap untuk kembali ke rumah mereka, ada dua suara yang berusaha untuk menghentikan mereka.


"Tunggu Sukma"


"Ibu"


*


*

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk Karya receh Author, siapa tau ada yang berbaik hati kasih Vote dan Hadiah, Author gak bakalan nolak 🙈 Sehat dan Sukses selalu ya untuk semuanya, jangan lupa tekan tombol like nya, 🤲🙏


__ADS_2