
Bu Inem terlihat gelagapan mendengar pertanyaan yang Sukma lontarkan.
"A_apa maksud kamu? aku tidak kenal dengan Atun dan Jarwo yang kamu maksud," ujar Bu Inem dengan keringat dingin yang mengucur dari dahinya.
"Kalau Anda tidak mengenal mereka, kenapa Anda terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Sukma yang mencoba untuk mendesak Bu Inem.
"Kamu itu udah bicara sembarangan, Sandi itu Anakku bukan Anak Atun dan Parjo, kenapa kamu menuduhku menculiknya," ujar Bu Inem.
"Sandi, apa tadi aku mengatakan kalau Ibu kamu telah menculik Anak Bu Atun dan Pak Parjo?" ujar Sukma.
"Bu, Non Mona tidak mengatakan Ibu telah menculik Sandi, kenapa Ibu malah berkata seperti itu, jangan-jangan benar kalau Ibu dulu telah menculik Sandi dari Bu Atun dan Pak Parjo?" desak Sandi.
"Kenapa kamu malah mempercayai perkataan perempuan ini dibandingkan dengan Ibu Nak, padahal selama ini Ibu yang telah membesarkan Sandi, meski pun Sandi bukan Anak kandung Ibu," ujar Bu Inem yang keceplosan.
"Jadi benar kalau Sandi bukan Anak kandung Ibu? kenapa Ibu tega sekali memisahkan Sandi dengan orangtua kandung Sandi? Sandi kecewa sama Ibu," ujar Sandi dengan menangis.
"Sandi ternyata cengeng ya sayang," ujar Bara kepada Sukma.
"Aku tidak cengeng, mataku hanya kelilipan saja," ujar Sandi yang mendengar perkataan Bara.
"Ibu tidak ngomong Sandi cengeng kok," ujar Bu Inem.
"Sandi bukan bicara sama Ibu, tapi Sandi bicara sama si Genderewo," ujar Sandi.
Bu Inem yang merasa ketakutan karena mendengar perkataan Sandi yang menyebut Genderewo pun akhirnya pingsan.
Sukma yang melihat Bu Inem pingsan menyuruh Bara untuk memindahkannya ke atas sofa.
"Ngerepotin aja sih ni Emak emak, padahal kalau tau wajah Genderewo nya tampan seperti Lee min hoo, pasti Ibu kamu bakalan jatuh cinta sama aku," ujar Bara kepada Sandi.
"Gak usah sombong, kamu gak lihat kalau wajahku mirip Song Jong Ki," ujar Sandi yang tidak mau kalah.
"Sayang, memangnya ada juga gitu artis korea yang bernama Song Jong Ki?" tanya Bara kepada Sukma.
"Sepertinya aku pernah dengar, tapi entahlah aku kan tidak suka nonton Drakor," jawab Sukma.
__ADS_1
"Sandi, aku harap kamu mau menemui Bu Atun dan Pak Parjo, apalagi sudah beberapa bulan ini saudara kembar kamu telah meninggal dunia," ujar Sukma.
"Innalillahi...Kenapa Nona bisa tau semua tentang kehidupan saya?" tanya Sandi.
Sukma terlihat bingung, tidak mungkin Sukma mengatakan kalau dirinya adalah mantan istri mendiang Jaka. Bara yang tau Sukma kebingungan pun mencoba untuk menjawab pertanyaan Sandi.
"Heh Bocah, kamu tau kan siapa aku? aku bukan hanya Genderewo, tapi Raja Genderewo, dan Sukma adalah istriku, jadi aku harus tau latar belakang orang yang dekat dengan istriku," ujar Bara.
"Terimakasih Aki, karena Aki sudah mencari tahu semua kebenaran tentang saya," ucap Sandi.
Bara yang merasa geram dengan panggilan dari Sandi langsung saja menyentil dahi Sandi.
"Dasar bocah gak ada Akhlak, seenak jidat panggil lelaki tampan seperti aku dengan sebutan Aki," ujar Bara.
"Terus aku harus panggil kamu apa? umur kamu pasti sudah ratusan tahun, bahkan umur manusia saja tidak sampai seratus tahun, jadi kamu sudah lebih tua dari Kakek-kakek," ujar Sandi.
"Sayang, lama-lama aku darah tinggi jika terus berada dalam satu ruangan bersama bocah tengik ini, sebaiknya sekarang kita pulang saja, aku juga sangat merindukan kamu," ujar Bara dengan memeluk tubuh Sukma.
"Tapi kalau kita ninggalin Sandi sendirian kasihan kan," ujar Sukma.
"Dia tidak sendirian, Babang tampan bakalan bangunin Ibu nya yang sedang pingsan," ujar Bara, kemudian meniupkan mantra ke wajah Bu Inem, dan secara perlahan Bu Inem membuka matanya, kemudian berteriak histeris melihat wajah tampan Bara.
"Lho, kok Ibu bisa melihat Aki Genderewo?" tanya Sandi yang merasa heran.
"Jadi ini yang kamu sebut Genderewo? kalau Genderewo modelnya seperti ini, Ibu juga mau jadiin dia Suami Ibu," ujar Bu Inem.
"Bu, saya minta Ibu antar Sandi ke rumah Bu Atun dan Pak Parjo, kasihan mereka, karena saudara kembar Sandi telah meninggal Dunia," ujar Sukma.
"Sandi, maafkan Ibu Nak, Ibu dulu tidak bisa mempunyai keturunan, makanya Ibu menculik kamu saat membantu Atun melahirkan. Baiklah, nanti kalau Ibu punya uang, Ibu akan mengantar kamu ke Jawa Timur untuk mempertemukan Sandi dengan orangtua kandung Sandi," ujar Bu Inem.
Sukma yang mendengar perkataan Bu Inem langsung saja mengeluarkan amplop yang berisi uang seratus juta.
"Bu, semoga ini bermanfaat untuk Ibu dan Sandi, dan semoga saja Ibu memenuhi janji Ibu untuk mempertemukan Sandi dengan kedua orangtuanya," ujar Sukma dengan memberikan uang tersebut kepada Bu Inem.
"Terimakasih banyak Nona, maaf jika tadi saya sudah berkata kasar kepada Nona. Saya janji akan mengantarkan Sandi ke Jawa Timur kalau Sandi sudah sembuh," ujar Bu Inem.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Sandi, terimakasih ya karena selama ini kamu sudah menjaga saya. Semoga kamu bisa segera sembuh," ucap Sukma.
Bu Inem yang tidak bisa lagi melihat sosok Bara, merasa heran karena Bara tidak ada di sana.
"Lho, kemana perginya Lee min Hoo?" tanya Bu Inem.
"Ibu malu-maluin aja, udah tua juga masih aja ganjen," sindir Sandi, sehingga membuat Bu Inem malu.
Sukma akhirnya pamit kepada Bu Inem dan Sandi, dan hati Sandi terasa hampa setelah kepergian Sukma.
"Apa kamu suka sama majikan kamu Nak?" tanya Bu Inem.
"Sandi sadar diri Bu, Non Mona itu orang kaya, mana mungkin dia mau sama Sandi."
"Sandi yang sabar ya, semoga kelak Sandi mendapatkan perempuan yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Mona," ujar Bu Inem dengan memeluk tubuh Sandi.
......................
Sukma bingung karena dia tidak bisa menyetir, dan dia tidak mungkin menyuruh Bara yang tidak terlihat oleh oranglain.
"Sayang, kenapa kamu belum naik juga?" tanya Bara yang melihat Sukma kebingungan.
"Bara, siapa sekarang yang akan menyetir? tidak mungkin kan kalau kamu yang nyetir, kamu kan tidak bisa terlihat oleh oranglain," tanya Sukma.
"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yang menyetir," jawab Bara.
"Yang benar saja, aku kan tidak bisa menyetir," ujar Sukma.
"Kamu harus belajar sayang, biar aku yang mengajari kamu menyetir. Sekarang kamu duduk di pangkuanku," ujar Bara dengan menepuk pahanya.
"Memangnya tidak apa-apa? nanti kamu berat kalau harus memangku tubuhku," ujar Sukma.
"Kenapa kamu selalu lupa siapa Suami kamu ini hemm," ujar Bara kemudian membawa Sukma ke dalam dekapannya.
"Sekarang coba kamu nyalakan mobilnya," sambung Bara yang saat ini memangku tubuh Sukma.
__ADS_1
"Tapi aku takut Bara," ujar Sukma yang terlihat ketakutan.
"Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini yang akan selalu ada untukmu," ucap Bara dengan memberi pengarahan kepada Sukma, dan secara perlahan Sukma mulai bisa melajukan mobilnya.