
Bara yang sudah bertekad ingin menjadi manusia, memutuskan untuk menemui Raja dari semua Makhluk ghaib untuk memohon petunjuk.
"Raja, hamba menghadap paduka Raja untuk meminta pencerahan," ucap Bara ketika masuk ke dalam istana Maharaja.
"Aku sudah tau apa yang kamu inginkan Bara, kamu memang bodoh, bisa-bisanya kamu jatuh cinta kepada manusia yang ditumbalkan untukmu," ujar Maharaja.
"Tapi Raja, hamba sangat mencintainya, dan hamba ingin hidup bersama dengan Sukma," ujar Bara.
"Kamu sudah dibutakan oleh cinta, sehingga kamu menjadi makhluk yang lemah."
"Hamba rela berbuat apa pun asalkan Hamba bisa menjadi manusia dan hidup dengan Sukma sampai maut memisahkan kita."
"Satu-satunya cara supaya kamu bisa berubah menjadi manusia adalah kamu harus memberikan tumbal untukku 7 bayi yang dilahirkan oleh Sukma, dan nanti setelah bayi ke-7 kamu akan berubah menjadi manusia seutuhnya," ujar Maharaja.
"Jadi artinya kami harus menumbalkan tujuh bayi kami untuk paduka?" tanya Bara.
"Iya benar, apa kamu sanggup?" ujar Maharaja.
Bara nampak berpikir karena Sukma pasti tidak akan mau menumbalkan darah dagingnya sendiri, begitu juga dengan Bara.
"Maaf Paduka, apa tidak ada cara lain lagi?" tanya Bara yang merasa keberatan dengan permintaan Maharaja.
"Tidak Bara. Sebaiknya sekarang kamu pikirkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan," ujar Maharaja.
Bara akhirnya pamit dari Istana Maharaja menuju rumah Sukma, apalagi Bara takut jika Sukma sampai terbangun, karena Bara meninggalkan Sukma saat ia sedang tertidur.
"Syukurlah Sukma masih tidur," ucap Bara ketika melihat Sukma yang saat ini masih tertidur pulas.
Bara ikut berbaring di samping Sukma, tapi ia tidak dapat memejamkan matanya sedikit pun.
Apa aku katakan saja semuanya kepada Sukma tentang permintaan Maharaja? tapi aku yakin jika Sukma akan menolaknya, karena aku juga tidak akan rela jika harus menumbalkan darah dagingku sendiri, ucap Bara dalam hati.
......................
Yusuf dan Sandi yang masih tertukar jiwanya mencoba memikirkan cara untuk menukarkan kembali jiwa mereka, karena baik Yusuf mau pun Sandi sama-sama tidak mau berada di dalam tubuh orang lain.
"Rasanya sempit sekali berada di dalam tubuh kamu Tong," ujar Sandi.
"Yusuf juga tidak mau berada di dalam tubuh Om Sandi yang terasa longgar."
"Bagaimana caranya ya jiwa kita bisa bertukar kembali?" gumam Sandi.
__ADS_1
"Apa kita coba panggil Ayah saja, siapa tau Ayah bisa membantu kita," ujar Yusuf.
"Mending panggil Neng Alexa aja, Om udah kangen banget sama dia," ujar Sandi.
"Sebaiknya jiwa kita jangan ditukar dulu deh Om," ujar Yusuf yang terlintas sebuah ide dalam otaknya.
"Lho, kenapa seperti itu?" tanya Sandi.
"Om bukannya ingin pergi ke Jakarta ya buat nerusin kuliah sama Kerja di tempat Ibu?" tanya Yusuf.
"Kalau untuk nerusin kuliah, Om takut gak lulus ujian masuknya Yusuf, tapi untuk kerja di rumah Sukma, Om sudah siap," jawab Sandi.
"Ya sudah, kalau begitu biar Yusuf yang kuliah supaya Yusuf juga bisa dekat sama Ayah dan Ibu."
"Mana bisa seperti itu, Om gak mau jadi bocah terus."
"Om kan bisa belajar lagi di Pesantren ikut Abi dan Umi," ujar Yusuf yang sebenarnya ingin selalu dekat dengan kedua orangtuanya."
"Tapi Om juga ingin dekat sama Alexa, kalau Om tinggal di Pesantren sebagai Yusuf, Om nanti tidak bisa PDKT sama Alexa."
"Kalau begitu, Yusuf minta waktu seminggu aja supaya bisa tinggal bersama Ayah dan Ibu, Yusuf juga ingin tau rasanya tinggal bersama kedua orangtua Yusuf," ujar Yusuf dengan tertunduk sedih, sehingga membuat Sandi merasa tidak tega.
"Tapi bagaimana caranya Nenek sama Kakek ngizinin Yusuf pergi ke Jakarta?"
"Nanti kita minta bantuan saja sama Abi, Om bakalan jelasin semuanya sama Abi Ahmad, dan Abi pasti akan mengerti."
"Ya sudah kalau begitu kita cari Abi sekarang saja, sekarang Abi pasti ada di Masjid," ujar Yusuf.
Yusuf dan Sandi memutuskan untuk menghampiri Abi Ahmad yang saat ini sedang berdzikir di Masjid.
"Assalamu'alaikum Abi," ucap Yusuf dan Sandi.
Abi Ahmad yang mendengar suara Salam menghentikan dzikir nya.
"Wa'alaikumsalam Nak," jawab Abi Ahmad.
Yusuf dan Sandi secara bergantian mencium punggung tangan Abi Ahmad.
"Abi, ada yang ingin kami sampaikan," ucap Yusuf.
"Apa Nak?" tanya Abi Ahmad.
__ADS_1
"Abi, sebenarnya Ibu Sukma masih hidup, dan saat ini beliau tinggal bersama Ayah Bara di Jakarta. Apa Yusuf boleh menemui mereka dengan menggunakan tubuh Om Sandi?" tanya Yusuf.
Abi Ahmad tau betul, meski pun Yusuf pergi sendirian, tapi akan ada kedua Kakak nya yang selalu mendampingi Yusuf.
"Tentu saja Yusuf boleh menemui orangtua kandung Yusuf," jawab Abi Ahmad dengan tersenyum.
"Makasih Abi, kalau begitu besok Yusuf akan pergi ke Jakarta dengan mengendarai mobil Om Sandi," ujar Yusuf dengan kegirangan.
"Memangnya kamu bisa mengendarai mobil Tong?" tanya Yusuf.
"Bisa dong Om, kan ada Kak Alex dan Kak Alexa yang selalu menemani Yusuf."
"Om ikut dong, Om juga mau deket-deket Neng Alexa, apalagi saat ini Om berada dalam tubuh Yusuf, jadi Alex gak bakalan marah kalau Om peluk-peluk Alexa," celetuk Sandi.
"Astagfirullah Om, istighfar, Om itu selalu saja bikin Yusuf kesel."
"Biarin, Om sekarang kan ada di tubuh Yusuf, jadi kalau Yusuf mau cubit Om juga yang sakit tubuh Yusuf," ujar Sandi yang selalu saja menggoda Yusuf.
"Terus bagaimana dengan Nak Sandi, apa Nak Sandi ingin ikut tinggal di Pesantren selama Yusuf di Jakarta?" tanya Abi Ahmad.
"Sebenarnya Sandi masih pengen tinggal di sini Abi, tapi Sandi harus melindungi tubuh Yusuf dari Raja iblis, jadi tempat yang aman untuk Sandi adalah tinggal di Pesantren."
"Ya sudah, kalau begitu nanti kita bicarakan semuanya kepada Bu Atun dan Pak parjo," ujar Abi Ahmad.
"Tapi Yusuf minta tolong, Abi jangan ngasih tau dulu Kakek dan Nenek tentang Ibu ya, karena Ibu bilang kalau Raja iblis akan mengganggu orang-orang yang berada di dekat Ibu, makanya sampai saat ini Ibu belum bisa menemui Kakek sama Nenek."
"Iya Nak, insyaallah Abi akan merahasiakan dulu semua yang Abi ketahui, karena semua itu demi kebaikan bersama juga."
"Terimakasih Abi, Yusuf sayang Abi," ujar Yusuf dengan memeluk tubuh Abi Ahmad.
Abi Ahmad sebenarnya merasa canggung karena saat ini Yusuf memeluknya menggunakan tubuh Sandi, sampai akhirnya yang Abi Ahmad peluk adalah tubuh Yusuf yang di dalamnya terdapat jiwa Sandi.
"Abi kok malah peluk Om Sandi?" protes Yusuf.
"Nak, kalau Abi peluk Yusuf yang berada dalam tubuh Om Sandi, Abi gak enak meluknya, jadi Abi meluk tubuh Yusuf saja ya."
"Ya sudah gak apa-apa deh, kan itu tubuh Yusuf juga."
"Ternyata enak juga ya jadi Yusuf bisa dipeluk-peluk, nanti kalau Alexa datang, Om mau pura-pura jadi Yusuf dulu ah biar dipeluk juga," celetuk Sandi.
"Om Sandi, awas saja ya kalau Om berani ganggu Kakaknya Yusuf," teriak Yusuf, sampai akhirnya Sandi berlari ke luar dari Masjid karena Yusuf berusaha untuk menagkapnya.
__ADS_1